
"Astaga...kok aku lupa yah kalau hari ini ulangtahun pernikahan aku sama kak Irlan." Nia merutuki kebodohannya di dalam hati karena melupakan hari spesial mereka.
"Selamat ulang tahun pernikahan yang kedua istri ku sayang." Irlan memeluk Nia dari belakang dan mengecup pipi kanan Nia.
Nia membalikkan tubuhnya agar dirinya bisa berhadapan dengan Irlan.
"Sama-sama suami ku sayang." Nia membalas kata-kata Irlan dan mengecup bibir Irlan singkat.
Nia menjauhi tubuhnya dari tubuh Irlan dan kembali melihat menu-menu yang ada di atas meja. Semua makanan favorite Nia tersaji di atas meja.
"Ini semua kakak yang masak?" Tanya Nia penasaran.
Irlan menggeleng.
"Aku pesen semua dari restoran favorite kamu." Jawab Irlan jujur.
Tak ingin menunggu lama lagi,Nia pun duduk dan menaruh semua menu yang tersaji ke dalam piringnya. Sangking tidak sabarannya ingin melahap makanan yang ada di meja makan itu,Nia sampai melupakan suaminya yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku Nia.
Irlan heran,kenapa akhir-akhir ini nafsu makan Nia dua kali bahkan tiga kali lipat dari biasanya.
"Uhuk...uhuk.." Karena terburu-buru,membuat Nia tersedak.
Cepat-cepat Irlan mengambil air putih dan menyerahkannya pada istrinya itu.
"Maka nya pelan-pelan dong sayang. Gak ada yang minta juga kok." Kata Irlan sambil mengelus punggung Nia.
Irlan pun duduk di sebelah Nia.
"Aku heran sama kamu,akhir-akhir ini makan kamu kok banyak banget,udah gitu buru-buru banget kayak takut di ambil aja makanannya."
Nia pun berpikir,benar apa yang di katakan suaminya. Dia pun juga merasa akhir-akhir ini nafsu makannya sangat lah besar. Bahkan di kantor pun mulutnya tak berhenti untuk mengunyah.
"Aku juga gak tau. Mungkin aku mau datang bulan kali."
Deg.
Perkataan yang keluar dari mulutnya sendiri membuat ia teringat kapan terakhir siklus bulanannya itu datang.
Sepertinya bukan hanya Nia,Irlan pun sepertinya memikirkan hal yang sama dengan Nia.
"Datang bulan??? Kayaknya udah tiga bulan ini Nia gak pernah datang bulan. Buktinya gue gak pernah puasa." Gumam Irlan dalam hati.
Nia dan Irlan saling pandang sesaat.
"Kak..Nia.." kata Nia dan Irlan bersamaan. Sepertinya mereka telah menyadari sesuatu.
"Semenjak kita pulang bulan madu,kamu gak pernah datang bulan kan?"
Nia mengangguk.
"Apa jangan-jangan aku...Soalnya waktu aku hamil Mosha,makan aku juga banyak banget." Nia teringat waktu ia hamil Mosha.
__ADS_1
Pada saat itu Andrew lah yang menyadari perubahan pada diri Nia yang makan sangat banyak.
Tiba-tiba Irlan menarik tangan Nia.
"Ayo kita periksa." Sangking semangatnya Irlan tak menyadari penampilan mereka pada saat itu.
Nia yang masih memakai bathrobe dan Irlan yang hanya memakai kaos lekbong dan celana pendek.
Nia menepis tangan Irlan.
"Kakak ikh...masa kita keluar kayak gini.!!" Nia mengingatkan Irlan akan penampilan mereka berdua.
"Mending kita periksa pake tespek aja dulu." Nia memberi saran pada Irlan.
"Tespek?? Apaan tuh??" Tanya Irlan polos.
"Itu loh kak,alat tes kehamilan. Jadi kita ngetes pake alat itu melalui air kencing aku."
Irlan mengangguk-anggukkan kepala,padahal ia belum paham dengan yang Nia bicarakan.
"Sekarang kakak pergi ke apotik gih,beli tespek."
"Emang ada di jual di apotik?"
"Ada,udah cepetan. Belinya jangan cuma satu,kalau bisa tiga dengan merk yang beda."
Irlan pun mengangguk.
Setelah mengambil dompet dan hp nya,ia kembaliberjalan ke arah ruang makan menghampiri Nia.
"Aku pergi dulu yah." Pamit Irlan sambil mengecup kening Nia. Kemudian ia mengusap perut istrinya.
"Tunggu papa yah." Ia pun mencium perut rata istrinya yang masih belum pasti sudah ada generasi penerus Irlan atau belum disana.
