
Mama Dena pun menghampiri putrinya yang sedang menatap kosong ke arah luar jendela. Dipeluknya anaknya itu dengan penuh kasih sayang,karena mama Dena pernah mengalami hal yang sama ketika melahirkan adiknya Nia. Dan pada saat itu rahim mama Dena juga harus diangkat,tapi mama Dena sangat beruntung ada papa Niko yang selalu setia memberikan pelukan hangat untuk dirinya.
Jika seorang suami kehilangan istrinya akan mendapat status duda. Dan jika seorang istri kehilangan suaminya akan mendapat status janda. Tapi apakah harus disebut apa jika seorang ibu yang kehilangan anaknya?? Tidak ada.
Mengapa?? Karena rasa sakit dan luka yang tertoreh saat seorang ibu kehilangan anaknya tidak bisa di ukur oleh apapun.
Mungkin untuk sebagian orang yang belum pernah merasakan hamil dan melahirkan,sikap Nia akan terlihat lebay. Tapi bagi para kaum ibu pasti akan merasakan hal yang sama seperti yang Nia rasakan.
"Makan dulu yah,kalau kamu kayak begini terus mama juga sedih. Apa kamu mau liat mama sedih?"
Nia mengangkat kepalanya untuk melihat wajah sang mama. Walau hatinya sedang pilu,tapi ia juga tidak mau melihat mama bersedih.
"Makan yah." Ulang mama Dena.
Nia pun mengangguk.
Mama Dena menggandeng tangan putrinya keluar dari kamar.
Nia mendudukkan dirinya dikursi ruang makan.
Mama Dena mengambilkan nasi dan lauk pauk kedalam piring Nia.
"Mau mama suapin?" Tanya mama Dena sebelum menyodorkan piring itu ke Nia.
Nia menggeleng.
"Nia mau makan sendiri."
Mama Dena menyerahkan piring yang sudah lengkap dengan makanan kesukaan Nia.
Selesai makan Nia kembali ke dalam kamar.
Setelah membereskan meja makan,mama Dena menyusul Nia ke dalam kamar. Dia melihat anaknya sedang duduk di balkon sambil menatap lurus dengan sorot mata kosong.
Mama Dena duduk disebelah anaknya. Menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang.
"Hai Nino..hai Mosha.." tangan mama Dena melambai ke arah langit seperti sedang memberi salam kepada seseorang.
Mendengar itu Nia melihat sejenak ke arah mamanya kemudian sorot matanya mengikuti arah pandang sang mama.
Yang melihat pada dua bintang yang berdekatan,bintang yang satu terlihat lebih besar dari bintang yang disebelahnya.
__ADS_1
Kedua bintang itu terlihat menyendiri dari bintang-bintang lain yang berdekatan.
"Bintang yang agak besar itu namanya Nino,adik kamu yang umurnya juga sama dengan Mosha."
"Mosha?" Tanya Nia heran.
"Oh iya mama lupa. Mama kasih nama pangeran kecil kamu Mosha,artinya sang penyelamat. Karena menurut mama saat kamu kritis,Mosha seolah memberikan nyawa terakhirnya untuk menyelamatkan kamu." Kata mama Dena menjelaskan.
Nia masih menatap intens wajah sang mama.
"Apa kamu tau,kenapa Mosha ingin kamu yang tetap hidup?"
Nia menggeleng.
"Agar kamu bisa menceritakan kepada dunia bahwa kamu bangga memiliki Mosha,pangeran tampan yang sudah menyelamatkan mamanya padahal usianya baru tiga hari." Air mata mama Dena sudah menggenang saat mengatakan hal ini.
"Kalau kamu yang pergi dan dia tetap bertahan hidup,apa yang harus ia katakan pada dunia. Sedangkan Mosha tidak pernah bertemu dengan mu,bahkan merasakan ASI mu saja ia tak pernah." Mama Dena menghirup oksigen banyak-banyak untuk mengisi paru-parunya.
"Jadi kamu harus tetap hidup dan berjuang untuk masa depan mu. Buat Mosha bangga dari atas sana mempunyai mama yang hatinya sekuat karang." Lanjut mama Dena sambil memberikan pelukan hangat untuk putrinya.
