
Tok tok tok
Natasha menoleh ke arah pintu ruang kerjanya saat terdengar suara pintu diketuk.
" Permisi, Bu ..." Sinta yang muncul saat pintu dibuka.
" Ada apa, Sin?" tanya Natasha pada sekretaris yang sudah bekerja cukup lama dengannya itu.
" Ibu katanya mau jemput Alden sama Azkia latihan karate." Sinta mengingatkan bosnya itu yang tadi minta diingatkan menjemput kedua anaknya latihan bela diri.
" Ah, iya ..." Natasha menoleh arlojinya, yang kini sudah menunjukkan pukul lima sore. Dengan cepat dia membereskan meja kerjanya dan bersiap menjemput Alden dan Azkia.
" Bu, besok saya ijin nggak berangkat ya, Bu."
Natasha kembali menoleh ke arah Sinta.
" Kenapa memangnya, Sin?" tanyanya kemudian.
" Besok mau ulang tahun Ulfa, Bu," ujar Sinta
" Oh ya, Ulfa besok ultah, ya? Yang keberapa ya, Sin?"
" Yang kedua tahun. Duh, Ibu ... anak saya 'kan baru satu, Bu. Masa ulang tahun yang keberapa Ibu lupa, sih? Kalau saya yang nanya umurnya Alden, Azkia, Abhi sama Aulia itu pantes. Ibu anaknya banyak, saya repot inget satu persatu umurnya." Sinta menggerutu.
" Bukan aku yang lahirin Ulfa, ngapain mesti aku ingat, Sin." Natasha tergelak mendengar ocehan Sinta.
" Ibu sendiri ingat nggak umur anak-anaknya berapa tahun?"
" Ingat, dong!"
" Alden?"
" Delapan tahun ...."
" Azkia?"
" Enam tahun setengah ...."
" Abhi?"
" Empat tahun ...."
" Aulia?"
" Satu tahun setengah ..."
" Hmmm, kalau Ibu sendiri?"
" Tiga puluh lima tahun ...."
" Sudah tua dong, Bu. Mudaan saya baru tiga puluh satu tahun." Sinta kini yang giliran tertawa lepas.
__ADS_1
" Biar mudaan kamu tapi tetap cantik aku, dong!"
" Tentu saja cantikan Ibu, perawatannya saja senilai gaji saya sebulan, gimana mau menyaingi?" Sinta memutar bola matanya.
" Makanya cari suami yang tajir dong, Sin. Kaya aku nih, punya suami anak tunggal, anak semata wayang dari pengusaha besar. Otomatis duitnya ngalir semua ke kantong suamiku." Natasha tertawa bangga.
" Gimana saya mau cari suami yang kaya raya, Bu? Pria kaya raya itu hanya untuk wanita cantik kaya Ibu."
" Ya sudah kalau begitu terima saja nasibmu." Natasha menyeringai. " Aku pulang dulu ya, Sin."
" Oke, Bu." Sinta menyahuti. Tak lama kemudian Natasha meninggalkan butiknya menjemput kedua anaknya yang sedang berlatih olah raga bela diri.
***
" Alden, Azkia kok masih di sini belum pulang?" tanya Raditya, pelatih Karate Alden dan Azkia saat melihat kedua anak itu masih duduk di tepi aula
" Belum Om, jemputannya belum datang." Alden menyahuti.
" Oh gitu, kita tunggu jemputannya di luar saja yuk, soalnya mau ditutup. Nanti Om Radit temani kalian menunggu di depan, gimana?" Raditya menyarankan kedua anak Yoga dan Natasha untuk menunggu di teras bangunan tempat latihan karate.
Alden dan Azkia menyetujui yang disarankan pelatihnya itu.
" Ya sudah, kalian tunggu sebentar ya." Raditya kemudian meninggalkan Alden dan Azkia.
Sementara itu mobil yang dikendarai oleh Natasha memasuki tempat latihan Alden dan Azkia. Dia menoleh ke arah papan nama yang terpasang di halaman bangunan itu.
...Perguruan Karate...
...Elang Putih...
Natasha segera membuka seat belt nya kemudian keluar dari mobilnya memasuki bangunan itu. Dia bergegas karena melihat tempat itu sudah sepi.
Buggh
" Aaaww ...."
" Eh, maaf ...."
Karena heels yang dipakainya, Natasha hampir saja kehilangan keseimbangan saat bertabrakan dengan seseorang. Namun sepertinya orang yang bertabrakan dengannya dengan cepat menahan tubuh Natasha hingga wanita cantik itu tidak sampai terjatuh.
