
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam,papa Niko,mama Dena,mama Nita dan papa Tian sudah pulang dari jam enam sore tadi. Kini di dalam kamar VVIP yang sangat besar itu,Nia dan Irlan hanya berdua. Sebelumnya kak Irna dan Tia sempat menjenguk Nia yang akan menjalani operasi jam empat sore besok.
"Mau makan apel apa jeruk?" Tanya Irlan pada Nia. Mereka baru saja selesai makan malam.
"Jeruk aja deh kak."
Irlan pun mengambil jeruk di atas nakas,yang tadi di bawa oleh Ica serta mengupasnya,lalu memberikannya pada Nia.
Nia pun mengambil jeruk itu dari tangan Irlan,sambil matanya tak berhenti menatap layar televisi.
"Kamu udah siap kan buat besok?" Irlan mendudukkan tubuhnya di samping Nia.
Nia mengalihkan pandangannya menghadap Irlan dan mengangguk.
"Bagus..gitu dong. Jangan stres oke,biar semuanya lancar,sebelum operasi harus berdoa dulu." Kata Irlan sambil mengusap rambut Nia.
Nia kembali mengangguk.
"Kakak juga udah siap kan?"
"Siap? Siap untuk apa?" Tanya Irlan bingung yang tak mengerti maksud dari kata siap yang Nia tanyakan.
"Siap untuk puasa panjang,selama empat puluh hari,eh salah dua bulan."
"Kok dua bulan,kata kak Irna empat puluh hari kok."
"Itu kan yang lahirannya normal kak,kalau lahirannya sesar lebih baik lama sedikit,jadi aku maunya dua bulan kakak puasa."
"Akh gak mau. Puasa empat puluh hari aja aku gak sanggup bayangin,gimana kalau di perpanjang dua puluh hari,bisa gila aku sayang. Karatan nanti."
"Cih karatan. Kakak aja tahan puasa empat tahun,lah ini cuma dua bulan aja masa gak bisa sih."
"Beda lah sayang,dulu kan belum kecanduan,tapi semenjak kita nikah aku udah kecanduan,bisa sakau aku sayang kalau sehari gak nikmatin tubuh kamu."
"Pokoknya aku mau kakak puasa dua bulan titik atau habis lahiran aku tinggal di rumah papa." Ancam Nia.
Mata Irlan langsung membelalak mendengar kata-kata Nia. Kalau habis lahiran Nia tinggal di rumah papa Niko,makin asem lah mulut Irlan. Sudah puasa,di tambah lagi harus uji nyali karena melihat wajah papa mertua yang garang. Kalau mereka tinggal di apartemen,walau puasa kan masih bisa olahraga pake mulut.
Akhirnya demi kesejahteraan bersama,Irlan pun mengalah dan memenuhi permintaan Nia yang tidak ingin Irlan jamah selama dua bulan.
"Ya udah iya,aku puasa dua bulan." Jawab Irlan pasrah.
"Nah gitu dong,itu baru namanya suami sayang istri." Nia menepuk punggung Irlan pelan.
"Kalau gitu,malam ini kamu harus kasih aku bekal sebanyak-banyaknya buat stok selama dua bulan."
"Jangan ngaco deh,ini rumah sakit." Nia memukul lengan Irlan.
__ADS_1
"Emang kenapa? Ini kan kamar VVIP,gak ada pasien lain dikamar ini. Disini kan cuma ada kita berdua.
"Tapi di luar kan ada perawat yang jaga kak. Kalau mereka tiba-tiba masuk gimana.?!"
"Pintunya kan tinggal di kunci,beres kan?!"
Nia menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir dengan sikap Irlan yang keras kepala kalau sudah menginginkan sesuatu. Kalau sesuatunya berhubungan dengan pencapaian hidup,mungkin Nia masih mendukung. Lah ini,sesuatu yang diinginkan Irlan berhubungan dengan pencapaian yang lainnya. Apalagi sekarang mereka bukan berada di kamar mereka di apartemen,melainkan di rumah sakit.
Irlan pun turun dari atas ranjang menuju pintu.
Ceklek. Ia membuka pintu itu dan keluar menuju pos jaga perawat.
"Sus.."
"Iya pak. Apa bapak butuh sesuatu?"
"Iya,saya butuh kerjasamanya."
"Kerjasama apa pak?"
"Tolong kalau saya sudah masuk ke dalam kamar,jangan ada lagi orang yang datang yah,kalaupun yang datang mertua atau orangtua saya,tolong suruh mereka menunggu dulu."
"Loh memangnya kenapa pak?" Tanya sang perawat bingung.
"Istri saya mau kasih saya bekal selama saya puasa nanti."
Setelah menyampaikan itu,Irlan kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Nia. Namun,hampir saja langkahnya sampai depan pintu kamar Nia,Irlan kembali memutar tubuhnya dan berjalan menuju pos jaga perawat.
"Apa ada yang lain lagi yang ingin bapak sampaikan?" Tanya sang perawat.
