
Dokter yang menangani Nia belum keluar,tiba-tiba seorang perawat dari ruang NICU berlari ke arah mereka.
"Tuan,Nyonya, cucu anda dalam keadaan kritis." Kata perawat itu setelah sampai dihadapan orangtua Nia.
Duuuaaar..
Seperti ada bom waktu yang meledak di hati mama Dena dan papa Niko.
Anak dan cucu mereka sama-sama dalam keadaan kritis.
"Tidaaaaakk..." tangis mama Dena semakin histeris. Tubuhnya semakin melemas,tak lama mama Dena pun pingsan dalam pelukan suaminya.
Melihat mama Dena pingsan,Andrew langsung membantu papa Niko membopong tubuh mama Dena kedalam salah satu kamar rawat. Dan membaringkannya di atas ranjang.
"Paman,biar bibi saya yang urus. Paman lihat saja dulu keadaan anaknya Nia" kata Andrew.
Papa Niko pun mengangguk.
"Tolong jaga istri saya." Papa Niko menepuk pundak Andrew sebelum dia keluar.
Setelah papa Niko keluar,Andrew memanggil dokter untuk memeriksa mama Dena.
Sedangkan papa Niko kembali ke ruang NICU untuk melihat keadaan cucu pertamanya.
Dengan langkah panjangnya kini papa Niko sudah berada diluar ruang NICU,melihat para tim medis memberikan pertolongan pada cucunya dari balik dinding kaca.
Dokter keluar dari ruangan itu.
"Apa anda keluarga dari bayi nyonya Niana?" Tanya dokter pada papa Niko.
Papa Niko mengangguk.
"Saya kakek dari bayi itu,bagaimana kondisi cucu saya?"
"Maaf tuan,kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi.... Tuhan berkehendak lain. Cucu anda sudah berpulang pada-Nya." Kata dokter itu dengan berat hati.
Papa Niko terduduk lemas di lantai. Tak percaya dengan kabar yang baru saja didengar telinganya.
Tapi papa Niko langsung teringat dengan putrinya. Papa Niko takut hal yang terjadi pada cucu nya terjadi juga pada anaknya.
Ia berlari ke arah ruangan Nia.
Saat sudah sampai di depan ruangan Nia,dokter baru saja keluar dari ruangan itu.
"Dokter bagaimana keadaan putri saya.?" Tanya papa Niko
"Keadaan putri bapak sudah stabil." Jawab dokter itu.
"Oh..syukurlah.." kata papa Niko.
__ADS_1
Entah dia harus senang atau sedih sekarang,disatu sisi anaknya sudah dalam keadaan stabil dan di sisi lain dia harus kehilangan cucu pertamanya.
"Tuan,silahkan ikut saya untuk mengurus administrasi cucu anda." Suara seorang suster membuyarkan lamunan papa Niko.
Papa Niko mengikuti langkah suster itu dari belakang.
Sedangkan Mama Dena yang baru sadar kembali menangis histeris. Kini tangannya sudah terpasang infus. Tapi mama Dena ngotot mau ke ruangan Nia.
"Tolong tenang bibi,sebentar lagi paman akan datang dan pasti membawa kabar baik tentang Nia dan bayinya." Andrew menenangkan mama Dena.
Setelah mengurus administrasi,papa Niko kembali ke kamar dimana mama Dena dirawat.
"Gimana keadaan Nia?" Tanya mama Dena panik.
Papa Niko menarik nafasnya dan membuangnya perlahan. Sangat sulit baginya memberitahu istrinya tentang hal ini.
Tapi papa Niko tetap harus memberitahu pada sang istri.
"Kondisi Nia sudah stabil,tapi...." papa Niko tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Mama Dena merasakan hal yang tidak baik dari raut wajah suaminya.
"Tapi kenapa pah?
Papa Niko masih bungkam.
"Apa sesuatu terjadi dengan anak Nia paman?" Tanya Andrew.
Mendengar pertanyaan Andrew,mama Dena semakin penasaran dan menatap wajah laki-laki yang sudah menemaninya dalam suka dan duka.
