
Menjelang pagi Gebi sadar . Perlahan dia membuka matanya.
" Dimana ini ?" gumam Gebi bingung .
Gebi menatap sekitarnya yang ternyata berwarna putih .
deg !
Akhirnya ia bisa mengingat kejadian yang sudah ia alami . Jika dia berada dirumah sakit . Bagaimana dengan ketiga temannya?"
Gebi berusaha untuk bangun . Tetapi sulit karena kakinya baru saja dioperasi. Tangannya tak sengaja menyenggol tiang infus.
Brak !
Kelima orang yang sedang asyik dalam mimpi langsung terbangun mendengar suara itu .
" Ada apa ," ucap Sandra dengan mata yang masih sayu .
Kemudian pandangannya beralih pada ranjang Gebi . Dapat ia lihat posisi infus yang miring dan bersandar di meja .
Tanpa ba-bi-bu dia langsung menghampiri Gebi dan meletakkan tiang infus itu kembali ke tempatnya.
" Gebi ," pekik Sandra dengan suara agak tinggi . Membuat keempat orang yang masih linglung segera mendekat kearahnya.
" Alhamdulillah... akhirnya kamu sadar juga .*
Sandra memeluk Gebi dengan lembut . Sandra yang masih shock sungguh tidak menyangka jika mendapatkan perlakuan seperti ini . Meskipun dia tahu Sandra sudah baik padanya .
" Lepasin deh pelukan Lo dari calon bini gua . Bisa engap dia nanti ," ucap Brayen.
" Iri bilang bos," cibir Sandra sambil melepaskan pelukannya.
" Kamu _"
" Kalo masih ingin bertengkar lebih baik keluar ," ancam Aryan yang sudah geram, dengan tingkah dua orang sedari semalam tidak berhenti berdebat .
Sandra dan Brayen langsung diam . Aryan menekan tombol untuk memanggil dokter .
" Bagaimana keadaanmu?" tanya Aryan dengan lembut .
" Ha ?"
Gebi kaget , dia masih belum terbiasa menerima perlakuan lembut dari Aryan .
" Apa ada yang sakit ?"
" Kenapa kakiku tidak bisa digerakkan?" tanya Gebi kemudian . Pandangannya nampak sendu .
" Tidak perlu khawatir. Sebentar lagi dokter akan datang ."
" Bagaimana dengan ketiga temanku ?"
" Kondisi mereka tidak terlalu parah . Jadi mereka tidak ada dirumah sakit ini . Ada beberapa karyawanmu yang menjaganya."
__ADS_1
" ..."
" Selamat pagi ... ada yang bisa saya bantu ?" tanya dokter yang datang keruangan itu .
" Pasien sudah datang dok ," jawab Aryan sambil memberi ruang agar dokter bisa memeriksa Gebi .
" Alhamdulillah.... saya periksa dulu ya ."
" Silahkan Dok."
" Selamat pagi nona ... apa ada keluhan ?"
" Kaki saya kenapa tidak bisa digerakkan ya Dok?"
" Kita tunggu beberapa hari dulu ya nona . Sebab semalam kakinya baru selesai dioperasi. Kaki anda mengalami keretakan yang parah sehingga kami terpaksa harus mengoperasi."
deg
" Masih bisa disembuhkan kan dok ?"
" Alhamdulillah... operasinya berjalan lancar . Mungkin untuk sementara anda akan menggunakan kursi roda tetapi jangan khawatir anda masih bisa berjalan kembali ."
" Berapa lama saya harus memakai kursi roda dok ?"
" Dia hingga tiga bulan ."
" What !"
" Kenapa ?"
" Anda memilih lama atau tidak sama sekali ?"
" ..."
" Anda harus bersyukur masih bisa diberi kesempatan untuk selamat meskipun _"
Dokter itu tidak melanjutkan ucapannya . Dia tahu pasti pasiennya itu shock.
" Yang semangat ya ... banyak yang menyayangi anda ."
" Terimakasih dok ."
" Apakah ada keluhan di kepala anda ?"
" Hanya sedikit pusing dok ."
" Nanti siang kami akan melakukan CT scan. Jadi persiapkan baik-baik oke ."
" Baik ."
" Kalau begitu saya permisi dahulu ."
Dokter itu keluar bersama perawat . Brayen tadi sempat menyingkir sekarang mendekat lagi . Begitupun dengan yang lain . Sekarang Gebi dikerumuni lima orang .
__ADS_1
Gebi menatap Sandra dan juga Aryan bergantian.
" Kok kalian bisa ada disini ?"
" Dengar apa yang sudah dikatakan oleh calon bini gua . Kalian tidak diharapkan kehadirannya."
" Brayen ..."
" Memangnya kalau kami semalam tidak ada disini mungkinkah kamu akan tahu keadaan Gebi ?" tanya Sandra. Dia sangat ingin menutup mulutnya itu dengan lak ban .
" San ?"
" Semalam kendaraan kami macet . Ternyata ada kecelakaan. Jadi aku dan kak Aryan keluar dari mobil untuk melihatnya. Ternyata yang kecelakaan itu kamu . Karena itulah kami mengikuti polisi sampai kesini ."
" Maaf sudah merepotkan kalian ."
" Tidak masalah... yang penting kamu bisa sembuh. Tapi maaf kami tidak bisa menghubungi kedua orang tua mu ," ujar Aryan dengan raut wajah yang sendu . Baru kali ini aryan menampilkan wajah seperti itu dihadapannya.
" ..."
" Apakah kalian tidak ada yang sholat subuh?"
" Betul juga ... ayo San , keburu waktunya habis," ajak Aryan pada adiknya.
" Yuk Fit !"
" Oke ."
Aryan, Sandra dan Fitri keluar dari ruangan itu . Mereka menuju musholla yang tersedia disana .
Tinggallah Gebi , Brayen dan juga Nanda yang sedang berhalangan.
" Kamu nggak sholat nan ?" tanya Brayen .
" Libur ."
" Memangnya sholat asar liburnya ?" tanya Brayen bingung.
" Memangnya kenapa?"
" Kalau Lo sholat kan gua bisa berduaan sama calon bini ."
" Ya elah Bambang . Ingat kalian itu berbeda jadi lebih baik Lo nyerah deh ."
" Apa yang dikatakan Nanda benar Bray ... Masih banyak loh cewek cantik diluar sana yang baik buat kamu ."
Brayen terdiam mendengar ucapan Gebi. Bukannya dia tidak tau . Bahkan Gebi sering mengingatkan tentang perbedaan itu . Belum lagi dengan mamanya yang menjodohkan dia dengan anak sahabatnya.
" Kalian berisik !"
Brayen berjalan kearah sofa . Dia merebahkan tubuhnya disana . Kemudian menutup kedua matanya dengan lengannya.
Gebi dan Nanda yang melihat kelakuan Brayen saling pandang . Kemudian keduanya terkikik geli .
__ADS_1
" Nggak usah tertawa !"