Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
Bab 105


__ADS_3

Mobil Irlan sudah sampai di depan gerbang rumah papa Niko. Ia mengklakson mobilnya agar satpam rumah papa Niko membuka pintu gerbangnya. Begitu pintu gerbang terbuka,Irlan langsung memasukkan mobilnya ke halaman rumah. Ia memarkirkan mobilnya,kemudian turun dari dalam mobil.


Irlan mengernyitkan keningnya karena melihat mobil yang mirip mobil papinya yang ikut terparkir di halaman rumah papa Niko,dia tidak bisa melihat plat mobil tersebut karena mobil itu terparkir agak jauh dari pandangan mata Irlan. Irlan juga tak melihat supir pribadi papinya,karena sang supir sedang berada di toilet saat ini.


Pak satpam menghampiri Irlan membuyarkan pemikiran Irlan tentang mobil tersebut.


"Malam pak Irlan." Sapa pak satpam rumah Nia yang bertugas jaga malam.


"Malam juga pak Heru." Balas Irlan.


"Pak Irlan sudah ditunggu Bapak Niko di ruang kerjanya. Mari saya antar pak." Pak Heru pun berjalan lebih dulu.


Irlan mengikuti langkah pak Heru.


Begitu memasuki rumah,mata Irlan berselancar kesana-kemari mencari keberadaan Nia,tapi ia tak menemukan Nia disetiap ruangan yang ia lewati menuju ruang kerja papa Niko.


Tok tok tok. Pak Heru mengetuk pintu ruang kerja papa Niko.


"Masuk" perintah papa Niko dari dalam.


Ceklek. Pak Heru membukakan pintu untuk Irlan.


"Silahkan pak. Saya permisi dulu." Pak Heru setengah membungkuk kemudian meninggalkan Irlan.


Irlan pun masuk kedalam ruang kerja papa Niko.


Mata papa Niko mengikuti langkah Irlan sampai Irlan berdiri didepan meja kerjanya.


"Duduk disana." Papa Niko menunjuk sofa yang ada di depan meja kerja.


Irlan pun melangkah ke arah sofa dan mendudukkan dirinya disana.


Papa Niko pun berdiri dan melangkah ke arah sofa dan duduk di sofa di depan Irlan.


"Kamu udah bawa yang saya minta tadi pagi?" Tanya papa Niko to the point.


"Sudah om. Ini." Irlan menyerahkan map yang berisi surat pernyataan kepada papa Niko.


Papa Niko mengambil map itu dan membuka nya. Dia membaca surat yang Irlan bawa.


Melihat papa Niko begitu serius membaca surat pernyataan itu,jantung Irlan berdegup kencang. Tak henti-hentinya ia berdoa dalam hati.

__ADS_1


Papa Niko mengernyitkan keningnya. Melihat papa Niko mengernyitkan keningnya,jantung Irlan semakin tak karuan berdetak.


"Apa kamu gak punya inisiatif lain selain membuat surat pernyataan yang menyatakan siap memberikan nyawamu jika kamu kembali menyakiti Nia??!" Tanya papa Niko tegas,dia melempar kasar map itu di atas meja.


Irlan menelan slivanya susah payah.


"Mmaakkk...ssssuuud om?" Suara Irlan terbata-bata karena sangat gugup.


Papa Niko bangkit dari duduknya dan berjalam ke arah meja kerjanya,dia mengambil selembar kertas dari atas meja. Kemudian berjalan kembali ke arah sofa dan memdudukkan dirinya disana.


"Ini. Baca baik-baik. Kalau kamu setuju,tanda tangan. Tapi kalau kamu tidak setuju,silahkan kamu pulang dan jangan pernah temui Nia lagi. Biar Nia saya jodohkan dengan laki-laki lain yang rela mempertaruhkan segalanya untuk Nia." Papa Niko memberikan selembar kertas itu kepada Irlan.


Irlan mengambil kertas itu,dan membaca isi yang tertulis di atas kertas itu.


Mata Irlan membulat sempurna,tenggorokannya terasa tercekik.


