
Lewat jam dua dini hari Natasha baru bisa terlelap. Rasa khawatir akan keadaan papanya, juga pernikahan yang baru saja terjadi antara Yoga dan dirinya benar-benar membuat pikirannya tak karuan. Dia tidak pernah menyangka jika saat ini dia sudah menjadi seorang istri. Dia tidak menyangka akan terjebak dalam satu ikatan pernikahan, dan itu bukan pernikahan impiannya.
Natasha memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini? Akan seperti apa rumah tangga nya kelak. Apalagi jelas-jelas jika Yoga bukanlah sosok suami impiannya. Gaya hidup mereka yang berbeda, bagaimana mungkin dia akan bisa bertahan dalam ikatan pernikahan ini. Hal-hal semacam itu yang menggelayuti pikirannya.
" Mbak, bangun, Mbak ... hiks ..." Mata Natasha mengerjap saat mendengar suara Amara yang membangunnya.
Natasha melihat adiknya terisak duduk di sampingnya. " Ada apa, Ra? Kamu nangis kenapa?" Natasha mulai cemas melihat adik itu menangis. Seketika pikirannya langsung tertuju ke papanya.
" Papa, Mbak ... huhuhuu ..." Amara makin menjadi tangisannya.
" Papa kenapa, Ra? Jawab, Ra, jangan malah nangis." Natasha mengguncang keras bahu Amara. Perasaan tak enak sudah mulai menyeruak.
" Papa sudah nggak ada, Mbak."
Natasha menutup mulutnya, Nyawanya terasa terlepas dari tubuhnya, Seketika tubuhnya terjatuh lemah.
" Mbak! Mbak Tata!" Amara mengguncang tubuh Natasha yang terbaring pingsan. " Yee, malah pingsan, nyusahin saja." Amara mencebik. " Om ... Om Faisal, Mbak Tata pingsan, Om." Teriak Amara memanggil Om Faisal yang sedang menunggunya di depan. Om Faisal memang diminta Mama Nabilla menjemput Natasha dan Amara, setelah mendapat kepastian dari dokter jika Papa Farhan telah menghembuskan nafas terakhirnya sekitar tiga puluh menit yang lalu
__ADS_1
***
Gundukkan tanah berselimutkan taburan bunga warna warni itu telah menimbun tubuh kaku pria yang paling disayang Natasha. Masih sulit diterima olehnya jika saat ini papanya telah meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Rasanya baru kemarin, Papa Farhan datang menjemput Natasha kecil saat pulang sekolah TK, Rasanya baru kemarin, Papa Farhan datang ke sekolah SMP Natasha, saat ada cowok siswa satu sekolah Natasha yang menyatakan cinta dan meminta Natasha menjadi pacar siswa itu. Dan sekarang papanya itu sudah berpisah dunia dengannya. Seandainya dia bisa menolak takdir, rasanya dia tidak ingin papanya itu pergi.
Semua orang yang hadir mengantar Papa Farhan ke tempat peristirahatan nya yang terakhir sudah beranjak pergi meninggalkan area pemakaman itu. Hanya tersisa Natasha yang masih duduk bersimpuh di depan pusara, dengan Yoga yang berada di sampingnya.
" Pa, hiks ... kenapa Papa tega ninggalin Tata? Kenapa Papa pergi terlalu cepat? Banyak acara yang kita rencanakan, kenapa Papa malah pergi? Papa janji akan mendesain bangunan butik Tata yang akan dibangun di Bogor. Papa janji akan mengajak kita sekeluarga pergi Umroh bersama, Tata sudah nabung, Pa. Tabungan Tata sudah cukup untuk kita pergi kesana berempat, Pa. Hiks ... Pa, siapa yang jagain Tata kalau Papa pergi begini? Tata malah belum sempat cerita ke Papa, apa yang menimpa Tata kemarin, Pa. Mestinya Papa denger Tata, mestinya Papa bangun, mestinya Papa hajar orang itu, Pa. Dia sudah jahat sama Tata, dia sudah sakiti Tata, Pa. hiks ... hiks ... bagaimana kalau orang itu jahat ke Tata lagi, Pa? Siapa yang akan jaga Tata, Pa? Tata nggak rela Papa pergi. Tata nggak sanggup kehilangan Papa, hiks ... hiks ..." Natasha terus saja menangis di depan makam papanya
Yoga yang duduk di samping Natasha mengelus lembut punggung Natasha. " Pa, Yoga nggak menyangka kalau kemarin adalah hari pertama sekaligus hari terakhir kita bertemu. Maaf jika pertemuan singkat kita kurang berkenan untuk Papa. Tapi Yoga janji, Yoga akan menjaga Natasha, Yoga janji akan melindungi Natasha dengan nyawa Yoga sendiri!" Yoga mengikrarkan janjinya mantap tanpa keraguan. " Papa tenanglah di sana." lanjutnya. Natasha tak terlalu mendengarkan apa yang diucapkan Yoga karena dia asyik larut dalam kesedihannya sendiri.
