
Irlan menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya,pikirannya sedang tidak fokus ke pekejaan. Isi pikiran Irlan sekarang hanya memikirkan tentang perkataan Nia yang tidak sengaja ia dengar.
"Nia pernah hamil?? Anak siapa? Siapa laki-laki brengsek yang sudah menghamili Nia setelah kami berpisah.??" Lirih Irlan bertanya-tanya.
"Apa mungkin itu anak gue??? Akh gak mungkin!!! Gue ngelakuin itu ke Nia cuma malam itu doang. Gak mungkin Nia bisa langsung hamil.!!" Otak Irlan masih menyangkal kalau kemungkinan itu anaknya.
"Aaarrrrgh!!!" Irlan menjambak rambutnya frustasi.
Ia berdiri dari duduknya. Berjalan keluar dari ruangannya menuju ruangan papinya. Irlan mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di otaknya.
Tok tok tok. Irlan mengetuk ruangan papi Tian.
"Masuk" jawab papi Tian dari dalam.
Ceklek. Irlan membuka pintu.
Ternyata papi Tian sedang tidak sendiri,ada papa Niko disana.
Papi Tian melihat Irlan yang masih berdiri didepan pintu.
"Ada apa? Apa ada yang kamu mau bicarain sama papi?" Tanya papi Tian yang bisa melihat wajah tidak tenang anaknya.
Irlan mengangguk.
"Ya udah aku pulang dulu kalau gitu." Kata papa Niko sambil berdiri,ia merasa tidak enak,mungkin saja Irlan sedang ingin membahas masalah pekerjaan dengan papinya.
"Jangan om,om disini aja. Karena yang aku mau bicarain ini menyangkut Nia." Cegah Irlan pada calon papa mertua.
Papa Niko mengernyitkan keningnya.
"Menyangkut Nia?? Apa kamu mau ngelamar Nia?" Todong papa Niko.
Irlan menggeleng.
"Bukan om. Kalau soal lamaran masih dalam tahap persiapan,nanti kalau sudah sembilan puluh persen pasti Irlan kabarin."
__ADS_1
"Cih...kamu mau lamaran aja apa sekaligus mau langsung nikahan?? Ribet banget."
"Biar lebih berkesan aja om."
"Jadi kamu mau ngomong apa tentang Nia.?" Tanya papa Niko lagi.
Irlan pun duduk di sofa tepat depan papa Niko sedangkan papinya duduk di single sofa di sebelahnya.
"Ada yang Irlan mau tanyain,tapi sebelumnya Irlan minta maaf kalau nantinya pertanyaan Irlan ini membuat om Niko tersinggung. Ini tentang yang terjadi pada Nia setelah kami bercarai." Kata Irlan memulai kata-katanya.
"Memangnya apa yang mau kamu tanyakan tentang Nia sampe-sampe membuat saya tersinggung?!" Sepertinya papa Niko belum bisa menerka kemana arah pembicaraan Irlan.
Irlan menarik nafasnya terlebih dahulu lalu membuangnya secara perlahan,mempersiapkan diri untuk jawaban dari papa Niko yang mungkin akan menyakitkan untuknya.
"Apa Nia pernah hami dan laki-laki yang menghamili Nia tidak mau bertanggung jawab?" Tanya Irlan ragu-ragu.
Papa Niko dan papi Tian mengernyitkan keningnya.
Dipikiran papa Niko kenapa Irlan bertanya seperti itu,apa ia tidak sadar kalau perbuatannya dulu telah menghasilkan sebuah nyawa di rahim Nia.
Sedangkan dipikiran papi Tian dari mana Irlan tau tentang kehamilan Nia,sedangkan dia saja tidak tau kalau seandainya papa Niko tidak memberitahunya.
"Saya gak sengaja dengar percakapan Nia dan temannya saat di kantor Nia tadi om."
Papa Niko menghela nafasnya.
"Kalau kamu mau tau apa yang terjadi pada Nia setelah kalian bercerai,lebih baik tanya kan langsung pada Nia. Sudah waktunya kalian sama-sama terbuka dengan apa yang telah terjadi pada kalian berdua setelah kalian bercerai."
"Maksud om?"
"Lan,terbukalah sama Nia tentang penyakit depresi mu. Kalian duduk lah berdua dan saling terbuka." Papi Tian yang menjawab.
"Jadi bener apa yang barusan Irlan tanyakan ke om?"
Papa Niko mengangguk. Raut wajahnya berubah sedih seketika karena mengingat kejadian hari itu,dimana anak dan cucunya sama-sama kritis dan akhirnya cucu nya lah yang harus kembali ke sang Pencipta.
