
Dengan berat hati Irlan menyalami pengacara yang di utus Nia. Irlan menanyakan keberadaan Nia pada sang pengacara,tapi sang pengacara tidak menjawab dan tetap menyembunyikan keberadaan Nia di Inggris sesuai permintaan papa Niko.
Irlan pun tak juga mendapati papa Niko atau mama Dena.
Irlan menghela nafasnya. Berjalan dengan langkah gontai keluar ruang persidangan. Ia menyerahkan sisanya pada Haris.
Dia melajukan mobilnya ke kafe nya. Ingin rasanya ia melampiaskan kesedihannya hari ini ke minuman alkohol.
Sampai di kafe,Irlan langsung masuk ke dalam ruangannya. Dia mengambil koleksi minuman alkoholnya. Seakan dia lupa pada pengobatan dan larangan dokter dia terus minum dan minum hingga sudah dua botol ia habiskan.
Dimas yang khawatir dengan bos nya karena sudah lebih dua jam pintu tak terbuka,mengetuk-ngetuk pintu ruangan Irlan,namun tak ada jawaban.
Dimas memanggil beberapa karyawan laki-laki untuk mendobrak pintu. Dan betapa kagetnya Dimas saat pintu terbuka. Terlihat Irlan sudah tergeletak di atas lantai. Dimas dan seorang karyawan laki-laki langsung mengangkat tubuh Irlan ke dalam mobil.
Dimas pun membawa Irlan ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit Irlan langsung mendapat perawatan intensive dari dokter yang selama ini menangani penyakit Irlan.
Dimas menghubungi mami Nita,memberitahu kalau tentang anaknya yang pingsan dan di bawa kerumah sakit.
Mami Nita yang mendapat kabar Irlan dilarikan ke rumah sakit,langsung menyuruh supir mengantarnya ke rumah sakit xxx.
Mami Nita langsung berlari ke kamar perawatan anaknya setelah Dimas memberitahu kalau Irlan sudah di pindahkan ke kamar perawatan.
Ceklek.
Pintu kamar perawatan Irlan terbuka.
"Gimana keadaan anak saya dok...?" Tanya Mami Nita saat masuk ke dalam kamar perawatan putranya.
"Mari kita bicarakan di ruangan saya bu." Dokter mempersilahkan mami Nita untuk berjalan lebih dulu keluar kamar perawatan Irlan.
"Silahkan masuk bu." Dokter itu membuka pintu ruangannya.
"Silahkan duduk." Pinta dokter itu lagi.
"Sebenarnya anak saya kenapa dok? Apa lambung dan levernya semakin parah?" Tanya mami Nita dengan raut wajah cemas.
Dokter itu menggeleng.
"Dari hasil pemeriksaan keadaan anak ibu baik. Dia pingsan karena perut yang kosong dan yang parahnya lagi dalam keadaan oerut seperti itu anak ibu mengkonsumsi minuman beralkohol." Dokter menghela nafasnya sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Tapi untungnya,kondisi lever dan lambung masih dalam keadaan batas normal. Tapi saya harap ibu bisa lebih memperhatikan anak ibu,ibu kan tau anak ibu masih dalam masa pengobatan. Kenapa ibu bisa kecolongan seperti ini. Sekali lagi anak ibu seperti ini saya tidak bisa menjamin apa kondisi lever dan lambung anak ibu baik-baik saja." Lanjut sang dokter.
"Maaf dok,saya lalai menjaga anak saya. Seharusnya saya melarang dia keluar dari rumah tadi." Ujar mami Nita penuh penyesalan.
__ADS_1
" apa anak ibu sedang mengalami masalah?" Tanya dokter penasaran.
"Ia dok,hari ini sidang putusan perceraiannya. Mungkin karena itu dia jadi kembali minum-minuman beralkohol untuk.melampiaskan kesedihannya."
Dokter pun mengangguk paham.
"Sepertinya anak ibu mengalami depresi. Coba setelah ini ibu konsultasikan kondisi anak ibu ke psikolog." Anjur sang dokter.
"Iya dok,sepertinya juga begitu. Saya akan membawa anak saya psikolog sesuai anjuran dokter.
Mami Nita pun keluar dari ruangan dokter.
Berjalan gontai menelusuri koridor rumah sakit.
