Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
Bab 59


__ADS_3

Sepertinya wejangan yang ia berikan untuk sahabatnya adalah wejangan untuk dirinya juga yang telah menyakiti Ica dan membuat Ica pergi meninggalkannya.


"Kayaknya loe bener..gue udah terlalu egois pengen nahan Nia disisi gue,padahal gue sendiri belum yakin dengan perasaan gue sendiri. Apa ini cinta atau cuma obsesi gue doank. Mungkin akan lebih baik buat dia pergi dari gue. Tapi gue gak akan berhenti ngejar dia kalau emang Tuhan mempertemukan gue dengan Nia lagi." Sepertinya omongan Yordan masuk di akal Irlan.


London-Inggris.


Nia kini tengah menanti kedatangan orang tuanya,setelah menghitung waktu kurang lebih tujuh belas jam, Nia pergi ke bandara dengan menggunakan taksi.


"Nia..." panggil seorang laki-laki dari kejauhan.


Nia menoleh ke arah suara yang memanggilnya,suara yang sangat ia kenal dan sangat ia rindukan. Suara laki-laki yang menjadi cinta pertama seorang anak perempuan. Ya suara siapa lagi kalau bukan suara papa Niko.


Nia menghampiri papa nya dan memeluknya dengan erat,seperti sudah bertahun-tahun tidak bertemu,padahal belum ada seminggu mereka berpisah.


"Eh sana..sana.. main peluk-peluk. Ini punya mama tau." Seloroh mama Dena pada anaknya yang seolah-olah sedang cemburu.


"Nanti pulang dari sini mama bisa puas-puasin peluk papa,sekarang biar aku dulu yang puas-puasin peluk papa." Nia tidak kalah posesive dari sang mama.


Melihat dua orang wanita yang sangat berharga dihidupnya sedang merebutkannya papa Niko mengulas sedikit senyum. Merasa bahagia karena begitu dicintai anak dan istrinya.


"Udah-udah,ayo kita pergi dari sini. Papa udah laper. Kamu udah masak kan?" Tanya papa Niko.


"Udah dong pah..spesial untuk cinta pertama aku.." jawab Nia bangga.


"Ooh jadi buat cinta pertama aja?" Sindir mama Dena.


"Hahaha...buat wanita terhebat ku juga dong.." Nia tertawa sambil memeluk mamanya.


Mereka pun meninggalkan bandara menuju apartemen Nia menggunakan taksi.


Di dalam mobil ayah,ibu dan anak tak henti-hentinya berbicara. Meceritakan kejadian-kejadian yang ada di negaranya selama Nia pergi. Tapi tak ada satupun dari mereka yang membahas Irlan maupun proses perceraian Nia dengan Irlan.


Mereka pun sampai di unit apartemen Nia yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus yang akan dijadikan Nia menimba ilmu bisnis.


Celek.


Pintu apartemen pun terbuka.


"Wah...desainnya bagus banget." Mama Dena terkesima melihat desain apartemen putrinya.

__ADS_1


"Aku yang desain mah,perabotan juga aku pilih sendiri." Jawab Nia bangga.


"Pantesan tagihan membludak.." canda papa Niko yang seperti menyindir Nia karena perabotan yang Nia pilih bukan kaleng-kaleng.



Dapur yang terhubung ruang makan dan ruang tamu.



Kamar tidur Nia.


Di apartemen Nia hanya memiliki satu kamar.


Nia pun membawa barang-barang orangtuanya ke dalam kamar.


"Ayo mah,pah kita makan dulu. Baru istirahat." Ajak Nia pada orangtuanya.


Nia menyiapkan semua hidangan yang sudah ia masak ke meja makan.


Mereka makan sambil kembali bercerita melanjutkan cerita yang terhenti ketika taksi sudah sampai di gedung apartemen.


Selesai makan Nia mencuci piring kotor. Mama Dena dan papa Niko masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Dia tidak menyalakan tv,hanya rebahan di atas sofa dan memainkan hp nya.


Berchat ria dengan kedua sahabatnya.


Tia sudah lolos menjadi mahasiswa kedokteran di salah satu universitas ternama di negaranya.