Natasha kemudian dengan cepat menoleh untuk mengetahui siapa orang yang saat ini sedang melingkarkan lengan di pundaknya. Matanya langsung terbelalak lebar saat melihat seorang pria berwajah tampan yang sedang tersenyum sambil memeluknya. Natasha sampai harus menelan salivanya saat penciumannya merasakan aroma maskulin berpadu keringat dari pria yang mengenakan Jersey karate itu.
" Kamu nggak apa-apa?" tanya pria itu menyadarkan Natasha dari keterpukauannya.
" Ah, i-iya nggak apa-apa, makasih." Natasha langsung menjauhkan tubuhnya dari pria itu.
" Cari siapa?"
" Permisi ..." Tanpa menjawab pertanyaan Natasha langsung kembali bergegas ke dalam aula.
" Alden, Azkia ..." seru Natasha saat melihat kedua anaknya sedang duduk di tepi aula.
__ADS_1
" Mama ..." Alden dan Azkia bangkit dan berlari ke arah mamanya.
" Kok Mama yang jemput, Pak Hasan ke mana, Ma?" tanya Azkia heran, kerena biasanya Pak Hasan lah yang menjemput mereka.
" Pak Hasan sedang antar Eyang imunisasi adik kecil." Natasha menjelaskan kepada kedua anaknya.
" Ayo kita pulang sekarang." Natasha mengambil tas Azkia.
" Biar Kakak saja yang bawa, Ma." Alden dengan cepat mengambil tas Azkia dari tangan Natasha. Natasha tersenyum seraya memberikan tas itu kepada anak sulungnya, yang memang sejak kecil menunjukkan sikap tanggung jawabnya sebagai anak tertua.
" Alden sama Azkia sudah mau pulang ya?"
Tiba-tiba suara seorang pria terdengar membuat perhatian ibu dan anak itu berpusat kepada pria itu. Natasha sendiri langsung terkesiap mengetahui pria yang ada di hadapannya saat ini adalah pria yang tadi bertabrakan dengannya.
" Iya Om, kami sudah dijemput." Azkia yang menjawab.
" Kalian dijemput sama siapa ini?" Pria itu yang ternyata adalah Raditya bertanya pada Alden dan Azkia tapi matanya terus saja memperhatikan Natasha dengan lekat.
" Dijemput Mama, Om." Azkia kembali menyahuti.
" Mama?" Raditya membelalakkan matanya saat mengetahui jika wanita cantik di depannya itu ternyata orang tua dari Alden dan Azkia. Karena penampilan dan wajah Natasha yang terlihat seperti masih di bawah usia tiga puluh tahunan membuatnya tidak menyangka jika wanita yang memiliki tubuh indah itu ternyata sudah mempunyai dua anak.
" Iya, Om ... ini Mama aku sama Kak Alden, sama Adik Abhi, sama Adik Aulia," celoteh Azkia menyebutkan semua saudaranya.
" Oh ... gitu." Raditya menaikan kedua alisnya, dia semakin dibuat terkejut dengan jumlah anak Natasha yang disebutkan oleh Azkia tadi.
" Mama Azkia cantik ya ternyata." Raditya memuji dengan mengulumkan senyuman.
" Iya, dong, Om. Akunya saja cantik jadi Mama aku juga harus cantik, dong!" seloroh Azkia, yang mempunyai sifat sangat mirip dengan mamanya soal tingkat rasa percaya diri.
Sementara Alden langsung memasang wajah masam karena dia sempat melihat sikap Raditya yang sepertinya tertarik dengan mamanya.
" Perkenalkan saya Raditya, yang melatih Alden dan Azkia. Senang bertemu dengan Anda." Raditya mengulurkan tangannya ke arah Natasha.
" Oh, Natasha ..." Natasha membalas uluran tangan Raditya.
" Kita pulang sekarang, Ma." Alden langsung menarik tangan mamanya sedang tangan satu laginya membawa tas milik Azkia.
" Oh iya, Sayang. Permisi ..." Natasha langsung berpamitan pada Raditya dan langsung meraih tangan Azkia untuk mensejajarkan langkah Alden yang berjalan tergesa-gesa, meninggalkan Raditya yang masih mengulumkan senyuman menatap kepergian Natasha dan dua anaknya.
" Sudah menikah dan punya empat anak, tapi masih cantik dan mempunyai tubuh yang sangat indah. Beruntung sekali pria yang memiliki istri sepertimu, Natasha," gumam Raditya yang nampak terpesona dengan pertemuannya dengan Natasha
*
*
*
Bersambung ...
R : Eh, eh, eh ... apa-apaan ini? Roman²nya bakal ada pebinor nih🤔🤔 tak suka tak suka. Anti pelakor, anti pebinor.
__ADS_1
A : Tenang-tenang kekuatan cinta Tata & Yoga itu tak terkalahkan 😁
Happy Reading❤️