MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Sesak Nafas


__ADS_3

Yoga memperhatikan Natasha yang sedang berdiri di balkon rumahnya malam ini. Sejak dia jemput tadi, istrinya lebih banyak diam tak banyak bicara. Dia merasa ada hal yang mengganggu pikiran sang istri. Yoga melangkahkan kaki mendekati Natasha, dan merengkuh tubuh indah itu dari belakang.


" Kenapa? Apa ada sesuatu yang membuatmu gelisah?" Yoga menyandarkan dagunya di pundak Natasha.


" Yo-Yoga ... kau mengagetkan saja." Natasha memegang dadanya, karena dia memang merasa terkejut.


Yoga terkekeh. " Memangnya kamu sedang melamun apa, sih? Sampai nggak menyadari keberadaan aku." Tangan Yoga menyampirkan rambut Natasha ke belakang telinga.


" Nggak ada apa-apa." Natasha menyembunyikan masalahnya.


" Kamu nggak bisa bohong dari aku, katakan ada apa?" Yoga mengurai pelukannya dan memutar tubuh Natasha sehingga berhadapan dengannya. " Kau nggak ingin cerita pada suamimu ini?" Punggung jemari Yoga kini membelai lembut wajah mulus istrinya.


Natasha menghela nafas perlahan. " Bukan masalah besar, sudah bisa aku atasi, kok."


" Kalau bukan masalah besar, tidak akan mungkin bikin kamu melamun seperti ini." Yoga merangkum wajah Natasha. " Apa kamu nggak percaya padaku hingga kamu nggak ingin berbagi cerita dengan suamimu?"


Natasha menyentuh tangan Yoga yang menangkup wajahnya. " Bukan begitu, Ga. Tapi masalah ini bisa aku handle, lagipula aku sudah minta bantuan Kak Gavin untuk mengatasinya."


Yoga terkesiap mendengar nama Gavin disebut Natasha, seketika dia menjauhkan tangannya dari wajah istrinya. " Gavin? Ada urusan apa kamu mesti minta bantuan dia?" ketus Yoga dingin.


" Ini masalah dengan Nyonya Agatha, makanya aku minta tolong Kak Gavin."


" Memangnya masalah apalagi dengan wanita itu?" tanya Yoga dengan sorot mata menyelidik.


" Nyonya Agatha memutuskan hubungan kontrak kerjasama, dan dia ingin menarik semua dana yang sudah dia setorkan ke Alexa Butique dalam waktu dekat."


Yoga menautkan kedua alisnya. " Kenapa dia memutuskan sepihak? Apa ada hubungannya dengan suaminya yang menyukaimu?"


Natasha mengedikkan bahunya. " Mungkin saja ...."


" Berapa dana yang harus dikembalikan?"


" Dua puluh lima milyar ...."


" Apa dananya ready?"


Natasha menggelengkan kepala. " Aku mesti mengajukan pinjaman ke bank, kalau menjual asset yang di Bogor itu mungkin agak lama. Makanya aku minta tolong ke Kak Gavin untuk bicara ke Nyonya Agatha, aku minta waktu untuk pengembalian modal dia, karena nomer ponsel dia nggak bisa aku hubungi."


Yoga terdiam sebelum akhirnya berucap, " Aku akan coba bilang ke Papih, semoga Papih bisa bantu." Yoga hendak melangkah mengambil ponselnya, tapi Natasha lebih dulu mencengkram lengan kokoh Yoga.


" Jangan, Ga! Aku nggak ingin merepotkan orang tua kamu." Natasha meminta Yoga tidak melanjutkan niatnya.

__ADS_1


" Orang tua aku itu mertua kamu juga, lagipula uang Papih uang aku juga."


" Nggak, Ga. Aku nggak ingin membenarkan tudingan Mamih kamu kalau aku hanya memanfaatkan kamu untuk mengatasi kesulitan aku," lirih Natasha. " Aku sedang berusaha negosiasi dengan Nyonya Agatha melalui Kak Gavin, semoga Kak Gavin bisa membuat Nyonya Agatha mengerti."


Yoga melipat kedua tangannya di dada, " Kamu lebih mempercayai orang lain untuk membantumu ketimbang suami sendiri, hahh! Bahkan jika aku tidak mendesakmu untuk cerita, aku nggak akan tahu masalah pelik yang sedang kamu hadapi sekarang ini!" tandas Yoga.


" A-aku nggak bermaksud seperti itu, Ga. Aku nggak ingin membuatmu khawatir. Lagipula Kak Gavin itu bukan orang lain, dia sepupu aku, dan masih menjadi suami Nyonya Agatha."