Irlan pun berjalan terburu-buru menuju pintu.
"Kak.." panggilan dari Nia pun tak ia hiraukan lagi.
Padahal Nia ingin mengingatkan Irlan tentang pakaian yang ia pakai,tapi Irlan keburu keluar dari unit apartemen mereka.
Nia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Irlan yang sepertinya sangat excited untuk mengetahui hasil dari kerja kerasnya.
🍀🍀🍀🍀🍀
Begitu keluar dari apartemen,dengan langkah panjangnya Irlan berjalan menuju lift yang akan membawanya menuju lantai bawah.
Ting. Pintu lift terbuka.
Irlan pun keluar dari dalam lift. Ia kembali melangkah panjang menuju parkiran.
Ia tak memperdulikan setiap mata yang memandang penampilannya. Karena penampilannya sekarang menampilkan otot-otot lengannya yang kekar.
__ADS_1
Setelah sampai di parkiran,ia langsung masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya untuk mencari apotik terdekat.
Kini tespek dengan berbagai merk sudah ada di tangan Irlan.
Irlan kembali mengendarai mobilnya pulang ke apartemennya.
Bip bip bip. Irlan menekan kode pintu unit apartemennya.
Ceklek. Pintu terbuka.
Irlan pun masuk ke dalam. Ia langsung melangkahkan kakinya menuju ruang makan tempat ia meninggalkan Nia sebelum ia pergi membeli tespek.
Namun,belum kakinya sampai ke ruang makan,langkah Irlan terhenti saat mendengar isak tangis dari ruang keluarga. Irlan pun masuk ke dalam ruang keluarga.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Irlan khawatir yang melihat Nia menangis sambil memegang hp nya. Irlan kira ada kabar buruk.
"Ini novel kesukaan aku udah tamat. Aku sedih kak." Jawab Nia sambil menunjukkan hp nya.
Irlan menghela nafasnya. Ada rasa lega karena yang ia takut kan tidak terjadi. Namun ada rasa jengkel karena ternyata Nia menangis hanya perkara cerita novel yang sudah tamat.
"Ya udah,kan masih ada cerita yang lain. Jangan nangis yah..!" Irlan membawa tubuh Nia ke dalam pelukan Irlan. Entah modus atau memang Irlan ingin menenangkan Nia,hanya Irlan yang tau.
Irlan melepaskan pelukannya setelah Nia sudah lebih tenang.
"Ini tespeknya. Ayo kita cek. Aku udah gak sabar." Irlan menarik tangan Nia agar bangkit dari tempat duduknya.
Nia pun menurut. Ia mengikuti langkah Irlan yang masuk ke dalam kamar,kemudian Nia mengambil kantong kresek yang ada di tangan Irlan dan membawanya ke dalam kamar mandi.
"Kakak tunggu sini." Nia tidak mengizinkan Irlan untuk masuk kedalam kamar mandi.
Irlan pun menurut saja apa yang di titahkan permaisuri hatinya itu.
Susah payah ia mencari cara agar bisa buang air kecil. Dan setelah ia merasa ingin buang air kecil,Nia mengambil wadah untuk menampung air seni nya. Setelah itu ia membuka kantong kresek yang berisi tespek.
"Astaga..kak Irlan banyak banget beli tespeknya. Dia mau jualan tespek apa!!" Kesal Nia saat melihat ada sepuluh tespek yang Irlan beli. Padahal Nia tadi hanya menyuruhnya membeli tiga.
Nia tidak menggunakan semua tespek yang Irlan beli,dia hanya mengambil tiga tespek dan memasukkan tiga tespek itu ke dalam wadah yang berisi air seni.
Setelah itu Nia keluar dari dalam kamar mandi.
Irlan sudah tidak sabar dengan hasilnya,ia terus saja mondar-mandir di depan pintu kamar mandi.
"Gimana hasilnya?? Hamil kan? Ada anak ku di dalam kan?" Tanya Irlan penasaran.
"Sabar kak,nunggu lima belas menit baru kita tau hasilnya." Jawab Nia santai. Sebenarnya hatinya juga dag dig dug.
"Kakak belum sarapan kan? Mending kakak sarapan dulu." Kata Nia lagi.
Irlan menggeleng.
"Nanti aja sarapannya,nunggu hasil tespek lebih penting dari sarapan." Tolak Irlan.
__ADS_1
Nia pun tak mau memaksakan suaminya. Mereka pun menunggu lima belas menit sambil duduk di sofa. Mata mereka tak henti-hentinya memandang jam dinding yang ada di dalam kamar mereka.