
Papi Tian pura-pura mengernyitkan keningnya.
"Siapa?" Dengan nada seolah penasaran.
Irlan kembali menatap papinya.
"Jadi ini tujuan papi nyuruh Irlan gantiin papi?"
"Maksud kamu?"
"Gak usah akting lagi pih. Udah bisa kebaca."
Irlan beranjak dari kursi kebesarannya.
Tiba-tiba ia memeluk papinya.
"Makasih yah pi. Berkat papi Irlan bisa ketemu lagi dengan wanita yang sangat Irlan rindukan."
"Gak ngerti papi maksud kamu." Masih pura-pura tidak tahu.
Irlan melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari papi nya.
"Masih mau akting juga?"
"Ngomong apa sih kamu." Papi Tian beranjak dari duduknya,dan melangkah keluar dari ruangan Irlan.
Tapi saat ingin memutar handle pintu,langkah papi Tian terhenti sesaat dan kembali menoleh ke arah anaknya.
"Kejar lah dia. Dan bayar lah semua sakit hatinya di masa lalu dengan kebahagiaan di sepanjang hidupnya."
Sehabis mengatakan itu papi Tian keluar dari ruangan Irlan.
Sedangkan Irlan,senyum terus mengembang di pipinya. Karena ternyata masih banyak orang yang mendukungnya untuk mengejar Nia.
🍀🍀🍀🍀🍀
Seminggu sudah papa Niko mengajari Nia perusahaan. Dan mulai hari ini papa Niko tidak lagi ke kantor dan melepas Nia sendiri di kantor,walaupun papa Niko masih akan tetap memantau dari email yang dikirimkan asistennya.
Merasa sudah memilik waktu luang lebih banyak,papa Niko memilih untuk merelaks kan otaknya dengan pergi berlibur dengan istrinya.
Nia yang sebenarnya ingin ikut,harus mengurungkan niatnya karena papa Niko yang selalu mengingatkannya tentang tanggung jawab dari jabatan yang sudah di emban.
Nia pun pasrah. Dan disini lah Nia,berada dalam ruangannya dan bergumul menghadapi setumpuk dokumen yang harus ia periksa.
__ADS_1
Sedangkan Irlan yang sudah seminggu selalu memantau Nia dari jauh,mengembangkan senyumnya karena mendapat laporan kalau hari ini papa Niko dan mama Dena akan pergi berlibur selama kurang lebih sepuluh hari.
Dan itu membuat hatinya bersorak kegirangan. Bagaimana tidak senang,seminggu ini Irlan hanya bisa memantau Nia dari jauh,karena Nia selalu berada di sisi papa Niko,dari datang ke kantor,makan siang sampe pulang kerja pun selalu bersama papa Niko.
Itu membuat Irlan sedikit susah untuk mendekati Nia. Bukan tidak berani dengan papa Niko,tapi Irlan cukup tau diri siapa dirinya di mata mantan papa mertuanya itu.
Paling tidak sekarang,Irlan ingin memperjuangkan cintanya dulu. Baru setelah itu memperjuangkan restu yang dulu sempat ia sia-siakan.
Irlan mengambil hp nya dan melakukan panggilan. Dia menelpon orang suruhannya untuk mengirimkan bunga ke kantor Nia.
Setelah memberi perintah ke orang itu,Irlan mengakhiri panggilannya dan menaruh kembali hp nya di atas meja.
Lagi dan lagi,ia mengembangkan senyumnya.
🍀🍀🍀🍀🍀
Tok tok tok
"Masuk" jawab Nia dari dalam
Sekretaris Nia pun masuk ke dalam ruangan Nia sambil membawa sebuket bunga ditangannya.
"Ini buk,ada kiriman bunga." Menyerahkan bunga itu pada Nia.
"Kurang tau bu,tadi kurir yang mengantar. Coba ibu lihat di dalam kartunya,siapa tau ada nama pengirimnya."
"Terimakasih." Nia mengambil buket bunga itu dari tangan sekretarisnya.
Setelah sekretaris itu keluar Nia membuka kartu ucapan yang terselip di bunga.
"Cinta adalah di mana kamu selalu punya alasan untuk kembali meski kamu sudah berjalan begitu jauh." ~Irlan~
Mata Nia membelalak melihat nama si pengirim bunga.
