
Gavin memejamkan matanya, ingatannya seperti terbang kembali ke puluhan tahun silam
Flashback on
" Tante, Om ... Adik Alexa mau dibawa ke mana? Hiks hiks ..." isak Gavin kecil berusia lima tahun menarik tangan seorang wanita berusia kurang dari tiga puluh tahun yang sedang menggendong gadis kecil berusia tiga tahunan.
" Gavin, Om dan Tante akan pergi, sayang." Pria berusia tiga puluh tahun, suami dari wanita yang menggendong gadis kecil itu membelai kepala Gavin kecil penuh kasih sayang.
" Gavin ikut, Om. Gavin ingin ikut sama Tante, sama Adik Alexa," rengek Gavin kecil
" Gavin ..." Wanita yang tak lain adalah adik dari Mommy Gavin itu duduk berjongkok di depan Gavin kecil. " Tante, Om dan Adik Alexa akan pergi jauh dan lama, Gavin nggak bisa ikut sama kami. Gavin kan sama mommy di sini, Gavin harus menemani mommy di sini," ucap Tante Gavin.
" Gavin nggak mau sama Mommy, Mommy selalu marah-marah Gavin, mommy selalu marah-marah Tante. Gavin mau ikut Tante sama Om saja. Gavin mau sama-sama adik Alexa. hiks hiks ..." Gavin kecil kini memeluk tubuh gadis kecil yang sangat disayanginya itu. " Kenapa Om, Tante dan adik Alexa harus pergi? Kenapa nggak Mommy saja yang pergi? Gavin mau terus sama adik Alexa hiks hiks ..." Gavin kecil kembali terisak.
Tante Gavin menoleh ke arah suaminya seraya menghela nafas yang terasa berat dihirupnya.
" Sayang, kamu nggak bisa ikut kami, Nak. Gavin kan anak yang pintar, anak yang sholeh, Gavin harus menjaga Mommy Amanda di sini. " Tante Gavin membelai kepala Gavin kecil, sedangkan matanya berkaca-kaca, dia pun sebenarnya merasa sedih harus berpisah dengan anak dari kakaknya yang sejak bayi dirawatnya itu.
" Tapi Gavin nggak ingin adik Alexa pergi hiks hiks ..." Gavin kecil mengeratkan pelukannya kepada adik kecilnya itu.
" Gavin ...!! Masuk ke dalam ...!!" teriak Mommy Amanda tiba-tiba terdengar dari depan pintu rumah berukuran besar itu.
" Gavin nggak mau ...! Gavin ingin bersama adik Alexa, Mom ...!" bantah Gavin kecil.
" Gavin ...! Apa kamu ingin Mom pukul kamu agar kamu nurut perintah Mommy ...?!" ancam Mommy Amanda.
" Mbak, tolong jangan pakai kekerasan terhadap Gavin, kasihan dia ..." seru Tante Gavin.
" Kau tidak usah ikut campur ...!! Gavin anakku ...! Aku berhak melakukan apapun terhadapnya!! Gavin, cepat masuk ...!!" Teriak Mommy Amanda menggelegar membuat Gavin kecil ketakutan.
" Gavin, cepatlah masuk, Nak. Jangan sampai Mommy kamu lebih marah lagi, sayang," ucap Om Gavin.
" Tapi, Om ...."
" Gavin, masuklah sayang ..." Tante Gavin mengecup kening Gavin kecil kemudian menuntun anak itu untuk kembali masuk ke dalam rumah.
Gavin kecil akhirnya dengan berat hati masuk ke dalam rumah, dan dari jendela rumahnya dia memandang kepergian orang-orang yang dikasihinya dengan kesedihan yang mendalam.
__ADS_1
Flash back off
Gavin mengusap kasar wajahnya. Setitik air mata mengembun di sudut matanya.
" Kalian ada di mana sekarang ini? Aku sangat merindukan kalian ..." Gavin menengadahkan kepalanya menahan agar air mata itu tidak luruh di pipinya.
***
Sementara itu di sebuah kamar apartemen sepasang manusia sedang asyik bercumbu mesra, melanjutkan hal yang siang tadi sempat terganggu oleh Sinta. Mereka berbagi kemesraan, saling mengungkapan rasa yang tidak terucapkan lewat kata melalui sentuhan, bibir mereka saling berpagutan, saling memuja kesempurnaan fisik pasangan mereka, hingga akhirnya dinginnya air conditioner yang terpasang di ruangan itu seolah tidak mampu meredam panasnya gairah yang mereka rasakan saat ini. Suara-suara decapan dan lenguhan mendominasi di kamar itu, mereka sama-sama berusaha memuaskan hasrat pasangan mereka hingga mereka mencapai kepuasan dengan pelepasan masing-masing.
" Kapan aku akan mendapatkan hak ku ini, hemm?!" bisik Yoga saat mereka berbaring saling berpelukan dengan bagian atas tubuh mereka polos tak terbalut kain, hingga membuat kulit mereka saling bersentuhan.
" Setelah kita mendapatkan restu orang tuamu ..." ucap Natasha dengan memainkan jari-jarinya di dada bidang Yoga yang ditumbuhi rambut halus.
