
Sedangkan Irlan,begitu sampai rumah ia langsung membersihkan tubuhnya kemudian mengistirahatkan badannya.
Hanya butuh waktu beberapa menit Irlan tertidur. Namun baru Irlan tertidur satu jam,Irlan terbangun karena bermimpi tentang seorang anak laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengannya,anak laki-laki itu tersenyum padanya kemudian memanggilnya dengan panggilan 'papa'. Irlan terbangun,dadanya terasa sesak dan sedih. Mengapa melihat anak laki-laki itu tersenyum padanya dan memanggilnya 'papa' hatinya begitu terasa hancur.
"Siapa anak itu? Kenapa anak itu sering sekali hadir dimimpi gue??" Lirih Irlan.
Irlan mendudukkan tubuhnya, ia mengambil obat anti depresinya dan meminumnya. Sekarang setiap Irlan memimpikan anak itu,Irlan langsung mengkonsumsi obat karena rasa sakit dan takut yang Irlan rasakan sewaktu kehilangan Nia juga Irlan rasakan saat memimpikan anak itu.
🍀🍀🍀🍀🍀
Keesokan paginya seperti biasa Irlan menjemput Nia dirumahnya. Dan seperti biasa pula,Irlan masih belum mau masuk kedalam rumah,jadi terpaksa Nia memasukkan sarapannya ke dalam kotak bekal untuk ia dan Irlan santap saat sampai di kantor.
Kini mobil Irlan sudah sampai di depan kantor.
Irlan terus menggandeng tangan Nia mulai dari parkiran sampai ke dalam ruangan Nia. Nia yang sudah kehabisan kata-kata untuk menyuruh Irlan melepaskan gandengan tangannya pun pasrah. Pasrah dengan pemikiran semua karyawan yang melihatnya.
"Udah lepasin akhh.." Nia menghentakkan tangan Irlan dari tangannya.
Irlan terkekeh. Karena sudah sampai di dalam ruangan Nia,Irlan pun ikhlas melepaskan tangan Nia.
"Kakak tuh malu-maluin banget sih!! Pasti sekarang semua karyawan aku pada mikir yang macem-macem deh..!!" Nia mengerucutkan bibirnya.
Cup. Irlan mengecup bibir Nia.
"Kakak iikkkh..ini tuh kantor!!" Protes Nia kesal
"Jadi kalau bukan dikantor boleh dong cium sepuasnya?" Goda Irlan.
Nia memutar bola matanya malas.
"Sini.." Irlan mendudukkan Nia di sofa,kemudian Irlan ikut duduk disamping Nia.
"Kamu gak usah pusingin gimana pemikiran orang lain terhadap kita,yang penting kita jalanin hidup kita di jalan yang bener aja. Toh,akan kelihatan kok hasilnya. Dan orang-orang yang udah punya pikiran aneh tentang kamu,tentang aku,akan malu sendiri jadinya."
"Iya,tapi tetap aja aku risih kalau ada yang mikir gak-gak..."
"Udah lah..dari pada tenaga kamu terkuras untuk mikirin hal yang gak penting,gimana kalau kita sarapan dulu. Biar ada tenaga buat mikirin masa depan kita." Kata Irlan menggombal.
Irlan pun membuka kotak bekal yang Nia bawa dari rumahnya.
__ADS_1
Setelah selesai makan dan membereskan meja,Irlan pun pamit untuk kembali ke kantornya.
Irlan mendekati Nia untuk mencium Nia sebelum keluar dari ruangan Irlan.
BRAAAKK. Pintu ruangan Nia tiba-tiba terbuka.
Otomatis Irlan tak jadi melanjutkan aksinya yang ingin mencium Nia. Nia dan Irlan menoleh ke arah pintu. Terlihatlah,sosok pria tegap dengan sorot mata tajam sedang berdiri didepan pintu.
Sontak Nia dan Irlan sama-sama berdiri. Irlan menelan slivanya melihat sosok pria didepannya. Pasalnya,saat bibir Irlan sudah sedikit lagi menempel di bibir Nia,pria itu membuka pintu dan dapat dipastikan kalau pria yang sedang berdiri di depan pintu itu melihat apa yang sedang Irlan lakukan.
"Papa.." kata Nia kaget melihat papanya datang,karena papa Niko tidak memberi tahu akan kepulangannya hari ini.
