
" Dia kenapa, Kak?" Natasha memandang apa yang sedang dibawa Gavin di tangannya.
" Dia tadi mendadak sesak nafas." Gavin menyahuti sembari melangkah masuk dan menaruh wadah air itu di atas meja dan menetes beberapa tetes eucalyptus oil ke dalam wadah yang berisi air hangat itu.
" Mendadak sesak nafas?" Natasha langsung menatap Sinta dengan memicingkan matanya, dia melihat karyawannya itu terlihat salah tingkah. " Memangnya apa yang sudah Kak Gavin lakukan hingga membuat dia sampai sesak nafas?"
" Kakak tadi menyuruh dia mengambil tindakan untuk meredakan sesak nafasnya, tapi tidak berhasil, makanya sekarang pakai cara lain, menghirup uap ini." Gavin menerangkan. " Kamu, ayo cepat ke sini, coba wajahmu menghadap ke mangkuk ini, nanti ditutup pakai handuk kepalamu biar uap nya bisa kamu hirup, ini biasanya bagus juga meredakan rasa sesaknya," sambungnya menyuruh Sinta mendekat.
" Kak, apapun yang Kakak suruh, nggak akan bisa meredakan sesak nafas dia, yang ada Kak Gavin itu bikin nafas dia berhenti mendadak," kelakar Natasha tersenyum mengejek. " Benarkan, Sin?"
" Ah ... i-iya, Bu. Ini saya sudah mendingan nafasnya, hemmm ... huuuffft. Tuh, sudah nggak sesak lagi, kalau begitu saya kembali ke tempat, Bu. Tu-tuan." Sinta bergegas meninggalkan ruangan Natasha dengan wajah memerah.
" Karyawan kamu itu kenapa?" tanya Gavin menanggapi Sinta yang terburu-buru pergi.
" Biasalah, dia suka over acting gitu kalau depan cowok." Santai Natasha menanggapi. " Oh ya, Kakak sudah lama menunggu?"
" Sekitar seperempat jam lebih." Gavin kemudian duduk di sofa. " Kamu memang dari mana?"
" Aku habis dari bank, ingin mengajukan permohonan kredit." Natasha menyahuti.
" Mengajukan kredit? Untuk apa?" Kedua alis Gavin bertautan.
.
" Untuk mengembalikan uang Nyonya Agatha, kan kemarin aku sudah bilang ke Kakak, opsinya kalau nggak jual asset, ya terpaksa pinjam ke bank."
" Jangan lakukan itu! Kau tidak perlu memikirkan pengembalian modal Agatha lagi."
Natasha merasa heran dengan kalimat yang dikatakan kakak sepupunya itu. " Apa Kak Gavin sudah bicara dengan Nyonya Agatha? Apa Nyonya Agatha membatalkan rencana memutuskan kontrak kerja?"
" Tidak seperti itu, dia sama sekali tidak membatalkan keputusannya. Tapi soal dana, kau tak perlu khawatir, aku sudah mengembalikan semua modal kerja yang dia tanamkan untuk pembangunan butik di Bogor.
Natasha terkesiap mendengar jika Gavin sudah mengembalikan uang itu. " K-kak Gavin mengembalikan uang sebanyak itu? Kenapa Kakak membayarnya?"
" Memangnya kenapa? Kau adikku, sudah pasti aku akan membantumu, Alexa."
" Tapi nggak dengan melakukan hal itu, Kak. Uang segitu nggak sedikit lho, Kak. Aku nggak mau merepotkan Kakak. Aku hanya minta tolong Kak Gavin untuk bicara dengan Nyonya Agatha bukan untuk melunasi hutangku padanya." Seketika hati Natasha dibuat tak nyaman dengan tindakan Gavin.
" Alexa, aku tidak akan membiarkan kamu dalam kesulitan, dan karena aku bisa bantu, maka aku bantu kamu."
" Tapi, Kak ...."
