
Yoga menatap beberapa temannya yang berinteraksi sangat intim dengan beberapa wanita-wanita penampilan seksi dengan minuman beralkohol di tangannya. Sedangkan televisi LED berukuran empat puluh dua inch sedang menampilkan adegan film dewasa, yang tentu saja mampu membangkitkan gairah manusia-manusia normal.
" Dari tadi sendirian saja, mau aku temani?" Seorang wanita berpakaian mini tiba-tiba mendekat ke arah Yoga, tangan wanita itu terulur meraba paha Yoga, tentu saja hal itu membuat Yoga menelan salivanya, apalagi pakaian yang dipakai wanita itu benar-benar menonjolkan auratnya.
" No, thanks," tolak Yoga cepat.
" Sudahlah, Ga. Sikat saja, sekali-kali jadi cowok nakal, demi menghormati pesta bujang gue," seru Rico yang sedang dilayani dua wanita sekaligus.
" Karena gue menghargai pertemanan kita makanya gue datang ke sini, kalau nggak sih gue males banget," Yoga menyahuti. " Mending ngelonin bini sendiri," batinnya kemudian.
Pagi tadi dia memang dikirimi pesan oleh Rico untuk datang ke pesta bujang yang diadakan Rico di apartemennya. Sebenarnya dia malas, cuma karena Rico adalah teman dekat jaman kuliah S1 dulu, terpaksa dia datang. Apalagi sejak semalam hatinya sangat terusik atas apa yang terjadi dengan masalah butik Natasha.
" Lagian, lo bawa Yoga kemari, bawa dia tuh pantasnya ke seminar-seminar, nah itu baru cocok," sindir Edwin.
" Ho-oh, Yoga anti cewek begini, dia tipenya cewek yang kalem, pendiam, yang kalau ngomong pelan nggak kedengaran suaranya, mesti pakai toa masjid," sambung Sony terkekeh.
" Tapi masa lihat yang hot bahenol seksoy gini punya lo nggak tergugah, Ga? Lo sebenarnya normal nggak sih, Ga?" ucapan Rico sontak membuat yang lain terpingkal.
" Sialan lo, gue normal, kali." Yoga melempar botol minuman mineral ke arah Rico.
" Makanya, Ga. Biar kita nggak meragukan kejantanan lo, buruan cari pacar, kalau sudah ketemu ... kawinin, terus kalau sampai hamil baru dinikahin, kaya gue." Rico tergelak.
" Lagian elo pakai acara pesta bujang segala, sudah nggak perjaka juga pakai dipesta-pestain segala," sindir Yoga.
" Eh, Ga. Teman kantor gue ada tuh tipe-tipe cewek yang lo suka, mau gue kenalin nggak? Cantik, kalem anaknya," ucap Sony kemudian.
" Nggak perlu!" tolak Yoga cepat sembari mengibas tangannya ke udara.
" Dicoba saja dulu, Ga. Siapa tahu cocok." Edwin menimpali. " Gue kasihan lo ngejomblo terus dari dulu, dari pada jomblo mending cari pacar."
" Ngapain gue mesti pusing-pusing cari pacar segala? Orang gue sudah ada bini, kok."
Ucapan Yoga sontak membuat ketiga teman Yoga terperanjat, bahkan Rico yang sedang menyesap wine sampai tersedak dibuatnya.
" Serius, Lo?"
__ADS_1
" Gue nggak salah dengar tadi?"
" Kapan lo nikahnya?"
Ketiga teman Yoga secara bersamaan menanyakan.
" Seriuslah, memangnya kapan gue pernah bohong?" sahut Yoga kemudian memperlihatkan foto saat dia ijab qobul yang sempat diabadikan oleh Amara, sang adik ipar di ponselnya.
" Iisshh ... kece parah bini lo, Ga," komentar Sonny melihat foto Natasha.
" Kapan lo nikah sih, Ga? Kok nggak kabari kita?" Edwin penasaran.
" Wuuiihhh seksi juga bini lo, Ga." Rico menanggapi foto lain Natasha yang dia temui di galeri ponsel Yoga. Sontak membuat Yoga merebut kembali ponselnya.
" Parah lo, punya bini cantik gitu nggak dikenalin ke kita-kita. nyuri start lo, ya!" ucap Rico kembali.
" Rugi gue kalau kenalin bini gue ke kumpulan pria berotak mesum kaya kalian."
" Sialan, Lo." Sony terkekeh
" Memang kapan itu nikahnya? Kok kita nggak tahu?" tanya Edwin masih penasaran karena belum menemukan jawaban.
