
Assalamualaikum Wr,Wb.
Teruntuk semua reader setia " Mengejar Suami Impian" juga " Rindu Tak Bertuan", Alhamdulillah kita akan dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadhan, dan menyambut bulan suci Ramadhan yang insya Allah akan kita laksanakan besok lusa dengan ini, aku selaku Author memohon maaf lahir batin🙏 jika selama ini ada perkataan atau canda yang tak berkenan di hati pada reader semua, mohon untuk dimaafkan. Dan semoga di bulan Ramadhan ini kita bisa menjalankan ibadah kita sebaik-baiknya, tanpa ada satu aral melintang. Semoga Allah SWT, menberikan kesehatan kepada kita semua, dan semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal Alamin 🤲😇
Wassalamu'alaikum Wr.wb.
_________________________________
Yoga dan Natasha kembali ke rumahnya sekitar pukul tujuh malam. Selepas menghabiskan waktu untuk melepaskan gairah sang istri yang sedang membuncah, mereka berdua memutuskan beristirahat di hotel itu beberapa jam, guna mengembalikan stamina setelah pertempuran mendadak yang terjadi siang tadi yang cukup menguras energi.
" Assalamualaikum, Bu Ratna," sapa Yoga saat wanita paruh baya itu membukakan pintu rumah.
" Walalaikumsalam, Den." Ibu Ratna menyahuti. " Oh ya, Non. Tadi orang dari butik kemari antar manisan mangga pesanan Non Tata."
" Oh, tolong ditaruh saja di toples. Saya minta sedikit saja di piring kecil, Bu." Natasha memang menyuruh Sinta untuk mengantarkan pesanan itu ke rumah Yoga, karena dia tidak balik lagi ke butik siang tadi.
" Baik, Non." Bu Ratna menyahuti.
" Mas, gendong ..." ucap Natasha manja sembari merentangkan tangannya.
Permintaan Natasha membuat Yoga mengeryitkan keningnya, tapi dia tak menolak permintaan istrinya, dia kemudian mengangkat tubuh Natasha dengan lengannya. " Tumben banget, sih, kamu manja gini, Yank."
" Aku kan cape habis kerja tadi, Mas." Natasha melingkarkan tangannya di leher suaminya.
" Kerja apaan, sih, yang bikin istriku cape begini?"
" Kerja menyenangkan hati suami lah," Dengan manja Natasha bergelayut di dada bidang sang suami.
Yoga terkekeh menanggapi sikap manja yang tiba-tiba saja muncul dari diri Natasha.
" Kami ke atas dulu, Bu. Tuan putri sedang manja, nih."
" Silahkan, Den." Bu Ratna tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah pasangan suami yang terlihat sangat romantis itu.
***
" Mas, resepsi pernikahan kita nanti, kamu mau undang mantan kamu, nggak?" tanya Natasha saat dia merebahkan kepalanya di paha suaminya yang sedang duduk bersandar menonton pertandingan sepakbola di televisi.
" Mantan apa?" sahut Yoga enteng.
" Mantan pacarlah, memang mantan apa lagi?"
" Nggak ada."
" Aku ingin tahu, dong, Mas. Kisah cinta kamu dulu sama mantan-mantan pacar kamu."
" Nggak ada yang perlu diceritakan."
" Tapi aku mau denger, Mas. Aku ingin tahu mantan-mantan kamu siapa saja." Natasha merajuk hingga membuat Yoga mencubit hidung istri cantiknya itu.
" Nggak ada yang harus aku ceritakan karena aku nggak ada mantan pacar, Yank." Yoga langsung mengecup singkat bibir Natasha.
" Memang kamu nggak pernah pacaran?"
Yoga mengedikkan bahunya menanggapi pertanyaan Natasha.
.
__ADS_1
" Serius kamu nggak pernah pacaran, Mas?" Natasha menatap wajah tampan suaminya.
" Ya pacaran beneran, sih, nggak pernah. Jaman SMA dulu dekat sama teman cewek pun hanya buat seru-seruan saja, ikut-ikutan teman. Tapi sebenarnya aku nggak menganggap kami pacaran, cuma ceweknya saja yang menganggap aku itu cowoknya. Sering minta antar, minta ditemanin jalan keluar, ya sebatas gitu saja, sih. Nggak ada yang spesial."
Natasha tergelak membuat Yoga memicingkan matanya. " Kenapa ketawa?"
" Rasanya nggak percaya banget, deh. Suamiku yang mesum ini ternyata nggak tertarik sama wanita." Natasha tertawa geli.
" Bukannya nggak tertarik, Yank. Tapi belum ketemu yang pas saja, lagipula aku mesum pun cuma sama kamu doang, kok." Yoga kemudian menciumi wajah istrinya yang menggemaskan.
" Mas, iihh ... geli." Natasha menggeliat saat bulu-bulu tipis di dagu dan di atas bibir Yoga menyentuh telinganya.
" Tapi kamu suka, kan?" Yoga mengedipkan matanya.
" Sudah, ah. Lanjut bahas yang tadi saja." Natasha begitu penasaran tentang kisah asmara suaminya dulu. " Memangnya nggak pernah ada wanita yang bikin kamu suka gitu? Yang bikin kamu jatuh cinta?"
" Waktu aku beranjak kuliah sempat ada, sih."
" Pasti Adelia, kan?" Natasha memotong perkataan suaminya.
" Saat itu Adelia mungkin baru masuk SMA, kali."
" Berarti bukan Adel?"
" Bukan."
" Teman kuliah?"
Yoga menggeleng. " Kita beda kampus, satu tahun di atas aku usianya. Orangnya kalem, sederhana ...."
" Berarti wanita tipe kamu memang begitu, ya, Mas. Seperi Adel, Azzahra, terus siapa nama wanita yang kamu sukai dulu?"
