
Mereka pun masuk ke mobil Ica dan meninggalkan mobil Yordan di parkiran. Biarlah besok Yordan mengambilnya,toh besok dia akan datang lagi ketempat itu,karena hari ini dia harus puasa demi menolong sahabat dari istri sahabatnya.
Tidak seperti Igo yang sudah terlebih dulu mendapat mangsa. Akh mungkin sekarang Igo sudah masuk ronde ke lima ritualnya. Begitulah pikiran Yordan yang cemburu dengan sahabatnya itu.
Mereka tiba di apartemen Yordan.
Yordan membantu Ica membopong Nita sampai ke unit apartemennya.
Sampai di dalam Yordan membuka kamar tamu dan menyuruh Ica menidurkan adiknya disana.
"Udah kalian tidur aja disini malam ini.Gue juga mau tidur. Tenaga gue udah habis mukulin anak orang tadi.." kata Yordan penuh canda.
"Makasih yah kak udah bantu aku nemuin adik aku,seandainya tadi kita telat bisa-bisa adik aku....." Ica tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Udah..udah..yang penting sekarang adik loe udah selamat. Sekarang loe istirahat aja,udah mau subuh ini." Yordan menengok jam yang ada ditangannya ternyata sudah hampir subuh.
Ica menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam kamar tamu,dia menutup pintu dan naik ke atas ranjang.
Pikirannya terus membayangkan wajah Yordan sang superheronya.
Ica memang sudah tertarik dengan wajah Yordan yang kebule-bulean itu sejak hari pernikahan Nia dan Irlan.
Tapi setelah hari ini perasaannya menjadi seribu kali lipat.
Malam berganti pagi. Membuat seorang Niana harus rela terbangun dari mimpinya.
Dia mengambil hp yang ia taruh diatas nakas.
"Wah..masih jam enam.." merasa takjub dengan dirinya sendiri karena tidak biasanya dia bangun sendiri jam segini.
Nia bangkit dari ranjangnya menuju kamar mandi,dia membersihkan tubuhnya sebelum turun ke bawah untuk sarapan bersama orangtuanya.
"Pagi sayang..." sapa mama Dena ketika melihat anaknya turun dari tangga.
"Pagi mah." Balas Nia sambil mengecup pipi kanan-kiri mamanya.
Mereka berdua pun menuju dapur,menyiapkan sarapan.
"Pagi papa.." Nia menghambur ke pelukan cinta pertamanya itu. Laki-laki yang tak akan pernah menyakitinya. Bahkan rela memberikan nyawanya untuk sang putri.
"Pagi sayang.." balas papa Niko sambil mengecup puncak kepala putrinya.
"Ehm..." mama Dena berdehem.
"Kok mama ngerasa dicuekin yah.." lanjut mama Dena.
Nia dan papa Niko tergelak mendengar sindiran mama Dena.
Papa Niko merentangkan kedua tangannya agar mama Dena ikut masuk kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Tidak ada yang lebih berharga dibanding kalian berdua.."kata papa Niko setelah mama Dena ikut masuk kedalam pelukannya..
"Ooooh so sweetnya..." kata Nia sambil melepaskan pelukan dari papanya.
"Udah..udah kita sarapan dulu.." ajak mama Dena.
Mereka pun duduk di kursi masing-masing.
Ketika mama Dena ingin mengambilkan mengambil piring untuk suaminya,tangan Nia menahannya.
"Sini biar Nia aja..sekali-sekali Nia mau ngelayanin superhero dan wonderwomen nya Nia..." kini Nia yang mengambi alih.
Dia menuangkan nasi beserta lauk-pauknya untuk papa dan mamanya,baru lah dia mengambil untuk dirinya sendiri.
Mereka pun makan dengan lahap.
"Pah...Nia mau kuliah.." kata Nia setelah makanan yang ada dipiring mereka habis.
Papa Niko mengarahkan pandangannya ke Nia.
"Serius?" Tanya papa Niko.
Nia mengangguk mantap.
"Oke,kamu pilih aja dikampus mana kamu mau kuliah." Lanjut papa Niko.
"Tapi Nia mau kuliahnya di Inggris pah,boleh?" Tanya Nia pelan.
