
Yoga melangkah mendekat ke arah Natasha yang masih berdiri menatapnya dengan sorot mata menghunus tajam, seolah ingin menelannya hidup-hidup. Aura wajah cantik wanita itu berubah kelam, hanya ada kekesalan dan amarah yang terpancar di sana. Ada cairan bening di matanya yang mulai memerah, siap tumpah tapi berusaha ditahan.
Ada sedikit rasa bersalah di hati Yoga. Sebenarnya dia pantang berdebat dan membuat seorang wanita menangis apalagi di depan umum. Yoga menyadari apa yang dikatakan tadi di dalam kafe sangat keterlaluan, ibarat sebuah pengumuman dia memberitahukan hal yang memang tidak diminta wanita itu terhadapnya. Walaupun tidak sepenuhnya salah, karena memang Natasha menawarinya sejumlah uang, tapi kata-kata menghangatkan ranjangnya itu yang terdengar sangat memalukan.
Tapi jika diingat sikap arogan Natasha, rasanya Yoga pantas memberikan sedikit pelajaran, agar Natasha tidak selalu memandang rendah orang lain apalagi terhadap orang-orang yang punya status sosial di bawahnya.
" Saya bukannya munafik, saya mengakui tawaran yang Anda berikan sangat menggiurkan untuk orang miskin seperti saya, tapi saya punya harga diri, saya tidak ingin orang lain merendahkan saya hanya karena status sosial saya!" Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Yoga terdengar tegas dengan bahasa yang formal.
" Lagipula saya melihat jika Andra dan Adelia sama-sama saling mencintai, tidak ada alasan buat saya untuk merusak hubungan mereka. Adel sudah bahagia dengan pilihannya. saya turut senang untuk itu ..." Yoga menjeda ucapannya sesaat. " Saya bukan pengecut yang akan menghalalkan segala acara untuk mendapatkan sesuatu yang saya inginkan. Tidak seperti Anda!" Yoga menunjuk dan menekan bahu Natasha dengan telunjuknya membuat wanita itu geram.
" Kau ...!!" geram Natasha.
" Apa?? Mau menampar saya lagi?? Silahkan ..." Yoga sedikit membungkuk mensejajarkan posisinya dengan Natasha sambil mendekatkan pipi sebelah kanannya.
Natasha membelalakkan matanya. Jarak wajahnya dengan wajah Yoga hanya sekitar sepuluh senti. Tangannya mengepal, ingin dia mencabik-cabik wajah pria itu dengan kuku-kuku tajamnya hingga meninggalkan luka-luka cakaran di wajah tampan pria itu. Tapi bukannya dia melakukan apa yang ada di pikirannya dia malah terdiam tertegun.
Merasakan tidak ada sentuhan kasar di pipinya, Yoga lalu menolehkan wajahnya berhenti tepat di depan wajah Natasha yang sedang intens menatapnya. Yoga pun balas menatap mata indah Natasha, sesaat mereka beradu pandang tak ada kalimat yang terucap. Mata mereka saling menatap kuat, tak ada yang berniat memutuskan pandangan. Mereka menatap satu sama lain. seolah merasa terhipnotis dengan kekuatan sorot mata masing-masing.
" Udahlah, Ga. Sikat aja, Bro! Gila ... cewek cantik model gini, nggak perlu dibayar empat puluh juta juga,Ā gue mau nemenin dia semalaman, hahahahaaaa ...."
Suara seseorang terdengar, sontak menyadarkan keasyikan aktivitas Yoga dan Natasha beradu pandang. hingga membuat mereka sama-sama mundur menjauhkan diri, karena posisi mereka tadi memang terlihat sangat dekat.
Yoga menoleh kearah suara tadi, ternyata Ridho salah satu orang temannya yang tadi berbicara.
Yoga menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sambil tertawa kecil
" Nggaklah, Dho. Bukan tipe gue juga ..." Yoga santai menyahuti.
Natasha yang terkesiap mendengar ucapan Yoga yang membuatnya kembali tersulut emosi. " Woi ...! Kamu pikir aku mau sama cowok model kamu?! Ngaca, dong!! Kamu tuh nggak level tau nggak, sih!" geramnya. " Miskin saja belagu ..." Natasha masih menyerang Yoga dengan kata-kata hinaan.
Tapi Yoga hanya membalasnya dengan tersenyum meledek ke arah Natasha. " Saya rasa saya tau alasannya kenapa Andra lebih memilih cewek sederhana seperti Adelia dibanding Anda!" sindir Yoga melipat kedua tangannya di dada. " Adel itu cewek baik, punya sikap dan tutur kata yang santun dan nggak iri terhadap orang lain. sedangkan Anda ..." Yoga memandangi Natasha dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. " Secara fisik Anda memang menarik terlihat berkelas dan berpendidikan, tapi attitude?? Nol besar ...!" Yoga menautkan jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf O.
" Pantas saja Andra nggak terpikat. Poor you ...!!"