Yoga yang melihat Natasha yang tak henti menangis langsung merengkuh tubuh tak berdaya Natasha, menuntunnya untuk bangkit. " Kita pulang sekarang, jangan menangisi orang yang sudah pergi. Sekarang ini yang dibutuhkan Papa bukan air mata mu, tapi doa-doa yang kamu panjatkan untuk menerangi jalan Papa di alam sana," ucap Yoga meminta Natasha agar segera bangkit. " Kami pulang, Pa. Assalamualaikum ..." Yoga pun memapah Natasha berjalan meninggalkan tempat Papa Farhan dimakamkan.
***
" Kalau kamu ingin pulang ke Jakarta lebih dulu, pulang saja, nggak apa-apa. Aku di sini sampai acara tahlil tujuh hari selesai," ucap Natasha saat memasuki kamarnya, dia melihat Yoga sedang menganti baju koko papanya yang digunakan untuk acara tahlil tadi. Selama di rumah Natasha Natasha memang menyerahkan kamar pribadinya dijajah oleh pria yang telah menjadi suaminya belum genap seminggu itu. Sedangkan dirinya memilih tidur di kamar orang tuanya menemani Mama Nabilla.
Bukan hanya Natasha yang tidur di sana, tapi juga Amara, selama tiga hari ini mereka tidur bertiga. Bagi Natasha bukan cuma alasan masih kangen sama papanya saja, tapi juga sebenarnya dia menghindar tidur sekamar dengan Yoga. Masih terasa aneh olehnya harus tidur bersama seorang pria asing, walaupun pria itu adalah Yoga yang telah menjadi suaminya.
__ADS_1
" Kita pulang sama-sama saja, nggak mungkin saya ninggalin kamu, Saya kan sudah janji sama Almarhum Papa Farhan akan jaga kamu," jawab Yoga sembari merebahkan tubuhnya di spring bed empuk milik Natasha. " Ternyata enak loh tidur di kasurnya orang kaya, empuk." Yoga terkekeh. " Tidur sini ..." Yoga menepuk ruang kosong di sampingnya dia berbaring. Tapi Natasha bergeming, dia tahu jika Yoga sedang menggodanya, beberapa hari ini pria itu memang selalu berusaha membuatnya tertawa, selalu berusaha menghiburnya agar dirinya tidak terlalu larut dalam kesedihannya.
" Kuliah kamu bagaimana?"
" Nggak usah dipikirkan, bisa saya handle. Saya sudah ijin kalau ada keluarga dekat yang meninggal di luar kota."
Natasha mengambil nafas lalu menghembuskan perlahan. " Maaf, aku selalu nyusahin kamu,' lirihnya kemudian.
" Nggak masalah, anggap saja itu ujian yang mesti saya lewati untuk mendapatkan istri secantik kamu." Yoga kembali mengeluarkan jurus rayuannya. Yoga menaruh kedua telapak tangannya di bawah kepala. " Saya nggak sangka, ternyata yang terjadi melebihi ekspektasi. Saya berharap dijadikan pacar beneran, malah jadi suami sungguhan. Ibarat kejatuhan durian runtuh, udah dapet buahnya, tinggal dibelah durennya." Seringai nakal tersungging di bibir Yoga.
Natasha yang mendengar langsung melotot ke arah Yoga, sambil berjalan menjauh mendekati arah pintu. " Jangan mimpi kamu, ya!" sahut Natasha langsung buru-buru keluar dari kamarnya. Yoga yang melihat sikap Natasha hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Rasanya menggoda wanita yang tak disangka akan dinikahinya itu merupakan hobi baru yang menyenangkan baginya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...
Happy Reading😘