
Yoga sedang merebahkan tubuhnya yang terasa penat di atas single bed-nya dengan posisi tengkurap, ketika indra penciumannya menangkap aroma harum dari sprei yang membalut tempat tidurnya. Bukan aroma pewangi yang dia rasakan saat ini, tapi wangi yang sering dia dapat saat bersama Natasha. Yoga membelai perlahan kain penutup single bed nya itu seraya memejamkan mata, seolah ingin lebih menikmati lebih dalam aroma dari wanita itu. Perlahan senyumnya terulas, mengingat wanita yang semalam tidur tepat pada posisinya sekarang dia berbaring. Sejenak dia terbuai dalam situasi yang entah dia sendiri tidak bisa menjelaskan, kenapa Tuhan selalu mempertemukannya dengan wanita yang pernah ditolongnya itu lagi dan lagi.
Yoga membalikkan tubuhnya, mengingat wanita itu dia jadi teringat bagaimana kondisi wanita itu saat ini? Apakah sekarang dia baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Dan siapa pria kurang ajar yang berani melakukan pelecehan terhadap wanita itu? Berbagai pertanyaan menggelitik hatinya. Ada keinginan untuk mengetahui kabar wanita itu. Tapi bagaimana bisa? sampai dengan pertemuannya yang kelima kemarin mereka tidak bertukar nomer ponsel.
Drrrttt ddrrttt...
Ponsel Yoga di atas Nakas bergetar, dengan antusias dia menyambar ponselnya, berangan jika itu adalah Natasha yang menghubunginya. Seketika dia sadar kalau itu adalah hal yang tidak mungkin. Dan benar saja nama Fira yang muncul di layar ponselnya itu.
" Hallo, Kak Yoga??" Suara gadis itu terdengar.
" Ada apa, Fir?"
" Kak, besok pulang kuliah ada acara, nggak?"
" Ada bimbel sih jam empat, paling sebelumnya cari uang seperti biasa di jalan."
" Besok Ojekin Fira saja dong, Kak."
" Ke mana?"
" Ke toko buku, sekalian Fira mau minta tolong Kak Yoga rekomendasikan buku yang bagus."
" Hmm. Oke, Fir."
" Serius Kak Yoga mau?"
" Iya, memang kenapa?"
" Ng-nggak sih, Kak. Nggak pa-pa. Ya sudah sampai ketemu besok ya."
" Iya." Yoga langsung mematikan ponsel dan meletakkan kembali ponselnya itu di atas nakas. Dia memilih segera memejamkan mata mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
***
Hari ini Natasha sudah kembali ke butiknya, setelah seharian kemarin dia memilih beristirahat di rumah. Kemarin dia memilih menyendiri di kamarnya tanpa gangguan dari orang lain. Barang-barang dia yang tertinggal di rumah Andra, dia menyuruh Sinta dan karyawan lain yang mengambilnya.
__ADS_1
Natasha menyandarkan punggungnya pada punggung kursi kerjanya, tangannya melipat di dada, kepalanya menengadah ke atas dengan mata terpejam.
" Ada apa, Sin?" tanya Natasha saat terdengar pintu ruangannya terbuka dan mendengar langkah kaki tanpa merubah posisinya seperti tadi. Beberapa detik kemudian Natasha memilih membuka matanya karena tak juga mendapatkan jawaban dari Sinta.
" A-Andra ...!!" Natasha terperanjat saat melihat Andra sudah berdiri menjulang di depannya. Dia buru-buru bangkit dari duduknya dan melangkah mundur ke belakang hingga membuatnya siku tangannya terbentur rak buku di belakangnya.
" Awww ..." rintih Natasha mengelus siku tangannya
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Andra berusaha mendekat.
" Jangan mendekat!! Menjauhlah ...!! Jangan mendekat!" Tangan Natasha memberi aba-aba agar Andra menghentikan langkahnya.
" Maaf ..." ucap Andra saat terlihat Natasha ketakutan berusaha menghindarinya. " Semalam aku ke apartemenmu, tapi Bi Surti bilang kamu sudah tidur."
Natasha ingat semalam Bi Surti memberitahu jika Andra baru saja datang, menanyakan keadaannya. Tapi memang Natasha sudah berpesan jika dia tidak ingin diganggu oleh siapapun, karena itu Andra langsung berpamitan.
Tok Tok Tok..
" Permisi, Bu. Maaf mengganggu. Ada Tuan Gavin menunggu di bawah, Bu." Kehadiran Sinta yang saat itu tiba-tiba muncul ibarat Oase di padang pasir untuk Natasha.
" Selamat siang, Nona Alexa ..." sapa Gavin saat melihat Natasha menghampirinya.