Yoga mendengus kesal mendengar jawaban Natasha, sejujurnya dia merasa kecewa akan sikap istrinya tak terbuka kepadanya, terlebih lagi dia lebih mempercayai pria lain, yang justru membuatnya merasa tidak nyaman.


" Terserah kamu sajalah!" Yoga kemudian berjalan ke arah luar kamar meninggalkan Natasha sendiri.


***


" Siang, apa Alexa ada di tempat?"


Sinta yang sedang asyik membaca novel di aplikasi novel online di ponsel tersentak saat melihat kedatangan Gavin siang ini.


" Tu-tuan Gavin?" Sinta buru-buru berdiri dengan menyampirkan rambutnya ke belakang telinga menyembunyikan rasa groginya.


" Alexa ada?" Gavin mengulang pertanyaan.


" Oh, begitu ...."


" Apa Tuan Gavin akan menunggu Ibu Nat?"


" Kalau dia sedang dalam perjalanan ke sini, sebaiknya saya tunggu saja ya, Mbak," jawab Gavin santun seraya memberikan senyuman kepada Sinta.


Sontak senyuman yang diberikan Gavin membuat darah Sinta berdesir.


" O-oh ... i-iya silahkan, Tuan." Seketika Sinta merasa gugup kemudian berjalan membukakan pintu ruang kerja Natasha. " Si-silahkan, tu-tunggu di-di ruangan Ibu saja, Kak. Eh maaf, Tuan."


Gavin mengeryitkan keningnya. " Kamu kenapa? Sakit?" Gavin melangkah mendekati Sinta yang terlihat salah tingkah. Sontak hal itu membuat mata Sinta membulat.


" Sa-saya ... sa--ya tiba-tiba merasa se--sak nafas, Tuan." Sinta seketika menegang saat Gavin mendekat ke arahnya.


" Sesak nafas? Sebaiknya kamu duduk dulu." Yoga menuntun Sinta untuk duduk di sofa, tentu saja ini semakin membuat jantung Sinta berdetak kencang.


" Apa kamu bawa obatnya?" Sinta menggeleng kaku menjawab pertanyaan Gavin.


" Kamu duduk yang tegak, punggung kamu bersandar rileks saja, coba tarik nafas melalui hidung beberapa detik, bibir kamu ditutup saat menarik nafas, setelah itu buang perlahan melalui mulut. Lakukan berulang sampai sesak nafasmu berkurang." Gavin mengarahkan Sinta untuk melakukan tindakan mengatasi sesak nafas.

__ADS_1


Sinta dengan lugunya mengikuti apa yang diperintahkan Gavin, sementara keringat dinginnya sudah mulai keluar membasahi telapak tangannya. Dia semakin dibuat gugup dengan sikap Gavin yang terlihat sangat perduli dengan kondisinya.


" Bagaimana? Apa sudah membaik?" tanya Gavin setelah beberapa menit Sinta mencoba melakukan tindakan pertolongan yang dianjurkan Gavin.


Sinta menggelengkan kepala. " Apa kamu sering mengalami hal seperti ini sebelumnya?" tanya Gavin lagi yang juga dijawab gelengan kepala oleh Sinta.


" Kamu punya eucalyptus oil atau essential peppermint?" Sinta kembali menggelengkan kepala.


" Saya coba suruh orang cari itu dan menyiapkan air hangat dan handuk. Mungkin menghirup uap dari oil itu bisa melegakan pernafasan kamu. Saya coba ke bawah sebentar, ya. Kamu tetap lakukan hal tadi selama saya suruh orang siapkan air hangatnya." Gavin bergegas meninggalkan Sinta yang tercenung.


" Oh my God, aku bisa mati medadak kalau tiap hari begini." Sinta memegang dadanya, bisa dirasakan jantungnya yang berdebar tak karuan. " Nggak--nggak, aku nggak boleh mati dulu, aku masih muda, aku belum menikah ..." Sinta mencoba menetralisir detak jantungnya. Dia berjalan mondar-mandir seperti orang kebingungan.


" Kamu kenapa mondar-mandir gitu, Sin?" Sinta terperanjat ketika tiba-tiba terdengar suara Natasha dari pintu ruang kerja Natasha yang tak tertutup.


" I-ibu??" Mata Sinta terbelalak saat dilihatnya ibu bossnya itu sudah berdiri dengan tatapan penuh selidik. Sementara dari arah belakang Natasha muncul juga Gavin dengan memegang wadah berisi air hangat dan handuk di tangannya.


" Kamu sudah membaik?" tanya Gavin kemudian.


" Membaik??" Natasha menatap Gavin dan Sinta bergantian. " Memangnya kamu kenapa, Sin??"










Bersambung ....


Mak² di sini pingin jodohin Gavin sama Sinta, cocok ga ya kira² 🤔🤔😂


Happy Reading😘

__ADS_1


__ADS_2