
Seorang gadis berhijab mengenakan gamis brokat warna peach terlihat sedang mematung, memperhatikan sepasang manusia yang tengah asyik bercumbu mesra, tanpa memperdulikan jika saat ini mereka sedang berada di tempat umum. Dia memperhatikan pasangan itu tanpa berkedip. Sakit yang dirasakan, bagaimana tidak merasa sakit? Jika sosok pria yang sedang asyik mencumbu mesra istrinya itu adalah sosok pria yang dia cintai selama ini. Sejak merasakan suka terhadap lawan jenis ketika beranjak SMA, pria itulah sosok yang dia sukai, pria itulah yang sudah membuatnya jatuh hati.
Dan selepas SMA saat orang tua pria itu mengungkapkan keinginannya untuk memilihnya menjadi calon menantu, sejak saat itu hatinya tertutup dan terkunci untuk pria lain, yang dia inginkan hanya pria itu, pria bernama Prayoga Atmajaya.
Kini setelah sekian tahun dia memupuk rasa cintanya yang semakin lama semakin membesar untuk pria itu, tiba-tiba dia harus menerima kenyataan jika pria itu kini telah menikah, dan yang dapat dia lihat saat ini adalah pria itu terlihat sangat mencintai istrinya.
Gadis itu merasakan hatinya bergemuruh, cairan bening sudah mulai menumpuk di bola matanya, rasanya sakit sekali harus menerima kenyataan ini. Sambil memegang dadanya dan air mata yang mulai luruh di pipinya, gadis itu membalikkan badan dan berjalan tergesa ingin keluar dari ballroom untuk mencari udara yang terasa sulit dia hirup di dalam ruangan itu.
Gadis itu berjalan tergesa sambil tertunduk, sekali-sekali dia memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh membasahi pipinya.
" Rara, kamu mau ke mana?" tanya seorang wanita menghadang langkahnya.
Gadis itu yang ternyata Azzahra langsung menyeka air matanya. " R-Rara mau cari udara segar di luar, Umi." Rara memberi alasan.
" Ya sudah jangan jauh-jauh, Umi takut kamu nyasar, kamu kan nggak tahu tempat ini." Umi Azzahra mengerti apa yang sedang anaknya rasakan.
Setelah pamit pada Uminya, Azzahra kembali melanjutkan langkahnya masih dengan wajah tertunduk dan setengah berlari, rasanya dia tak tahan ingin segera terisak dan meluapkan kekecewaannya dengan menangis tersedu, dia sampai tidak memperhatikan yang ada di depannya, hingga tiba-tiba ...
Buugghh ...
" Ah, shit ...."
" Oh, maaf ...."
Azzahra menabrak seseorang, Azzahra mencoba menaikkan wajahnya dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati seseorang pria sedang memperhatikan blazer nya yang terkena noda merah hampir di setengah dadanya, dengan tangan memegang gelas yang telah tandas isinya, karena semua cairannya sudah tumpah ke baju yang dikenakan pria itu.
" Hey, kamu punya mata nggak, sih? Kalau jalan lihat-lihat dong!" pekik seseorang di sebelah pria itu dengan nada cukup keras hingga membuat beberapa orang yang hadir di sana memperhatikan mereka.
Azzahra langsung memucat seketika, menghadapi kejadian ini. Dia merasa jika hari ini benar-benar sial, karena mendapatkan kejadian yang buruk menimpanya.
" Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," lirih Azzahra dengan wajah tertunduk, dia sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk menatap pria yang terlihat emosi terhadapnya apalagi pada orang yang dia tabrak tadi.
" Nggak sengaja ... nggak sengaja, makanya kalau jalan itu matanya lihat ke depan, bukan ke bawah," sembur pria yang marah tadi.
" Sekali lagi saya minta maaf." Hati Azzahra semakin menciut.
" Minta maaf ... minta maaf, memangnya minta maaf bisa bikin baju Tuan Gavin bersih kembali." Tak henti-henti pria yang ternyata karyawan dari Gavin itu memarahi.
Azzahra semakin tertunduk, jika ada malaikat pencabut nyawa, rasanya dia ingin mati saja saat itu juga.
" Sudah, sudah ... tidak apa-apa. Kau tidak usah memarahinya, kasihan," ucap Gavin memerintahkan karyawannya untuk berhenti memarahi Azahra.
" T-tapi Tuan ...."
__ADS_1
" Kau pergilah, segera atur satu kamar untuk adikku," perintah Gavin kepada pria itu
" Baik, Tuan." Pria itupun pergi meninggalkan Gavin.
Gavin memperhatikan gadis di depannya yang sama sekali tak berani menatapnya. Walaupun dengan wajah tertunduk, tapi sekilas dia bisa melihat wajah cantik wanita itu.
" Kenapa hanya berani menunduk?" tanya Gavin dengan bahasa yang sangat halus, karena Gavin menyadari gadis di hadapannya ini sedang dalam ketakutan yang sangat mencekam.
" Maaf, Tuan ..." hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Azzahra.
" Hanya maaf saja? Kamu tak berniat menebus kesalahanmu?" tanya Gavin kembali. Entah kenapa melihat sikap gadis itu membuatnya tergelitik untuk mengerjainya.
" S-saya tidak tahu harus berbuat apa, Tuan." Azzahra masih belum berani menatap Gavin.
" Benar pegawai saya bilang tadi, baju saya tidak akan kembali bersih hanya dengan satu atau berkali-kali ucapan maaf."
