
Nia menggigit telapak tangan Irlan yang membekap mulutnya.
"Aaarrgghh" jerit kesakitan Irlan..
Nia membalikkan tubuhnya melihat siapa pemilik tangan. Sebenarnya dari aroma tubuhnya,Nia sudah tahu siapa orang itu tapi Nia ingin memastikan kalau dugaannya itu tepat.
"Kamu.." Nia melotot kepada Irlan yang masih mengaduh.
"Pakek perasaan dong kalau mau gigit,sakit nih." Irlan malah balik protes ke Nia.
"Salah kamu sendiri,ngapain juga pake bekap-bekap mulut orang segala. Aku kira kan tadi penculik."
"Emang rencananya aku mau nyulik kamu dari laki-laki itu."
Mendengar Irlan mengatakan kata 'laki-laki itu',Nia langsung mengingat Alex yang pasti sedang menunggunya di mobil.
"Astaga kak Alex."
Saat Nia ingin beranjak dari hadapan Irlan,lagi dan lagi tangan Irlan menahan Nia.
"Ikut aku." Irlan kembali menarik tangan Nia kedalam kafe,membawa Nia ke ruangannya yang berada di lantai atas.
Nia berusaha memukul-mukul tangan Irlan agar Irlan melepaskannya. Dia tidak ingin mengikuti Irlan ke lantai atas.
Berteriak memaki Irlan juga tak ada gunanya,karena semua karyawan yang ada di kafe itu hanya diam melihat Irlan menarik tangannya.
Nia belum sadar juga kalau kafe itu adalah milik Irlan.
Ceklek. Pintu ruangan Irlan terbuka,Irlan mendorong Nia masuk ke dalam ruangannya,lalu menutup dan mengunci pintu itu.
"Kamu apa-apaan sih,kenapa pintu nya di kunci?" Teriak Nia kesal saat Irlan mengunci pintunya.
"Buka gak!!!" Bentak Nia lagi sambil mendorong tubuh Irlan.
"Kamu tuh kok makin galak banget sih,sini duduk dulu." Irlan menarik Nia ke arah sofa dan mendudukkannya disana.
"Kamu juga tukang maksa." Balas Nia dengan wajah ketus.
"Aku mau pulang,kak Alex nunggu aku di parkiran.!!" Teriak Nia lagi.
"Jangan teriak-teriak Nia,nanti orang pikir kamu aku apa-apain.."
"Makanya buka pintunya aku mau pulang. Cepetan." Perintah Nia lagi.
Bukannya membuka pintu,Irlan malah menelpon ke meja kasir.
"Ya pak."
"Kalau ada laki-laki yang nanyain perempuan yang bernama Nia,bilang aja sama laki-laki itu kalau Nia udah pulang." Irlan memberi perintah.
"Baik pak."
Panggilan pun berakhir.
Nia membelalakkan matanya mendengar apa yang di katakan Irlan.
__ADS_1
Tak lama nada dering di hp Nia berbunyi. Ada nama Alex saat Nia mengambil hp nya dari dalam tas.
Baru saja Nia menggeser tombol hijau,Irlan langsung merampas hp Nia dan mematikan panggilan telpon dari Alex. Kemudian menonaktifkan hp Nia.
Nia semakin kesal dengan sikap Irlan yang menurutnya sangat ke kanak-kanakan.
"Kamu tuh kenapa sih,nyebelin banget tau gak. Balikin hp aku.!!!"
Irlan menggeleng.
"Gak akan aku balikin kalau kamu masih galak kayak gini."
Nia menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya kasar. Mencoba meredam emosi yang hampir meledak.
"Mau minum apa?"
"Aku udah minum tadi."
"Makan?"
"Udah makan juga."
"Terus mau apa dong?"
Nia langsung menatap tajam Irlan.
"Mau pulang!!"
"Ia bentar lagi aku pulangin kamu kok,tapi tunggu temen kamu itu pergi dulu dari sini."
Nia memutar bola matanya jengah.
"Aku dulu bego banget yah Nia.?"
Nia mengernyitkan keningnya,tapi malas membalas pertanyaan Irlan.
"Kok setelah kita pisah,aku baru sadar kalau kamu se menggemaskan ini."
Blush..
Tanpa Nia bisa hindari tiba-tiba saja pipi nya langsung merona mendengar kata-kata Irlan. Tapi tetap saja Nia masih memasang tampang juteknya.
