MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Cerita Tentang Natasha


__ADS_3

Tok tok tok


" Mih, Yoga tiasa lebet? ( Mih, Yoga boleh masuk?)" tanya Yoga di pintu kamar orang tuanya yang dilihatnya sedikit terbuka.


" Kasep? Kadieu geura ( Ganteng? Cepat ke sini)" sambut Mama Yoga antusias. " Gimana, tadi sudah ketemu abi sama uminya Rara?"


" Sudah, Mih."


" Lalu bagaimana?"


" Bagaimana apanya, Mih?"


" Kalian bicara apa?"


" Nggak bicara apa-apa, Mih. Yoga cuma antar Rara pulang, bersalaman dengan abi dan uminya Rara, tanya kabar sebentar terus sudah Yoga langsung pulang."


" Kalian nggak bicara tentang pertunangan kalian gitu??" Ada nada kecewa dalam pertanyaan Mama Yoga.


" Pertunangan?? Mih, Yoga ini kan sudah menikah, untuk apa membicarakan pertunangan dengan wanita lain??" jawab Yoga tenang.


" Yoga, minggu depan itu saat Lily, sepupu kamu menikah, rencananya kami juga ingin mengikat kamu dengan Azahra sebelum menikahkan kalian tahun depan."


" Mih, sekarang ini kan Yoga sudah menikah dengan Natasha, masa Yoga mesti menikahi wanita lain. Mamih menyuruh anaknya berpoligami? Memangnya Mamih sendiri mau kalau dipoligami sama Papih?!" ledek Yoga.


" Prayoga ...!! Jangan sembarangan kamu bicara ...!! Papih kamu nggak mungkin melakukan itu pada Mamih." Mama Yoga terlihat kesal hingga harus berbicara dengan nada tinggi.


" Tuh, Mamih saja nggak mau suaminya menikah lagi, lalu kenapa Mamih memaksa Yoga menikah lagi? Mamih nggak membayangkan perasaan Natasha mengetahui suaminya dijodohkan dengan wanita lain?"


" Tapi kalian itu tidak saling mencintai, kalian itu menikah karena terpaksa, Prayoga!"


" Lalu apa bedanya Mamih dan Papih dulu? Bukankah Mamih pernah cerita kalau kalian itu dijodohkan orang tua kalian? Apakah saat itu Mamih mencintai Papih yang dulu Mamih anggap orang asing?"


" Masalah Mamih dan Papih mu itu beda, Prayoga!"


" Intinya tetap sama, Mih. Terpaksa menikah dengan orang asing yang awalnya tidak kita cintai." Yoga meraih jemari tangan mamihnya lalu menggenggamnya. " Mih, Yoga sudah menjelaskan ke Rara tentang apa yang terjadi antara aku dan Natasha. Ini memang sangat menyakitkan untuk Rara, tapi ini lebih baik, agar Rara tidak semakin terluka dan bisa membuka hatinya untuk pria lain." Yoga kemudian mengecup jemari tangan mamihnya yang masih digenggamnya.


" Kamu tega bicara seperti itu ke Rara, Yoga?! Rara itu mencintai kamu, dia selama ini selalu menunggu kamu, Yoga."

__ADS_1


" Karena itulah Yoga meminta Rara untuk berhenti mengharapkan Yoga, Mih, karena Yoga nggak mungkin datang untuk dia. Dia pantas mendapatkan pria yang lebih baik dari Yoga," Yoga lalu merengkuh pundak wanita paruh baya itu, membiarkan mamihnya itu bersandar di pundak kekarnya.


" Kalau Mamih terus memaksakan menjodohkan Yoga dengan Rara, itu akan semakin menyakiti hati Rara, karena hati Yoga nggak akan bisa menerima keberadaan Rara, Mih," Yoga lalu duduk bersimpuh di depan mamihnya yang duduk di tepi tempat tidur. " Yoga mohon sama Mamih, restuilah pernikahan Yoga dengan Natasha, Mih. Natasha itu wanita yang baik, mungkin karena Mamih belum mengenal lebih dekat Natasha jadi Mamih belum bisa menerima dia." Mama Yoga membuang muka mendengar permintaan Yoga, dia masih sulit menerima kenyataan jika anak semata wayangnya itu menikah dengan wanita yang bukan pilihannya.


" Yoga minta maaf jika Mamih kecewa dengan tindakan Yoga menikah secara diam-diam, tapi itu bukan berarti Yoga ingin menjadi anak durhaka yang tidak mematuhi keinginan Mamih dan Papih. Saat ini Yoga punya tugas untuk membahagiakan dua orang wanita yang sangat berarti buat Yoga, yaitu Mamih dan Natasha, jadi Yoga mohon sama Mamih, jangan suruh Yoga memilih di antara kalian, karena Yoga sangat menyanyangi kalian berdua," ucap Yoga dengan mata berkaca-kaca menatap penuh permohonan kepada mamihnya.


Mama Yoga menatap wajah anaknya, " Tapi kenapa harus wanita itu?" Mata Mama Yoga pun ikut mengembun.


" Apa ada yang salah dengan Natasha, Mih? Apa ada kata-kata Natasha yang membuat Mamih sakit hati? Apa Mamih sebelumnya pernah bertemu Natasha dan dia melakukan hal yang membuat Mamih kecewa??" tanya Yoga mencari jawaban atas sikap kurang baik Mamih terhadap istrinya.


Mama Yoga menggelengkan kepala. " Mamih memang belum pernah ketemu dia, tapi Mamih nggak suka sama dia," ketusnya kemudian.