Gavin bergerak berpindah duduk di dekat Natasha, dan itu membuat Natasha sedikit terkesiap.
__ADS_1
" Alexa, jangan berpikir yang macam-macam tentang pertolongan Kakak ini, kakak ikhlas membantumu, Alexa." Gavin berucap seraya mengusap lembut puncak kepala Natasha.
Seketika tubuh Natasha menegang dengan perlakuan Gavin. Sejak awal bertemu dengan Gavin memang Natasha merasa tidak nyaman dengan sikap pria itu terhadapnya, apalagi saat Gavin secara terang-terangan menyatakan perasaan terhadap dirinya.
Dan setelah terungkap fakta jika mereka ini masih sedarah, apakah perasaan Gavin benar-benar bisa berubah terhadapnya atau tidak. Ini yang membuat Natasha kembali dilanda kegelisahan. Apakah keputusan meminta bantuan kepada Gavin, adalah keputusan yang salah? Mestinya dia bisa berfikir lebih jauh, Gavin menyukainya, apalagi tahu posisi pria itu sebagai kakak sepupu, seandainya mereka tidak sedarah pun, dia yakin Gavin pasti akan membantunya.
" Hmmm, Kak ... kalau begitu nanti aku ganti ya uang Kak Gavin yang Kakak pakai untuk melunasi hutangku itu." Setelah menghela nafas dalam-dalam Natasha bisa mengatasi ketegangannya.
" Tidak perlu Alexa, kau tidak perlu mengembalikan uang itu. Aku kan sudah katakan aku ikhlas membantumu. Jadi jangan berpikir untuk mengembalikan uangku. Kamu juga jangan repot-repot pinjam dana ke bank bikin pusing saja."
" Tapi aku nggak bisa menerima begitu saja pertolongan Kak Gavin. Aku nggak mau berhutang budi dengan siapapun termasuk dengan Kakak."
" Kalau begitu jangan dianggap kamu berhutang kepada Kakak."
" Nggak bisa, Kak. Aku nggak bisa begitu saja mengabaikan pertolongan Kakak ini. Aku takut aku nggak bisa membalas kebaikan Kak Gavin terhadap aku."
Gavin nampak berfikir sesaat. " Kau ingin membalas kebaikan Kakak, ya? Kakak tahu itu apa." Gavin tersenyum menatap Natasha.
" Apa?"
" Menikahlah denganku, maka kau akan terbebas dari hutangmu."
" Hahh??" Natasha terperanjat dengan bola mata melebar sempurna. Seketika wajah Natasha memucat, jantungnya berdetak lebih kencang, perasaan-perasaan tidak enak langsung menyerbu hatinya. Dia merasa terjerembab masuk ke dalam lubang yang dia gali sendiri. Dia telah salah mengambil langkah, yang bukan membawanya keluar dari masalah, tapi malah membawa masalah baru yang lebih besar.
Dan disaat ketegangan hampir membuat jantung Natasha berhenti, tiba-tiba terdengar tawa kencang Gavin membuyarkan lamunan Natasha.
" Kamu ini kenapa, Alexa? Serius sekali menanggapinya. Kakak hanya bercanda tadi, jangan dianggap serius." Gavin mengacak rambut Natasha masih tak henti tertawa.
" Iiihhh ... Kak Gavin ngerjain aku, ya?!" Tangan Natasha memukul lengan Gavin karena kesal pria itu sudah menjahilinya.
Gavin terkekeh menanggapi tindakan Natasha. " Memangnya kamu mau gitu jadi istri aku?" ledek Gavin kemudian.
" Iiisshh ... bisa-bisa aku digantung istrimu."
" Ex-wife bentar lagi."
" Kak Gavin serius ingin bercerai dengan dia?" Gavin mengangguk menjawab pertanyaan Natasha.
