
"Gimana keadaan Irlan Nik?" Tanya mami Nita cemas melihat putranya tak sadarkan diri.
"Kita bicara di luar." Ajak papa Niko pada mami Nita dan papi Tian.
Mereka berjalan ke arah ruang keluarga yang berdekatan dengan kamar tamu.
Mengetahui mami Nita dan papi Tian sudah datang mama Dena pun keluar dari dapur untuk menemui orangtua Irlan.
"Kalian udah dateng,daritadi kami hubungi kalian,tapi kalian gak angkat-angkat telponnya." Kata mama Dena setelah sampai di ruang keluarga.
"Maaf Den,kami udah tidur dan hp kami pake mode silent. Untung aja pas aku mau ke toilet aku liat hp." Jawab mami Nita.
"Sudah gak usah dibahas itu,yang penting kalian sudah disini." Kata papa Niko menengahi.
"Sebenarnya ada apa ini Nik,kenapa Irlan bisa ada disini?" Tanya papi Tian.
Papa Niko pun menceritakan kejadiannya.
Papi Tian menghela nafasnya.
"Sekarang baru dia sadar. Untuk apalagi semua sudah terlambat." Papi Tian menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Memangnya kalian gak mau kasih kesempatan sama Irlan?" Kini mami Nita yang bertanya.
"Nia yang sudah tidak mau.Bahkan Nia.." kata-kata mama Dena terpotong setelah papa Niko berdehem memberi kode agar mama Dena jangan sampai keceplosan memberitahu keberadaan Nia.
"Nia kenapa Den?" Tanya mami Nita yang penasaran karena kata-kata mama Dena yang menggantung.
"Kalau pun Irlan membatalkan gugatannya,Nia yang akan menggugat balik Irlan dengan memberi bukti perselingkuhan Irlan. Dan kalau sampai itu terjadi perusahaan kalian bisa hancur,mengetahui penerus perusahaan tukang selingkuh." Papa Niko yang menjawab pertanyaan mami Nita.
Mami Nita tak kuasa menahan airmatanya. Pupus sudah harapannya agar Nia dan Irlan bisa kembali.
Melihat istrinya menangis,papi Tian mengusap-usap punggung istrinya mencoba menenangkan.
"Nia mana kok dia gak kelihatan?" Tanya papi Tian yang tidak melihat keberadaan Nia.
"Nia nginap dirumah temannya setelah ke persidangan tadi pagi. Karena dia tau ada Irlan disini,makanya dia gak mau pulang ke rumah." Bohong papa Niko.
Tak lama dokter Erik pun keluar dari kamar tamu menghampiri para orangtua.
"Gimana keadaan anak saya dok?" Mami Nita bertanya mewakili tiga orang yang ada diruangan itu.
Dokter Erik menarik nafasnya dan membuangnya kasar.
"Sepertinya anak anda memiliki masalah di lever nya." Kata-kata dokter Erik sukses membuat mami Nita bergetar hebat.
__ADS_1
Anaknya masih sangat muda,tapi kenapa harus punya penyakit lever?
Apalagi setau mami Nita,Irlan bukan lah seorang alkoholic. Walaupun tidak ia pungkiri anaknya memang mau menenggak minuman beralkohol sesekali.
"Dan sepertinya lambungnya juga bermasalah." Dokter Erik meneruskan kata-katanya.
Makin hancurlah hati seorang ibu mendengar anaknya memiliki banyak penyakit yang bersarang ditubuhnya.
"Untuk lebih tau detailnya,bapak dan ibu bisa memeriksakannya ke rumah sakit." Saran dokter Erik.
Setelah menyampaikan kondisi Irlan,dokter Erik berlalu dari ruang keluarga menuju keluar rumah dengan diantar oleh papa Niko.
Mami Nita masuk ke dalam kamar,melihat wajah anaknya yang begitu pucat dan sangat jelas terlihat lebih kurus.
Mami Nita tak henti-hentinya menangis. Sebejad apapun Irlan,tetap dia adalah anaknya. Tidak ada seorang ibu yang ingin melihat anaknya terkapar karena penyakit seperti ini.