"Pah,apa terjadi sesuatu pada cucu kita?" Mama Dena mengulangi pertanyaan yang Andrew berikan.
Papa Niko mengangguk lemah.
Seketika tubuh mama Dena menegang. Takut apa yang ada dipikirannya saat ini benar.
"Cucu kita sudah kembali pada-Nya." Tangis papa Niko pun pecah.
Setali tiga uang dengan suaminya,mama Dena kembali menangis histeris.
Andrew pun terduduk lemas di sofa ruangan itu.
Bayi Nia pun sudah langsung dikubur. Itupun atas permintaan mama Dena,padahal papa Niko ingin cucu mereka dikubur setelah Nia sadar.
Mama Dena pernah mengalami hal yang di alami anaknya sekarang. Jadi mama Dena tau persis,jika seorang ibu melihat anaknya sudah terbujur kaku,itu akan membuat trauma yang mendalam bagi si ibu itu sendiri. Maka dari itu mama Dena menyuruh papa Niko untuk segera menguburkan cucu mereka.
Tapi sebelum dikubur mama Dena mengambil beberapa foto untuk ia jadikan kenang-kenangan. Dan akan mama Dena tunjukan pada Nia suatu hari nanti.
Tak lupa ia memberikan nama untuk bayi tampan itu.
__ADS_1
Mosha Dirgantara,mama Dena memberikan nama anak Nia. Nama yang berarti sang penyelamat. Karena menurut mama Dena,bayi mungil itu telah menukar nyawanya untuk menyelamatkan mamanya.
Seminggu berlalu,Nia yang sudah sadar sejak tiga hari yang lalu tak henti-hentinya ingin melihat kondisi anaknya. Tak ada satu pun yang memberitahu pada Nia tentang keadaan yang sebenarnya.
Mau tidak mau,dengan pelan-pelan dan suara yang lemah lembut mama Dena memberitahu Nia kalau anaknya telah berpulang ke Sang Pencipta.
Saat itu juga Nia langsung histeris,mama Dena langsung memencet tombol agar para perawat menenangkan Nia.
Nia langsung di beri suntikan penenang ketika perawat itu datang.
Tak lama Nia pun kembali tertidur.
Hal itu terjadi terus menerus,Nia akan menangis histeris saat dirinya sadar.
Wajar saja,Nia baru kehilangan anaknya apalagi Nia tidak sempat melihat wajah anaknya,mama Dena pun belum menunjukkan foto Mosha pada Nia.
Hari hari berlalu,kondisi mental Nia semakin kuat. Nia sudah bisa menerima kepergian anak yang dia kandung selama enam bulan.
Nia pun sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Kini Nia dan kedua orangtuanya sudah berada di apartemen Nia. Sedangkan Andrew setelah mengantarkan Nia dan kedua orangtuanya ke dalam apartemen,langsung kembali ke rumah sakit tempatnya magang saat ini.
Keesokan paginya,papa Niko langsung kembali ke negaranya,karena pekerjaan yang sudah menumpuk dan pertemuan dengan klien yang tidak bisa diwakilkan oleh asistennya. Sedangkan mama Dena tetap berada di Inggris untuk menemani anaknya dalam masa recovery.
Malam hari nya,mama Dena telah menyiapkan makanan kesukaan Nia di meja makan.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka. Mama Dena melihat Nia yang duduk di pinggir ranjang sambil melihat ke arah luar jendela.
"Ayo makan,mama udah siapin makanan kesukaan mu tuh.." mama Dena menghampiri Nia.
Nia hanya menoleh sesaat dan matanya kembali menatap ke arah luar jendela.
Mama Dena menghela nafasnya. Disaat seperti ini mama Dena paham,hanya pelukan seorang suami lah yang dibutuhkan Nia. Tapi apa daya Nia sudah tak memiliki suami.
¤¤¤¤¤¤¤
kalau ada yang mau tau kisah Yordan dan Ica bisa mampir di novel othor yang judulnya "Penantian Sang Casanova".
kalau udah mampir,jangan lupa tinggalin jejak kalian dengan kasih like,vote dan komen disana yah.
ini nih covernya.
terimakasih 🙏🙏🙏
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA.
__ADS_1