" Dulu Kakak pernah cerita ke aku kalau Kakak menemukan wanita yang Kakak cintai, baru Kakak akan memutuskan bercerai, tapi sekarang Kak Gavin tahu faktanya, kan? Kalau aku sudah menikah, dan kita ini ternyata saudara, kenapa Kakak masih meneruskan niat Kakak untuk berpisah?"
Gavin menghela nafas yang terasa berat. " Aku berhak mengambil jalanku sendiri, kan? Aku juga berhak menentukan kebahagiaanku sendiri. Mungkin kali ini aku tidak berhasil mendapatkan apa yang aku ingin kan, tapi siapa tahu di depan Tuhan sudah merencanakan jodoh untukku. Jika aku terus bersama Agatha, aku tidak bisa bebas menemukan jodoh yang sudah Tuhan siapkan untuk aku."
Natasha mengelus lengan Gavin. " Kak Gavin orang baik, aku yakin Kakak pasti akan mendapatkan wanita baik yang akan jadi pendamping Kakak kelak," ucap Natasha tulus.
__ADS_1
" Terima kasih, Alexa." Gavin menggenggam tangan Natasha yang tadi mengelus lengannya.
" Kak, masalah uang Kak Gavin yang dipakai untuk membayar Nyonya Agatha, pelan-pelan nanti aku ganti ya, aku ada deh seperempatnya, bisa aku bayar dulu."
" Aku kan sudah bilang tidak usah, kamu bandel sekali, sih." Gavin menarik gemas hidung Natasha.
" Iisshh ... sakit, Kak." Natasha memberengut memegang hidupnya yang ditarik Gavin.
" Habis kamu sudah dibilangin, tidak mau menuruti apa yang Kakak bilang." Gavin terkekeh.
" Tapi aku nggak mau uang Kak Gavin sia-sia begitu saja, aku mau ganti, Kak," rengek Natasha.
" Ya sudah gini saja, anggap saja aku yang ganti posisi Agatha sebagai rekan bisnismu? Jadi butik di Bogor itu kerjasama kita berdua, aku yang menanam modal di sana. Beres, kan?!" Gavin memberi solusi.
" Deal ..." Natasha mengulurkan jari kelingkingnya.
Seketika Gavin tercenung melihat tingkah Natasha, ingatan seakan kembali ke masa kecilnya dengan adik Alexa nya dulu. Senyum lalu terlihat di sudut bibirnya. Gavin lalu menautkan jari kelingkingnya dengan jari Natasha.
" Kamu tahu, dulu kita sering melakukan hal seperti ini, dan setiap kali terjadi kamu yang selalu mengulurkan kelingking mu terlebih dahulu."
" Benarkah?"
" He-em, sayangnya usia kamu saat itu belum bisa merekam peristiwa-peristiwa masa lalu."
" Makasih ya, Kak." Gavin menoleh ke arah Natasha saat wanita itu mengucapkan terima kasih.
" Makasih untuk semua kebaikan dan kasih sayang yang Kakak beri ke aku dari aku kecil dulu, sampai saat ini pun Kakak bantu aku mengatasi kesulitan aku," ucap Natasha tulus.
Gavin kembali mengusap lembut puncak kepala Natasha. " I do my best ...."
Natasha tersenyum, dia pun langsung merentangkan tangannya untuk memeluk Gavin. Gavin yang melihat reaksi Natasha dengan cepat merengkuh Natasha membawanya ke dalam pelukannya. Walau hatinya merasa teriris, tapi dia harus mengikhlaskan perasaan cintanya kepada wanita yang ada dalam pelukannya saat ini dikubur rapat-rapat. Perlahan dia harus mengembalikan rasa sayang seorang Kakak kepada adiknya yang pernah hilang dulu.
Dan tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedang menatap interaksi mereka dengan sorot mata tajam dari pintu ruangan Natasha yang terbuka lebar.
*
*
*
Bersambung....
Jreng ... jreng ... ada ๐๐
__ADS_1
Happy Reading๐