Mami Nita mengelus rahang tegas anaknya.
"Kita bawa Irlan pulang aja Pi. Mami mau rawat dia." Pinta mami Nita pada suaminya.
"Iya mi.." papi Tian menyetujui keinginan istrinya.
Melihat kondisi anaknya yang memprihatinkan,membuat papi Tian tak tega berlama-lama marah pada Irlan.
"Setidaknya dia masih keponakan ku. Jadi wajar aku menolongnya." Jawab papa Niko.
"Aku udah buatin bubur buat Irlan,tunggu ku masukin dulu ke tempat makan. Biar nanti sampai rumah kalian bisa langsung kasih dia makan." Mama Dena menimpali.
Papi Tian dan Mami Nita pun mengangguk.
Kini Irlan sudah di dalam mobil papi Tian. Irlan di baringkan dipangkuan mami Nita di kursi belakang. Sedangkan mobil Irlan dibawa supir pribadi keluarga Irlan.
"Kami pulang dulu Nik,sekali lagi terimakasih.." papi Tian menepuk pundak papa Niko sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Mobil papi Tian dan mobil Irlan keluar beriringan dari halaman rumah papa Niko.
Di Inggris..
Nia sedang berjalan-jalan sendiri menikmati kota Inggris. Dia keluar ingin ke supermarket untuk membeli bahan makanan.
Dia melangkahkan kakinya seperti tak ada lagi beban menghimpit hati dan pikirannya.
Setelah bahan makan sudah didapat,Nia kembali ke unit apartemennya.
Menyusun semua bahan makanan ke dalam kulkas. Setelah selesai,dia mengambil beberapa bahan untuk dibuat menjadi masakan.
__ADS_1
Masakan pun siap. Nia menaruhnya di meja makan yang sangat minimalis.
"Kangen mama-papa.." Baru tiga hari tapi Nia sudah sangat merindukan orangtuanya.
Dilihatnya jam.yang ada di hpnya.
"Disana pasti masih subuh." Nia yang berniat ingin menghubungi orangtuanya mengurungkan niatnya karena tidak ingin mengganggu orangtuanya.
Nia memakan masakannya dalam keheningan.
"Begini ternyata rasanya jauh dari orangtua." Tak terasa air mata mengalir di pipinya,karena ini pertama kalinya ia jauh dari orangtuanya.
Di rumah papa Niko.
Setelah Irlan dibawa pulang orangtuanya,papa Niko dan mama Dena kembali masuk ke dalam kamar.
"Pah..." mama Dena membuka suara.
Kini mereka sudah berada di atas ranjang.
"Hemh.." jawab papa Niko yang sepertinya sudah sangat lelah dan mengantuk.
"Menurut papa,apa Irlan sudah benar-benar cinta sama Nia?"
Mendengar pertanyaan istrinya papa Niko membuka matanya dan menatap istrinya yang sedang menatap langit-langit kamar.
"Entah lah mah.."
"Apa kita sebagai orangtua tidak terlalu kejam memisahkan mereka?" Tanya mama Dena.lagi.
"Kenapa mama jadi mikir gitu sih?" Papa Niko membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Kita melakukan itu juga atas permintaan Nia yang memang tidak ingin kembali pada Irlan. Sekalipun Irlan sudah benar-benar mencintai Nia,biarlah kali ini Irlan yang berusaha kembali mendapatkan hati Nia." Papa Niko mengusap punggung istrinya.
"Kalau hari itu tiba,apa papa akan merestui mereka?"
"Entah lah mah..papa belum berpikir hari itu akan datang atau tidak. Sekarang yang harus jadi prioritas kita adalah kebahagiaan Nia."
Mama Dena menganggukkan kepalanya.
"Oh iya jam berapa kita ke Inggris?" Tanya mama Dena sambil mengangkat kepalanya.
"Ya ampun,papa hampir lupa. Gara-gara anak keras kepala itu papa lupa kita harus ke Inggris." Papa Niko menepuk jidatnya.
Dia pun mengambil hp nya dan menghubungi asistennya menyuruh sang asisten untuk menyiapkan tiket keberangkatan mereka ke Inggris.
__ADS_1