Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
Bab 117


__ADS_3

"Tadaaaa.." miss Pevita menunjukkan gaun yang ia rancang khusus untuk Nia.


Mata Nia membelalak melihat gaun impian yang pernah ia katakan pada Ica dua minggu sebelum Irlan melamar Nia.


Waktu itu Ica menanyakan pada Nia model gaun pengantin impiannya,bukan tanpa alasan Ica menanyakan itu. Ica menanyakan itu pada Nia karena Irlan mendatangi Ica langsung dan meminta tolong pada Ica untuk menanyakan tentang gaun pernikahan impiannya. Setelah Ica mendapat detail mode gaun pernikahan impian Nia,Ica pun memberikan informasi itu pada Irlan. Dan dengan gerak cepat Irlan meminta miss Pevita untuk turun langsung merancang gaun impian Nia. Yang pastinya dengan harga yang tidak main-main.


"Ini kan..." Nia tak sanggup melanjutkan ucapannya karena begitu terharu. Nia sadar,kalau ini bukan sebuah kebetulan,Nia yakin Irlan yang menyuruh Ica untuk menanyakan tentang gaun impian Nia.


"Gimana kamu suka?!" Tanya Irlan pura-pura,padahal hatinya ikut senang melihat Nia yang sepertinya sangat senang dan sangat puas dengan gaun rancangan miss Pevita.


Nia mengangguk bahagia.


"Suka banget kak.." Nia menghampiri Irlan dan memeluk erat tubuh Irlan.


"Makasih."


"Makasih?? Buat apa?" Tanya Irlan pura-pura bodoh.


"Karena kakak udah mewujudkan impian aku yang ingin menikah dengan gaun seperti itu."


"Jadi cuma makasih doang nih??!" Goda Irlan dengan mengerlingkan matanya.


Nia tau apa maksud dari mata genit itu.


Cup. Nia mengecup bibir Irlan singkat.


Cup. Irlan pun membalas kembali kecupan bibir Nia.


Mereka tidak sadar,kalau aksi mereka yang tidak kenal tempat itu mengundang rasa cemburu kronis para pekerja di butik miss Pevita termasuk miss Pevita sendiri.


"Ekhem..." miss Pevita berdehem,agar Nia dan Irlan sadar dengan tempat mereka sekarang.


Nia melepaskan pelukannya dari tubuh Irlan,dia menunduk malu dan wajahnya sangat memerah setelah sadar bahwa aksinya telah di saksikan oleh orang lain.


"Ayo dicoba dulu,biar saya tau kalau ada yang kurang pas." Miss Pevita memecah kecanggungan yang terjadi beberapa saat.


Nia pun menurut,dia melangkahkan kakinya menuju ruang ganti dan mencoba gaun pernikahan impiannya. Dan hasilnya sangat pass di tubuh Nia. Nia memutar tubuhnya untuk melihat seberapa pantasnya ia menggunakan gaun impiannya itu.


"Perfecto.." puji miss Pevita pada Nia.


"Makasih miss."


"Ayo kita kasih lihat sama sang pangeran yang ada diluar,kayaknya dia udah gak sabaran deh.." miss Pevita mengajak Nia menemui Irlan.


Namun Nia menggeleng.


"Jangan miss,biar aja dia lihat pas udah hari H. Biar surprise."


Miss Pevita mengangguk paham.


Nia kembali mengganti gaun itu dengan baju yang ia kenakan tadi,dan keluar dari ruang ganti dan menghampiri Irlan yang duduk di sofa sambil memainkan hp nya.


Irlan mengernyitkan keningnya melihat Nia yang keluar tidak memakai gaun yang baru saja ia coba.


"Loh kok gak pake gaun?!"


"Masa mau balik ke kantor pake gaun sih.!" Jawab Nia pura-pura ketus.


"Tapi aku kan mau lihat kamu pake gaun itu sayang.."


"Nanti aja pas hari pernikahan kita. Lagian ada beberapa titik yang kebesaran."

