Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
Bab 55


__ADS_3

Di dalam mobil papa Niko menelpon pak Jefri pengacara yang mengurus perceraian Nia dengan Irlan.


Tuuuut tuuuut tuuuut.


"Iya halo selamat siang pak Niko." Jawab pak Jefri dari seberang sana.


"Bagaimana pak Jefri,apa sidang hari ini lancar? Lalu kapan keputusannya keluar?" Tanya papa Niko to the point.


"Semua lancar pak dan paling lama dua minggu lagi keputusannya sudah keluar,sesuai keinginan bapak." Jawab sang pengacara.


"Ok baik. Saya tunggu hasil.akhirnya pak Jefri."


Panggilan itupun berakhir.


Di Inggris..di negara Nia berada sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Setelah seharian dia membereskan apartemennya,Nia pun mengistirahatkan tubuhnya diatas ranjang yang empuk.


"Akhirnya bisa rebahan juga..." dia merentangkan kedua tangannya dan memejamkan matanya.


Baru sebentar ia memejamkan matanya,ia teringat mama Dena.


"Vc mama akh..disana kan masih siang.." Nia langsung mengambil hp nya dari atas nakas.


Tuuut tuuut tuuut


"Mama..." teriak Nia saat sang mama menerima panggilan video nya.


"Ish kamu tuh,bisa pelan-pelan gak kalau ngomong,kamu kira mama budeg apa!!" Protes mama Dena.


"Hehehe...Nia kangen mah..." kata Nia lagi dengan suara manja.


"Heleh..baru juga sehari udah kangen..Gimana kamu mau bertahan empat tahun disana."


"Emangnya mama gak kangen sama Nia?"


"Kangen lah,tapi mau gimana lagi kan kamu yang minta mau kesana."


Nia mengerucutkan bibirnya.


"Mama sama papa jadi kesini besok?" Tanya Nia karena mama dan papanya berjanji akan menyusul dua hari setelah keberangkatan Nia.


"Liat besok yah,karena papa mu lagi banyak kerjaan.." mama Dena ingin merahasiakan kalau sekarang Irlan sedang berlutut diteras rumahnya. Entah sampai kapan ia akan disana.


"Oooo...ya udah,tapi bilang sama papa pokoknya mama sama papa harus nyusul Nia kesini sebelum Nia masuk kampus minggu depan. Biar kita bisa quality time mah disini.." pinta Nia pada sang mama.


"Iya sayang...oh iya,gimana apartemennya,kamu suka?"


"Suka banget mah..Nih Nia udah beres-beres.." Nia mengarahkan kamera hp nya ke sekeliling kamarnya agar mama Dena melihatnya.


"Kamu udah makan?"

__ADS_1


"Belum,masih capek baru beres-beres."


"Ya udah sana mandi dulu terus cari makan. Inget jangan makan mie instan. Papa kamu kasih kamu kartu tanpa batas supaya kamu gak bisa makan makanan sehat.." mama Dena memberi peringatan.


"Iya mah..ya udah Nia mandi dulu yah. Love you mama Dena cantik. Salam buat papa Niko yang paling ganteng sekomplex. Hihihihi" Nia cekikikan saat mengatakan kalimat terakhirnya.


Panggilan pun berakhir.


Hari sudah semakin larut,Irlan masih berlutut di halaman rumah papa Niko.


Sesekali ia terduduk untuk melemaskan kakinya. Hanya bermodalkan makan pagi,jelas energinya sekarang sudah melemah.


"Apa dia begitu dari tadi?" Tanya papa Niko kepada mama Dena. Mereka melihat dari balik jendela kamar.


"Bahkan dia gak ada makan daritadi pah..Mama udah suruh pak Toto siapin makan buat dia,tapi makanannya gak dimakan." Jawab mama Dena yang merasa kasihan melihat Irlan.


"Keras kepala sekali dia,mirip banget sama papinya.."


"Kita telpon aja Nita pah,biar dia datang jemput Irlan kesini."


Papa Niko mengambil hp dari atas nakas untuk menelpon kakak angkatnya yang merupakan mami dari Irlan.


Sudah lebih dari lima kali papa Niko melakukan panggilan,tapi tak diangkat-angkat.


"Diangkat pah?" Tanya mama Dena.