"Mi.." panggil papi Tian saat melihat istrinya mendekat ke arah kamar anaknya.
Papi Tian yang baru datang sepuluh menit yang lalu setelah mendapat telpon dari istrinya kalau anaknya di larikan ke rumah sakit. Langsung berangkat ke rumah sakit meninggalkan pekerjaan yang menumpuk.
"Dokter bilang apa,apa levernya makin parah?" Tanya papi Tian panik.
Mami Nita menggeleng.
"Lever sama lambungnya masih dalam keadaan normal. Tapi sepertinya kejiwaannya terganggu."
"Maksud mami anak kita gangguan jiwa gitu?" Tanya papi Tian yang masih belum mengerti maksud kata-kata istrinya.
"Bukan gangguan jiwa pi. Tapi depresi. Mungkin karena perceraiannya dengan.Nia makanya dia jadi seperti ini. Kita harus bawa Irlan konsultasi ke psikolog pi."
Papi Tian mengangguk menyetujui usul istrinya.
Sedangkan di tempat lain ada Yordan yang tak kalah galaunya dengan Irlan.
Kini Yordan juga sedang menyesali perbuatannya terhadap Ica. Harusnya ia tak memberikan tantangan gila yang sangat menjatuhkan harga diri Ica.
Kini Ica tak bisa dihubungi maupun ditemui. Pasalnya Ica sudah pergi entah kemana,karena orangtua maupun adik Ica tidak ada yang mau membuka mulut dimana keberadaan Ica.
Menyesal..menyesal dan menyesal.
Begitulah yang sedang dirasakan dua laki-laki tak berakhlak itu. Menyesal setelah menyakiti.
London-Inggris.
Nia sudah mulai beraktivitas sebagai mahasiswi sekarang. Dengan kepribadian Nia yang ceria,tak akan susah untuk seorang Nia mendapat kan teman walaupun di negri orang.
Hari ini setelah Nia pulang kuliah,Nia singgah ke supermarket untuk membeli bahan makanan.
__ADS_1
Walau papa Niko memberi kartu unlimited pada Nia,tapi Nia sama sekali tak menghambur-hamburkan uang papa nya.
Dari pada ia menghabiskan uang hanya untuk sekali makan,lebih baik Nia membeli bahan makanan dan memasak sendiri makanannya.
Begitulah Nia,gaya hidupnya jauh dari kata mewah,padahal kalau dia mau dia bisa saja bergaya seperti kaum elite kebanyakan.
"Hei...Nia.." sapa seorang laki-laki yang diketahui bernama Andrew.
"Hei Drew.." balas Nia.
"Wow..bahan makanan sebanyak ini buat apa? Apa kamu mau adakan pesta?" Tanya Andrew melihat troly yang Nia bawa penuh dengan bahan makanan.
Nia menggeleng.
"Ini stok buat seminggu. Aku lebih suka masak sendiri daripada harus beli di luar." Nia menjelaskan.
"Ooo"
"Kamu tinggal dimana?" Tanya Andrew.
Kini mereka saling mendorong troly masing-masing. Sebenarnya Andrew sudah selesai berbelanja,tapi karena ia melihat Nia,dia jadi memutar balik troly nya ke arah Nia.
"Apartemen xxx." Jawab Nia.
"Oh ya?? Wah sepertinya kita jodoh,karena aku juga tinggal di sana."
"Hahaha..kamu bisa aja. Kamu tinggal di unit berapa?" Tanya Nia basa-basi.
"Di unit B 04,kamu?
"Aku di unit C 05."
"Berarti kita bisa sering berangkat bareng." Kata Andrew senang karena bisa satu unit dengan Nia. Gadis yang sudah menarik perhatiannya saat mereka pertama kali bertemu di kampus.
Kebetulan Andrew adalah mahasiswa jurusan kedokteran tingkat akhir. Dan sering mendekati Nia jika sedang dikampus.
Tapi Andrew tak tahu kalau Nia ternyata tinggal apartemen yang sama dengannya.
"Ya..ya..terserah." sebenarnya Nia hanya memberi jawaban asal.
Tapi bagi Andrew itu seperti sebuah harapan.
Hari berganti minggu,minggu berganti bulan.
Tak terasa sudah tiga bulan Nia menimba ilmu di negara orang.
__ADS_1