" Siang, Tuan Gavin. Bagaimana jika kita berangkat sekarang saja?" Gavin menautkan kedua alisnya menanggapi perkataan Natasha, tapi tentu saja dengan senang hati dia mengikuti permintaan Natasha.
" Apa yang sedang kau lakukan di sini?!" suara dari belakang Natasha membuat Gavin terkejut.
" Tuan muda Hadiwijaya?? kebetulan sekali bisa berjumpa di sini ..." Gavin menyahuti pertanyaan Andra.
" Ada keperluan apa kau dengan Natasha?" tanya Andra menyelidik.
Gavin terkekeh, " Tentu saja karena urusan bisnis. Kau sendiri, ada urusan apa kau di sini? Bukankah perusahaan Hadiwijaya tak ada hubungannya dengan dunia Fashion? Jangan kau bilang kau tiba-tiba berminat menggeluti dunia fashion ini, hanya agar bisa berdekatan dengan Nona Alexa." Gavin membalas perkataan Andra.
" Nona Alexa??" Andra melirik ke arah Natasha yang terlihat terkejut mengetahui jika Andra dan Gavin saling kenal satu sama lain. " Dia bahkan punya panggilan khusus untukmu." Andra melipat kedua tangannya di dada.
" Panggilan khusus? Bukankah butik ini juga memakai nama Alexa? Aku senang memanggilnya dengan nama itu. Kau tahu jika aku suka sesuatu yang tak biasa orang lakukan?" balas Gavin tak mau kalah.
__ADS_1
" Tentu saja aku tahu, aku tahu kebiasaanmu yang tak biasa orang lakukan, Gavin. Termasuk menikahi wanita yang jauh lebih tua darimu!" sindir Andra menyeringai sinis. Tapi Gavin menanggapinya dengan seulas senyum tipis di bibirnya.
" Tuan Gavin, sebaiknya kita pergi sekarang!" Natasha yang merasa suasana sudah mulai tidak kondusif, buru-buru mengajak Gavin pergi meninggalkan Andra. Akhirnya mereka berdua pun pergi berlalu dari hadapan Andra.
" Apa pria itu sering datang kemari, Pak?" tanya Andra kepada Pak Budi, Satpam yang hari ini berjaga.
" Iya, Pak. Tuan itu sering datang kemari, biasanya sering pergi keluar dengan Ibu Boss." jawab Pak Budi.
" Ya, sudah. Terima kasih, Pak." Andra pun akhirnya berlalu dari butik Natasha.
***
" Apa Nona Alexa punya hubungan spesial dengan Andra Hadiwijaya?" tanya Gavin penasaran saat mereka berdua ada di dalam mobil.
" Kenapa Tuan Gavin mengganggap kami ada hubungan spesial?" tanya Natasha mengerutkan keningnya.
" Saat saya menemukan Nona Alexa menangis dua hari lalu, bukan kah saat itu Nona sedang berada di parkiran perusahaan Hadiwijaya?" Natasha teringat dua hari lalu, tepatnya siang hari sebelum Andra hampir merenggut kesuciannya, Gavin-lah yang menemukan dan membawa dia pulang ke butik. Dia sendiri tidak sempat menanyakan kenapa saat itu Gavin ada di sana. Dan setelah percakapan yang dia tangkap tadi antara Gavin dan Andra barulah dia menyadari jika mereka cukup kenal dekat.
" Dan tadi, saat Nona Alexa mengajak saya pergi, seolah-olah kita memang sudah punya janji untuk keluar. Saya menarik kesimpulan jika Nona Alexa terlihat sedang menghindari Tuan muda Hadiwijaya itu. Apa analisa saya itu benar? Apa kondisi Nona saat terakhir kali kita bertemu itu ada hubungannya dengan dia?" lanjut Gavin menyelidik.
Natasha menghela nafas perlahan. " Iya, Andra mantan calon tunanganku." Entah kenapa Natasha tiba-tiba menyebut Andra dengan sebutan "Mantan Calon Tunangan" seperti yang pernah disebutkan Yoga dulu.
Gavin membulatkan matanya " Benarkah?" pertanyaan Gavin dijawab dengan anggukan kepala Natasha. " Jika saya jadi Andra, saya tidak akan melepasmu, Nona. Bodoh sekali dia melepaskan wanita seperti Nona Alexa ini"
" Sepertinya kalian sudah saling mengenal, ya?"
" Iya, saya dan Andra saudara sepupu. Tante Melly itu adik papa saya, Nona." Saat ini giliran mata Natasha-lah yang membulat sempurna.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1
Happy Reading