Nia pun menangis sejadi-jadinya.
Sedangkan di negaranya Irlan tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena bermimpi tentang seorang bayi yang tersenyum padanya. Senyum yang sangat manis,tapi entah kenapa hatinya sakit dan pedih melihat senyum bayi itu.
Dia mengambil hp dari atas nakas,di lihat masih jam setengah lima subuh.
Dia mendudukkan dirinya dan bersandar di kepala ranjang.
Memegang dadanya yang terasa sakit.
"Apa maksud mimpi itu,kenapa melihat senyum bayi itu membuat hati ku sesakit ini.."
Sudah tiga hari Irlan selalu memimpikan bayi itu dan di setiap mimpi bayi itu selalu tersenyum dan senyum itu selalu membuat hati Irlan nyeri.
Irlan mengambil obat dari dalam laci nakas.
Sudah sebulan Irlan dinyatakan sembuh dari depresinya dan tidak lagi meminum obat. Ia sudah bisa mengendalikan emosinya dan tidak lagi mengkonsumsi minuman beralkohol.
Tapi karena sebuah senyum bayi yang selalu datang ke dalam mimpinya selama tiga hari belakangan ini,membuat ia kembali meminum obat itu.
Kini Irlan sudah kembali bekerja diperusahaan Pratama grup. Walaupun tidak menjabat sebagai Presdir dan hanya sebagai Direktur,tapi setidaknya Irlan bersyukur karena papi nya tidak memboikot dirinya.
__ADS_1
Setiap harinya Irlan hanya disibukkan dengan bekerja bekerja dan bekerja. Ia berpikir jika dirinya selalu menyibukkan dengan bekerja perlahan Irlan akan melupakan Nia. Tapi nyatanya TIDAK.
Sampai detik ini wajah Nia masih bertahta di hati dan pikiran Irlan. Dia juga selalu berusaha mencari keberadaan Nia.
Baik menyuruh orang untuk mencari Nia ataupun dia sendiri yang tak bosan-bosannya mendatangi kediaman papa Niko. Tapi hasilnya sama,orang suruhan Irlan tidak dapat menemukan Nia dan Irlan pun juga tidak mendapatkan informasi dari para pekerja yang ada di kediaman papa Niko.
Nia hilang bagai ditelan bumi.
"Gimana,loe udah dapet informasi keberadaan Nia?" Tanya Irlan pada seseorang di seberang telpon.
"Maaf pak,saya belum bisa mendapatkan informasi keberadaan ibu Nia." Kata seseorang tersebut.
Irlan langsung mengakhiri panggilannya. Dia melempar hp yang baru saja Nia pakai untuk menelpon. Entah sudah berapa hp yang sudah ia banting karena kesal.
"Loe dimana sih Nia,apa segitu bencinya loe sama gue sampe-sampe loe harus bersembunyi kayak gini?" Irlan mengusap bingkai foto yang di dalamnya ada foto Nia. Foto yang Irlan ambil dari akun sosmed Nia,saat Irlan mencoba mencari keberadaan Nia dari postingannya.
Tapi sayang,sepertinya Nia tidak pernah memposting apa-apa semenjak menikah dengan Irlan.
Tiga Tahun Kemudian
Dengan Toga dan jubah wisuda, Nia berfoto dengan teman-teman seperjuangannya.
Nia menepati janjinya pada papa Niko,menyelesaikan study nya hanya tiga setengah tahun dengan predikat Cumlaude.
Cantik,pintar,sederhana dan humble,membuat Nia mempunyai daya tarik sendiri di mata laki-laki.
"Hei.." Andrew menepuk pundak Nia saat Nia tengah sibuk berselfie.
"Eh..ayo sini kak kita foto" ajak Nia.
Nia dan Andrew pun berfoto berbagai gaya.
"Ini." Andrew memberikan Nia sebuket bunga.
"Waah..makasih.Kenapa repot-repot sih. Kamu bisa dateng dan kasih selamat aja buat aku,aku udah seneng."
Andrew tak menjawab,hanya senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Ayo..ikut aku. Vanesha sudah menunggu." Andrew menarik tangan Nia.
Siapa kah Vanesha......?????
__ADS_1