Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
Bab 46


__ADS_3

Tiga hari sudah Nia tidak bisa di hubungi. Membuat Irlan semakin frustasi.


Pasalnya Haris yang datang ke rumah orangtua Nia pun ditolak kedatangannya oleh orangtua Nia.


Mereka tetap ingin melanjutkan perceraian Nia dan Irlan. Bahkan dari pihak Nia juga sudah menyiapkan 10 pengacara jika Irlan membatalkan gugatannya. Maka pihak Nia lah yang balik menggugat cerai dengan bukti-bukti perselingkuhan Irlan.


Flashback On


Pagi itu Nia sudah kembali ke rumahnya setelah dua hari dia bersembunyi di hotel. Dia juga sudah menghubungi Bi Imah untuk membereskan barang-barang yang ada di rumah Irlan.


Nia juga sudah mengganti no hp nya.


"Pagi mama..pagi papa.." sapa Nia saat sampai diruang makan.


"Pagi sayang.." sahut mama Nia.


Nia langsung duduk ikut sarapan dengan mama papanya.


"Kamu kok gak bilang mau pulang,kan bisa suruh supir jemput kamu.." kini papa Niko membuka suara.


"Gak mau ngerepotin pah.." jawab Nia sambil menyendokkan nasi dan lauk pauk ke piringnya.


"Terus barang-barang kamu mana?" Tanya mama Dena,karena setau mama Dena,Nia pulang ke rumahnya untuk membereskan barang-barangnya.


"Oh itu..masih dususun sama Bik Imah..Masih belum kesusun semua. Mama kan tau kalau Nia udah ngumpul sama Ica dan Tia kerjaan gak ada yang beres. Jadi Nia panggil aja Bik Imah,sekalian bisa langsung kerja disini.."


Mama Dena dan Papa Niko mengangguk-anggukkan kepala,tanda mengerti dengan ucapan Nia.


"Huuuft...selamat.." batin Nia lega karena orangtuanya percaya kepadanya..


Mereka kembali melanjutkan sarapan.


Baru beberapa saat mereka melanjutkan sarapan,tiba-tiba pak Hasan satpam di rumah keluarga Nia datang menghampiri.


"Maaf pak Niko mengganggu." Pak Hasan setengah membungkuk.


"Didepan ada tamu,katanya pengacaranya pak Irlan. Mau ketemu sama non Nia." Lanjutnya lagi.


Mama Dena,Papa Niko dan Nia saling pandang.


"Suruh tunggu,nanti saya telpon ke pos." Suruh papa Niko.

__ADS_1


Pak Hasan pun mengundurkan diri dari ruang makan dan kembali ke posnya.


"Kamu lanjutkan sarapan mu dikamar,biar papa yang bertemu dengan pengacara si Irlan itu."


"Tapi pah...."


"Percayakan pada papa." Papa Niko mengelus puncak kepala putrinya.


"Surti.." panggil papa Niko dari ruang makan.


"Kasih tau Hasan suruh tamunya masuk."


"Baik pak." Surti pun langsung menghubungi pak Hasan.


Nia sudah beranjak dari ruang makan menuju kamarnya.


"Apa kak Irlan benar-benar mau membatalkan gugatannya..??" Lirih Nia sambil melangkahkan kakinya menapaki anak tangga.


Hatinya bimbang..


Maklum saja di umurnya yang masih delapan belas tahun dia belum bisa berpikir dengan logikanya,dia masih menggunakan hati untuk mengambil keputusan.


Kini Nia sudah masuk ke dalam kamarnya. Ingin sekali rasanya dia turun kembali ke bawah,mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi dia urungkan niatnya dan mempercayakan semua kepada papanya.


Haris masuk ke dalam rumah. Begitu masuk ke ruang tamu,Haris sudah disambut tatapan tajam papa Niko.


"Pagi pak Niko.." Haris menjulurkan tangannyan untuk berjabat tangan dengan papa Niko.


"Pagi. Silahkan duduk." Papa Niko menyambut uluran tangan Haris.


"To the point aja.. Apa yang Irlan suruh ke kamu."


"Begini pak, Irlan menyuruh saya datang kesini untuk memberitahukan kalau dia akan membatalkan perceraiannya dengan Nia."