"Kamu sama laki-laki itu pacaran?"
"Apa urusannya sama kamu aku pacaran sama dia atau gak,toh aku juga gak selingkuh dari siapa-siapa."
Jawaban Nia berhasil membuat dada Irlan tertohok.
"Tapi aku gak suka ngeliat kamu sama dia." Irlan langsung mengatakan ketidaksukaannya.
"Apa hak kamu. Kita udah gak punya hubungan apa-apa lagi,jadi kamu gak punya hak untuk ngatur hidup aku."
"Aku gak ngatur kamu,aku cuma bilang kalau aku gak suka ngeliat kamu deket sama laki-laki lain."
"Nia.."
__ADS_1
Irlan mendekat ke arah Nia dan duduk disamping Nia.
Mengambil tangan Nia untuk dia genggam.
"Iikh lepas. Jangan pegang-pegang!!!"
Nia berusaha melepaskan tangannya dari tangan Irlan,tapi tidak bisa karena genggaman tangan Irlan yang cukup kuat.
"Denger dulu..Tatap mata aku.."
Nia menatap mata Irlan,untuk beberapa detik mata mereka saling menatap.
"Aku minta maaf atas kesalahan aku yang dulu. Maaf karena dulu aku terlambat menyadari perasaan aku ke kamu." Irlan menjeda kata-katanya sesaat.
"Aku cinta kamu Nia,tolong kasih aku kesempatan kedua untuk membuktikan keseriusan aku." Lanjut Irlan.
Nia memalingkan wajah nya dari Irlan. Hatinya begitu bahagia mendengar pernyataan Irlan. Tapi... kenapa baru sekarang ia mengatakan itu,disaat dirinya sudah mengubur dalam-dalam luka yang sudah Irlan torehkan.
Irlan merangkum wajah mungil Nia dengan kedua tangannya.
"Kamu gak usah jawab sekarang,aku akan tunggu sampai kamu benar-benar siap ngasih kesempatan itu buat aku. Tapi aku mohon jangan sembunyi lagi dari aku. Jangan hindarin aku. Jangan suruh aku untuk pura-pura gak kenal sama kamu. Aku gak bisa."
Nia menatap dalam-dalam sorot mata Irlan,mencari setitik kebohongan dari sorot mata itu. Tapi Nia tidak menemukanya. Nia hanya menemukan dan merasakan ketulusan dari setiap kata-kata yang keluar dari mulut Irlan.
Membuat benteng pertahanan yang ia bangun runtuh seketika. Airmata yang sedari tadi menggenang akhirnya tumpah begitu saja saat merasakan ketulusan Irlan.
Irlan langsung memeluk Nia untuk menyalurkan ketenangan pada Nia dan menepuk-nepuk punggung Nia. Irlan tau,pasti sangat sulit untuk Nia bertahan selama ini.
Cukup lama mereka berpelukan. Irlan menjauhkan tubuhnya dari Nia,dan kembali menatap Nia.
"Udah tenang?"
Nia mengangguk.
Tanpa permisi kepada Nia,Irlan langsung mengecup puncak kepala Nia.
Cup.
Nia membelalakan matanya saat bibir Irlan mendarat di keningnya.
Refleks Nia langsung memukul dada Irlan.
"Kamu apaan sih,main cium-cium aja. Emangnya aku izinin apa!!"
"Kalau minta izin dulu pasti gak bakal dibolehin. Lagian kita kan pernah ngelakuin lebih...."
"Stop jangan diterusin!!" Nia langsung memotong kata-kata Irlan,karena Nia tahu kemana arah pembicaraan Irlan.
"Jangan dibahas lagi. Jangan pernah membahas kejadian itu lagi. Atau aku gak akan pernah maafin kamu."
Irlan menyadari satu hal,ternyata Nia masih trauma akan kejadian malam itu,malam dimana dirinya merenggut paksa kesucian Nia. Walaupun status mereka pada saat itu masih suami istri,tapi Irlan sadar memaksa istri melakukan hubungan intim juga tak dibenarkan. Itu sama saja Irlan sudah memperkosa istrinya sendiri.
🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Ayo dong pada mampir kesini..kalau udah mampir tinggalin jejak kalian dengan kasih like,komen dan vote nya.
Terimakasih.🙏🙏🙏