
" Sepertinya kalian sudah saling mengenal, ya?"
" Iya, saya dan Andra masih kerabat, saudara sepupu. Tante Melly itu adik Papa saya, Nona." Mata Natasha membulat sempurna mengetahui kenyataan jika Gavin dan Andra adalah saudara sepupu.
" Oh ya, ada keperluan apa tadi Tuan Gavin datang ke butik?" Natasha mengalihkan percakapannya.
" Sebenarnya saya mengkhawatirkan Anda, Nona. Karena sejak dua hari lalu, setelah saya mengantar Nona Alexa, Saya tidak bisa menghubungi Nona. Saya khawatir terjadi sesuatu pada Nona Alexa."
" Saya baik-baik saja, Tuan Gavin." Natasha melempar pandangan keluar jendela. Dia tak ingin Gavin mengetahui jika setelah pulang dari butik dua hari yang lalu itu kondisinya tidak baik-baik saja.
" Syukurlah jika Nona Alexa baik-baik saja." sahut Gavin. " Selain itu saya juga ingin memberitahukan jika dalam beberapa minggu ke depan Agatha akan pergi ke Jerman. Ada urusan yang harus dia kerjakan di sana, jadi untuk masalah kerjasama kita, saya yang akan menghandle nya, Nona."
Natasha mendengus kecil mendengar penjelasan Gavin. Sebenarnya dia berusaha tidak terlalu dekat dengan Gavin. Dekat dengan pria yang berstatus suami orang, apalagi orang itu terang-terangan mengakui mengaguminya membuat dirinya tidak nyaman. Tapi kenyataan bahwa Gavin yang akan menghandle kerjasama mereka, itu artinya mereka akan sering-sering bertemu. Dan Natasha yakin pria seperti Gavin akan mempunyai berbagai cara untuk bisa bertemu dengannya. Lantas kenapa tadi dirinya malah memberi kesempatan Gavin semakin dekat dengannya, hanya untuk menghindari Andra? Natasha memijit keningnya memikirkan hal itu.
***
Fira sudah selesai mendapatkan buku yang dicarinya dengan bantuan Yoga. Siang itu Fira mengajak Yoga untuk makan terlebih dulu sebelum meninggalkan Mall, sudah pasti alasan Fira adalah agar dia bisa berlama-lama dengan Yoga. Bukankah itu jurus jitu yang biasa dilakukan banyak orang yang sedang jatuh cinta pada seseorang?
" Kak, kita makan dulu, ya? Aku yang traktir, deh." ajak Fira dengan riang, Tak bisa dilukiskan suasana hatinya saat ini. yang pasti banyak bunga-bunga yang bermekaran di sana.
" Hmmm, boleh ... tapi aku saja yang traktir, ya!"
" Fira saja deh, Kak. Fira udah ngerepotin Kak Yoga, masa malah mesti ditraktir juga sama Kak Yoga, sih?!"
" Nggak apa-apa. Mentraktir itu tugasnya cowok, bukan cewek. Kecuali kalau kamu sedang ulang tahun, bolehlah kamu yang traktir Kakak," sahut Yoga terkekeh dan akhirnya memilih salah satu gerai makanan cepat saji Fried Chicken.
" Kak, apa Kak Yoga sudah punya pacar?" Tanya Fira saat sedang menyantap makanan yang telah dipesannya.
" Hmmm, belum, sih. Kenapa?"
" Memang tipe cewek Kak Yoga yang gimana?" tanya Fira lagi. " Yang seperti Adel, ya?" Belum sempat Yoga menjawab, Fira sudah menjawab pertanyaannya sendiri.
Yoga terkekeh. ' Nah, tuh kamu tahu," sahutnya enteng.
" Tapi Adel kan sudah punya pacar, Kak."
" Iya, aku juga tahu ..."
" Memangnya Kak Yoga nggak mau cari cewek lain, gitu? Atau apa Kak Yoga sekarang sedang dekat dengan cewek lain?."
__ADS_1
" Sekarang ini?"
" He-eh ..."
" Iya sih, sekarang lagi dekat sama cewek." Jawaban Yoga membuat jantung Fira berdebar kencang.
" Siapa, Kak?" Fira dibuat penasaran.
" Kamu ..." Fira seraya terbang ke angkasa, pipinya langsung merona merah demi mendengarkan satu kata dari Yoga. Betapa bahagianya dia ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Angannya melambung tinggi, seorang Prayoga Atmajaya membalas cintanya.
" Kamu kan yang sekarang dekat sama aku, memang siapa lagi? Kita perginya cuma berdua. Nggak ada cewek lain dekat-dekat sini." Yoga tertawa melanjutkan kalimatnya yang belum selesai. Dia tidak menyadari perubahan raut wajah Fira yang berubah masam, seketika tubuh Fira lemas tak berdaya.