"O...om Ni...ko.." kata Irlan gugup. Tak dapat di pungkiri sekujur tubuhnya sekarang gemetar takut. Jantungnya berdegup kencang.
Iya pria tegap dengan sorot mata tajam itu adalah papa Niko. Papa Niko yang baru sampai dari Singapore langsung menuju Dirgantara Group setelah mendapat kabar dari orang suruhannya kalau Nia dan Irlan sedang berada di Dirgantara Group.
Mata papa Niko menatap tajam pada Irlan.
"Ikut saya ke ruangan saya." Dengan nada berat papa Niko menyuruh Irlan ke ruangan papa Niko.
Nia yang mendapat sinyal tidak bersahabat dari sorot mata papa nya mencoba mengurungkan niat papa nya itu.
"Kak,kamu pulang aja,biar aku yang jelasin ke papa." Kini mata Nia mengarah pada Irlan.
Papa Niko memicingkan matanya ke arah Nia.
Irlan maju mendekati papa Niko dan Nia. Dan mengelus rambut Nia.
"Kamu tenang aja,biar aku yang jelasin ke papa Niko. Karena ini memang udah tugas aku sebagai laki-laki memperjuangkan apa yang harus aku perjuangkan." Kata Irlan menenangkan Nia.
"Ekhm.." papa Niko berdehem dan memberi kode pada Irlan melalui lirikan matanya agar Irlan segera keluar dari ruangan Nia.
Irlan pun mengerti akan kode lirikan mata papa Niko,dia pun keluar dari ruangan Nia.
"Kak.." mata Nia mengeluarkan aura kecemasan.
Irlan hanya tersenyum menanggapi kegelisahan Nia. Seolah dari senyuman yang Irlan berikan mengatakan 'semua akan baik-baik saja'.
Papa Niko berjalan lebih dulu keruangannya,disusul Irlan dari belakang.
__ADS_1
Begitu masuk ke dalam ruangan,papa Niko langsung duduk di single sofa ruangannya.
"Duduk...!!" Perintah papa Niko pada Irlan yang masih betah berdiri di depan pintu.
Irlan pun duduk di sofa sebelah papa Niko. Aura tegas yang papa Niko keluarkan membuat nyali Irlan sedikit menciut.
Irlan menarik nafas dalam-dalam mengisi oksigen untuk paru-parunya. Ia mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi mantan papa mertuanya.
"Langsung aja,saya gak suka bertele-tele.!!" Kata papa Niko memecah keheningan yang terjadi beberapa saat.
"Apa maksud kamu mendekati putri saya lagi?!" Tanya papa Niko dengan nada tegas.
Irlan menelan slivanya susah payah.
"Karena saya cinta sama Nia pah.." jawab Irlan gemetaran.
"Jangan panggil saya papah!!" Tolak papa Niko saat Irlan memanggilnya dengan sebutan papa.
"Maaf om." Irlan meralat kata-katanya.
"Kamu bilang kamu cinta sama anak saya?? Dulu sewaktu saya mempercayakan Nia pada mu secara cuma-cuma,kenapa bukan dari saat itu kamu mencintai anak saya?! Kenapa setelah membuat anak saya terluka baru kamu bilang kamu cinta sama anak saya!!"
"Karena saya baru menyadari perasaan saya sama Nia om setelah kami berpisah."
"Yakin itu cinta? Bukan obsesi?" Mata papa Niko menyelidik.
Irlan menghela nafasnya.
"Awalnya saya pikir itu hanya obsesi. Saya mencoba mengikhlaskan perpisahan kami,tapi bukannya merasa lebih baik,hati saya malah semakin sakit om. Dan disitu saya sadar kalau sebenarnya saya sudah mencintai Nia,dan bodohnya saya terlambat menyadarinya."
Papa Niko melihat ketulusan dari mata Irlan saat mengungkapkan perasaannya.
"Kamu pikir saya percaya dengan kata-kata kamu?! Saya mau kamu membuktikan kalau kamu gak bisa hidup tanpa anak saya." Tantang papa Niko
"Saya siap melakukan apapun yang om perintahkan kepada saya." Jawab Irlan percaya diri.
"Kalau gitu tinggalkan Nia."
Mata Irlan membelalak mendengarnya.
__ADS_1
Irlan langsung berlutut di kaki papa Niko.