Sedangkan Ica masih sama,masih ingin mencari hidayah untuk hidupnya.


Tapi yang membuat Nia bingung,Ica akhir-akhir ini sangat sulit dihubungi dan jarang membuka pesan.


Nia menanyakan keadaan Ica pada Tia,tapi Tia pun tidak tau apa-apa. Yang Tia tau Ica sedang dekat dengan seorang laki-laki yang tidak Tia tau dan Ica pun tidak memberitahu pada Nia dan Tia.


Entah apa yang terjadi pada Ica sampai dia susah sekali dihubungi.


Setelah mengobrol dengan Tia melalui pesan. Baru saja Nia ingin meletakkan hp nya di atas meja. Ada pesan masuk di hp nya.

__ADS_1


"Alex." Nia menyebutkan nama orang yang setiap hari mengirimkan pesan dan video call dengannya.


Nia membuka pesan dari Alex. Mereka pun saling membalas pesan. Nia nampak tersenyum sesekali ia tertawa dengan guyonan-guyonan yang Alex berikan.


Tak bisa Nia pungkiri Alex selalu bisa membuat ia tertawa walau hanya sekedar lewat pesan atau video call.


Papa Niko yang sedari tadi memperhatikan anaknya senyum-senyum sendiri sambil main hp. Merasa sedikit lega karena ternyata putrinya memiliki mental sekuat baja.


"Ekhm.." papa Niko berdehem. Membuat Nia menoleh ke arah suara.


"Eh papa..kok gak istirahat.?" Tanya Nia.


"Tadinya papa mau ambil minum,tapi liat kamu lagi senyum-senyum sendiri jiwa kepo papa jadi bergejolak." Papa Niko sekarang duduk disebelah putrinya.


"Papa apaan sih.." Nia tertunduk malu karena kedapatan senyum-senyum.sendiri.


"Kamu chat an sama siapa? Sama Alex yah?" Tebak papa Niko.


"Ih papa kayak cenayang aja. Kok tau?" Nia tak menyangka papa nya tau kalau dia sedang berchat ria dengan Alex padahal ia tidak pernah menceritakan tentang Alex ke papanya.


"Papa nebak aja,tapi sepertinya tebakan papa gak meleset."


Nia memonyongkan bibirnya.


"Ekhm Nia.." papa Niko berhati-hati karena dia ingin memberitahu Nia tentang proses perceraiannya dengan.Irlan.


Nia menoleh ke arah papanya.


"Kenapa pah?" Tanya Nia penasaran.


"Dua minggu lagi putusan perceraian mu. Apa kamu sudah siap dengan status mu?" Tanya papa Niko sangat hati-hati dan tidak ingin menyebutkan status janda yang akan anaknya sandang kurang lebih dua minggu lagi.


"Saat Nia memutuskan untuk melepaskan kak Irlan,saat itu juga Nia sudah siap dengan status maupun resiko yang ada kedepannya. Jadi papa gak usah terlalu khawatir dengan Nia. Nia baik-baik aja pah." Jawab Nia tersenyum. Ia tahu papanya sangat mengkhawatirkannya karena memiliki status janda di usia yang sangat muda,belum lagi pandangan orang-orang tentang statusnya.


Papa Niko semakin bangga kepada anak tunggalnya. Tak menyangka di umur Nia yang masih delapan belas tahun,dia sudah harus menghadapi masalah seberat ini. Tapi melihat Nia yang begitu tegar,membuat papa Niko sedikit lega.


"Terus hubungan mu sama Alex gimana?" Selidik papa Niko,meninggalkan pembicaraan tentang perceraian anaknya.


"Apaan sih pah,kita tuh temen. Kak Alex itu kakak kelas Nia waktu SMP." Nia menerangkan statusnya dengan Alex.

__ADS_1


"Iya sekarang masih temen,besok-besok siapa tau aja bisa berubah statusnya. Jadi naik satu level." Goda papa Niko.


"Papa apaan sih,efek jetlag kayaknya nih makanya ngomongnya jadi ngelantur." Nia memutar bola matanya malas melihat papa nya yang menggodanya.


__ADS_2