Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
Bab 92


__ADS_3

Nia mendorong tubuh Irlan,tapi sayang Irlan malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Lepas...!!!" Teriak Nia sambil memukul-mukul dada Irlan. Tapi Irlan tak menghiraukan teriakan Nia.


"Pliiss..kita gini dulu sebentar aja." Kata Irlan pelan,lalu mengecup puncak kepala Nia.


Nia pun membiarkan Irlan memeluknya.


"Aku kangen sama aroma tubuh kamu." Kata Irlan sambil menjauhkan kepalanya untuk melihat wajah Nia.


Wajah Nia merah seketika,selain mendengar kata-kata Irlan. Nia juga terpesona dengan wajah Irlan yang baru bangun tidur. Mata mereka saling menatap. Kini mata Irlan tertuju pada bibir Nia. Bibir yang ingin ia rasakan setiap saat.


Irlan menarik dagu Nia ke atas,agar bibir Irlan mudah mempertemukan bibir mereka. Merasa tidak ada penolakan dari Nia setelah bibir mereka bertemu,Irlan pun memberikan *******-******* lembut.


Entah kenapa,asal berdekatan dengan Nia,hasrat Irlan tak bisa dikendalikan. Apa mungkin karena efek sudah lama tak menyalurkan hasratnya,atau karena dorongan rasa cintanya pada Nia yang begitu besar sehingga ia tak bisa mengontrol dirinya.


Merasa membutuhkan oksigen Irlan melepaskan pungutan itu.


"Boleh?" Irlan meminta izin terlebih dulu pada Nia,sebelum ia berbuat lebih jauh.


Nia mengerti maksud dari pertanyaan Irlan. Hatinya ingin sekali mengatakan IYA tapi pikirannya masih belum bisa menaklukan kenangan tentang malam itu.


Nia menggeleng sebagai jawaban.


"Kita bukan suami-istri lagi,dosa kalau kita lanjutin."


Irlan pun sadar akan statusnya dengan Nia sekarang.


Irlan menjauhkan dirinya dari Nia. Dia menelungkupkan badannya,meredam hasrat si junior yang sudah mengeras.


"Kamu mandi duluan,aku mau ajak kamu ke suatu tempat." Kata Irlan.


"Gak mau akh..aku mau pulang."


"Sebentar aja,kita pulang habis dari sana."


Nia pun menuruti kata-kata Irlan.


Dia turun dari atas ranjang,melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

__ADS_1


Sedangkan Irlan,jangan ditanya ia masih sibuk mengontrol juniornya untuk kembali tidur.


"Masa gue main solo lagi sih.." lirih Irlan frustasi.


🍀🍀🍀🍀🍀


Setelah mengajak Nia berjalan-jalan sebentar untuk menunjukkan beberapa kafe milik Irlan di kota itu pada Nia,mereka pun langsung pulang ke kota mereka. Di dalam pesawat Irlan selalu menggandeng tangan Nia,walau sudah berbusa mulut Nia ngomel-ngomel agar Irlan melepaskan gandengan tangannya tapi Irlan tidak peduli dan tetap menggandeng tangan Nia.


"Huuuft..berasa kembar siam kalau begini.." gerutu Nia untuk yang kesekian kalinya.


Irlan yang mendengar hanya senyam-senyum sendiri,tanpa menanggapi ocehan Nia.


Satu jam perjalanan mereka,akhirnya mereka sampai di bandara. Saat sampai bandara Dimas sudah standby di tempat penjemputan.


Melihat boss nya berhasil membawa pulang mantan istrinya bahkan sekarang mereka berjalan bergandengan tangan. Dimas yakin bahwa boss nya sudah berhasil menjinakkan hati mantan istrinya itu.


"Selamat datang pak Irlan,bu Nia." Sapa Dimas saat Nia dan Irlan sudah mendekat ke mobil.


Nia membalas sapaan Dimas dengan senyuman.


Dimas lalu membuka pintu belakang agar Nia dan Irlan duduk di kursi penumpang. Setelah mereka masuk,baru lah Dimas berlari kecil membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi.


Dimas pun melajukan mobilnya meninggalkan tempat penjemputan.


"Cih..baru sehari honeymoon udah langsung bucin aja si boss ." Umpat Dimas dalam hati.


Jalanan yang begitu padat,membuat laju mobil sangat lambat bahkan hampir tak bergerak.


