
Irlan pun mengangguk menyetujui kata-kata papinya.
"Beres pi,pokoknya kalian para orangtua cukup memberi restu untuk kami. Biar pernikahan kami kali ini kami yang urus semuanya,supaya disaat kami bertengkar hebat suatu saat nanti kami akan selalu mengenag bagaimana susahnya menyiapkan pernikahan ini."
"Bagus kalau kamu sudah bisa berpikiran seperti itu. Ya sudah,kamu boleh ke kamar mu. Istirahat,biar otak mu itu kembali berfungsi dengan baik!! Bisa-bisanya mau ketemu Nia gak bawa apa-apa!! Minimal bawa martabak telur kek atau sate kambing kek!!" Kata papi Tian mengejek anaknya.
"Ish...oh iya mami mana? Kok Irlan gak liat mami.." tanya Irlan yang baru menyadari ketidakhadiran maminya disisi sang papi.
"Mami masih pengen liburan. Kamu gak usah mikirin mami mu,nanti kalau kamu mau ngelamar Nia pasti mami mu dateng."
Irlan mengernyitkan keningnya. Merasa aneh dengan jawaban yang diberikan papi Tian seperti ada sesuatu yang papi Tian sembunyikan darinya.
"Ya udah pi,Irlan balik dulu ke kamar." Irlan pun berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangan papi Tian.
Kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya dilantai atas.
Sesampainya di dalam kamar,Irlan langsung membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Tak butuh waktu lama,cukup lima belas menit Irlan sudah selesai membersihkan tubuhnya. Ia keluar dari dalam kamar mandi. Mengganti bathrobe nya dengan pakaian rumahan.
Ia mengambil hpnya dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur,jari-jarinya mengetik pesan untuk Nia memberitahu pada Nia kalau ia sudah sampai dirumah papi Tian dengan selamat.
Setelah mengirim pesan untuk Nia,Irlan pun mulai berpikir cara untuk melamar Nia,agar lamarannya ini bisa berkesan untuk Nia. Irlan pun melakukan panggilan ke nomor Igo untuk menanyakan hal itu,tapi sayang Igo tak menerima panggilannya. Ingin menelpon Yordan,tapi agak ragu karena otak Yordan sangat lah absurd. Hingga akhirnya Irlan memilih untuk berselancar di dunia maya,untuk mencari inspirasi cara melamar yang berkesan.
Hingga akhirnya Irlan menemukan cara yang tepat,yang tidak terlalu berlebihan namun tetap romantis dan berkesan.
Irlan meletakkan hp nya di atas nakas,ia senyum-senyum sendiri membayangkan acara lamarannya dengan Nia nanti. Ia sudah tidak sabar untuk merealisasikannya,tapi ia tidak boleh terburu-buru karena ia ingin disiapkan matang-matang.
🍀🍀🍀🍀🍀
Pagi ini Irlan pergi kerumah sang kakak Irna. Untuk membantunya mempersiapkan lamaran yang berkesan untuk Nia,karena papi Tian sudah mengultimatum terlebih dulu,kalau kali ini para orangtua hanya terima bersih,tidak mau ikut campur dalam memikirkan konsep lamaran atau pernikahan nanti.
Jadi mau tidak mau,Irlan meminta bantuan pada kakaknya.
Mobil Irlan sudah terparkir mulus di halaman rumah Irna. Ia melihat mobil sang kakak masih terparkir di garasi,jadi bisa dipastikan kakaknya belum berangkat bekerja.
Irna kakak Irlan sudah menikah dengan seorang pengusaha bernama Farhan Erlangga dan memiliki seorang putri berusia lima tahun bernama Faresha Erlangga. Irna dan Farhan sengaja menunda kehamilan sejak mereka menikah,karena masih ingin fokus dengan karir masing-masing setelah siap baru lah Irna dan Farhan mengikuti program kehamilan. Walaupun Irna adalah seorang dokter kandungan tapi untuk melakukan program kehamilan,dia memilih untuk konsultasi dengan teman sejawatnya yang juga bekerja dirumah sakit tempat ia bekerja.
Irlan masuk kedalam rumah sang kakak.
"Kak Irna.." panggil Irlan dari ruang tamu.
__ADS_1
Bukan Irna yang menjawab malah art rumah Irna yang datang menghampiri Irlan.
"Bu Irna ada di halaman belakang pak." Kata Bik Siyem.
Irlan pun melangkahkan kakinya menuju halaman belakang rumah sang kakak.
Saat kaki Irlan sudah sampai halaman belakang,ia menghentikan langkahnya saat mendengar pembicaraan kakaknya dengan seseorang di seberang telpon.
