MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Jangan Pernah Temui Aku Lagi


__ADS_3

Natasha berjalan menyusuri lorong apartemennya. Lewat waktu Maghrib dia keluar dari butik. Natasha membuka pintu apartemennya, dan dia dibuat terperanjat ketika mendapati sosok pria sedang duduk di sofa ruangan tamu apartemennya. Pria itu bangkit saat melihat kemunculan Natasha di pintu.


" A-Andra? Untuk apa kamu kemari lagi?" Natasha masih dengan keterkejutannya.


" Papa dan Mama memintaku membawamu ke rumah. Mereka sudah tahu apa yang aku lakukan malam itu. Papa tak mengijinkan aku menginjakkan kaki di sana jika aku tidak bisa membawamu ke hadapan mereka."


Natasha memejamkan mata sejenak, mengatur nafasnya yang mulai terasa tercekat. Jadi karena ancaman Om Ruslan-lah yang membuat pria itu bolak-balik menemuinya.


" Katakan pada mama papamu, nanti aku akan menghubungi Tante Melly," ucap Natasha berniat meninggalkan Andra.


" Apa Gavin yang mengantar kamu pulang?" tanya Andra dingin.


" Bukan urusanmu, aku pulang dengan siapa pun juga," jawab Natasha dengan nada ketus.


" Aku hanya memperingatkan, Gavin itu bukan pria yang baik."


" Bukan pria yang baik?? Lantas pria yang baik itu yang seperti apa?? Yang hampir memperkosa calon tunangannya sendiri?!" geram Natasha dengan deru nafas tak beraturan. " Apa yang terjadi malam itu, membuat aku menyadari satu hal, Andra. Bahwa kejahatan itu tidak hanya datang dari orang asing yang tidak kita kenal, tapi juga bisa berasal dari orang dekat yang kita kenal baik!" tegasnya kemudian.


" Okelah aku salah, dan aku minta maaf untuk itu. Tapi aku kan tidak sampai menodai kesucian mu, aku hanya hampir memperkosa mu. Lagipula itu juga bukan murni kesalahanku. Kamu yang memancingku, kamu sendiri yang bersedia memberikan tubuhmu ...."


Plaaakkk...


Sebuah tamparan keras langsung meluncur di wajah Andra sebelum Andra menyelesaikan ucapannya. Dan itu berasal dari tangan Natasha. Kalimat-kalimat yang diucapkan Andra membuat gelora amarah di hatinya berkobar, matanya mulai panas dan memerah, nafasnya turun naik, rasa sesak kembali terasa di dadanya.


" Kamu tahu, Andra ...!! Jika aku tidak ditolong seseorang, aku hampir diruda paksa beberapa preman malam itu di jalan!! Jika aku tidak ditolong orang, bisa saja saat ini aku sudah gila atau mungkin terbunuh malam itu juga!! Dan sekarang kamu bilang kalau kamu hanya hampir memperkosa?!" pekik Natasha geram dengan emosi yang membuncah, hingga air matanya pun sudah tak bisa terbendung tumpah di pipi mulusnya.


" Pergilah ..!! Dan jangan pernah temui aku lagi, untuk alasan apapun juga!" tegas Natasha kemudian berlari menuju kamarnya meninggalkan Andra yang berdiri mematung dengan ekspresi yang tidak bisa dilukiskan, juga Bi Surti yang ternyata sedari tadi mencuri dengar percakapan Natasha dan Andra dari balik dapur. Sedangkan Natasha di kamarnya menangis tersedu dengan hati yang teramat sakit ... sangat sakit.


***


Selepas Sholat Jumat Yoga memarkirkan motornya di depan kedai soto mie, berniat mengisi perutnya sebelum menerima orderan-orderan dari aplikasi ojek onlinenya.


" Sudah lama jualan, Bang?" tanya Yoga berbasa-basi dengan penjual soto itu. Yoga memang dikenal sebagai pribadi yang hangat dan mudah bergaul dengan siapa saja.

__ADS_1


" Hampir sepuluh tahun, Mas," jawab Penjual soto mie itu.


" Lumayan lama ya, Bang. Sudah banyak langganannya juga, dong?!"


" Alhamdulillah, Mas. Bisa buat bikin dapur ngebul dan bayar biaya sekolah tiga anak."


" Hey nasi kotak tuh nasi kotak ...!!" pekik seseorang berlari ke arah seberang diikuti beberapa orang yang berbondong-bondong menghampiri sebuah mobil Alphard putih yang tiba-tiba berhenti di seberang sana.


Yoga menautkan kedua alisnya, dia menyadari di Jakarta yang luas ini tidak hanya satu orang yang mempunyai mobil itu. Tapi entah kenapa dia berharap jika orang yang ada di mobil itu adalah wanita jutek yang pernah beberapa kali ditolongnya. Yoga mencoba menepis perasaan itu, tidak mungkin jika dia harus berkali-kali bertemu dengan wanita itu. Ini dunia nyata, bukan dunia novel yang bisa dengan seenak nya diatur oleh sang penulisnya (🤪)


" Itu ada apa ya, Bang?" tanya Yoga penasaran.