Entah harus senang atau marah saat melihat bunga dan membaca kalimat yang Irlan tulis di kartu itu.
Ingin di buang sayang,bunga nya terlalu indah. Tapi kalau Nia menerima bunga itu nanti Irlan berpikir kalau Nia memberinya kesempatan.
Lama Nia menimbang-nimbang akhirnya Nia memutuskan untuk menerima bunga itu dan menaruh bunga itu di dalam vas yang ada di meja di dalam ruangannya itu.
Sedangkan kartunya Nia langsung menaruhnya di dalam tas.
Peduli amat dengan pemikiran Irlan,toh juga dia tidak menyuruh Irlan melakukan hal itu untuknya.
__ADS_1
Nia kembali melanjutkan pekerjaannya. Tapi sayang pikirannya terbelah karena kalimat yang Irlan tuliskan. Bahkan kini otaknya sudah memutar kembali pada kejadian dirooftop hotel saat Irlan memeluk dirinya.
Seketika Nia merasakan kehangatan dan ketenangan mengingat suara degup jantung Irlan.
Nia menggelengkan kepalanya,berusaha membuyarkan pikirannya tentang kejadian dirooftop malam itu.
"Gak..gak boleh. Aku gak boleh mikirin dia lagi. Semua udah berakhir.!!" Nia kembali membentengi dirinya dan menyangkal perasaannya sendiri.
🍀🍀🍀🍀🍀
Jam sudah menunjukkan waktu pulang bekerja. Semua karyawan sudah bersiap-siap untuk pulang. Begitu juga dengan Irlan yang sudah membereskan meja kerjanya. Dengan tergesa-gesa dia keluar dari ruangannya.
Hanya satu hal yang ia pikirkan. Menjemput Nia.
Mobil Irlan sudah sampai di parkiran kantor Dirgantara Group. Irlan keluar dari dalam mobil dan melangkahkan kakinya berjalan ke dalam lobi.
Baru saja kakinya masuk ke dalam lobi,langkah Irlan terhenti karena melihat orang yang ingin ia jemput ternyata sudah dijemput orang lain.
Alex sudah terlebih dahulu menjemput Nia.
Mereka berjalan bersama,bahkan tangan Alex terlihat merangkul pundak Nia. Tawa canda mengiringi langkah mereka.
Hati Irlan memanas,rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. Ingin sekali rasanya Irlan meninju Alex yang berani-berani menyentuh wanitanya.
Dan apa itu,Nia tersenyum bahkan tertawa. Irlan seakan tidak rela Nia menampilkan senyum dan tawanya kepada laki-laki lain.
"Ada hubungan apa mereka berdua sebenarnya? Kenapa Nia tersenyum kepada laki-laki itu. Hanya aku yang boleh liat kamu senyum manis kamu Nia..!" Gerutu Irlan dalam hati.
Tak ingin kehilangan jejak mereka. Irlan buru-buru mengikuti langkah Nia dan Alex. Layaknya detektif amatiran.
Irlan melajukan mobilnya mengikuti mobil Alex dari belakang.
Kurang lebih setengah jam di jalanan yang cukup padat akhirnya mobil Irlan berhenti saat mobil Alex yang ia ikuti juga berhenti di sebuah kafe.
Irlan menyeringai,ternyata mereka datang ke kafe Irlan. Mereka mungkin tidak tahu kalau kafe itu milik Irlan. Karena memang kafe Irlan sudah menyebar di seluruh kota di negara itu.
Irlan turun dari dalam mobil ketika Alex dan Nia sudah masuk ke dalam kafe.
Irlan masuk ke dalam ruangannya membuka cctv untuk memperhatikan Nia dan Alex.
Satu jam mereka berada di dalam kafe. Dan saat Alex dan Nia sudah selesai membayar bill,ternyata Nia ingin ke toilet dahulu dan Alex menunggu di dalam mobil.
Kesempatan ini tak di sia-siakan Irlan. Dia langsung turun menapaki anak tangga,menunggu Nia di depan toilet perempuan.
__ADS_1
Begitu Nia keluar dari dalam toilet,Irlan langsung menarik tangan Nia dan membekap mulutnya agar tidak berteriak. Irlan membawa Nia keluar dari dalam kafe melalui pintu belakang yang hanya bisa di akses dirinya dan karyawan kafe.