__ADS_1
Yoga melangkah pergi, kembali meninggalkan Natasha, tidak memperdulikan umpatan-umpatan yang keluar dari mulut Natasha yang ditujukan kepadanya.
***
Di kantornya, Andra terlihat sibuk mempelajari setiap lembar kertas yang hendak ditanda tanganinya, saat dia melihat ponselnya menyala. Dia meraih benda pipih itu dan menaruh kembali di atas meja, saat terlihat pesan masuk itu berasal dari Natasha, tanpa berminat untuk membukanya. Tak berapa lama ponsel itu berbunyi kembali, masih dari orang yang sama.
Andra menghempas nafas kesal, mungkin jika Adelia yang mengubungi akan lain ceritanya, dia akan dengan semangat menerima teleponnya.
" Hallo, Andra ... kamu belum buka pesan yang aku kirim?"
Suara Natasha terdengar dari seberang.
" Pesan apa??" jawabnya datar
" Coba kamu liat sendiri, itu tentang Adelia mu itu, loh."
" Ada apa dengan Adelia??" Andra terlihat lebih antusias menanggapi, saat nama Adelia disebut. Seingatnya Natasha paling anti menyebut nama Adelia, Natasha lebih suka menyebutnya dengan panggilan wanita kampung.
Andra langsung menutup panggilan telepon sepihak dari Natasha dan langsung membuka chat masuk di WhatsApp nya. Alisnya bertaut, saat matanya melihat senyum dan tawa Adelia bersama laki-laki lain di video yang dikirimkan Natasha. Andra mengenali pria itu, pria yang sempat diajaknya berjabat tangan saat beberapa hari lalu dia menjemput Adelia di kampusnya.
Andra bergegas meninggalkan ruangan kerjanya, melupakan tumpukan kertas yang belum sempat dia tanda tangani, bahkan ucapan Anggi, Sekretarisnya yang mengatakan setengah jam lagi akan ada meeting dengan beberapa pimpinan kepala cabang juga tak digubrisnya.
***
Adelia memperhatikan tetesan air hujan yang membasahi halaman kampusnya. Jam mata kuliahnya sudah berakhir tiga puluh menit lalu. Dia bersama Fira, sahabatnya. memilih menunggu hujan reda di kantin yang berada di dalam kampusnya, sembari menikmati segelas coklat hangat untuk menghangatkan tubuhnya, karena hujan yang sedari pagi mengguyur kota Jakarta belum juga berhenti, cukup membuat banyak orang membalut tubuhnya dengan jaket.
" Jadi hari ini lo nggak dijemput cowok lo, Del?" tanya Fira dengan mulut penuh menyantap cheese cream.
Adelia menggelengkan kepala. " Mas Andra siang ini ada meeting di kantornya."
" Terus supirnya yang jemput lo?"
" Iya ...."
__ADS_1
Tangan Fira terulur menarik tissue dan mengelap sisa cream yang menempel di bibirnya. " Enak ya jadi lo, punya cowok tajir, dapet layanan istimewa antar jemput. Gue juga mau punya pacar kaya Mas Andra. Bilang dong ke Mas Andra, kalo masih punya temen lajang kaya dia gue minta satu." Fira tergelak membuat Adelia tertular ikut tertawa.
" Tapi aku jadi nggak bebas, serba dibatasi ..." lirihnya
" Itu kan karena dia cinta ama lo, Del."
Adelia mengedikkan bahunya. " Dia ngelarang aku berinteraksi dengan cowok lain, kemarin saja dia marah aku ngobrol sama jak Yoga. Padahal kan aku lebih dulu kenal kak Yoga, sebelum ketemu dengan Mas Andra."
" Lo beruntung banget sih, Del. Cowok-cowok ganteng seneng nemplokin lo," kelakar Fira
" Cicak kali pake nemplok," celetuk Adelia..
" Hahahaha... eh, Del. Bisa dong lo bantuin gue deketin Kak Yoga. Gue mau tuh jadi pacarnya Kak Yoga." Fira tersenyum malu-malu menutup mulut dengan telapak tangannya.
Adelia memutar kedua bola matanya. " Tadi bilangnya minat cari cowok kaya Mas Andra, sekarang berubah haluan lagi?"
" Kalo yang kaya Mas Andra susah didapat, dapet Kak Yoga pun nggak pa-pa deh ...."
" Ekhhmmm ... boleh ikutan gabung di sini?"
Adelia dan Fira serempak menoleh sosok yang berdiri menjulang di samping mejanya.
" Eh, kak Yoga ..." Adelia menggigit bibir bagian bawahnya lalu memutar pandangan ke arah Fira, yang terlihat menutup sebagian wajah dengan telapak tangannya, menahan malu karena ketahuan sedang membicarakan orang yang akhirnya muncul tiba-tiba di depan mereka.
*
*
*
.
Bersambung.....
__ADS_1
.
Happy Readingš