__ADS_1
"Tapi gak semua yang kamu bilang itu benar. Nia memang pernah hamil,namun di usia kandungannya yang memasuki enam bulan,ia harus mengalami musibah yang menyebabkan anaknya harus di lahirkan secara prematur. Nia sempat koma tiga hari karena pendarahan,tapi anaknya lahir selamat walau harus di rawat di NICU. Sang Pencipta berkehendak lain,anak Nia yang tadinya dalam keadaan normal tiba-tiba saja kritis kemudian meninggal. Sedangkan Nia yang dari awal sudah kritis begitu anaknya meninggal keadaannya justru menjadi normal." Papa Niko memberitahu Irlan tentang kejadian hari itu. Menjeda kata-katanya untuk menarik nafas kemudian melanjutkan kembali kata-katanya.
"Tapi kalau kamu bilang laki-laki yang menghamili Nia itu tidak bertanggung jawab,itu salah. Karena sampai saat ini laki-laki itu tidak tau bahkan tidak menyadari kalau Nia pernah mengandung anaknya." Kata-kata papa Niko terdengar sangat ambigu bagi Irlan.
"Maksud om...??" Tanya Irlan makin penasaran.
"Bodoh!!!! Nia itu hamil anak kamu!!! Masa kamu gak sadar juga sih!!! Kamu gak ngerasa udah numpahin benih di ladang Nia??!" Kata papi Tian kesal melihat kebodohan putranya,padahal waktu sekolah dulu Irlan anak yang pintar dan ber IQ tinggi. Tapi entah kenapa kalau sudah berurusan dengan yang namanya perasaan Irlan menjadi bodoh bagai kerbau yang di cocok hidungnya.
Irlan membulatkan matanya mendengar kata-kata papinya.
"Papi serius??? Tapi kok bisa Nia langsung hamil? Padahal Irlan ngelakuin itu cuma malam itu doang?!" Tanya Irlan masih tidak percaya dengan kebenaran yang baru ia dengar.
Papa Niko dan papi Tian menggeleng-gelengkan kepalanya,sudah tak sanggup berkata apa-apa lagi melihat kebodohan Irlan.
"Malam itu kamu ngelakuin berapa kali? Pake pengaman?" Tanya papi Tian kesal.
Irlan mencoba berpikir mengingat kejadian malam itu.
"Irlan gak inget berapa kali,tapi yang jelas sampe subuh. Itupun Irlan berhenti karena ngeliat muka Nia yang udah pucet banget. Dan Irlan gak pake pengaman.." jawab Irlan dengan polosnya dihadapan papinya dan papa Niko.
Papa Niko geram mendengar kata-kata Irlan,ia mengepalkan tangannya untuk memberikan tinju di wajah Irlan. Walau kejadian itu sudah sangat lama,tapi sampai saat ini papa Niko belum memberi pelajaran pada Irlan.
Papa Niko berdiri dari duduknya,rahangnya sudah mengeras,dia sudah siap mendaratkan tinjunya di wajah Irlan.
Namun aksinya terhenti karena teriakan seseorang yang baru saja menerobos pintu ruangan papi Tian.
"BERHENTIIIIIII...!!!!" Teriak Nia yang melihat papanya akan memberikan tinju di wajah Irlan.
Sontak tiga lelaki yang ada di ruangan itu menoleh ke arah pintu dimana Nia masih berdiri.
"Nia...!!" Kata tiga lelaki itu kompak.
Nia melangkahkan kakinya menuju Irlan.
"Ada yang harus kita bicarain berdua." Kata Nia sambil menarik tangan Irlan untuk keluar dari ruangan papi Tian.
__ADS_1
Nia yang tidak bisa bekerja karena tidak tenang memikirkan Irlan yang sepertinya tau tentang kehamilannya dulu,memutuskan untuk mendatangi Irlan di kantornya. Namun saat tiba di depan ruangan Irlan sekretaris Irlan mengatakan kalau Irlan sedang berada di ruangan papi Tian.
Nia pun melangkahkan kakinya menuju ruangan papi Tian. Namun saat Nia ingin membuka pintu,Nia samar-samar mendengar Irlan sedang bercerita tentang kejadian malam itu. Nia pikir Irlan menceritakan itu hanya pada papi Tian,ia tidak tahu kalau papa Niko juga berada di dalam. Nia membuka pintu itu tanpa mengetuknya dahulu,niatnya ia ingin menghentikan Irlan untuk tidak meneruskan ceritanya tentang kejadian malam itu,namun saat ia membuka pintu ia malah melihat papa Niko yang sudah berdiri dan siap meninju Irlan.