"Jauh banget itu Nia,apalagi kamu sendiri disana,nanti kalau kamu sakit atau kenapa-kenapa gimana?" Mama Dena menolak Nia untuk kuliah di Inggris.
"Apa karena laki-laki itu makanya kamu mau meninggalkan negara ini? Kalau memang laki-laki itu penyebabnya biar papa buat laki-laki itu yang meninggalkan negara ini. Bukan malah kamu yang pergi dan bersembunyi.." papa Niko ikut protes,bahkan papa Niko menuduh Irlan lah yang menyebabkan Nia mengambil keputusan ini.
"Bukan pah bukan karena kak Irlan." Sanggah Nia.
"Jangan pernah sebut nama laki-laki bre**sek itu.!" Titah papa Niko yang tidak ingin mendengar nama Irlan.
Nia menarik nafasnya dalam-dalam.
"Nia kesana emang murni mau lanjutin kuliah pah,bukan karena Nia mau sembunyi. Males juga lah,emang Nia punya salah apa sampai-sampai harus sembunyi kesana." Nia berusaha meyakinkan papanya.
"Boleh yah pah..mah." kini Nia mengeluarkan jurus memelasnya.
Mama Dena menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya kasar.
"Terserah papa kamu aja." Mama Dena melanjutkan mengambil piring-piring kotor dari atas meja.
Mata Nia mengarah ke papa nya.
Papa Niko juga melakukan hal yang sama dengan istrinya.
__ADS_1
Menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar,seolah sedang mengambil keputusan yang sulit. Walau sebenarnya memang sangat sulit.
Membiarkan Nia putri semata wayangnya harus berpisah jauh dari mereka. Apalagi membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Baiklah kalau memang kamu mau bersekolah disana." Kata papa Niko.
"Tapi kamu harus bisa menyelesaikan sekolah mu dalam kurun waktu tiga setengah tahun dan setelah itu kamu yang langsung pegang perusahaan. Gimana??"
Nia mengangguk setuju. Dia kegirangan.
Dia langsung melompat dari tempat duduknya ke pangkuan papanya.
Bertubi-tubi ciuman dia berikan kepada papanya,hatinya begitu bahagia.
Pagi ini Irlan terbangun tanpa Melda ada disampingnya.
Dia melihat jam yang ada dindingkamarnya,di lihatnya masih pukul tujuh.
"Tumben Melda udah bangun sepagi ini." Irlan tersenyum.
Karena Irlan tidak mendengar suara di kamar mandi,jadi dipikiran Irlan Melda pasti sedang menyiapkan sarapan untuknya.
Irlan bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini Irlan berencana menemui orantuanya dirumah orangtuanya.
Setelah mandi dan memakai pakaian dia pun keluar dari kamar,dengan harapan Melda sudah membuatkan sarapan untuknya.
Dia melihat sekeliling dapur tidak ada Melda disana,meja makan pun kosong. Dia beralih ke ruang tamu,Melda juga tidak ada disana.
"Kemana dia?" Irlan membuang nafasnya kasar.
Dia mengambil hp dari dalam sakunya,melakukan panggilan ke nomor Melda.
Tapi sudah lebih sepuluh kali Irlan melakukan panggilan tapi Melda tidak mengangkat telponnya.
Irlan mengguyar rambutnya kasar. Dia bingung apa yang harus ia lakukan terhadap Melda. Ingin marah,tapi dia tidak sanggup kalau nanti karena kemarahannya Melda pergi lagi meninggalkannya. Tapi kalau dibiarkan seperti ini,Melda semakin menjadi-jadi.
"Apa jangan-jangan Melda benar-benar mencari laki-laki lain?" Irlan jadi kepikiran tentang kata-kata Melda semalam.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya membuyarkan pikiran kotornya.
"Gak..gak.. Melda gak akan berani,kalau sampai itu terjadi habis kau Melda di tangan ku." Irlan mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya.
Dia pun keluar dari apartemen.
Melajukan mobilnya ke arah rumah orangtuanya.
Sampailah Irlan dirumah orangtuanya. Dia langsung masuk ke dalam,mencari keberadaan mami-papinya.
"Mi..Pi.."...
__ADS_1
¤¤¤ Ada yang setuju gak kalau aku terusin ceritanya Ica sama Yordan?? kalau ada yang setuju komen yah..¤¤¤