"Jangan lupa pakai headset yah sus. Kayaknya kamar istri saya gak pake peredam suara." Setelah mengatakan hal itu dengan tidak tahu malunya,Irlan kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Nia.
Ceklek. Irlan membuka pintu kamar Nia.
"Dari mana sih kak?" Tanya Nia penasaran.
"Habis briefing sama perawat yang jaga."
"Maksudnya?"
"Udah lah gak perlu tau." Kata Irlan sambil membuka kaosnya.
Nia menelan slivanya saat melihat Irlan yang sudah membuka kaosnya dan berjalan ke arah Nia yang berbaring di tempat tidur sambil menonton siaran televisi. Ia langsung membaringkan tubuhnya di sebelah Nia dan merangkum wajah Nia,kemudian tangan kanannya menahan tengkuk Nia,Irlan pun mempertemukan bibir Nia dan bibirnya.
"Kak..nanti ada yang masuk." Nia mendorong tubuh Irlan untuk menghentikan aksi suaminya itu.
"Gak akan sayang,aku udah kasih tau sama perawat kalau kita lagi gak bisa di ganggu." Jawab Irlan dengan suara serak dan beratnya menahan nafsu. Sampai-sampai tangannya pun tak mau berhenti memainkan dua squishy milik Nia.
__ADS_1
"Akh.." Nia mendesah kecil saat Irlan memainkan jarinya di puncak squishy itu.
"Kunci dulu pintunya kak." Pinta Nia,kini dirinya sudah terbawa arus pemanasan yang baru beberapa detik suaminya berikan.
"Udah sayang,kamu tenang aja,gak akan ada yang ganggu kita. Kamu bisa ngasih bekal buat aku sebanyak yang kamu mau,aku ikhlas, pasrah sayang.." kata-kata Irlan seolah-olah Nia lah yang sangat ingin memberikan bekal pada Irlan.
Dan malam itu Irlan mendapatkan bekalnya sebanyak tiga kali. Sebenarnya Irlan masih belum puas dengan jatah bekal yang Nia berikan,namun karena Nia sudah kelelahan,ditambah lagi Irlan juga harus menjaga tensi Nia agar tetap stabil karena besok Nia harus di operasi. Akhirnya,mau tidak mau,puas tidak puas, Irlan harus terima dengan jatah bekal hanya tiga kali.
🍀🍀🍀🍀🍀
Waktu yang sangat mendebarkan pun tiba,orangtua Nia dan orangtua Irlan serta Ica,Yordan dan Igo berkumpul di kamar rawat Nia untuk memberi semangat sekaligus mendoakan kelancaran operasi sesar Nia.
Dokter Sakti melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Waktunya sudah tiba,bu Niana harus kami bawa ke ruang operasi."
Mendengar perkataan dokter Sakti,Irlan langsung membantu Nia untuk turun dari atas ranjang dan mendudukkannya di atas kursi roda.
"Mah..Pah..papi..mami..doain Nia yah." Nia mencium tangan orangtua dan mertuanya.
"Iya sayang,pasti." Jawab mama Dena sambil mengelus punggung anaknya.
"Kamu jangan tegang,jangan stress,nanti tensi kamu naik." Kini mami Nita yang memberi semangat untuk menantunya itu.
Nia pun mengangguk.
"Doain yah Ca,kak Yordan,kak Igo." Kini Nia beralih kepada sahabatnya dan sahabat suaminya.
"Pasti. Semangat. Jangan bayangin pas operasinya,bayangin aja wajahnya si dedek biar gak stress." Saran Ica pada Nia.
Nia mengangguk.
Setelah berpamitan pada semua orang yang ada di kamar itu,Nia pun di bawa oleh perawat menuju ruang operasi. Sedangkan Irlan yang akan mendampingi Nia melewati masa operasi,harus pergi ke ruang pensterillan sebelum masuk ke dalam ruang operasi.
Begitu sampai di ruangn operasi,dokter ahli anastesi pun menyuntikkan obat bius melalui punggung Nia,atau biasa disebut dengan suntikkan epidural,yang akan membuat setengah tubuh Nia mulai dari perut sampai kaki menjadi mati rasa saat di lakukan operasi persalinan. Setelah menunggu beberapa menit,dokter anastesi mencubit-cubit bagian kaki Nia untuk memastikan apa obat bius itu sudah bereaksi apa belum.
"Terasa gak bu?" Tanya sang dokter sambil mencubit kaki kanan Nia.
"Gak dok."
"Kalau ini?" Tanya sang dokter lagi sambil mencubit kaki kiri Nia.
"Gak dok."
Dokter anastesi pun mengangguk pada dokter yang akan membedah perut Nia tanda kalau obat biusnya sudah bekerja.
"Baik,sebelum kita melakukan tugas kita mari kita berdoa." Dan para dokter dan tim medis yang ada di ruang operasi itu memulai dengan berdoa sebelum mengoperasi Nia.
__ADS_1
Setelah selesai berdoa,operasi pun di mulai.