
Mendengar penjelasan Irna,serta melihat bentuk janin yang Irna tunjukkan di layar monitor,air mata Nia tak kuasa di bendung. Ia menangis haru akan keajaiban yang luar biasa yang Tuhan berikan padanya.
"Sayang anak kita sayang." Kata Irlan yang tak kalah harunya melihat calon anak mereka dari layar monitor. Ia menggenggam tangan Nia dan menciumnya berkali-kali.
"Nah ini suara detak jantungnya." Irna memperdengarkan suara detak jantung anak mereka.
"Oh...anak papa." Kata Irlan makin terharu mendengar suara detak jantung anak mereka.
"Ish...anak aku." Nia memukul lengan suaminya.
Melihat adik dan adik iparnya berdebat,membuat Irna geleng-geleng kepala.
"Anak kalian." Kata Irna menengahi perdebatan unfaedah Irlan dan Nia.
Irna menyudahi pemeriksaannya dan menaruh alat pemindainya. Bu bidan membersihkan gel yang ada di perut Nia.
Setelah memperbaiki pakaiannya,Nia turun dari atas ranjang. Irna berjalan kembali menuju meja kerjanya,diikuti Nia dan Irlan.
"Usia kandungan udah lewat trimester pertama kok kamu gak sadar sih lagi hamil?" Tanya Irna heran setelah pasangan itu duduk di kursi di depan meja kerja Irna.
"Aku gak ngeh kak,karena kerjaan aku banyak. Apalagi aku gak ngerasain tanda-tanda kehamilan jadi gimana aku mau sadar kalau aku hamil." Kata Nia membela dirinya.
"Tapi kamu kan pernah hamil. Masa iya kamu gak sadar kalau udah telat datang bulan."
"Aku biasa kayak gitu kak,apalagi kalau lagi capek dan stress dengan pekerjaan."
Irna tak bisa berkata-kata lagi,karena memang sebagian orang mengalami hal seperti itu dan Nia adalah salah satu dari mereka.
"Jadi gak ada keluhan kan yah?" Tanya Irna sekali lagi.
Nia mengangguk lagi.
"Kalau gitu kakak kasih vitamin,nanti tebus di apotik di depan." Kata Irna sambil menulis resep vitamin.
"Dan untuk kamu Irlan,jangan sering-sering berhubungan intim. Walau usia kandungan sudah lewat trimester pertama,tetap saja kandungan istri kamu masih tergolong belum kuat,dan kalau berhubungan usahakan pakai pengaman. Karena cairan mu itu mengandung zat yang bisa membuat rahim kontraksi."
Mata Irlan membelalak mendengar peringatan dari kakaknya.
"Masa gitu kak,kak Irna mau ngejauhin aku dari anak aku?? Masa iya aku di larang nengokin anak aku sama mupuk anak aku.!!" Protes Irlan tak terima.
__ADS_1
"Kakak ikh.." Nia memukul lengan suaminya pelan.
Sedangkan Irna dibuat geleng-geleng kepala mendengar perkataan adiknya itu.
"Kan kakak gak ngelarang kamu nengok anak kamu,kakak cuma bilang jangan sering-sering. Kalau pun mau tiap hari boleh,tapi cukup sekali saja dalam sehari. Dan kalau masalah memupuk,itu memang gak bisa di toleransi lagi."
"Tapi masa pake pengaman kak,mana enak.!!"
"Ish..kakak.!!" Kali ini Nia mencubit paha Irlan karena mulut Irlan yang tak berfilter itu.
Meskipun yang ada di hadapan mereka adalah kakak ipar Nia yang notabene adalah dokter kandungan dan sudah terbiasa dengan pembahasan seperti itu,tetap saja Nia merasa tabu jika harus membicarakan masalah ranjangnya.
"Aaauuw. Sakit sayang." Irlan memekik sambil mengusap-usap pahanya.
Irna menghela nafasnya kehabisan kata-kata mendengar protes dari adiknya.
"Kamu tuh yah. Tahan dong!!! Empat tahun kamu nganggur aja tahan,masa cuma beberapa bulan aja gak tahan,apalagi ini cuma perkara pake pengaman.!! Nanti kalau sudah mendekati hpl baru gak usah pake pengaman lagi. Ini semua demi anak kamu Lan.!!"
