
Natasha mengendarai mobilnya ke arah kampus Yoga, butuh sekitar dua puluh menit waktu yang dibutuhkannya untuk sampai ke sana. Natasha mencoba menghubungi nomer Yoga kembali, tapi ternyata nomernya tidak aktif.
Saat ini Natasha sudah hampir sampai ke kampus Yoga. Ketika dia hendak melewati sebuah kafe dekat kampus Yoga, dia teringat pertemuan kedua kalinya dia dengan Yoga. Di Kafe itu mereka berdua sempat terlibat berdebatan, hingga tamparan melayang ke pipi Pria tampan itu.
Siapa sangka pria yang dulu sempat dia ajak kerja sama untuk memisahkan Andra dan Adelia, agar memuluskan rencananya untuk bertunangan dengan Andra, kini malah berbalik menjadi suaminya. Natasha tersenyum mengingat kejadian itu.
Namun tiba-tiba senyum Natasha memudar, saat dia melewati Kafe itu, matanya melihat sebuah motor yang sangat dia hapal, karena warna helmnya yang sangat mencolok, terparkir di halaman Kafe yang tidak terlalu berukuran besar itu. Natasha memicingkan matanya, dia mencoba menajamkan pandangannya untuk memperhatikan nomer plat motor itu. Dia mendengus kesal karena nomer plat itu benar nomer yang sama yang dimiliki Yoga.
" Dasar Tukang Ojol cabul, ditungguin dari tadi malah ada di sini. Ngapain dia di sini?!" Natasha segera memarkirkan mobilnya di tepi jalan depan kafe, kemudian dia berjalan melangkah memasuki Kafe itu.
Natasha mengedar pandangan ke setiap sudut Kafe, mata indahnya mencari sosok pria yang dicarinya. Dan matanya tiba-tiba terkunci pada sosok pria yang duduk di kursi sebelah kanan, berjarak sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri.
Sosok pria itu duduk berhadapan dengan seorang wanita. Dengan mata kepalanya sendiri Natasha melihat pria itu menggenggam jemari tangan si wanita dan juga menyentuh bahkan mengusap air mata di pipi wanita cantik itu.
Seketika Nafas Natasha tercekat, jantungnya berdegup kencang. Hawa panas mengalir di seluruh tubuhnya hingga terasa di matanya. Kedua tangannya mengepal, terlebih lagi saat dia mengetahui siapa wanita yang saat ini terlihat intim dengan Yoga.
Ingin rasanya dia melabrak sepasang manusia berbeda jenis itu, ingin rasanya dia mengumpat dan memaki mereka berdua. Dia siap melangkah dan melakukan tindakan bar-bar sebagai bentuk kekesalan terhadap dua orang itu, tapi dia urungkan. Natasha memilih berbalik, sedikit berlari kembali ke mobilnya dengan hati yang sakit.
" Aaarrgghh ...!! Yoga Brengsek ...!! Wanita kampung sialan ...!! Apa nggak cukup dulu kamu merebut Andra dariku?! Sekarang kau ingin merebut pria yang sudah menjadi suamiku?! Dasar wanita nggak tahu diri!" geram Natasha memukul stir mobilnya.
Dada Natasha terasa sesak, seakan Dejavu, hari ini dia kembali memergoki Adelia bermesraan dengan pria yang saat ini sudah berstatus suaminya. Setelah sebelumnya dia memergoki Adelia dengan Andra di kantor Andra beberapa Minggu lalu, yang akhirnya membuat dia mengadu ke orang tua Andra, dan menjadi penyebab kemarahan Andra hingga akhirnya dia hampir kehilangan kesuciannya
Tak terasa air mata sudah meleleh di pipi Natasha. " Kenapa kamu lakukan ini kepadaku, Yoga? Setelah apa yang telah terjadi dengan kita belakangan ini? kenapa kamu tega sama aku? Apa kalian bersekongkol untuk membalasku?" Batin Natasha sembari menyeka air matanya. Dia mengingat cumbuan yang dilakukan Yoga terhadapnya. Dan itu sangat menyakitkan hatinya.
Akhirnya Natasha melajukan mobilnya berlalu menjauh dari kafe itu dengan perasaan yang hancur.
***
Hampir jam setengah dua Yoga selesai berbincang dengan Adelia. Yoga teringat janjinya untuk makan siang dengan Natasha.
" Shit ...! Hape lowbat lagi." Yoga meruntuki ketelodorannya. Dia sudah membayangkan singa betinanya itu pasti akan mengamuk karena gagal menepati janjinya tanpa kabar.