__ADS_1


"Masa sih ?!"


Nia mengangguk.


"Emangnya kakak kasih ukuran perempuan yang mana?? Masa iya ukuran aku aja gak tau.!!!" Tanya Nia masih pura-pura marah.


"Apaan sih..!! Masa iya bisa kebesaran,orang itu Ica yang kasih kok."


"Yakin itu ukuran yang Ica kasih?"


Irlan mengangguk pasti.


"Gak ketuker sama ukuran perempuan lain.??"


"Astagaaa. Demi spongebob dan semua penghuni bikini bottom,cuma kamu perempuan satu-satunya di hidup aku,jadi aku bisa pastiin itu ukuran kamu."


"Oooh..berarti aku aja kali yah yang kurusan." Jawab Nia santai,padahal wajah Irlan sudah pucat karena Nia berburuk sangka padanya.


"Udah yuk balik ke kantor." Kata Nia lagi sambil menarik tangan Irlan.


Irlan menurut pada Nia,mereka pun melangkahkan kakinya keluar dari butik miss Pevita.


Setelah masuk ke dalam mobil Irlan mengendarai mobilnya menuju kantor Nia.


Kini mobil Irlan sudah memasuki gedung Dirgantara Group. Sebenarnya Irlan ingin mengantarkan Nia sampai ke dalam ruangannya,tapi karena tiba-tiba sang asisten menelpon dan ada situasi darurat,jadi mau tidak mau Irlan hanya mengantar Nia sampai di depan lobi.


"Nanti aku hubungin kalau aku gak bisa jemput." Kata Irlan sebelum Nia turun dari dalam mobil.


Nia mengangguk mengerti.


"Iya santai aja. Kakak hati-hati yah di jalan."


Nia pun turun dari mobil Irlan. Begitu Nia turun dari mobil,Irlan pun kembali mengendarai mobilnya menuju gedung Pratama Group.


"Huuuuffftt..udah tau gue lagi mau merit,malah ada aja masalah di kantor.!!" Gerutu Irlan yang kesal dengan masalah yang tiba-tiba muncul saat dirinya sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahannya dengan Nia.


Setelah memarkirkan mobilnya,Irlan berjalan dengan cool nya masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju lantai dimana ruangannya berada.


Irlan menghampiri sekretarisnya.


"Suruh semua orang yang punya sangkut paut proyek di pulau B datang ke ruangan saya." Setelah memberi perintah pada sang sekretaris,Irlan kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangannya.


Sepuluh menit di tunggu,orang-orang yang memiliki sangkut paut dengan proyek di pulau B pun telah berkumpul di ruangan Irlan. Tepatnya ada lima orang.


Mereka di kumpulkan,karena pasalnya asisten Irlan menemukan adanya penyimpangan dana untuk proyek di pulau B.


Pembicaraan yang cukup alot dan menguras emosi dan pikiran itu akhirnya selesai dan sudah ditemukan siapa orang yang paling bertanggung jawab atas penyimpangan dana tersebut. Dan setelah menemukan solusi dan langkah tegas,Irlan menyuruh ke lima orang itu untuk keluar dari ruangannya dan kembali bekerja.


Irlan melihat jam yang ada di pergelangannya,ternyata sudah hampir jam tujuh malam. Karena terlalu serius membicarakan tentang proyek di pulau B,Irlan sampai lupa menghubungi Nia kalau ia tidak bisa menjemputnya.


Irlan mengeluarkan hp nya dari dalam saku jas nya dan melakukan panggilan video pada Nia. Namun yang ditelpon tidak kunjung menerima panggilannya.


Irlan pun melakukan panggilan ke nomor pak Toto untuk menanyakan keberadaan Nia.


"Halo selamat malam pak Irlan." Sapa pak Toto saat menerima panggilan dari Irlan.


"Malam juga pak Toto. Nia sudah pulang ke rumah?"


"Belum pak,katanya masih mau nunggu bapak kasih kabar."


