
Aryan kembali ke hotel dengan kecewa . Wajahnya yang murung menjadi pembicaraan karyawannya.
" Si bos kenapa tuh ... wajahnya murung amat ," ucap salah satu karyawan Aryan pada teman disampingnya.
" Iya . Biasanya cuman datar doang sekarang malah ...serem !"
" Hush kalau ngomong . Entar orangnya tahu batu tahu rasa kamu."
" Emangnya kenapa kalau orangnya tahu , kan omonganku nggak salah."
" Iya ... tapi ... udah deh. Ngomong sama kamu kok aku malah takut . Aku mau beresin kamar aja ."
Gadis itu meninggalkan temannya sendiri . Dia takut jika omongannya didengar yang lain . Bisa dipecat entar .
Aryan masuk kedalam kamarnya dengan lesu . Tanpa membuka sepatu dia langsung melemparkan dirinya diatas kasur .
" Jadi seperti ini rasanya cinta ditolak . Sakit banget sumpah. Lagian kenapa sih tu anak nggak mau nerima gua . Katanya masih cinta , tapi gua ditolak ," gerutu Aryan sambil menatap plafon kamarnya.
" Tapi gua kan dulu lebih parah ya ... apa sakitnya sama ? atau malah lebih sakit dari ini ?'
Aryan menepuk keningnya berkali-kali. Kepalanya terasa panas .
" Mending gua berendam deh . Nggak enak banget ... sumpah !"
Sambil terus mengoceh , Aryan bangun dari tidurnya. Dia melepas baju dan sepatu yang melekat ditubuhnya. Lalu masuk kedalam kamar mandi .
Ia isi bathtub dengan air dan sabun . Kemudian ia masuk kedalamnya.
Cukup lama dia merendam tubuhnya. Setelah itu membilas tubuhnya di shower .
__ADS_1
Moodnya benar-benar buruk . Dia malas untuk melakukan apapun . Jadi pilihan terbaik ya tidur . Tetapi seburuk apapun moodnya tak membuat Aryan melupakan tugasnya sebagai seorang muslim . Hal itu membuat hatinya terasa nyaman .
Sedangkan Gebi kini berkumpul dengan karyawannya. Selain itu ada satu perawat yang ditugaskan Aryan untuk membantu Gebi dalam beraktivitas.
Mau menolak pun percuma . Karena Aryan tidak suka penolakan. Dia mengancam akan membawa Gebi tinggal bersamanya kalau menolak .
" Kamu baik-baik aja kan Ar ?" tanya Gebi pada Arini .
Suasana tokoh sepi ..Jadi mereka bisa santai .
" Baik dong mbak . Alhamdulillah... luka aku nggak terlalu serius kok ," jawab Arini jujur . Lukanya memang hanya di kening . Sebab yang ringsek ada di bagian kemudi .
" Syukurlah kalau begitu. Kalian berdua bagaimana?" tanya Gebi pada dua karyawan lainya yang turut satu mobil dengannya.
" Alhamdulillah... udah nggak papa kok ."
" Nggak papa emang kenapa?"
" Takutnya masih sakit
Kalau sakit kalian istirahat saja dulu ."
" Udah baikan kok mbak. Lagian dirumah juga nganggur. Sepertinya mbak yang harus istirahat. Agar kondisi mbak Gebi lekas pulih ."
" Kalau aku ma bagaimana mau kerja , berjalan aja masih belum bisa ."
" Yang sabar ya mbak . Yang penting mbak menuruti nasehat dokter. Agar proses penyembuhannya cepat ."
" Hmm... terimakasih."
__ADS_1
Agak lama mereka berbincang . Kemudian kembali melakukan tugas masing-masing. karena banyaknya pengunjung yang datang silih berganti .
Gebi berada di kasir. Sesekali matanya melihat ke arah pintu masuk .
" Mbak ..." panggil Arini dengan lirih .
" Ada apa ?" tanya Gebi sambil memandang Arini .
" Mbak kembali ke kamar aja ya ?" pinta Arini dengan lembut
" Kenapa?"
" Sudah dari tadi mbak disini . Mbak mesti makan sama minum obat ."
" Tapi _"
" No debat mbak . Kalau mbak sampai kenapa - napa kami bisa dimarahin tuan Aryan ."
" Dia nggak ada disini kok . Jadi kalian santai aja ."
" Tuan Aryan mang tidak di sini tetapi..."
" Tetapi apa ?"
" Kan anak buahnya ada disini ."
" Siapa ?"
" Tuh !"
__ADS_1