
Keesokan harinya Aryan mengunjungi Gebi di ruko . Setelah berpikir semalaman dia memutuskan untuk mengejar cinta Gebi .
Jika dulu Gebi yang mengejarnya. Sekarang dia lah yang akan mengejar cinta mantan istrinya.
" Tuan Aryan ..." sapa Arini begitu membuka ruko. Dia sangat kaget melihat kemunculan Aryan sepagi ini.
" Gebi mana ?" tanya Aryan to the poin.
" Mbak Gebi masih di dalam kamarnya," jawab Arini jujur .
" Belum bangun ?"
" Sudah dong mas ... Mbak Arini ma mana pernah bangun siang ."
" Oh ..."
" Masuk mas ... maaf saya mau buka ruko dulu ."
" Oke ," jawan aryan singkat.
Aryan berjalan ke arah kamar Arini . Kamar yang biasanya dipakai oleh Nanda sekarang dipakai oleh Arini .
Tok tok tok tok
Aryan mengetuk pintu kamar Arini . Tidak sabar rasanya jika masih harus menunggu Gebi keluar dari kamarnya. Apalagi dia harus segera kembali ke hotel .
Tok tok tok
Karena tidak ada tanggapan dari dalam , Aryan kembali mengetuk pintu kamar itu . Tak lama pintu itu terbuka.
Ceklek!
Seorang perawat yang ia utus untuk merawat Gebi keluar . Dia tersenyum begitu melihat kedatangan Aryan .
" Selamat pagi tuan Aryan ," sapanya dengan ramah .
__ADS_1
" Selamat pagi . Dimana Gebi ?"
" Ada di dalam tuan ."
" Sedang apa ?"
" Beliau _"
" Siapa mbak ?" tanya Gebi dalam kamar .
Mendengar pertanyaan Gebi , Aryan langsung menerobos masuk ke dalam . Ternyata wanita yang menjadi tujuan Aryan sedang bersantai di dalam .
" Mas Aryan ," pekik Gebi begitu melihat Aryan sudah ada dalam kamarnya.
" Kenapa ?" tanya Aryan santai sambil menghampiri Gebi yang masih duduk diatas ranjang .
" Mas Aryan kok bisa masuk sih ?" tanya Gebi dengan kesal . Bagaimana tidak ... lelaki itu dengan seenaknya masuk kedalam kamarnya.
" Kan ada pintu ," jawab Aryan asal .
" Kamu sudah sarapan belum ?" tanya Aryan
" Mas ..."
" Jawab pertanyaan ku sayang ..."
" Belum ."
" Kalau begitu kita sarapan."
" Ha ?"
Dengan santai Aryan mengangkat Gebi dan memindahkannya ke atas kursi roda. Gebi yang kaget sampai tidak sempat melarangnya.
" Mas !"
__ADS_1
" Ya sayang ."
" Nggak panggil sayang sayang ."
" Lah ... mulut-mulut ku . Jadi nggak ada yang larang ."
" Tapi mas _"
" Udah .... nggak usah cerewet . Sekarang kita sarapan," ujar Aryan yang dengan santai mendorong kursi roda Gebi keluar dari kamar .
Gebi pasrah diperlakukan seperti itu . Mau melawan pun tidak bisa .
Untung sarapan memang sudah siap . Jadi mereka bisa langsung sarapan. Semua karyawan sudah standby di bagian masing-masing.
" kalian sudah sarapan?" tanya Gebi begitu berpapasan dengan salah satu karyawan yang khusus bagian dapur .
" Sudah mbak ... maaf jika kami nggak menunggu mbak dulu ," jawab karyawan itu dengan gugup .
" Syukurlah kalau begitu. Jangan sampai kalian melupakan sarapan ."
" Makasih mbak ."
Setelah itu karyawan itu kembali melanjutkan langkahnya. Aryan masih setia dengan posisinya.
Sesampainya di ruang makan , Aryan langsung mengambilkan sepiring nasi dan juga lauk untuk Gebi . Kemudian dengan santai mengisi sepiring lagi untuk ia santap.
" Mas nggak malu sarapan disini . Nggak ada yang nawarin loh ," sindir Gebi yang sedari tadi melihat tingkah Aryan .
" Ngapain malu . Kan mas yang memesan semua hidangan ini . Mas juga udah membayarnya," jawab Aryan santai . Tentu saja hal itu membuat Gebi kaget .
" Nggak usah dipikirin. Sekarang lebih baik habiskan makananmu!"
Gebi menurut . Dia mulai menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya. Sesekali dia melirik Aryan yang menikmati makanannya .
Sudut bibir Gebi sedikit terangkat . Entah kenapa melihat Aryan makan dengan lahap membuat Gebi senang . Nafsu makannya pun bertambah .
__ADS_1