Azzahra meremas jemarinya, menandakan dia sudah dalam kecemasan yang maksimal.
" Kamu tidak ada usaha untuk memperbaiki kesalahan kamu?"
" Sa-saya ..." Azzahra bingung harus berkata apa, dia hanya bisa menggigit bibirnya, menahan air matanya kembali agar tak lagi turun.
" Kalau bicara dengan seseorang biasakan tatap wajah orang itu, bukan menundukkan wajah ke bawah."
Gavin memperhatikan wajah gadis di hadapannya yang terlihat cantik dengan rias wajah nude, tapi dia bisa melihat bekas air mata di pipi mulus gadis itu.
" Kenapa tidak berani menatap wajah saya? Apa saya sangat menyeramkan?" Gavin mencoba menggoda gadis itu.
" Maaf, tidak Tuan ..." Azzahra spontan kembali menundukkan kepalanya.
" Kenapa malah menunduk lagi? Bukannya melihat saya. Angkat wajah kamu dan lihat saya." Gavin memerintahkan Azzahra agar berhenti menundukkan kepalanya.
Gadis itu perlahan mendongakkan kepala dan menatap ke arah Gavin. Gavin kini bisa menatap dengan jelas wajah gadis cantik itu, sesaat mereka saling memandang, Gavin begitu menikmati wajah cantik bermata indah, tapi terlihat ada kesedihan dari mata indah gadis itu, tapi tak lama gadis itu memutuskan pandangan mengalihkan pandangan ke arah lain.
Saat Azzahra mendonggakan kepala, dia mendapati sosok pria berwajah tampan dan berkulit putih bersih kini sedang menatapnya dengan sebuah senyum tipis terkulum di bibirnya. Sesaat dia tertegun dengan pemandangan hampir sempurna di depannya, matanya dan mata pria itu saling beradu pandang, entah mengapa dia merasakan ada sesuatu yang sama mereka rasakan dalam sorot mata pria itu. Tapi Azzahra tak ingin berlama-lama menatap pria itu, akhirnya dia memutuskan pandangannya.
" Apa kamu bersedia melakukan sesuatu untuk menebus kesalahanmu?" tanya Gavin setelah mereka berhenti beradu pandang.
" I-iya, Tuan." Gugup Azzahra menjawab.
" Ikut saya." Gavin kemudian membalikkan badan dan melangkah, tapi baru tiga langkah Gavin menghentikan langkahnya karena dia merasa Azzahra tidak menuruti apa yang diperintahkan nya.
" Kamu dengar apa yang saya ucapkan tadi?"
__ADS_1
" I-iya, Tuan."
" Lantas, kenapa masih diam di situ?"
" I-iya, Tuan." Akhirnya Azzahra pun melangkahkan kaki mengekori langkah Gavin yang dia sendiri tak tahu akan dibawa kemana.
Langkah mereka terhenti di sebuah pintu kamar, Gavin membuka pintu kamar itu.
" Masuklah ..."
" Ki-kita mau apa kemari, Tuan?" Azzahra langsung menegang saat dia mengetahui Gavin membawanya ke dalam kamar hotel.
" Menebus kesalahanmu." singkat ucapan Gavin, tapi cukup membuat bulu kuduk Azzahra berdiri.
" T-tapi untuk apa kita ke sini?" Azzahra berjalan mundur.
" Kau tahu, hotel ini adalah milik ayahku, kalau kamu mencoba lari dari sini, aku akan bisa menemukan kamu kembali." Gavin menyeringai.
" Ta-tapi, Tuan ..." Mata Azzahra terbelalak saat melihat gerakan Gavin membuka blazer yang dikenakannya.
" Ayo masuk," perintah Gavin lagi kembali.
Azzahra menggelengkan kepalanya. " Tuan saya mohon, saya minta maaf. Tolong jangan lakukan ini, Tuan bisa memberi hukuman lain terhadap saya, tapi tolong jangan paksa saya melakukan hal ini." Azzahra mengatup kedua tangannya di dada, air matanya sudah mengalir deras di pipinya.
" Aku bilang masuk, atau aku akan benar-benar memberikan hukuman kepadamu?" Gavin kini mulai membuka satu persatu kancing kemejanya, membuat Azzahra ketakutan, tubuhnya bergetar dan menegang seketika, hingga tubuh gadis itu lemas dan terkulai tak berdaya, untung dengan sigap Gavin menangkap tubuh gadis itu, kemudian membaringkan tubuh Azzahra di atas kasur berukuran besar di kamar itu.
" Astaga kenapa dia malah pingsan? Aku 'kan hanya ingin menyuruh dia membersihkan bajuku dengan air di kamar mandi." gumam Gavin memijat keningnya yang sesungguhnya tidak merasa pusing.
*
*
*
Bersambung ...
Cocok ga sih kalo Gavin sama Azahra? sebenarnya sih next pengen buat cerita tentang mereka, tapi berhubung awalnya mak-emak di sini pada sebel-kesel-benci sama Si Gabinš¤, aku jadi ragu pengen lanjut ceritanya. Sebenarnya dari awal sosok Gavin tuh baik loh, ke Natasha pun dia ga pernah berani bersikap kurang ajar ga seperti Andraš¤£š¤£
yang kemarin jawab pertama Azahra silahkan tinggalkan nomer hp nya ya Mak, pulsa hari ini langsung otw
Happy Readingš
__ADS_1