MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Air Mata Bahagia


__ADS_3

Yoga memperhatikan outfit casual yang dikenakan pagi ini oleh istrinya. Mengenakan jeans ketat di atas mata kaki dan sweater hoodie warna dusty pink, ditambah sneakers senada dengan hoodienya, sama sekali tidak menampakan jika wanita di depannya ini adalah seorang wanita karir, pemilik beberapa outlet butik di Jakarta. Tapi penampilan Natasha lebih mirip anak kuliahan seperti dirinya.


" Tumben banget, sih, Yank. Kamu pakai baju seperti ini?" Yoga langsung memeluk tubuh Natasha dari belakang, kemudian mengecup pipi istrinya. " Kalau begini kamu mirip anak kuliahan, deh. Kamu mau ke mana, sih, kok pakai bajunya nggak formal gini?"


" Aku mau ikut kuliah sama kamu."


Yoga menautkan ke dua alisnya. " Ikut kuliah? Kamu mau terusin kuliah lagi, Yank?"


Dengan cepat Natasha menggelengkan kepalanya.


" Lalu kamu bilang mau ikut kuliah itu apa?"


Natasha langsung memutar tubuhnya dan kini berhadapan dengan suami tercintanya itu kemudian melingkarkan tangannya ke leher sang suami. " Aku mau temani kamu kuliah, Mas."


" Hahh??"


" Aku mau jagain kamu dari calon-calon pelakor yang ada di kampus kamu."


" Astaga, Yank." Yoga menepuk keningnya menanggapi perkataan istrinya itu.


Natasha menangkup wajah suaminya. " Mas, suamiku ini gantengnya kebangetan, lho. Jadi aku harus antisipasi sedini mungkin dari bibit-bibit pelakor yang bakal jadi benalu dalam rumah tangga kita."


" Yank, aku tahu ketampananku ini paripurna, tapi kamu nggak perlu bersikap seperti itu, deh. Kamu pikir aku ini anak PAUD, apa? Kuliah mesti diantar, ditemani." protes Yoga.


" Jadi kamu nggak suka aku temani kuliah? Karena kamu nggak bebas godain cewek-cewek teman kampus kamu kalau aku ikut?! Karena kamu nggak bebas selingkuh, kan?" Suasana hati Natasha langsung berubah. Dia langsung menghempaskan dirinya ke atas ranjang dengan posisi tengkurap dengan wajah masam, masih dengan sneakers menempel di kakinya.


" Ya ampun, kamu pikirannya sejauh itu, sih? Siapa yang mau selingkuh, coba? Siapa juga yang mau godain cewek-cewek? Kamu makin lama tingkahnya makin aneh, lho, Yank."


Natasha yang mendengar Yoga mengatakan dirinya aneh langsung bangkit dari tidurnya. " Aku aneh? Kata kamu tingkah aku aneh? Jadi kamu nggak suka sama sikap aku?" Natasha berjalan ke arah suaminya sambil berkacak pinggang.


" Maksud aku bukan gitu, Yank." Yoga mengelak, dia menyadari kekeliruan atas ucapannya yang semakin membuat mood istrinya memburuk.


" Sana pergi! Cari sana wanita lain yang tidak aneh! Keluar dari sini, dan jangan pernah kembali lagi ke sini!" Natasha mendorong tubuh suaminya hingga sampai pintu kamar.


" Ini rumahku, lho, Yank."


" Oh iya, aku lupa ... kalau begitu, aku saja yang pergi!" Natasha kemudian meraih tasnya dan berjalan melewati suaminya tapi dengan cepat Yoga mengangkat tubuh Natasha kemudian menghempaskan dan mengungkung tubuh istrinya itu di atas ranjang.


" Lepaskan! Aku nggak berbuat salah! Aku nggak mau dihukum! Aku jangan diper kosa!" Natasha berontak dalam kungkungan tubuh kokoh suaminya itu.


Yoga malah terkekeh mendengar istrinya yang meracau tidak karuan. Kemudian dia mengecup bibir istrinya dan ingin bermain lebih lama dengan bibir istrinya ketika tiba-tiba Natasha mendorong tubuhnya seraya menutup mulutnya.


" Mulut kamu bau, hueeeek ... awas menyingkir, aku mau muntah, hueeek ...."


Yoga yang melihat istrinya seperti ingin muntah langsung menyingkir dari tubuh istrinya dan dengan cepat Natasha berlari ke arah bathroom dan mengeluarkan isi perutnya yang belum terisi apa-apa di sana.

__ADS_1


" Yank, kamu kenapa? Kamu sakit?" Yoga cemas saat melihat tubuh lemas Natasha yang membungkuk di depan wastafel. Dengan segera dia mengusap punggung istrinya. " Kamu sakit perut? Kemarin makan apa, sih?"


" Kamu pergi sana, Mas! Gara-gara kamu aku begini, gara-gara mulut kamu aku jadi mual. Mulut kamu bau hueeek ...."


Yoga sampai mencium nafasnya sendiri dengan telapak tangannya guna memastikan apa yang dituduhkan istrinya benar atau tidak.


" Nggak bau, kok." gumamnya.


" Sudah sana pergi!" usir Natasha membuat Yoga akhirnya berniat meninggalkan Natasha sendirian.


" Kamu yakin nggak apa-apa?" Yoga menyentuh pundak Natasha tapi dengan cepat ditepis istrinya itu. " Ya sudah, kalau begitu aku berangkat dulu, ya. Kamu nggak usah ke butik, istirahat saja di rumah, nanti aku usahakan pulang cepat." Yoga masih sempat mengecup pucuk kepala istrinya walau Natasha berontak.