Papa Niko menggeleng,tapi masih melakukan panggilan.


"Coba telepon Tian." Kata mama Dena lagi.


Papa Niko pun mengikuti kata istrinya menelpon papi Tian. Namun hasilnya sama sudah tiga kali melakukan panggilan tapi tak kunjung mendapat jawaban.


"Gak diangkat juga." Papa Niko mematikan panggilannya.


"Anak itu bener-bener keras kepala." Papa Niko beranjak dari tempatnya ingin menemui Irlan di halamannya.


"Mau kemana pah?" Tanya mama Dena menahan tangan suaminya.


"Mau ngusir anak itu,kalau kita biarin terus dia bisa sakit. Apalagi ini mau hujan. Kasihan Nita kalau anak kesayangannya sampe sakit." Jawab papa Niko.


Papa Niko pun turun ke bawah menemui Irlan.


"Ekhm..." papa Niko berdehem.


Irlan yang menyadari kedatangan papa Niko pun mengangkat kepalanya melihat papa Niko.


"Pulang sana,percuma kamu berlutut seperti ini. Nia gak akan menemui mu." Papa Niko menyuruh Irlan pulang.


"Gak akan,aku akan tetap nunggu Nia keluar." Irlan masih kekeh menunggu Nia.


"Kalau memang masih mau menunggu Nia,paling gak kamu makan dulu. Kalau kamu sakit hanya tambah bikin repot saja. Sekarang kamu pulang,atau saya akan suruh bodyguard itu lempar kamu dan mobil kamu keluar." Tegas papa Niko.

__ADS_1


Irlan tetap menggeleng.


Habis sudah kesabaran papa Niko.


Papa Niko pun menyuruh para bodyguard yang berjaga dirumah itu untuk membawa Irlan keluar rumah.


Baru saja salah satu bodyguard mengangkat tubuh Irlan,,Irlan langsung terkapar.


Membuat papa Niko semakin panik.


"Cepat-cepat bawa masuk ke dalam." Perintah papa Niko.


Irlan pun dibawa ke kamar tamu yang ada di lantai bawah.


Mama Dena yang mengetahui Irlan pingsan langsung turun ke bawah melihat kondisi Irlan.


"Gimana kondisinya pah?" Tanya mama Dena panik.


"Entah..mungkin karena kelaparan makanya pingsan." Kata papa Niko sambil melakukan panggilan ke dokter pribadi keluarganya.


"Mama bikinin bubur dulu kalau gitu,jadi kalau dia sadar Irlan langsung bisa makan." Mama Dena melangkah keluar kamar menuju dapur.


"Pah...hubungi lagi Nita sama Tian.." kata mama Dena lagi sebelum keluar dari kamar tamu.


Papa Niko pun mengangguk.


Setelah menelpon dokter Erik,papa Niko kembali menghubungi mami Nita dan papi Tian secara bergantian.


Tuuuut tuuuut tuuut.


"Halo." Mami Nita menerima panggilan dari papa Niko dengan suara khas orang bangun tidur.


"Nit,cepet kamu kesini sekarang. Irlan pingsan disini." Kata papa Niko panik.


"Kok bisa?" Tanya mami Nita setengah berteriak karena kaget.


"Ceritanya panjang,cepet kamu kesini." Kata papa Niko lagi.


Panggilan pun berakhir.


Setengah jam kemudian dokter Erik pun datang dengan membawa alat-alat untuk memeriksa Irlan.


"Siapa yang mau saya periksa pak Niko?" Tanya dokter Erik saat sudah sampai di ruang tamu.


"Ayo sini.." papa Niko mengantarkan dokter Erik ke kamar tamu.


"Maaf yah dok,saya panggil jam segini." Papa Niko merasa tidak enak karena memanggil dokter Erik di jam yang hampir jam dua subuh.


"Tidak masalah pak,itu sudah jadi tugas saya." Kata dokter Erik saat memasuki kamar tamu.


Melihat Irlan yang terbaring di tempat tidur,dokter Erik langsung mengeluarkan alat-alatnya untuk memeriksa.

__ADS_1


Saat doktet Erik sedang memeriksa Irlan,orangtua Irlan pun datang dan langsung memasuki kamar tamu.


__ADS_2