
Keesokan paginya,asisten Nia dan Irlan sudah datang mengantarkan berkas-berkas yang harus mereka tanda tangani. Selama mereka wfh,papa Niko dan papi Tian yang menggantikan posisi mereka. Walaupun posisi di gantikan ke para pemilik asli perusahaan,tetap saja berkas-berkas harus di tanda tangani Nia dan Irlan yang menjabat sebagai presdir di perusahaan orangtua mereka masing-masing.
Bik Imah juga sudah datang jam enam pagi tadi. Tugas bik Imah hanya membersihkan rumah dan menjaga Nia disaat Irlan harus keluar kalau ada rapat yang tidak bisa di wakilkan oleh asisten maupun papi Tian. Berbeda dengan Nia,Nia memang sudah memberikan kuasa penuh pada papa Niko kalau seandainya ada rapat yang wajib ia hadiri.
Sedangkan urusan memasak,Irlan lah yang membuat makanan untuk mereka.
Setelah sarapan,Irlan dan Nia kembali ke dalam kamar,Irlan sengaja memindahkan ruang kerjanya kedalam kamar,agar ia bisa selalu mendampingi Nia atau lebih tepatnya menempel pada Nia.
"Kak..." panggil Nia yang baru saja selesai menandatangani berkas-berkas yang di bawa asistennya.
"Iya sayang." Jawab Irlan,namun matanya masih menatap layar laptop.
"Aku pengen banget deh makan rujak bebeg."
Permintaan Nia berhasil membuat Irlan mengalihkan pandangannya ke arah Nia.
"Rujak bebeg,apaan tuh??" Tanya Irlan,karena memang dia tidak pernah mendengar nama itu.
"Itu loh kak,rujak yang potongan-potongan buahnya di tumbuk barengan sama bumbunya." Kata Nia menjelaskan.
"Terus aku belinya kemana?"
Nia menggedikkan bahunya,karena sebenarnya ia juga tidak tahu dimana membelinya.
"Coba aja kakak cari di jajanan pinggir jalan. Terus tanya-tanya deh dimana ada orang jual rujak bebeg."
"Apa di pinggir jalan??!" Mode overprotektif on.
Nia mengangguk.
"Gak.!!!! Kan udah aku bilang,kamu gak boleh makan sembarangan dulu selama hamil." Entah karena Irlan malas turun ke jalanan untuk mencari rujak bebeg,atau memang ini bentuk perhatian Irlan pada Nia dan calon anak mereka.
Nia memanyunkan bibirnya saat ia melarang dirinya memakan makanan pinggir jalan.
"Tapi ini kan maunya anak kamu kak." Kata Nia dengan suara yang ia buat se memelas mungkin sambil mengusap-usap perutnya.
"Kata orang,kalau istri lagi hamil ngidamnya gak kesampean,nanti anaknya jadi encesan. Kakak mau kalau anak kita kayak gitu?" Kata Nia lagi masih dengan nada memelas.
"Tapi Nia sayang...."
"Tuh kan kakak gak mau. Kalau kakak gak mau,ngapain kakak ada di rumah. Kakak gak inget kata mami,kalau gunanya kakak di rumah selain jagain aku,yah untuk memenuhi ngidamnya aku." Nia memotong ucapan sang suami.
Mendengar istrinya yang merengek,Irlan pun mengalah.
"Ya udah kamu boleh makan. Tapi jangan makan banyak-banyak yah."
Nia mengangguk kesenangan.
Irlan pun mengambil hp nya yang ia letakkan di atas meja untuk menelpon asistennya.
__ADS_1
"Kakak mau nelpon siapa?" Tanya Nia yang melihat gerak-gerik tidak enak dari suaminya.
"Telpon Dimas,suruh dia beli rujak bebeg."
Nia langsung bangkit dari duduknya di sofa dan mengambil hp Irlan dari tangannya,dan mematikan panggilan ke nomor Dimas.
"Kok kakak nyuruh Dimas sih? Emang bapak dari anak aku yang aku kandung ini siapa? Dimas?" Tanya Nia kesal. Hampir saja usahanya untuk mengerjai sang suami gagal.
"Ya aku lah. Orang aku yang tiap malem nanam bibit. Aku juga yang tiap malem mupuk."
"Kalau gitu harusnya kakak yang pergi beli bukan Dimas."
"Tapi sayang,aku gak tau mau beli dimana. Bentuknya aja aku gak tau gimana."
"Kakak kan bisa liat di internet gimana bentuknya,kalau dimana belinya,yah kakak cari lah,tanya sama penjual jajanan di pinggir jalan. Usaha dong kak."
"Bakalan lama sayang kalau harus aku yang nyari. Kerjaan aku masih numpuk ini."
"Oooh..jadi kakak lebih mentingin kerjaan kakak? Kalau gitu ngapain kakak ikut wfh? Mana kata-kata kakak yang bilang ingin memberikan semua waktu kakak untuk aku dan anak kita?!" Sindir Nia sinis.
