
" Fa, ayo sini ... kenapa berhenti di situ? Ini kamar Kak Alden sama Abhi. Kamar Kak Kia yang sebelah sana," tunjuk Sus Veni kepada Falisha yang berhenti saat melewati pintu kamar Alden.
" Kak Alden sedang apa ya, Sus?" tanya Falisha kemudian.
" Mungkin sedang belajar. Ayo ..." Sus Veni kembali mengulurkan tangannya ke arah Falisha.
" Doooorrr ...!"
" Aaahhh ...."
Tiba-tiba saja pintu kamar Alden terbuka dan terdengar suara Abhi yang mengagetkan Falisha hingga membuat Falisha memekik terkejut.
" Kaget ya? Hihihi ..." Tanpa rasa bersalah Abhi dengan santai bertanya.
" Abhi bikin Fa kaget aja, sih!" Falisha merajuk seraya mencebikkan bibirnya.
" Fa, kok ada di sini? Kangen Abhi, ya?" goda Abhi lagi.
" Nggak, Fa mau nginap di sini. Fa mau main sama Kak Kia, kok." Falisha membantah dengan bibir mengerucut tapi arah matanya melirik ke dalam kamar Alden.
" Oh, Fa mau menginap di sini? Mau main sama Kak Kia atau mau lihat Kak Alden, hayo?" Abhi tak henti-hentinya menggoda putri Dirga dan Kirania itu.
" Enggak ... Fa ke sini mau main sama Kak Kia, Abhiiii ...!" Fa mulai kesal bahkan kini bola matanya mulai berembun.
" Hahahaha ..." Abhi yang melihat Falisha sudah hampir dibuat nangis olehnya malah tertawa senang.
" Abhi nggak boleh godain Fa, ada papanya Fa di bawah nanti marah, lho." Sus Veni mencoba menasehati.
" Ada Om Dirga di sini?" Abhi membelalakkan matanya.
" Iya, tuh ada di bawah." Sus Veni menunjukkan dengan pergerakan matanya.
" Hiiiii atuuutt ..." celetuk Abhi
Braaakkk
__ADS_1
Dan dengan cepat Abhi kembali masuk ke kamarnya dengan menutup pintu dengan keras membuat Sus Veni hanya mampu menggelengkan kepala kemudian mengajak Falisha yang sudah hampir menangis ke kamar Azkia di sebelah kamar Alden.
" Abhi, jangan suka banting-banting pintu." Alden yang sedang fokus dengan buku bacaannya memprotes sikap adiknya itu
" Hehe ... maaf, Kak," sahut Abhi kembali fokus dengan legonya.
" Kenapa tadi banting pintu?"selidik Alden.
" Ada Om Dirga, Abhi takut dipelototin Om Dirga." jawab Abhi jujur.
" Itu karena Abhi suka iseng ke Fa, kan?" tuduh Alden yang sangat memahami sikap adiknya yang sangat usil itu.
" Soalnya Fa itu cengeng, Kak. Dikit-dikit nangis, jadi Abhi senang ledekin Fa." Abhi menyeringai membuat Alden menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya kembali fokus dengan buku yang ada di tangannya.
***
" Mas, kamu merasa nggak sih, kalau Alden itu memang bersikap cuek sama Falisha?" tanya Natasha saat mengoles cream malam di wajahnya.
" Masa?" Yoga yang sedang menekan remote televisi mencari acara yang enak ditonton sambil duduk bersandar di punggung tempat tempat tidur malah balik bertanya.
" Alden itu masih kecil, Yank. Mungkin dia belum memahami. Jika dia sudah dewasa kelak, pasti dia akan mengerti. Lagipula selama ini Alden juga belum tahu kalau dia itu sudah dijodohkan dengan Falisha, kan? Nantilah kalau dia mulai beranjak remaja baru kita arahkan supaya dia nggak membuka hati untuk wanita lain selain Falisha." Sejak dulu Yoga memang selalu bijak dalam bersikap. " Tapi ... aku minta kamu jangan terlalu memaksakan kehendak seandainya Alden ternyata menyukai atau memilih wanita lain yang dia cintai."
" Nggak bisa seperti itu dong, Mas. Kalau dia nggak sama Falisha aku 'kan jadi nggak enak sama Rania apa lagi sama suaminya itu. Dia pasti akan menyerangku kalau sampai Alden gagal berjodoh sama Falisha," ucap Natasha tetap merasa khawatir.
" Mereka pasti mengerti, kok. Lagipula siapa tahu jika dewasa nanti ternyata Fa juga suka sama pria lain selain Alden." Yoga memberi perumpamaan.
" Aku nggak mau, aku ingin Fa itu jadi menantuku. Aku tuh sayang banget sama Fa, Mas," ucap Natasha manja.