Irlan pun pasrah dan mengangguk menyetujui saran kakaknya.
"Kamu juga jangan kecapean yah,hindari stress dan asap rokok." Kata Irna memberikan saran pada adik iparnya.
Setelah vitamin di dapat,Irlan dan Nia keluar dari tempat praktek Irna.
"Aaaa..." teriak Nia karena Irlan tiba-tiba menggendong dirinya ala bridal style.
"Kakak turunin..!!" Teriak Nia sambil memukul-mukul lengan kokoh suaminya.
"Kamu gak denger kata kak Irna kalau kamu gak boleh kecapean. Jadi aku gak akan biarin kamu sama anak kita kecapean karena jalan menuju mobil."
"Astagaaaa!!! Aku gak capek kali kak jalan gini doang.!!" Protes Nia.
"Udah diem,jangan banyak protes. Aku ngelakuin ini buat keselamatan kalian berdua. Kalau gak mau diem,aku cium kamu disini." Ancam Irlan.
Nia pun memilih berhenti protes,karena Nia tahu kalau Irlan tak pernah main-main dengan kata-katanya.
Irlan mendudukkan Nia di kursi depan samping kursi pengemudi dengan sangat pelan dan memasangkan sabuk pengaman untuk Nia. Kemudian ia memutar langkahnya menuju pintu mobil sebelah kanan.
Setelah memakaikan sabuk pengaman untuk dirinya,Irlan menyalakan mesin mobilnya dan mengemudikan mobilnya keluar dari area tempat praktek kak Irna.
__ADS_1
Irlan mengemudikan mobilnya sangat sangat sangat lambat,sampai-sampai membuat Nia tak berhenti-hentinya untuk protes dengan cara Irlan mengemudikan mobilnya.
"Kak,cepetin dikit dong bawa mobilnya.!" Protes Nia entah sudah yang ke berapa kalinya.
"Kamu kenapa sih protes mulu,ini untuk keselamatan kamu dan anak kita sayang." Kata Irlan membela dirinya.
"Astaaagaaa kak.!!! Gak gini juga,kalau kayak gini kapan sampenya.!!! Aku tuh udah laper tau gak.!!" Geram Nia.
Mendengar kata lapar keluar dari mulut Nia,Irlan langsung menoleh ke istrinya.
"Kamu udah laper? Kamu mau makan apa? Biar kita singgah ngisi perut kamu,kasihan anak aku pasti dia udah kelaparan juga." Kata Irlan sambil megusap perut Nia dengan tangan kirinya.
"Aku mau makan...." Nia sejenak berpikir. Sebenarnya ada banyak menu makanan yang mengelilingi otaknya,namun ia masih bingung mana makanan yang saat ini sangat ia ingin makan.
"Aku mau makan nasi goreng kambing yang ada di jalan xxx." Akhirnya kata itu keluar dari mulut Nia.
"Yang ada di pinggir jalan?" Tanya Irlan memastikan.
Nia mengangguk.
"Gak.!! Gak boleh.!! Pokoknya mulai sekarang aku gak izinin kamu makan sembarangan,apalagi makan makanan di pinggir jalan.!!" Irlan menolak permintaan istrinya.
"Tapi kak,aku pengen banget makan itu." Rengek Nia.
Melihat istrinya merengek dengan wajah memelas membuat ia tak tega,Irlan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan untuk melakukan panggilan telepon ke kak Irna.
"Aku tanya kak Irna dulu,kalau kak Irna bilang gak boleh,kamu harus nurut.!"
Tuut tuuut tuuuut.
"Halo kak,ini Nia pengen makan nasi goreng kambing yang ada di pinggir jalan boleh gak?" Tanya Irlan setelah Irna menerima panggilan telepon Irlan.
"Boleh,mungkin itu bagian dari ngidamnya."
"Tapi makanan pinggir jalan gak higienis kak.!!"
"Kamu gak usah lebay deh Lan,kakak aja yang dokter kandungan waktu hamil ngidamnya jajanan pinggir jalan sama jajanan pasar,tapi anak kakak gak pa-pa. Yang penting jangan berlebihan."
"Ya udah deh." Irlan pun mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Ia kembali mengemudikan mobilnya menuju tempat makan pinggir jalan yang Nia maksud.