
Perawat membantu Gebi membersihkan tubuhnya. Kondisinya masih belum memungkinkan untuk membersihkan sendiri .
Laila dan Sandra menunggu di depan ruangan. Sebab Gebi merasa malu jika ada mereka didalam . Sedangkan Aryan dan Arjun sudah berangkat ke hotel .
" Kok kamu nggak bilang mama kalau bertemu sama Gebi ?" tanya Laila pada puteri bungsunya itu .
" Malu lah ," jawab Sandra dengan muka memerah .
" Kok malu ?"
" He he he he mama tahu sendirilah sikap aku gimana dulu ," tutur Sandra sambil tertawa .
" Terus ... sekarang kenapa berubah?"
" Sandra sudah sadar ma ... tidak selalu yang kita kira buruk akan selalu buruk . Jangan hanya satu kali melihat keburukan seseorang, semua kebaikan yang sudah ia lakukan jadi tidak terlihat. Lagian setelah Sandra kenal lebih jauh ternyata Gebi tidak seburuk yang saya kira ."
" Ternyata putri mama sudah dewasa . Mama senang mendengarnya," ucap Laila sambil membawa sang putri kedalam pelukannya. Senang akhirnya semakin bertambahnya usia dirinya makin bijaksana.
" Apa mama tidak membenci Gebi ?" tanya Sandra yang nyaman dipeluk mamanya.
" Menurut mu ?"
" Ya ... mana Sandra ngerti ma . "
" Kecewa itu pasti . Apalagi dengan tindakannya waktu itu . Cintanya terlalu besar pada kakakmu waktu itu. Hingga menghalalkan segala cara untuk bisa hidup dengannya.
Tetapi dibalik itu semua mama kagum dengannya. Setelah mama perhatikan dia termasuk wanita yang tidak gampang menyerah.
Kamu tahu... Gebi dulunya adalah anak manja . Jangankan untuk memasak ... mencuci piring pun dia tidak pernah.
Tapi selama tiga tahun lebih dia bisa hidup dengan mandiri . Mama salut dengannya. Andai kakakmu mau menikah dengannya kembali mama pasti akan merestui."
" Mama serius ?"
__ADS_1
Sandra kaget mendengar penuturan sang mama . Bahkan sampai dia melepas pelukan.
" Kapan mama bohong ?"
" Kok bisa .... padahal mama _"
ceklek
Sandra tidak melanjutkan ucapannya. Perawat yang membersihkan tubuh Gebi sudah keluar dari ruangan .
" Kita masuk saja kedalam . Kasihan Gebi sendiri di dalam."
" Oke deh .... padahal lagi seru-serunya."
" Ya udah nanti kita lanjut lagi ."
Laila bangun dan berjalan terlebih dahulu . Sandra mengikutinya dari belakang.
Ceklek
" Mama sama Sandra sudah makan ?"
" Belum ... nanti saja . Lagian mama juga belum lapar ."
" Jangan gitu dong , mama harus sarapan tepat waktu . Jangan lupa mama punya sakit mag. "
" Iya ... kok aku bisa lupa sih ."
Sandra menepuk dahinya. Kenapa dia tidak terfikir untuk mengajak mamanya sarapan .
" Lebih baik mama sama Sandra sarapan dulu saja . "
" Terus kamu gimana dong ?"
__ADS_1
" Gebi tunggu disini nggak masalah kok ."
" Tapi kamu jadi nggak ada temannya."
" Yang penting perut mama diisi dulu . Lagian Gebi bisa nonton tv."
" Loh ... kamu juga masih belum makan . Lebih baik kamu dulu yang makan . Setelah itu minum obat . Barulah kami ke kantin ," ucap Laila begitu melihat jatah sarapan Gebi yang tersedia di atas meja .
" Tapi _"
" Nggak ada tapi ... nurut sama mama ," ucap Laila tanpa ganggu gugat.
Laila mengambil makanan itu . Ada sayur sop , perkedel kentang dan telur ceplok. Nasinya agak lembek meskipun bukan bubur.
Gebi tidak bisa menolak saat Laila mulai menyuapkan satu sendok kedalam mulutnya. Sandra ingin menggantikan tetapi ditolak oleh Laila .
Baru menghabiskan separuh Gebi minta berhenti . Perutnya merasa tidak nyaman .
" Sudah ma ."
" Kan masih banyak ."
" Perut Gebi nggak nyaman banget ."
" Mau kekamar mandi ?"
" Ya elah mama ini gimana sih. Mau bangun aja belum bisa malah diajak kekamar mandi ," ucap Sandra .
" Terus gimana dong ?"
" Gebi nggak ingin kekamar mandi kok ma . Cuman perut Gebi nggak nyaman saja . Kalau dipaksa nanti malah muntah ," kata Gebi menjelaskan.
" Oh ... ya udah, minum dulu baru minum obat ."
__ADS_1
Gebi menurutinya. Dia meminum pil yang disodorkan padanya. Kebetulan pil itu dipersiapkan oleh perawat sebelum keluar .