
Aryan bingung harus melakukan apa . Seandainya itu dulu , dia tidak perlu bingung seperti ini . Dia pasti memilih pulang dari pada pusing memikirkan hal yang tidak perlu.
Tetapi sekarang entah kenapa dia merasa galau . Satu sisi ingin kembali ke Jakarta saat ini juga . Sisi lain dia ingin menemani gadis yang sudah lama tidak ia temui itu .
Entah kemana rasa benci yang dulu ia miliki . Sekarang Aryan bisa menatap Gebi tanpa adanya kebencian sedikitpun. Apa mungkin rasa benci itu bisa terkikis oleh waktu ?
Kring kring kring
Dering ponsel miliknya mengganggu lamunan Aryan . Dengan malas Aryan bangun dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja rias .
" Mom is calling"
Ternyata mamanya sedang melakukan panggilan . Tanpa banyak pikir lagi Aryan mengangkat panggilan itu . Dia meloadspicer ponselnya.
" Assalamualaikum..." sapa Aryan dengan lembut .
" Wa alaikum salam warahmatulloh... lagi ngapain sayang ?" tanya mama Aryan dari seberang telepon.
" Lagi rebahan di kamar nih ," jawab Aryan sambil memperlihatkan isi kamarnya.
" Oh ... jadi balik kapan ?"
" Entahlah."
" Kok entahlah ."
" Aryan bingung ," ucapnya jujur .
" Bingung kenapa? oh iya adikmu baik-baik saja kan ?"
" Alhamdulillah kami baik-baik saja ."
" Syukurlah kalau begitu . Apa kalian jadi liburan ?"
" Kemarin kami liburan seharian di pantai ."
" Mama tahu kok ... adikmu kemarin vidio call mama . Bagus banget pantainya."
__ADS_1
" Kok masih tanya jadi liburan apa tidak ?" tanya Aryan heran .
" Ya ... mama kan cuma iseng ."
" Mama ma kebiasaan, " cebik Aryan kesal .
" Ha ha ha ha ha jangan marah sayang . Sekarang katakan pada mama , apa yang membuat putra mama jadi galau. Jangan-jangan _"
" Jangan-jangan apa ?"
" Entah _"
" Aryan ketemu sama Gebi ma ."
" ...."
" Mama denger suara Aryan kan ?"
" Denger . Bagaimana kabarnya sekarang ?" tanya mama dengan lembut .
" Buruk ."
" Semalam dia mengalami kecelakaan."
" What ... kok bisa ?"
" Ya bisa lah ."
" Maksud mama ... kalian kok bisa bertemu saat kecelakaan. Gitu loh maksud mama ."
" Oh ... sebenarnya ... kemarin Sandra ikut liburan bersama Gebi ."
" Kok bisa ?" teriak mama dari seberang telepon.
" Ya mana Aryan tahu ... kemarin tiba-tiba Arya bertemu Gebi saat menyusul Sandra ke pantai ."
" Oh ... jadi begitu . Sekarang bagaimana keadaannya?"
__ADS_1
" Untuk sementara ini dia hanya bisa menggunakan kursi roda . Kalau untuk kepalanya sih menunggu hasil CT scan."
" Separah itu ?"
" Ya begitulah ... jadi hal inikah yang membuat putra mama ini galau . Kok bisa ?" tanya mama sambil terkekeh.
" Dari tadi kok bisa mulu ."
" Kan nggak ada kata lain yang bisa mama ucapkan . Mau bagaimana lagi ."
" Terserah mama deh . Oh iya ma , apa mama masih menyimpan kontak orang tua Gebi ?"
" Sejak kapan mama menyimpan kotak mereka?"
" Ya mungkin saja , mama menyimpannya. Aryan kan nggak tahu ."
" Mama tidak pernah berkomunikasi sama sekali dengan mereka. Mereka menyerahkan Gebi begitu saja pada kita dan memutuskan hubungan."
" Huh ...."
" Memangnya kenapa kamu membutuhkan nomer telpon mereka?"
" Dokter yang memintanya. Mama tahu kan Gebi sekarang dimana . Dia sendiri disini ma . Mungkin ada sahabatnya tetapi .... bagaimanapun dia butuh keluarga disaat seperti ini ."
" ..."
" ..."
" ... "
" Kami yang akan kesana . Kirim saja alamatnya."
" Mama serius?"
" Dua rius malah .... sudah dulu , mama mau bilang papamu dulu . jangan lupa kirim alamatnya. Assalamualaikum..."
" Wa alaikum salam warahmatulloh."
__ADS_1
Aryan masih diam dalam posisinya. Tak menyangka jika sang mama akan bereaksi seperti itu .