***
" Nona Alexa tidak menyukai makanan laut rupanya?" tanya Gavin yang siang itu membawa Natasha pergi makan siang.
" Iya ..." Natasha memasukan potongan steak ke dalam mulutnya.
" Mungkin jika nanti Nona Alexa menikah, dan suami Nona sangat menyukai makanan laut, Nona akan tertular jadi menyukainya."
" Oh ya? Kata siapa?"
Natasha tersenyum mendengar satu kalimat candaan Gavin.
" Saya lebih suka melihat anda tersenyum, Nona. Terasa lebih menyejukkan hati, daripada melihat anda menangis seperti kemarin."
Natasha menelan salivanya, terlalu sering bersama dengan pria seperti Gavin terlalu bahaya untuk dirinya. Kata-kata manis Gavin mungkin akan mampu meluluhkan hati wanita jika itu bukan Natasha. Merasa tak nyaman dengan tatapan mata Gavin yang terus memandanginya, Natasha memilih mengalihkan pandangan keluar dinding kaca restoran. Tiba-tiba matanya menemukan sosok seseorang yang sudah tidak asing di matanya. Dia melihat sosok pria itu terlihat riang berbincang dengan seorang gadis di depannya itu sedang berada di restoran seberang restoran dia berada.
" Kamu kenapa? Kok cemberut gitu wajahnya?" Yoga menggoda Fira yang terlihat mengerucutkan bibirnya. Dia sudah menduga apa yang sedang gadis itu pikirkan. Yoga tahu jika gadis yang ada di hadapannya itu memang mempunyai perasaan kepadanya.
" Aku sebel deh sama Kakak." Fira mencebik.
" Kenapa?"
" Aku suka sama Kak Yoga ..." ucap Fira jujur.
" Hmmm, coba aku ingat-ingat dulu. Kamu itu cewek ke berapa yang ngomong gitu ke aku, ya?" Yoga memasang wajah pura-pura berpikir.
" Iihh ... Kak Yoga." Fira mencubit lengan Yoga. Yoga tak henti terkekeh melihat sikap polos Fira.
__ADS_1
Yoga mencolek saos pada kentang goreng yang dipegangnya, lalu memasukan makanannya seraya mengedar pandangan keluar ruangan resto. Seketika matanya terkunci pada seorang wanita yang terlihat sedang menatapnya juga. Beberapa saat mereka berdua saling menatap lekat, seakan menyalurkan perasaan yang tak terjabarkan. Yoga melemparkan senyuman kepada wanita itu yang kemudian dibalas dengan senyum tipis wanita itu. Dia tidak menyangka jika dia tak sengaja kembali berjumpa dengan wanita itu.
" Kak, Kak Yoga ngeliatin apa, sih?" Fira yang memperhatikan pandangan Yoga terpaku dengan senyum manis yang terulas di bibirnya, membuatnya mengikuti arah pandang mata Yoga yang terlihat terpukau pada sosok wanita cantik di seberang restoran.
" Dia siapa, Kak? Kak Yoga kenal sama cewek itu?" tanya Fira penasaran, Rasa tak suka langsung menyeruak di hatinya mendapati pria yang disukainya itu sedang beradu pandang dengan wanita lain, yang ternyata berparas cantik.
" Kak? Kak Yoga!" Fira terlihat kesal karena Yoga malah asyik melamun tak mendengar ucapannya, dia sampai memukul lengan Yoga agar perhatian pria itu kembali teralihkan kepadanya.
" Aduuhh ..." rintih Yoga. " Kamu kenapa sih galak banget, tadi nyubit sekarang mukul."
" Abis Kak Yoga nggak denger Fira ngomong, malah asyik mandangin cewek lain." Fira mendengus kesal. " Cewek itu siapa, Kak? Kakak kenal dia?"
" Hmmm, iya. Dia kenalan aku..."
" Kenal di mana?"
" Dia pernah order aku, aku pernah antar dia pulang, dan sering ketemu beberapa kali ..."
" Modus itu, Kak ...."
" Modus apa?"
" Modus biar bisa deket-deket Kak Yoga, tuh ..."
Yoga mencondongkan tubuhnya ke arah Fira lalu berbisik " Curcol, nih??" seringai Yoga menyindir.
" Iihh ... Kakak."
Yoga tergelak. " Pulang, yuk ... sudah selesai, kan, tugas aku ngojekin kamu?" Yoga kemudian berjalan untuk membersihkan tangannya. Dan kemudian keluar dari Resto Fast Food itu. Sementara matanya menuju tempat dia menemukan wanita yang beberapa hari ini sering melintas di pikirannya. Tapi saat ini sudah tidak dia temui keberadaan wanita itu di sana.
*
*
*
Bersambung...
Happy Reading😘
__ADS_1