" Kalau begitu minggu depan kita ke Bogor, ya. Kebetulan minggu depan ada sepupuku nikahan," ujar Yoga membelai kepala Natasha dengan lembut.
" Ke Bogor??" Natasha mendongakkan wajahnya ke arah wajah Yoga.
" Iya, orang tua ku tinggal di sana."
Natasha kemudian menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
" Apa orang tuamu akan merestui kita? Aku khawatir jika mereka nggak bisa menerima aku, Ga," lirih Natasha dengan suara tertahan di dada Yoga.
Yoga terdiam, dia tak langsung menjawab kegusaran yang dirasakan istrinya itu. Dia kemudian menengadahkan kepala menatap langit-langit kamar Natasha. Sejujurnya dia sendiri tidak tahu pasti apakah keputusan menikah secara diam-diam dengan Natasha ini akan bisa diterima kedua orang tuanya. Apakah Natasha juga bisa diterima baik sebagai menantu dari keluarga Atmajaya, karena dia adalah anak semata wayang orang tuanya.
" Ga ...??" Natasha mendongakkan kembali ke arah wajah suaminya saat dia tak mendapati jawaban dari suaminya itu. Dan didapatinya pria itu sedang tertegun memandang langit-langit kamar
Tangan Natasha terulur mengusap lembut wajah tampan pria itu. " Ga ...??"
" Hemm ...??" Yoga tersadar dari lamunannya saat dia merasakan sentuhan lembut jemari Natasha di pipinya.
" Kok melamun? Apa yang aku khawatirkan akan terjadi, ya? Orang tua kamu nggak akan merestui pernikahan kita, ya? Mereka nggak akan bisa terima aku, ya?" Beberapa pertanyaan penuh dengan kecemasan terlontar dari mulut Natasha.
" Hei, kenapa bicara seperti itu? Apa kamu nggak lihat aku? Aku ini orangnya baik hati dan tidak sombong, sudah pasti orang tua aku pun sama baiknya seperti aku." Yoga mencoba sedikit bercanda menenangkan hati Natasha.
" Tapi aku takut, Ga ...."
__ADS_1
" Nggak ada yang mesti kamu takutkan." Yoga menge*cup dan melu*mat bibir Natasha hingga Natasha pun membalas pagutan bibir Yoga.
" Mau lanjut lagi? Kita ulang yang tadi ..." senyum nakal mulai terbit di sudut bibirnya.
Natasha melotot " Nggak, ih ...!" tolak Natasha langsung membalikkan posisi tidurnya hingga kini membelakangi suaminya itu.
" Kenapa nggak mau?" Jari Yoga bergerak membentuk lukisan abstrak di punggung putih mulus Natasha hingga rasa geli itu membuat Natasha menggeliat.
" Yoga hentikan ...!"
" Ulangi satu kali lagi."
Natasha berdecak. " Kamu ini sudah dua kali keluar juga, nggak puas-puas," gerutunya kemudian.
Yoga tergelak mendengar ucapan Natasha. " Aku bisa keluar berkali-kali, Ta." Yoga melingkarkan tangannya di pinggang Natasha, bibirnya kini bermain di sekitar ceruk leher istrinya itu. "Permainan mulut kamu tadi luar biasa. Itu baru mulut atas mu yang berhasil mengeluarkan isi rudalku, rasanya nikmat banget, apalagi pakai mulut yang bawah, nikmatnya pasti berlipat-lipat dirasakan rudalku ini."
Natasha memutar kepala menoleh ke arah Yoga. " Mulut bawah? Yang mana?" Jemari Natasha menyentuh bibirnya.
Yoga terkekeh melihat tingkah innocent istrinya, dengan iseng dia kemudian menggerakkan tangannya ke arah inti tubuh Natasha. " Ini mulut bawah."
Natasha langsung membelalakkan matanya saat merasakan tangan kokoh Yoga menyentuh daerah sensitifnya yang masih tertutup kain.
" Dasar otak mesum ...!! Singkirkan tanganmu, ih ...!!" Natasha memukul tangan nakal suaminya itu, membuat sang suami terbahak-bahak.
" Kamu itu menyebalkan ...! Nggak mengerti orang sedang khawatir malah diledekin ...!" Natasha bersungut-sungut dengan mata berkaca-kaca.
Yoga yang melihat raut wajah istrinya yang terlihat seperti hendak menangis langsung menghentikan tawanya. Dia kembali mengeratkan pelukan pada tubuh istrinya yang masih membelakanginya. " Hei, aku hanya bercanda jangan sedih gitu, dong! Apa yang sedang kamu khawatirkan, sih?!"
" Aku khawatir ... aku benar-benar khawatir orang tuamu akan menentang pernikahan kita. Bagaimana jika orang tuamu menyuruh kita berpisah?" lirih Natasha.
" Sssttt ... jangan bicara seperti itu dan jangan khawatirkan tentang itu. Kamu tenang saja, everything's gonna be OK ..." ucap Yoga mencoba menenangkan.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...
Happy Readingš