__ADS_1
Yoga ingin datang ke butik Natasha, tapi dia ingat jika jam dua dia akan mengajar bimbel di daerah yang memerlukan waktu perjalanan lebih dari tiga puluh menit. Jika dia harus ke butik Natasha terlebih dulu, bisa dipastikan dia akan telat lebih dari sejam. Yoga memutus untuk menemui istrinya itu setelah dia mengajar. Dia merencanakan makan malam diluar untuk menjinakkan emosi istrinya itu.
Beberapa jam berlalu..
Motor yang dikendarai Yoga memasuki halaman Alexa Butique, matanya tak mendapati mobil Natasha di sana. Yoga melirik jam di tangannya, yang menunjukkan waktu pukul empat lewat tiga puluh menit.
" Sore, Pak Joko, Bu Natasha ada di tempat. Pak? Mobilnya kok saya lihat nggak ada," tanya Yoga pada satpam yang berjaga.
" Ibu Boss sudah keluar dari siang tadi, Mas. belum balik kemari lagi," jawab Pak Joko.
" Keluar dari siang?"
" Iya, Mas. Dari sekitar jam makan siang."
" Pergi sendiri atau ...??"
" Sendiri, Mas."
Yoga berpikir sejenak. " Saya ikut tunggu di sini ya, Pak. Takut nanti Ibu Natasha kembali lagi ke sini."
" Saya tunggu di luar sini saja, Pak, temenin Bapak, sekalian saya mau charger hape saya, lowbat masalahnya."
" Oh, ya sudah silahkan, Mas."
Akhirnya Yoga memutuskan menunggu, kalau-kalau Natasha kembali ke butik.
Sampai lepas sholat Maghrib, Natasha tidak juga kembali, bahkan beberapa kali Yoga mencoba menghubungi, nomer Natasha tidak aktif. Akhirnya Yoga memilih untuk kembali ke apartemen Natasha, dengan harapan istrinya itu sudah sampai di sana.
" Assalamu'alaikum, Bi, Natasha sudah pulang?" tanya Yoga kepada Bi Surti, sesampainya dia di apartemen Natasha.
" Waalaikumsalam, justru Bibi mau tanya, Si Non mana? Kok nggak pulang bareng?" Bi Surti menyahuti.
__ADS_1
" Memang Natasha belum pulang?" Yoga melirik jam dinding yang sudah hampir jam delapan malam.
" Belum, Mas."
" Ke mana dia?" Seketika Yoga merasa cemas. " Dia ada bilang ke Bibi, hari ini mau pulang telat?"
" Nggak, Mas." Bi Surti menggeleng. " Memang ke Mas Yoga sendiri, Si Non bilang, nggak?" Bi Surti balik bertanya.
" Nggak, Bi. Dia nggak bilang apa-apa." Yoga menghela nafas berat. " Apa dia marah sama saya ya, Bi? Karena tadi batal ngajak makan siang tanpa mengabari?" Yoga menduga-duga.
" Bisa jadi itu, Mas. Si Non pasti marah kalau kejadiannya seperti itu." Bi Surti menyahuti.
" Tapi masalahnya dia ada di mana sekarang? Saya telepon nggak aktif nomernya. Apa dia sering pulang telat gini tanpa kabar?
" Si Non kalau pulang telat selalu kirim pesan ke Bibi, Mas. Kecuali waktu malam itu saja, waktu akhirnya pulang sama Mas Yoga."
" Apa ada teman dia yang biasa pergi kumpul-kumpul bareng dia, Bi?" Yoga berharap ada petunjuk, sehingga dia bisa mencari istrinya itu ada di mana sekarang.
" Dulu ada, Mas. Tapi sudah hampir setengah tahun ini Si Non jarang pergi keluar sejak Mba Lidya dan Mbak Sisca pindah ikut suaminya ke luar negeri. Mereka berdua itu sahabat Si Non." Bi Surti menjelaskan.
Yoga terdiam, tidak ada jejak yang bisa dia telusuri untuk mencari Natasha, sementara detik jam terus berlalu.
" Ya, sudah, Bi. Saya mau mandi terus sholat dulu. Setelah itu saya coba cari Natasha." Yoga bertumpu pada satu harapan, semoga Natasha ada di rumah kontrakannya.
*
*
*
Author POV ; Nah, loh... Natasha nyangkut dimana kira-kira?
__ADS_1
Bersambung...
Happy Readingš