" Eh, lo mau ke mana? Pestanya belum selesai, Woy! Belum juga jam sepuluh masih sore," ujar Rico sang tuan rumah.
" Engap gue di sini lama-lama, mending pulang mainin punya bini sendiri." Yoga terkekeh. " Assalamualaikum ..." Yoga mengangkat telapak tangannya setinggi kepala, kemudian berjalan keluar dari apartemen Rico.
" Waalaikumsalam ..." Ketiga teman Yoga menyahuti sambil geleng-,geleng kepala.
***
Yoga sampai ke rumahnya hampir jam sebelas, dia cepat-cepat menekan bel saat dilihatnya mobil Natasha tak terparkir di sana,
" Assalamu'alaikum, Bu. Natasha nggak pulang?" Yoga langung menanyakan tentang istrinya saat Bu Ratna membukakan pintu.
" Waalaikumsalam, Den. Non Tata tadi sih ke sini, tapi terus pergi ...."
__ADS_1
" Pergi ke mana, Bu? Dia bilang mau pergi ke mana?" Seketika rasa cemas mulai menyerang Yoga. Dia teringat kejadian dulu saat Natasha kabur hingga semalaman membuatnya gelisah.
" Non Tata bilang sih mau ke apartemen, Den."
Yoga menarik nafas lega saat mengetahui jika apartemen lah arah tujuan Natasha
" Ya sudah, saya langsung ke apartemen saja kalau begitu, pintunya dikunci lagi. Bu Ratna kalau mau istirahat, istirahat saja, saya nggak akan balik lagi, saya menginap di apartemen."
Yoga kemudian bergegas kembali ke motornya dan mengarahkan motornya menuju apartemen Natasha.
***
Yoga membuka pintu kamar Natasha, Yoga berjalan mendekat ke arah tempat tidur kemudian duduk di tepinya. Dia mendapati istrinya sedang tertidur dengan posisi meringkuk. Dia melihat baju yang dipakai Natasha saat ini adalah pakaian yang sama saat dia jumpai di butik istrinya siang tadi. Yoga menyadari jika saat ini Natasha merasa sangat sedih dengan pertengkaran tadi sampai Natasha tak sempat mengganti bajunya.
Tangan Yoga menyingkirkan rambut Natasha yang menutupi sebagian wajahnya, Yoga melihat ada buliran air mata yang masih menetes dari mata Natasha yang terpejam, tiba-tiba hatinya merasa sakit. Selama menikah dengannya entah berapa banyak.air mata yang sudah dikeluarkan Natasha karena ulahnya. Seketika itu juga Yoga merasa gagal menjalankan amanat yang diberikan papa mertuanya, untuk tidak membuat istrinya ini bersedih.
Perlahan jari Yoga mencoba untuk menyeka air mata yang masih menetes, kemudian dia mengecup lembut dengan agak lama kening Natasha. Dia mencoba mengingat kembali pertengkaran yang terjadi siang tadi, terutama kata-kata Natasha tentang pernikahan mendadak mereka.
" Memang apa salahnya menikah tanpa cinta? Memangnya kita menikah juga karena ada cinta? Kalau bukan karena papa yang meminta, kita juga tidak akan menikah seperti sekarang ini!"
Yoga sendiri menyadari jika pernihakan yang mereka jalani memang tidak berawal dari cinta walaupun dia mengakui sudah mulai tertarik pada Natasha dari awal pertama berjumpa.
Dan kini setelah tiga minggu berjalan, walaupun tak ada ungkapan-ungkapan secara langsung dari mulut masing-masing, tapi Yoga merasakan kalau dia pribadi sudah mulai mencintai wanita yang menjadi istrinya ini, karena itu dia sangat marah ketika ada pria lain yang didahulukan oleh istrinya untuk mengetahui kesulitannya, dan dia juga sangat marah ketika ada pria lain yang menyentuh tubuh istrinya. Dia tak akan sudi ada ada pria lain yang menyentuh miliknya ... wanitanya.
*
*
*
Bersambung...
Mak² sekalian, di Novel Rindu Tak Bertuan nanti, aku mau bikin give away kaya kemarin, setuju kah?? kalo setuju buruan angkat kaki, #eh angkat besi #eh angkat jari🤭🤭
jangan lupa masukin ke daftar paporit ya, jangan dimasukin ke daftar hitam loh yaa😂😂
__ADS_1
Happy Reading😘