Deg. Hati Irlan terenyuh dengan kesetiaan Nia.

__ADS_1


"Oh..makasih pak."


Tak mau membuat Nia menunggu lama,Irlan pun langsung keluar dari dalam ruangannya dan pergi menjemput Nia di kantornya.


Kini Irlan sudah berada di depan pintu ruangan Nia. Sudah tidak ada lagi sang sekretaris.


Ceklek. Irlan membuka pintu ruangan Nia dan masuk ke dalam.


Irlan melihat Nia yang sedang tertidur di sofa panjang,dengan tangan yang terjuntai ke bawah sedangkan hp nya sudah berada di lantai. Irlan mengambil hp Nia dan meletakkannya di meja.


Dengan posisi seperti itu Irlan bisa memastikan kalau Nia menunggu telpon dari Irlan memberi kabar apa bisa menjemput Nia atau tidak.


Irlan memandang wajah Nia yang tertidur,rasanya ia sudah tidak sabar menunggu satu minggu lagi.


Irlan mengelus pipi wanita yang sudah membuat dunia nya jungkir balik.


"Eugh.." Nia mengerjapkan matanya saat merasakan tangan Irlan yang mengelus pipinya.


"Kak Irlan.." Nia kaget karena melihat wajah Irlan tepat di hadapannya. Nia pun mendudukkan dirinya.


"Kamu nungguin telpon aku? Makanya kamu belum pulang?" Tanya Irlan.


"Ikh GeeR..!!" Sangkal Nia.


"Terus kenapa kamu belum pulang? Malah ketiduran disini?"


"Aku nyelesein kerjaan aku yang numpuk kak. Tadinya aku cuma mau rebahan doang,ekh gak taunya malah ketiduran." Kata Nia beralasan. Padahal memang Nia ketiduran karena menunggu kabar dari Irlan.


Irlan manggut-manggut saja mempercayai kata-kata Nia,Irlan tau Nia gengsi mengatakan hal yang sebenarnya.


Irlan ikut duduk di sebelah Nia,ada sesuatu yang lama ia ingin tanyakan pada calon istrinya tersebut,tapi entah kenapa bibirnya selalu terkunci saat Irlan baru mau memulai pertanyaan. Begitu juga saat ini,bibirnya seakan tidak mau bergerak,padahal pertanyaan itu sudah ada di tenggorokan.


"Ekhm.." Irlan berdehem berusaha menetralkan rasa gugupnya.


Melihat gelagat Irlan yang aneh,membuat Nia menjadi sedikit was-was,pasalnya Nia tahu betul kalau Irlan sedang berperilaku aneh,sebentar lagi dirinya akan mendapat serangan dari Irlan.


"Ayo pulang kak." Kata Nia sambil berdiri dari sofa. Namun tangan Irlan menarik tangannya hingga membuat Nia jatuh terduduk di pangkuan Irlan.


Ketakutan Nia benar adanya,karena sekarang Irlan sudah ******* rakus bibir Nia.


"Hemph..." Nia kehabisan oksigen,dia mendorong tubuh Irlan agar melepaskan ******* nya.


"Suka banget sih nyerang mendadak kayak gini." Kesal Nia sambil mengelap bibirnya.


Irlan menyengir melihat Nia yang kesal.


"Habisnya kalau aku minta kamu yang nyerang duluan,aku yakin pasti kamu gak mau." Jawab Irlan.


Nia memutar bola matanya malas.


"Udah yuk pulang." Ajak Nia sambil berusaha bangkit dari pangkuan Irlan.


"Nia..sebenarnya ada yang pengen banget aku tanyain sama kamu." Kata Irlan dengan raut wajah seriusnya.


Melihat wajah lelakinya yang berubah menjadi serius,Nia jadi penasaran.


"Apa?"


Irlan menghela nafasnya.


"Waktu kita berpisah,apa kamu pernah mencoba menjalin hubungan yang serius dengan laki-laki lain?!" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Irlan.

__ADS_1


__ADS_2