"Ck." Papa Niko berdecak,dia menyunggingkan senyum sinis.


"Apa alasannya?" Tanya papa Niko.


"Sepertinya dia sudah sadar atas kesalahannya pak Niko. Dia ingin mengulang semua dari awal dengan putri bapak." Jawab Haris untuk meyakinkan papa Niko.


Bukan papa Niko namanya yang langsung menerima mentah-mentah alasan Irlan yang baru disampaikan pengacaranya.

__ADS_1


"Yakin karena itu? Bukan karena dia takut dicoret sebagai ahli waris sama papinya?" Tanya papa Niko menyelidik.


Tatapan mata papa Niko yang tajam serta aura kejam dan dingin sukses membuat nyali Haris menciut.


"Maaf pak,klien saya hanya mengatakan itu. Dan kalau bisa biar klien saya bertemu langsung dengan putri bapak. Karena menurut saya putri bapak lah yang berhak menentukan pilihannya."


"Cih..kamu lagi ngajarin saya? Umur kamu berapa? Udah punya anak? Kalau kamu jadi saya apa kamu masih membiarkan anak mu kembali sama laki-laki yang terang-terangan berselingkuh?? Hah...jawab!!!" Papa Niko tersulut emosi.


"Bilang sama anak kurang ajar itu,kalau dia mau membatalkan gugatannya silahkan,tapi saya akan menyiapkan sepuluh pengacara terbaik di negara ini untuk menggugat klien kamu,saya akan tunjukkan bukti-bukti perselingkuhan dia dan jalangnya." Papa Niko menghela nafasnya,kemudian mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah Haris.


"Kamu tau kan kalau sampai saya menunjukkan bukti perselingkuhan klien kamu dengan jalangnya,bukan hanya dirinya yang hancur tapi keluarganya dan Pratama grup juga akan hancur." Papa Niko kembali meluruskan tubuhnya,dia tersenyum sinis menatap Haris.


Haris menelan slivanya.


"Bangsat si Irlan,kalau tau begini gue ogah bantuin dia. Mertuanya bukan tandingannya." Batin Haris berteriak menyesal karena menjadi pengacara Irlan.


"Baik pak akan saya sampaikan." Haris segera bangkit dari tempat duduknya,merasa akan kalah kalau perdebatan ini dilanjutkan,jadi dia memilih untuk mengakhiri pertemuan ini.


"Oh iya satu lagi,,jangan pernah menginjakkan kaki dirumah ini dan kalau memang ada yang perlu dibicarakan langsung saja hubungi pengacara saya."


Papa Niko mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya.


"Ini pengacara yang akan mewakili anak saya. Jadi jangan harap kamu atau klien kamu bisa menemui anak saya."


Haris pun menerima kartu nama yang diberikan papa Niko,dan kembali melangkahkan kaki nya keluar dari rumah itu.


Flashback off


Ini adalah hari ke tujuh setelah Nia menghilang dari Irlan. Dia masih betah menyendiri di ruangannya,bahkan pakaiannya saja dia menyuruh Dimas untuk membelinya.


Irlan tidak pernah pulang ke apartemen Melda,membuat Melda terus menghubungi Irlan tapi Irlan malas mengangkat telpon atau sekedar membalas pesan.


Masalah foto yang Nia kirim ke Irlan pun dia sudah masa bodoh. Yang ada dipikiran Irlan sekarang adalah Nia,Nia dan Nia.


"Gue harus gimana Ni biar bisa dapet maaf dari loe??" Lirih Irlan sambil menenggak minumannya.


Ya..setiap hari Irlan diruangannya Irlan hanya minum alkohol,makan pun hanya sehari sekali. Membuat badannya terlihat kurus ditambah lagi bulu-bulu halus yang mulai tumbuh diwajahnya,terlihat jelas diwajahnya penyesalan yang mendalam.


"Niaaaaaaa!!!" Teriaknya frustasi sambil menjambak rambutnya.


Bayang-bayang wajah Nia terus menghantuinya. Senyum Nia di pagi hari,cara Nia melayani Irlan di meja makan,bahkan yang paling Irlan ingat kenikmatan tubuh Nia waktu ia gagahi. Tiap hari bayangan itu bukannya makin pudar tapi malah semakin nyata.

__ADS_1


__ADS_2