" Oh itu, Mas. Biasa ada orang kaya yang bagi-bagi nasi kotak buat orang-orang, tukang sapu jalan, tukang ojek pangkalan atau pemulung gitu, Mas."


" Sering bagi-bagi nasi?"


" Iya, Mas. Biasanya pas jumat kliwon kaya gini, nih. Ya, alhamdulillah masih ada orang kaya yang mau bagi-bagi rejeki, Mas. Masih muda, cantik lagi orangnya, Mas."


Yoga menatap ke arah mobil yang sedang dikelilingi orang-orang itu. Tiba-tiba saja hatinya gelisah mendengar penjelasan penjual soto mie tentang ciri-ciri pemilik mobil itu. " Apakah itu dia?" batinnya.


Yoga menajamkan pandangannya, semakin lama diperhatikannya keadaan semakin tak terkendali. Orang yang berkumpul mulai terlihat anarkis, mereka memukul-mukul badan mobil itu, mobil itu pun terlihat terjebak tak bisa bergerak, karena beberapa orang menutup jalan mobil tersebut. Bisa dibayangkan ketakutan yang akan dialami orang-orang yang ada di dalam mobil itu.


Yoga bergegas berlari menuju kumpulan orang-orang itu, membelah dan merangsek naik ke atas mobil " Hentikan ...!!! Menjauhlah kalian semua ...!!! Bubaaaarrr ...!!" teriak Yoga dengan kesetanan. Aksi heroik yang dilakukan Yoga sontak membuat orang-orang yang mengerubuti mobil itu berpusat kepadanya.


" Apa kalian sadar apa yang kalian lakukan ini membuat orang di dalam ketakutan, Hahh?! Apa kalian sadar dengan kelakuan brutal kalian bisa membuat mereka-mereka yang ingin berbagi rejeki dengan kalian kapok, Hahh?!" geram Yoga masih dengan nada tinggi. " Bubar kalian sekarang juga ...!! Bubaaaarrr ...!!" pekiknya lantang


Beberapa saat sebelumnya...


" Ibu, orang yang datang semakin banyak, Bu Gimana ini, Bu?" Sinta terlihat panik karena paket sembako yang hendak mereka bagikan hanya tinggal beberapa bungkus saja.


" Ya, sudah. Kita tinggal bilang saja habis, beres, kan?" Natasha terlihat masih santai menanggapi.


Braakk brakkk brakkk

__ADS_1


" Allahu akbar ...!!" Sinta memekik kaget ketika beberapa orang terlihat menggebrak-gebrak kaca jendela dan bagian badan mobil lainnya.


" Kita pergi saja kalau begitu." Natasha ingin mengemudikan mobilnya tapi dia terkejut ketika beberapa orang berdiri di depan menghalangi jalannya. " Duh, Sin. Gimana ini?? Kita terjebak ini ..." Natasha pun mulai ikutan panik.


" Duh, gimana kalau mereka mengamuk terus membakar mobil ini ya, Bu?" Sinta semakin cemas.


" Kamu jangan nakut-nakutin gitu dong, Sin. Aku nggak mau mati muda, apalagi dengan cara konyol seperti ini."


" Aku juga nggak mau mati muda, Bu. Aku masih muda belum menikah, belum ngerasain surga dunia ..." ucapan Sinta sontak membuat Natasha melotot, bisa-bisanya Sinta berpikir ke arah itu di saat situasi sedang gawat seperti ini.


Natasha dan Sinta beberapa saat kemudian saling menutup telinga dan matanya masing-masing sambil berdoa, berharap ada orang yang membantunya.


Tok tok tok


Terdengar suara jendela pintu diketuk, perlahan Natasha membuka matanya. Dia menatap ke arah depan dan samping luar mobilnya sudah tidak ada orang bergerombol, hanya ada tubuh seseorang yang berdiri di samping jendela mobilnya. Dirasa sudah aman Natasha membuka kaca mobilnya itu dan dia langsung tertegun saat melihat sosok pria yang berdiri di sana, sang pria pun sama-sama tertegun menatapnya.


" Kamu??" ucap mereka bersamaan.


" Kamu nggak apa-apa?" tanya Yoga memperhatikan di sekitar bagian dalam mobil Natasha.


" Iya ..." jawab Natasha lemah


" Lain kali jika mau membuat acara seperti ini, sertakan teman pria yang bisa membantu, untuk mengantisipasi, takutnya kejadian seperti ini terulang lagi. Sekarang sudah aman, buruan jalan ..." ujar Yoga, yang ditanggapi anggukan kepala Natasha.


" Terima kasih ..." ucap Natasha kemudian.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


Happy Reading😘


__ADS_2