Irlan melirik ke arah Nia,melihat Nia yang sudah tertidur dengan kepala ia senderkan ke jendela.


Tak tega melihat Nia yang tertidur dengan posisi tidak nyaman itu,Irlan langsung mengambil kepala Nia dan menaruhnya di atas pangkuannya. Setelah memastikan Nia dalam posisi ternyaman untuk tidur,Irlan mengambil ipad yang sebelumnya sudah dibawa Dimas. Irlan memeriksa pekerjaannya melalui email.


Saat memeriksa beberapa laporan dari email yang masuk,tiba-tiba Irlan teringat sesuatu.


"Mas,kamu udah ketemu sama perempuan itu?"


Dimas menggeleng.


"Saya belum berhasil nemuin wanita itu,tapi kata informan saya,wanita itu adalah wanita yang biasa dipakai perusahaan AB properti untuk bernegosiasi."

__ADS_1


"AB properti? Kayaknya saya pernah dengar nama perusahaan itu..." cicit Irlan tapi masih bisa di dengar telinga Dimas.


"Perusahaan baru berkembang pak. Dulu pemiliknya bekerja sebagai Direktur di salah satu anak perusahaan Adiguna Asia Jaya pak. Dan sudah tujuh tahun terakhir memutuskan keluar dari AAJ dan membangun usaha propertinya sendiri." Dimas menjelaskan detail tentang perusahaan AB properti.


Cari tau siapa pemilik AB properti." Perintah Irlan pada Dimas.


"Baik pak." Disertai dengan anggukan.


🍀🍀🍀🍀🍀


Satu setengah jam perjalanan,akhirnya mobil Irlan sampai di apartemen Irlan.


Irlan tidak langsung membawa Nia pulang ke rumah orangtuanya. Irlan ingin melakukan pergerakan cepat untuk mengikat Nia dengan sebuah lamaran yang sudah ia pikirkan matang sejak Nia memberinya kesempatan.


Nia mengerjapkan matanya,sepertinya ia sudah puas tidur di pangkuan Irlan selama kurang lebih satu setengah jam.


Nia mendudukkan tubuhnya saat sadar kalau sekarang kepalanya berada di paha Irlan,dan parahnya kini wajahnya menghadap perut bagian bawah Irlan yang jaraknya sangat dekat dengan si junior.


Nia merasakan jelas si junior yang mengeras disana.


"Maaf.." lirih Nia setelah dalam posisi duduk.


Sedangkan Irlan yang sedari tadi menahan diri untuk tidak berbuat senonoh kepada Nia,akhirnya bisa bernafas lega.


"Kuatkan lah iman hamba Mu ini,jangan sampai hamba khilaf sebelum menghalal kan Nia.." begitu lah doa Irlan di dalam hati sewaktu merasakan pergerakan Nia di atas pangkuan Irlan yang membuat si junior kembali meronta-ronta.


Sedangkan Dimas,dia sudah turun dari tadi sejak mobil sudah sampai di parkiran apartemen Irlan. Dan kini Dimas sudah kembali ke kafe. Ia tidak ingin berlama-lama menjadi kambing congek di tengah-tengah ke uwuan Irlan dan Nia.


Nia melihat ke sekeliling. Ini bukan depan rumahnya,atau kantornya atau rumah mantan mertuanya. Lalu ini dimana? Begitulah pikir Nia.


"Ini dimana?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Nia.


"Di apartemen aku." Jawab Irlan cepat,ia masih mengontrol pikirannya untuk memberi sugesti pada si junior agar kembali tenang di balik boxernya.


Mata Nia membelalak.


"Kenapa kamu gak langsung mulangin aku kerumah? Kenapa malah bawa aku kesini? Kenapa...." belum sempat Nia melanjutkan kata-katanya Irlan sudah membungkam mulut Nia dengan bibirnya. Untuk beberapa detik Irlan menyesap bibir itu agar diam dan tidak kembali mengoceh.


Setelah Nia membungkam,Irlan melepaskan bibirnya.

__ADS_1


"Jangan cerewet nanti aku cium lagi nih." Ancam Irlan.


Sadar dengan aksi Irlan yang memberikan serangan mendadak di bibirnya,Nia langsung mencubit paha Irlan sekeras-kerasnya. Persis kayak cubitan guru matematika othor kalau ada murid yang gak ngerjain PR.**hehehe curcol..**


__ADS_2