" Iya aku mengerti kamu sayang banget sama Falisha. Tapi kamu ingat bagaimana kita dulu? Aku sudah direncanakan papih dan mamih untuk menikah dengan Rara, tapi kenyataannya aku menikah sama kamu, kan? Padahal mamih begitu sayang sama Rara. Dan sekarang meskipun Rara nggak menikah sama aku, mamih tetap sayang sama Rara karena mamih sudah menganggap Rara seperti anak gadisnya sendiri. Kamu juga pasti bisa seperti mamih terhadap Falisha kelak, Yank." Yoga kembali mengingatkan bagaimana awal kisah mereka berumah tangga yang ditentang oleh Mamih Ellena.
" Tapi aku rasanya tetap nggak rela lho, Mas." Natasha menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
" Let it flow, mulai sekarang biarkan semua mengalir saja agar kita nggak kecewa jika kenyataannya tak seindah ekspektasi kita." Yoga membelai lembut kepala istrinya seraya membenamkan sebuah kecupan di pucuk kepala istri tercintanya.
" Tapi kalau aku perhatikan saat Fa bercerita tentang Kayla, Alden terlihat seperti tertarik dengan pembahasan tentang Kayla deh, Mas." Natasha kembali menarik kepalanya dari bahu Yoga. " Aku kok takut Alden suka sama Kayla lho, Mas." ucap Natasha curiga.
__ADS_1
Yoga tergelak saat mendengar kecurigaan Natasha.
" Kamu jangan aneh-aneh deh, Yank. Mana mungkin Alden tertarik sama Kayla. Alden itu masih kecil belum mengerti rasa suka dan tertarik sama cewek. Kamu lihat saja tiap hari kerjaannya berkutat seputar buku dan buku. Lagipula Kayla itu 'kan usianya di atas Alden, beda hampir empat setengah tahun, nggak mungkin dia menyukai cewek yang lebih dewasa." Yoga menepis semua praduga istrinya tentang ketertarikan Alden kepada Kayla.
" Ya siapa tahu Alden ketularan papanya yang suka sama cewek yang usianya di atas usia dia sendiri," sindir Natasha.
" Aku? Umur kita 'kan sama, Yank. Cuma beda bulan saja, aku lebih tua dua bulan dari kamu," sanggah Yoga.
" Bukan aku, tapi mamanya Fa. Kamu 'kan pernah naksir sama Rania dulu. Dan kamu tahu saat itu usia Rania itu satu tahun di atas kamu. Jadi siapa tahu Alden mewarisi sikap kamu, Mas. Like father like son." Natasha memberengut.
Yoga kembali tak bisa menahan tawanya. " Ya ampun, Yank. Itu 'kan kisah masa lalu. Lagipula waktu itu usia aku sudah dewasa, wajar jika aku punya rasa suka dan tertarik terhadap Rania. Kalau Alden itukan masih kecil, belum paham apa yang namanya tertarik, apa yang namanya rasa suka terhadap lawan jenis." Yoga menjelaskan.
Natasha menatap tajam suaminya. " Kamu masih ada rasa suka nggak sih Mas sama Rania?" selidiknya kemudian.
" Astaga, Yank. Kenapa tanya seperti itu, sih?" Yoga terkekeh menanggapi pertanyaan istrinya.
" Aku tanya lho, Mas. Kamu masih punya rasa suka nggak sama Rania?" Natasha kembali mengulang pertanyaannya.
" Untuk apa aku jawab?"
" Kamu nggak mau jawab jujur, kan? Berarti benar kamu masih punya rasa suka sama dia, kan?" Natasha mencebikkan bibirnya.
Yoga yang melihat istrinya merajuk langsung menarik dan menghempaskan tubuh Natasha di bawah kungkungannya. " Kamu mau tahu jawabannya, hemm?" Yoga kemudian menautkan bibirnya pada bibir Natasha yang menjadi candu untuknya. Membenamkan sebuah kecupan yang sangat lama dan mencoba membangkitkan ga*irah mereka berdua, apalagi saat tangan terampilnya sudah mulai melakukan atraksi yang sangat sanggup melenakan jiwa sang istri. " Aku hanya mau wanita ini, dan tubuh ini yang selalu ada di hati, jiwa dan pikiranku. Kemarin, sekarang dan selamanya." Yoga kemudian menyatukan dirinya dan istrinya membuat letupan-letupan cemburu yang tadi sempat singgah di pikiran sang istri kini hilang entah kemana.
*
*
*
Bersambung ...
Terima kasih buat readers baru yang sudah mampir di novel ini. Makasih juga untuk Readers lama yg masih konsisten kasih dukungan ke MSI. Aku ga minta muluk² sih, cuma minta dikasih like & komen aja😁😁 maap ngelunjak🙏
Happy Reading❤️
__ADS_1