" Tapi aku ingin tahu, Mas ..." rengek Natasha. " Siapa namanya?"
" Hmmm ... aku lupa, deh." Yoga mencoba mengelak.
" Bohong ...! Nggak mungkin kamu lupa, apalagi kamu kan nggak banyak suka sama wanita, pasti kamu ingat terus wanita itu."
" Aku cuma mengingat satu nama di otakku ini."
" Siapa?" Natasha terlihat antusias, tapi sebenarnya dia berdebar menunggu suaminya menyebut nama wania yang pernah spesial di hati suaminya itu.
" Namanya ... Natasha Alexandrina binti Muhammad Farhan Ashari." Natasha langsung melancarkan cubitan di perut sixpack suaminya.
" Mas, aku serius ...."
Yoga terkekeh melihat istrinya kembali merengek manja. " Oke-oke, kamu tanya apa lagi?"
" Apa yang terjadi dengan kisah cintamu dengan wanita itu?"
" Hmmm, nggak terjadi apa-apa."
" Maksudnya?"
" Kebetulan teman aku juga suka sama dia, dan daripada berakhir seperti Mamih dan Tante Melly, mending aku mundur, deh." Yoga tertawa kecil.
" Kamu nyerah? Kenapa kamu nggak memperjuangkan mendapatkan dia?" Natasha penasaran.
__ADS_1
Yoga kembali tertawa. " Kalau aku bersikukuh memperjuangkan dia, mungkin saat ini aku nggak akan jadi suami kamu."
" Oh iya, ya ..." Natasha ikut terkekeh. " Pasti dia cantik, ya?"
" Cantik kamu ...."
Natasha memutar bola matanya, " Gombal."
" Ya sudah, cantik dia, deh."
" Apa kamu bilang, Mas? Maksudnya aku nggak cantik, gitu?" Natasha langsung memasang wajah garang.
" Lho, tadi aku bilang cantik kamu, kamu bilang aku gombal. Aku bilang cantik dia, kamu marah. Masa mesti aku yang kubilang cantik biar kamu nggak cemburu gini." Yoga tertawa geli hingga membuat Natasha ikut tertawa mendengar perkataan suaminya.
" Ya aku nggak suka kamu memuji wanita lain itu cantik, walaupun kenyataannya begitu. Aku kan maunya kamu bilang cuma aku wanita tercantik di dunia ini, Mas."
" Itu pasti, Sayang. Kamu dan Mamih Ellena adalah dua orang wanita tercantik di dunia versi aku." Yoga kembali menghujani kecupan di wajah Natasha.
" Ngomong-ngomong soal Mamih, Mamih marah sama aku nggak, ya? Karena aku belum hamil."
" Sayang, kamu hamil atau belum, itu bukan kamu yang berkehendak. Kita giat berusaha kalau Allah belum kasih kita rejeki, ya berarti kamu belum hamil. Begitu juga sebaliknya, jika mati-matian menolak tak ingin punya anak, tapi kalau Allah memberi janin di perut kamu, ya kamu akan hamil. Jadi intinya, jangan merasa menyalahkan diri kamu sendiri. Percaya saja, jika sudah waktunya, pasti Allah akan beri kepercayaan kepada kita untuk memilik banyak anak." Yoga membelai lembut kepala Natasha.
Natasha menatap wajah teduh suaminya lalu tangannya terulur, mengelus wajah tampan Yoga.
" Kamu ingin punya berapa anak, Mas?"
" Karena aku anak tunggal, Aku ingin memiliki anak sebanyak-banyaknya. Kalau perlu aku buat kamu hamil tiap tahun."
Natasha membelalakkan matanya. " Apa kamu bilang? Aku hamil tiap tahun?? Memangnya kamu pikir melahirkan itu nggak sakit?!" ketus Natasha.
Yoga terkekeh. " Nggak tahu aku, Yank. Kan aku belum pernah rasain lahiran, tapi mungkin rasanya agak mirip seperti waktu rudalku di sunat kali, ya?" Yoga tergelak mengakhiri ucapannya hingga membuat Natasha menghadiahi serangan cubitan di pinggang suaminya.
Natasha lalu merebahkan tubuhnya dengan posisi yang benar dengan kepala di atas bantal dan tidur membelakangi Yoga.
" Duh, gitu saja ngambek." Yoga langsung memeluk tubuh Natasha dari belakang.
" Siapa yang ngambek? Orang aku ngantuk, mau tidur." Natasha mengelak. " Kamu elus-elus punggung aku, dong, Mas." pinta Natasha.
Walaupun Yoga merasa heran dengan permintaan istrinya, tapi di tetap melakukan apa yang diminta Natasha. Dengan cepat tangannya masuk ke balik baju tidur Natasha dan mengelus punggung mulus nan lembut istrinya itu.
" Ingat, Mas. Punggung yang dielus, nggak usah melebar kemana-mana!" cebik Natasha saat dia merasa tangan suaminya itu sudah mulai bergerilya menyentuh dua aset berharganya, membuat Yoga terkikik.
" Bonus kali, Yank. Biar balance, belakang dielus, depannya juga mesti dielus." Yoga menyeringai membuat Natasha sibuk menyingkirkan tangan nakal suaminya dari dua assetnya.
*
*
*
Lama² mereka berdua kok jd couple mesyum, sih🤔
Btw di bab tentang pesta lajang Rico, teman² Yoga bilang kalo tipe Yoga itu cewek yang kalem dan pendiam? Nah cewek mereka yg dimaksud sama dengan cewek yg dimaksud Yoga di sini🤭
Oh ya, beberapa bab kedepan Yoga bakal main-main di RTB ya gaes, tengok aja novelnya👇
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading😘