"Mami gak usah mikir yang macem-macem,pikirin kesehatan mami,denger kata-kata dokter yang ada disana biar mami cepet sembuh. Biar cepet pulang kesini. Faresha udah kangen banget sama mami katanya.."
Begitulah kata-kata Irna yang Irlan dengar.
"Mami...? Kak Irna lagi ngomong sama mami Nita atau ngomong sama mertuanya.?" Tanya Irlan dalam hatinya.
Namun kata-kata Irna selanjutnya mampu membuat Irlan seperti tersambar gledek di siang bolong.
"Irna gak kasih tau Irlan kok mi kalau mami ke Singapore buat berobat,jadi mami tenang aja. Mami harus secepatnya sembuh dari kanker mami,oke."
"Kak Irna.." panggil Irlan ditengah keterkejutannya.
Irna pun menoleh. Ia tak kalah terkejut melihat Irlan sudah ada di belakangnya.
Buru-buru ia mengakhiri panggilan telponnya dengan sang mami.
"Sejak kakak bilang kalau kakak nyembunyiin penyakit kanker mami dari aku."
Irna menghela nafasnya. Memang tak seharusnya ia menyembunyikan penyakit mami nya dari sang adik.
"Jadi selama ini mami ke Singapore karena sakit? Dan selama itu pula kalian nyembunyiin ini dari Irlan?"
"Kakak bisa jelasin Lan. Kamu jangan emosi dulu,penyakit kamu bisa kambuh kalau kamu gak bisa ngontrol emosi kamu." Irna menarik tangan sang adik dan mengusap-usapnya agar Irlan bisa meredam emosinya.
Irlan pun menarik nafasnya dan membuangnya perlahan. Begitu ia ulang-ulangi sampai emosinya bisa teredam.
"Ayo duduk sini." Irna menarik tangan sang adik agar duduk di kursi.
"Sekarang kasih tau semua sama Irlan apa yang selama ini kalian sembunyiin dari Irlan."
Irna pun menceritakan pada Irlan secara perlahan.
__ADS_1
"Apa mami sakit gara-gara aku kak?" Tanya Irlan dengan nada sedih.
Irna menggeleng.
"Mami sakit bukan karena kamu,emang udah jalannya begitu Lan. Jadi jangan nyalahin diri kamu,oke." Irna mengusap-usap punggung adiknya.
"Jadi kamu kesini mau ngapain?" Tanya Irna mengalihkan pembicaraan mereka tentang sang mami.
"Irlan mau minta bantuan kakak."
"Bantuan apa?"
"Irlan mau ngelamar Nia,tapi papi nyuruh Irlan ngelamar dengan harus dengan cara yang berkesan."
"Terus kamu udah punya konsep?"
Irlan mengangguk.
"Udah,tapi Irlan masih ragu. Makanya Irlan kesini mau minta pendapat kakak."
"Coba kasih tau kakak gimana konsep nya."
Irlan menceritakan pada Irna konsep lamaran ia pada Nia.
"Bagus kakak suka sama konsepnya. Romantis dan pastinya mahal banget untuk ukuran lamaran." Kata Irna di iringi kekehan kecil di akhir kalimatnya.
"Tapi setelah mendengar kondisi mami,Irlan jadi ragu,mengingat kondisi mami yang lemah."
"Mami kuat kok Lan,kamu lanjutin aja konsepnya. Emang kapan rencananya kamu mau ngelamar Nia?"
"Rencananya dua minggu lagi,tapi kalau mami masih belum sembuh,Irlan bisa nunda sampe mami sembuh dulu."
"Mami pasti secepatnya sembuh. Apalagi kalau mami tau kalau kamu dan Nia balikan. Pasti mami seneng banget,kalau mami seneng pengobatan mami juga pasti lebih cepat."
Irlan mengangguk. Karena pengobatan terbaik adalah hati yang senang. Percuma berobat mahal-mahal kalau hati tidak senang,yang ada penyakit semakin menjalar kemana-mana.
"Irlan mau jenguk mami kak..Irlan kangen mami."
"Jangan dulu Lan,takutnya nanti jadi makin banyak pikiran. Nanti mami mikir kamu bakalan stress lagi kalau kamu tau mami sakit. Mending kamu pura-pura gak tahu aja,nanti kakak laporin terus perkembangan mami ke kamu." Kata Irna mencegah keinginan adiknya.
__ADS_1
Irlan pun menurut saja pada sang kakak. Walaupun sebenarnya hatinya sangat merindukan maminya.
Setelah berkonsultasi dengan kakaknya,Irlan kembali berangkat ke kantor.