Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
Aryan murung


__ADS_3

Aryan kembali ke hotel dengan kecewa . Wajahnya yang murung menjadi pembicaraan karyawannya.


" Si bos kenapa tuh ... wajahnya murung amat ," ucap salah satu karyawan Aryan pada teman disampingnya.


" Iya . Biasanya cuman datar doang sekarang malah ...serem !"


" Hush kalau ngomong . Entar orangnya tahu batu tahu rasa kamu."


" Emangnya kenapa kalau orangnya tahu , kan omonganku nggak salah."


" Iya ... tapi ... udah deh. Ngomong sama kamu kok aku malah takut . Aku mau beresin kamar aja ."


Gadis itu meninggalkan temannya sendiri . Dia takut jika omongannya didengar yang lain . Bisa dipecat entar .


Aryan masuk kedalam kamarnya dengan lesu . Tanpa membuka sepatu dia langsung melemparkan dirinya diatas kasur .


" Jadi seperti ini rasanya cinta ditolak . Sakit banget sumpah. Lagian kenapa sih tu anak nggak mau nerima gua . Katanya masih cinta , tapi gua ditolak ," gerutu Aryan sambil menatap plafon kamarnya.


" Tapi gua kan dulu lebih parah ya ... apa sakitnya sama ? atau malah lebih sakit dari ini ?'


Aryan menepuk keningnya berkali-kali. Kepalanya terasa panas .


" Mending gua berendam deh . Nggak enak banget ... sumpah !"


Sambil terus mengoceh , Aryan bangun dari tidurnya. Dia melepas baju dan sepatu yang melekat ditubuhnya. Lalu masuk kedalam kamar mandi .


Ia isi bathtub dengan air dan sabun . Kemudian ia masuk kedalamnya.


Cukup lama dia merendam tubuhnya. Setelah itu membilas tubuhnya di shower .

__ADS_1


Moodnya benar-benar buruk . Dia malas untuk melakukan apapun . Jadi pilihan terbaik ya tidur . Tetapi seburuk apapun moodnya tak membuat Aryan melupakan tugasnya sebagai seorang muslim . Hal itu membuat hatinya terasa nyaman .


Sedangkan Gebi kini berkumpul dengan karyawannya. Selain itu ada satu perawat yang ditugaskan Aryan untuk membantu Gebi dalam beraktivitas.


Mau menolak pun percuma . Karena Aryan tidak suka penolakan. Dia mengancam akan membawa Gebi tinggal bersamanya kalau menolak .


" Kamu baik-baik aja kan Ar ?" tanya Gebi pada Arini .


Suasana tokoh sepi ..Jadi mereka bisa santai .


" Baik dong mbak . Alhamdulillah... luka aku nggak terlalu serius kok ," jawab Arini jujur . Lukanya memang hanya di kening . Sebab yang ringsek ada di bagian kemudi .


" Syukurlah kalau begitu. Kalian berdua bagaimana?" tanya Gebi pada dua karyawan lainya yang turut satu mobil dengannya.


" Alhamdulillah... udah nggak papa kok ."


" Nggak papa emang kenapa?"


" Takutnya masih sakit


Kalau sakit kalian istirahat saja dulu ."


" Udah baikan kok mbak. Lagian dirumah juga nganggur. Sepertinya mbak yang harus istirahat. Agar kondisi mbak Gebi lekas pulih ."


" Kalau aku ma bagaimana mau kerja , berjalan aja masih belum bisa ."


" Yang sabar ya mbak . Yang penting mbak menuruti nasehat dokter. Agar proses penyembuhannya cepat ."


" Hmm... terimakasih."

__ADS_1


Agak lama mereka berbincang . Kemudian kembali melakukan tugas masing-masing. karena banyaknya pengunjung yang datang silih berganti .


Gebi berada di kasir. Sesekali matanya melihat ke arah pintu masuk .


" Mbak ..." panggil Arini dengan lirih .


" Ada apa ?" tanya Gebi sambil memandang Arini .


" Mbak kembali ke kamar aja ya ?" pinta Arini dengan lembut


" Kenapa?"


" Sudah dari tadi mbak disini . Mbak mesti makan sama minum obat ."


" Tapi _"


" No debat mbak . Kalau mbak sampai kenapa - napa kami bisa dimarahin tuan Aryan ."


" Dia nggak ada disini kok . Jadi kalian santai aja ."


" Tuan Aryan mang tidak di sini tetapi..."


" Tetapi apa ?"


" Kan anak buahnya ada disini ."


" Siapa ?"


" Tuh !"

__ADS_1


__ADS_2