" Itu karena Mamih terlalu mengharapkan Rara sebagai menantu Mamih. Yoga yakin jika Mamih bisa menerima Natasha, Natasha akan bisa menyanyangi Mamih jauh melebihi rasa sayang Mamih ke dia. Mamih mau dengar cerita tentang Natasha?" Mama Yoga menoleh ke arah Yoga, sepertinya dia sedikit tertarik dengan apa yang ingin disampaikan putranya.


" Sebelum dekat sama Yoga, Natasha itu punya calon tunangan, dan calon mama mertuanya itu baik sekali sama Natasha, bahkan selalu memanggil Natasha dengan panggilan 'Sayang'. Tapi sayangnya calon tunangannya itu mencintai wanita lain dan menolak dijodohkan dengan Natasha."


Terdengar tawa sinis dari Mama Yoga. " Berarti pria itu menolak dia menjadi istrinya, lantas kenapa kamu malah menerima dia?!"


" Mamih dengarin dulu cerita Yoga sampai selesai, ya?!" pinta Yoga membuat mamihnya mendengus kesal.


" Karena kedua orang tua calon tunangannya itu memaksa dan mengancam akan mengambil alih perusahaannya, calon tunangannya itu kesal dan marah kepada Natasha, sampai akhirnya dia hampir memper*kosa Natasha." Yoga mengucapkan kata-kata itu dengan suara yang tercekat, jika mengingat kejadian saat dia menemukan Natasha malam itu, hatinya sangat terasa terusik.


" Iya, Mih. Walaupun Natasha sangat mencintai pria itu tapi dia tidak mau menyerahkan kesuciannya begitu saja."


" Darimana kamu tahu cerita itu, bisa saja dia hanya membual."


" Yoga tahu masalah itu, karena Yogalah yang menolong dan menyelamatkan dia saat itu. Yoga melihat dengan mata kepala Yoga sendiri bagaimana syoknya dia saat itu, mendapatkan pelecehan dari orang yang dia sayangi. Meskipun begitu dia nggak memanfaatkan kesempatan atas peristiwa itu untuk meminta pertanggung jawaban pria itu. Bahkan saat kedua orang tua calonnya itu meminta mereka untuk segera menikah, dia menolak, karena dia merasa sakit dan trauma atas perlakuan calon tunangannya." Mama Yoga mendengarkan secara intens kalimat demi kalimat yang dikatakan Yoga.


" Mamih tahu Natasha bilang apa waktu Mamih bersikap tak bersahabat dengannya?"


" Apa?"


" Dia bilang, kenapa Mamih nggak bisa seperti mama calon tunangannya itu yang bisa menerima dan menyanyangi dia?!" Yoga terkekeh, dia sengaja memancing reaksi mamihnya.


" Dia bilang begitu? Dia membanding-banding kan Mamih dengan orang lain??" Mama Yoga melotot.


" Ya mau gimana lagi? Orang lain yang bukan siapa-siapa saja bisa menerima dia dengan baik, masa Mamih mertuanya sendiri malah menolaknya?! Yoga nggak bisa menyalahkan Natasha kalau dia berpikir seperti itu."

__ADS_1


" Jadi kamu juga berpikir Mamih ini jahat, gitu?!" Mama Yoga mencebik.


Yoga langsung bangkit dan duduk di samping Yoga kemudian merengkuhnya. " Sebagai ibu kandung, Mamih itu paling the best, tak ada tandingannya di dunia, tapi kalau jadi ibu mertua? " Yoga menjeda kalimatnya dan merenggangkan pelukannya untuk menatap wajah mamihnya itu.


" Apa kalau jadi ibu mertua?" Mama Yoga penasaran.


" Kalau jadi Mamih mertua yang baik sih masih meragukan, soalnya memusuhi menantunya sendiri. Jangan jadi mertua durhaka atuh, Mih! Hahahaha ..." Yoga tergelak menggoda Mamihnya.


" Prayoga ...!!!" pekik Mama Yoga memukul lengan putra tersayangnya itu.


***


Sementara di dalam kamar Yoga, Natasha memilih untuk segera membersihkan diri kembali akibat serangan setelah Shubuh yang dilakukan suaminya itu. Saat turun ke bawah tadi, dia tidak sempat membersihkan diri karena Yoga meminta buru-buru menemaninya menemui ibu mertuanya itu.


Natasha menatap tubuh polosnya yang saat ini banyak dipenuhi tanda-tanda kenakalan suaminya di depan cermin. Dia tidak menyangka jika pria yang sedari awal dia kenal berpembawaan tenang, kalem dan santai itu ternyata buas jika sedang mencumbunya di atas ranjang. Tapi satu hal yang membuat dia merasa sangat simpatik terhadap suaminya, saat dia terpuruk karena pelecehan yang dilakukan Andra, jika Yoga mau, dia bisa memanfaatkan kondisi tak berdaya dirinya untuk kepuasan nafsu birahinya. Tapi ternyata pria itu sama sekali tak mengambil keuntungan atas keadaannya saat itu. Apalagi dengan banyaknya kejadian-kejadian yang melibatkan Yoga dalam kehidupannya, itulah yang akhirnya perlahan namun pasti membuatnya bisa menerima kehadiran Yoga di dalam hatinya.


Natasha menyalakan shower, dia membiarkan tubuh polosnya itu terguyur basah dengan air hangat. Tanpa dia sadari ada sepasang mata tengah menatapnya tanpa berkedip dari balik pintu kamar mandi.










Author POV : 👀 Nah loh, mata siapa kah yang mengintip Neng Tata mandi??


Bersambung...

__ADS_1


Happy Weekend😘


__ADS_2