" Dasar suami nggak peka! Nggak pengertian, malah ninggalin, hiks ... hiks ..." Natasha kemudian terisak menatap kepergian suaminya.


***


" Non, ini Ibu buatkan teh jahe, tadi Den Yoga bilang, katanya Non Tata mual-mual. Non sarapan juga, ini Bu Ratna sudah buatkan roti."


" Bu, suami aku itu nggak berprikemanusiaan banget, sih. Istrinya sakit malah ditinggal, hiks ..." Natasha yang akhirnya melepas sneakers nya memilih berbaring di atas tempat tidur bergelungkan selimut.


" Den Yoga kan kuliah, Non."


" Nah itu, aku tadi minta ikut ke kampus, mau menemani dia kuliah malah dilarang. Dia malah bilang aku aneh, hiks ... padahal kan aku cuma jaga-jaga biar dia nggak goda-goda mahasiswi di kampusnya, aku mencegah biar dia nggak selingkuh, Bu." Dengan tersedu Natasha mengeluh pada asisten rumah tangga suaminya.


" Den Yoga nggak akan selingkuh, Non. Den Yoga bukan tipe pria seperti itu. Percaya sama Bu Ratna, Non."


" Yakin seyakin-yakinnya, Non."


" Oke, aku pegang kata-kata, Bu Ratna. Kalau sampai suami aku selingkuh, aku akan tuntut Bu Ratna!" tandas Natasha membuat Bu Ratna membulatkan matanya, tapi sejurus kemudian dia tersenyum tipis.


" Non, nggak apa-apa Ibu tinggal sebentar? Sepertinya ada sesuatu yang mesti Ibu beli di apotek," ujar Bu Ratna.


" Ya sudah. Jangan lama-lama, pintunya dikunci dari luar, takut ada perampok. Aku kan cantik gini, nggak mau aku kalau sampai diapa-apain sama perampoknya, hiiii ..." Natasha teringat kata-kata Cindy beberapa hari lalu.


" Di sini aman, Non Tata tenang saja. Ya sudah, Bu Ratna minta antar Pa Hasan sebentar, Non." Bu Ratna pamit yang dijawab anggukan kepala Natasha.


Lima belas menit berselang ...


" Non, ini dicoba lagi." Bu Ratna menyodorkan beberapa alat test kehamilan kepada Natasha.


" Kemarin kan sudah, Bu." Natasha langsung bersedih mengingat hasil test pack kemarin. " Hasilnya negatif."


" Sekarang dicoba lagi saja, Non. Soalnya kalau Bu Ratna lihat dari perubahan sikap Non Tata belakangan ini seperti menunjukkan gejala orang hamil, Non. Ibu rasa Non Tata ini sudah hamil dari kemarin-kemarin juga, cuma nggak terdeteksi sama alat test pack kemarin."


" Memang bisa gitu, Bu?" Natasha mengeryitkan keningnya.

__ADS_1


" Ada kejadian-kejadian seperti itu, untuk lebih pastinya sih, cek ke dokter kandungan. Ini Bu Ratna beli beberapa biji. Sekarang Non cek dulu saja, kalau hasilnya positif, segera ke dokter untuk USG lebih memastikan." Bu Ratna menyarankan.


" Kalau hasilnya negatif lagi gimana?" Natasha mencebik.


" Besok pagi-pagi setelah bangun dicek lagi biar lebih akurat, tapi Ibu yakin Non Tata pasti positif hamil. Coba saja buruan dicek."


" Ya sudah, Bu. Aku cek dulu ..." Akhirnya Natasha menuruti apa yang diperintahkan Bu Ratna.


Setelah menunggu beberapa saat ...


" Bu, Bu Ratna ...!!" teriak Natasha dari dalam bathroom. Dengan cepat Bu Ratna berlari ke arah Natasha berada.


" Bagaimana, Non?" Bu Ratna penasaran.


" Ini." Natasha menyodorkan alat test pack kepada Bu Ratna.


" Garis dua tapi samar."


" Maksudnya apa, Bu?"


" Sebaiknya dicek ke dokter kandungan saja, Non. Depan komplek sini ada Bidan, sih, Kalau Non Tata mau periksa di Bidan, Ibu antar ke sana sekarang, mumpung masih pagi."


" Aku mau, Bu. Ayo ..." Dengan penuh semangat Natasha mengikuti saran Bu Ratna, dia juga benar-benar penasaran ingin tahu apakah dia hamil atau tidak.


***


" Bagaimana, Bu?" tanya Natasha penasaran setelah dia diperiksa oleh Ibu bidan.


Ibu bidan itu tersenyum, dan senyuman Bu bidan itu berasa oase yang menyejukkan hati Natasha.


" Selamat, ya. Bu Natasha memang positif hamil, usia kandungannya baru tiga minggu. Usia yang masih sangat rentan. Dijaga baik-baik kehamilannya. Jangan terlalu capek, kurangi aktivitas yang membuat Bu Natasha kelelahan. Nanti saya kasih vitaminnya, ya." Ibu Bidan itu lalu menuliskan resep untuk Natasha.


Sedang Natasha sendiri, tidak terlukiskan betapa bahagianya dia ketika mengetahui jika saat ini dirinya sedang mengandung, hasil buah cintanya dengan sang suami tercinta. Natasha bahkan tidak sanggup berkata apa-apa hanya air mata kebahagian yang kini membasahi pipi mulusnya.


" Alhamdulillah, Terima kasih, Ya Allah ..." hanya ucapan dalam hati itu yang bisa disampaikan Natasha sebagai wujud syukur atas apa yang dia rasakan sekarang ini.


*


*


*


Bersambung ...


Selamat Berpuasa ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2