Bagaimana tidak,karena isi yang tertulis di atas kertas itu ternyata surat pengalihan semua aset yang beratas namakan Irlan kepada Nia. Mulai dari lebih dua puluh kafe yang tersebar di berbagai kota,apartemen,bahkan tiga hotel yang ia bangun bersama Igo dan Yordan,tak lupa enam mobil sport yang satu mobilnya seharga lebih dari 3 miliyar. Semua harus beralih atas nama Nia.


Tangan Irlan gemetaran memegang surat itu. Entah karena efek lapar,atau efek bimbang.


"Gimana? Sanggup?" Tanya papa Niko menyeringai.


Sejenak Irlan memejamkan matanya,kemudian manarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.


"Kalau begitu tanda tangan!!"


"Saya akan tanda tangan om,tapi sebelumnya saya mau bertanya,boleh?"


"Apa?"


"Apa tidak terlalu berlebihan kalau saya memberikan semua harta saya atas nama Nia disaat Nia belum menjadi siapa-siapa saya?"


"Ooh..jadi kamu gak ikhlas??!" Papa Niko mulai mengintimidasi.


"Bukan begitu om,saya ikhlas bahkan sangat ikhlas. Tanpa om membuat surat ini pun,saya memang berencana mengalihkan semua harta saya atas nama Nia,tapi setelah kami menikah."


"Kamu bilang,kamu cinta sama Nia,seharusnya kamu rela dong melepaskan semua yang kamu miliki untuk Nia?"


"Saya rela om,sangat rela. Tapi bagaimana setelah saya mengalihkan semua aset yang saya miliki untuk Nia,om malah menikahkan Nia dengan orang lain?!!"


"Cih..jadi maksud kamu saya penipu?! Coba kamu baca majalah bisnis,Dirgantara Group ada di posisi berapa?!! Kalau kamu memang takut Nia saya nikahkan dengan orang lain,makanya secepatnya kamu nikahkan!!"

__ADS_1


Mata Irlan membelalak mendengar kalimat terakhir papa Niko.


"Apa papa Niko secara gak langsung ngasih restunya buat hubungan kami??!" Batin Irlan bersorak kegirangan.


"Apa om serius,saya boleh menikah dengan Nia secepatnya?" Tanya Irlan.


Papa Niko mengangguk.


"Bahkan besok pun kalian bisa menikah"


"Serius om??!" Tanya Irlan tak percaya.


"Iya asal kamu tanda tangan surat itu." Papa Niko menunjuk surat yang tadi ia berikan untuk Irlan.


Tanpa ba bi bu be bo,Irlan langsung menandatangani surat itu.


Melihat Irlan yang sangat bersemangat,senyum terulas di pipi papa Niko.


"Ini om." Irlan menyerahkan surat itu pada papa Niko dengan penuh semangat.


Papa Niko pun menerima surat itu dari tangan Irlan.


"Irlan udah boleh ketemu Nia dong om???" Tanya Irlan tak sabar.


"Hemh...Nia ada di halaman belakang" kata papa Niko mengizinkan Irlan menemui anaknya.


Irlan langsung bangkit dari duduknya. Sangking semangatnya,Irlan sampai lupa permisi pada papa Niko untuk menghampiri Nia di halaman belakang.


Melihat Irlan yang sangat tidak sabaran,papa Niko hanya geleng-geleng kepala.


"Cih...anak itu telat puber!!" Umpat papa Niko setelah Irlan keluar dari ruang kerjanya.


🍀🍀🍀🍀🍀


Dengan langkah cepat dan semangat empat lima,Irlan menghampiri Nia di halaman belakang.


Irlan sudah membayangkan akan memeluk serta mencium bibir Nia bertubi-tubi saat bertemu Nia di halaman belakang,tapi semua yang ada dibayangannya itu pupus begitu saja ketika melihat Nia tidak seorang diri disana.


Irlan melihat Nia duduk dengan seorang laki-laki yang Irlan tidak ketahui karena Irlan melihat mereka dari belakang ditambah penerangan dihalaman belakang yang temaram. Membuat Irlan tersulut emosi.


Seandainya ini bukan rumah papa Niko,sudah dipastikan Irlan langsung berlari dan menonjok laki-laki yang sudah berani-beraninya berdekatan dengan calon tulang rusuknya.

__ADS_1


Irlan pun berjalan mendekati Nia dan laki-laki itu sambil menahan emosi.


__ADS_2