
" Pagi sweety ," sapa seorang pemuda pada Gebi yang sedang menyapu .
Pemuda itu menyunggingkan senyum yang menawan . Menambah nilai plus penampilannya. Tapi tak membuat Gebi terpesona.
Suasana cukup sepi dikarenakan hari ini mereka akan liburan bersama .Gebi menyempatkan untuk bersih-bersih terlebih dahulu .
" Pagi juga ... tumben pagi-pagi gini udah nongol ," jawab Gebi tanpa menghentikan pekerjaannya. Nanggung karena tinggal sedikit lagi selesai .
" Mau bagaimana lagi semalam tidak bisa tidur karena merindukan seseorang."
" Merindukan siapa nih ?"
" Ayolah sweety jangan pura-pura tidak tahu perasaan ku ."
Sudah dua tahun ini Brayen menjadi pelanggan tetap toko Gebi. Di juga mempunyai perasaan pada Gebi . Sudah berkali-kali mengungkapkan perasaannya tetapi berkali-kali juga ditolak .
Tetapi meskipun sering kali ditolak , Brayen tidak pernah dendam pada Gebi . Hubungan keduanya juga masih tetap baik .
" Sorry Brayen ."
" Ha .... nasib _ nasib ."
Keduanya lantas tersenyum. Gebi senang mempunyai teman seperti Brayen . Kadang tingkahnya yang lucu membuat Gebi merasa terhibur.
" Aku tinggal dulu ya Bray ... mau siap-siap dulu nih . Kamu duduk aja di dalam ."
" Oke silahkan."
Gebi pun meninggalkan Brayen sendiri di dalam toko . Sedangkan dia berjalan menuju dapur . Dia mempersiapkan bekal yang sudah ia masak kedalam kotak bekal .
" Halo mas Bray ... dah lama belum ? " sapa Arini yang baru keluar dari kamarnya. Penampilannya sudah cantik .
Brayen yang sedang melamun sampai kaget .
" Ngagetin aja !"
" Sorry mas ... makanya jangan suka melamun . Masih pagi loh ini ."
" Siapa juga yang ngelamun."
" Lah tadi itu ngapain ... nyanyi ?"
" Berisik . Tumben toko belum buka ?"
" Libur mas ... hari ini kita mau liburan."
" Wah ... mas boleh ikut kan ?"
" Terserah mbak Gebi . Kan dia bosnya ."
" Boleh ya sweety ?" tanya Brayen begitu melihat Gebi yang hendak ke lantai dua .
" Boleh apa Bray?"
" Ikut kalian lah ... kemana lagi coba ?"
" Memangnya kamu nggak lagi sibuk ?"
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan Brayen, Gebi malah menanyakan kesibukan pemuda itu . Maklumlah Brayen bukan pengacara . Dia mempunyai showroom yang letaknya tidak jauh dari toko Gebi .
" Pekerjaan ma gampang . Anak-anak juga masih bisa menghandle kok ."
" Terserah deh ... kalau nggak sibuk ma ayo !"
" Thanks... kalau gitu aku ke showroom dulu mau bilang sama anak-anak. Masih lama tidak sih ?"
" Nunggu anak-anak kumpul dulu ."
" Butuh kendaraan tidak ?"
" Sudah ada kok ."
" Oke deh ... tunggu aku ya . Ingat jangan ditinggal!"
" Iya ...iya buruan pergi !"
Brayen berlari ke arah mobilnya yang terparkir di depan toko . Tak lama kemudian mobilnya meluncur.
" Dasar tuh anak . Mbak siap-siap dulu ya Ar ."
" Siap mbak ... jangan lupa dandan yang cantik biar mas Brayen tambah terpesona," goda Arini .
" Kamu ada-ada saja ."
Gebi pun meninggalkan Arini ke kamar . Meladeninya bisa-bisa tidak jadi berangkat.
Sesampainya dikamar, Gebi segera menyiapkan baju ganti yang akan ia pakai . Setelah itu dia masuk kedalam kamar mandi .
Dia melepas semua pakaian yang melekat ditubuhnya. Meletakkan pakaian kotornya di keranjang yang ada di pojok kamar mandi . Setelah itu barulah Gebi membersihkan tubuhnya dengan sabun .
Gebi nampak cantik dengan gaun yang ia pakai .
Setelah semuanya selesai Gebi keluar dari kamar dan turun ke lantai satu . Ternyata semua anak buahnya sudah tiba . Begitupun dengan Brayen.
Brayen sungguh terpesona dengan Gebi . Matanya tidak berkedip melihatnya. Hal itu disadari oleh semua karyawan Gebi .
" Kedip men ... si bos nggak akan hilang kok ," sindir Wawan , karyawan Gebi yang bertugas sebagai satpam .
" Kalian bisa lihat kan cantiknya nya sweety."
" Pret !!! "
" Kalian ma sirik doang ."
" Ada apa nih ?" tanya Gebi begitu sampai disamping mereka.
" Biasa lah mbak _"
" Kamu cantik !"
" Huu. ......."
Suasana menjadi riuh . Gebi pun tak bisa menahan senyumnya. Dia sangat beruntung bisa tinggal ditengah-tengah mereka.
__ADS_1
Senyum itu terlihat oleh Brayen . Sontak pemuda itu tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Gebi .
" Sudah siap semua kan ?"
" Siap !"
" Kalau begitu kita berangkat sekarang . Keburu siang ," ucap Gebi .
Mendengar ucapan Gebi semuanya langsung bangun dari posisi duduknya. Mereka langsung membagi dua regu . Karena ada dua mobil yang akan mereka bawa .
Gebi menaiki mobil bututnya. Diikuti oleh Arini dan dua karyawan lainya . satu mobil lagi berisi enam orang .
Brayen mengajak dua orang untuk menaiki mobilnya. Dengan senang hati dua orang ikut dengannya.
Gebi melupakan jika Sandra ingin ikut dengannya. Untung dia datang sebelum mobil mereka berangkat.
" Hei tungguin gua dong ," pekik Sandra begitu turun dari taksi yang ia naiki .
Gebi yang melihat hal itu langsung menepuk keningnya. Dia pun turun dari mobil dan menghampiri Sandra yang tengah cemberut.
" Maaf ... aku kira nggak jadi ikut ," ucap Gebi begitu sampai di samping Sandra .
Sandra tidak marah , karena itu murni kesalahannya. Ini karena ulah Aryan yang sengaja agar dia terlambat.
" Seharusnya aku yang minta maaf . Tadi insiden sebentar sebelum berangkat."
" Nggak masalah kok . Kamu nggak masalah kan naik mobil teman aku ?" tanya Gebi . Karena mobilnya hanya cukup untuk empat orang .
" Nggak masalah kok yang penting ikut ."
" Oke ... yuk kesana ."
Gebi mengajak Sandra ke mobil milik Brayen .
" Ada apa sweety?"
" Ha ?"
Sandra kaget mendengar panggilan Brayen buat Gebi . Tetapi dia hanya diam tanpa menyela .
" Masih ada bangku kosong kan ?"
" Sweety mau ikut dengan ku ?"
" Bukan . Temen aku ."
" Oh ... kirain ."
" Bolehkan?"
" Bolehlah ... masuk aja . Dibelakang masih ada satu bangku kosong ."
" Nggak masalah kan kamu duduk di mobil ini ?"
" Nggak masalah kok ."
" Ya udah aku kembali ke mobil aku . Kita langsung berangkat saja ."
__ADS_1
" Sip !"