"Bu..bukan gitu sayang. Maksud aku...." Irlan mulai gelagapan. Karena ia salah bicara.
"Akh udah lah...biar aku pesen online aja. Biar aja nanti muka anak aku mirip sama tukang ojek online yang bawain pesanan-pesanan ngidam aku." Nia merajuk,dia mengambil hp nya dan mulai mencari rujak bebeg yang di jual secara online.
Mendengar kata-kata Nia,jiwa posesif Irlan meronta-ronta. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Nia dan mengambil hp nya.
"Enak aja anak aku mau mau mirip sama tukang ojek online. Aku yang capek berusaha,mereka yang nikmatin hasilnya,gak ada itu.!! Biar aku aja yang pergi beli.!" Protes Irlan.
"Anak papa pengen banget yah makan rujak bebeg? Sabar yah sayang,papa pergi beli dulu. Mudah-mudahan dapet. Baik-baik yah di dalem sana. Nanti abis makan rujak bebeg,papa janji bakal jenguk kamu. Muah.."
"Ish..apaan sih jengak-jenguk terus.!" Cibir Nia.
"Itu tandanya aku sayang sama kalian berdua."
"Udah akh sana,nanti keburu habis rujak bebeg nya." Nia mendorong pelan suaminya.
Irlan pun mencium bibir Nia sekilas sebelum ia keluar dari dalam kamar.
Melihat suaminya sudah pergi,Nia tersenyum puas, karena sebenarnya ia menginginkan rujak bebeg hanyalah akal-akalannya semata untuk mengerjai sang suami. Baru beberapa menit di tinggal Irlan,otak jahil Nia kembali memberikan ide-ide jahil. Ia melakukan panggilan video dengan sang suami.
"Iya sayang." Jawab Irlan.
"Kak..nanti kalau udah di tempat tukang rujak bebeg nya,kakak videoin yah cara tukang rujaknya bikin rujak. Sekalian lah kakak tanya-tanya. Kayak orang bikin vlog gitu."
"Akh..gak akh malu." Tolak Irlan.
"Ayo lah kak,ini kemauan anak kakak loh. Mau yah?!!" Rayu Nia dengan wajah memelas.
Melihat wajah sang istri di layar hp yang memasang wajah memelas,Irlan pun mengalah untuk menuruti kemauan Nia.
__ADS_1
"Iya...iya...nanti aku videoin."
Nia pun tersenyum bahagia. Nia pun mengakhiri panggilan videonya dengan Irlan.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Hampir dua jam Irlan pergi untuk mencari rujak bebeg. Membuat Nia yang menunggu Irlan pun ketiduran.
Ceklek. Irlan membuka pintu kamarnya. Rujak bebeg yang ia cari selama satu jam lebih akhirnya telah ia dapatkan setelah bertanya-tanya dari pedagang satu ke pedagang yang lainnya.
Irlan berjalan mendekati Nia yang sedang tertidur di atas ranjang.
"Sayang...bangun. Pesenan kamu udah ada." Irlan menggoyangkan tubuh Nia pelan.
Nia pun mengerjapkan matanya saat merasakan tangan Irlan menggoyang tubuhnya.
"Kakak udah pulang. Kok lama banget sih?" Tanya Nia sambil mendudukkan tubuhnya.
"Nyarinya susah sayang." Jawab Irlan jujur. Bagaimana tidak susah,kalau ia mencari di kawasan elite.
"Tapi dapet kan rujaknya?"
Irlan mengangguk.
"Ada di meja makan. Mau aku bawain kesini atau makan di meja makan?"
"Di meja makan aja."
Nia pun menurunkan kakinya ke lantai dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar disusul oleh Irlan dari belakang.
Irlan menarik kursi untuk Nia duduki,kemudian mengambil kantong kresek yang berisi rujak pesanan Nia ke dalam dapur.
"Bik..tolong taro di mangkok yah." Pinta Irlan pada Bik Imah.
Kemudian Irlan kembali melangkahkan kakinya ke meja makan. Ia menarik kursi yang ada di sebelah Nia.
Tak lama bik Imah datang membawa mangkok yang berisi rujak bebeg pesanan Nia.
"Silahkan di makan non." Kata bik Imah.
"Makasih bik." Balas Nia.
Nia pun menyendokkan rujak itu ke dalam mulutnya. Sedangkan Irlan menatap intens Nia.
Baru saja tiga sendok yang Nia makan,otak jahil Nia kembali beraksi.
Ia menyodorkan satu sendok rujak ke depan mulut Irlan.
"Nih kak,cobain."
Irlan menggeleng. Dari aromanya saja Irlan tidak suka,apalagi harus memakannya.
__ADS_1
"Kamu aja. Kalau nanti aku ikut makan,kamu sama anak kita gak puas makannya." Kilah Irlan.
"Ayo dong. Anak kita pengen banget liat kamu makan ini juga." Sepertinya Nia punya jurus baru untuk mengerjai suaminya. Kasihan si dedek yang ada di dalam kandungan,harus menjadi kambing hitam kejahilan mamanya.