MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Satu Ronde


__ADS_3

Natasha memperhatikan wajah masam suaminya dari cermin meja rias. Semenjak siang tadi di butik, tepatnya sejak kedatangan Gavin, atau lebih spesifik lagi sejak mengetahui fakta bahwa Gavin adalah kakak sepupunya, Yoga terlihat menekuk wajahnya menunjukkan rasa ketidak sukaan.


Natasha pun awalnya agak terkejut saat mamanya mengatakan jika Gavin adalah kakak sepupunya yang sudah lama terpisah, ada rasa canggung di hati Natasha, apalagi dia tahu jika sebelumnya Gavin mempunyai perasaan kepadanya, tapi saat Mama Nabilla menjelaskan bagaimana dulu sikap Gavin terhadap dirinya, mau tak mau Natasha berusaha menerima keberadaan Gavin di dekatnya.


Sementara untuk Yoga sendiri, kenyataan tentang Gavin dan Natasha bersaudara tentu saja membuat dirinya merasa tak nyaman, karena dia mengetahui jika pria itu sangat memuja istrinya. Yoga menduga dengan kenaikan status Gavin sebagai sepupu Natasha, bisa dimanfaatkan oleh pria itu untuk mendekati Natasha. Tentu dia tidak akan sepenuhnya bisa melarang interaksi antara Gavin dan Natasha kelak, terlebih jika mama Nabilla mendukung. Yoga teringat tadi saat Gavin meminta memeluk Natasha, ketika Natasha menoleh ke arahnya meminta persetujuan, sang ibu mertua berkata, " Nggak apa-apa ya, Yoga. Tata dan Gavin sudah lama tak bertemu, dulu Gavin itu sayang banget sama Tata." Tentu saja Yoga tidak bisa menolaknya. Walaupun pelukan itu terjadi tidak lebih dari sepuluh detik karena Yoga buru-buru menarik tubuh istrinya dan kembali merangkul dengan posesif seolah ingin menunjukkan bahwa dialah pemilik wanita cantik itu


Natasha menghampiri suaminya yang duduk bersandar di tempat tidur, dengan wajah memberengut dan tangan asyik memainkan ponselnya. Sejak siang tadi sama sekali tak terlihat senyum manis sang suami, apalagi candaan atau celetukan iseng Yoga yang biasa suaminya lakukan.


" Suamiku, ada apa denganmu? Kenapa wajahmu terlihat bermuram durja seperti itu? Apakah tadi kesambet syaiton di jalan, suamiku?" Entah angin apa yang membuat Natasha tiba-tiba ingin berbuat usil kepada suaminya yang sedari tadi menekuk wajahnya itu.


Yoga melirik sekilas ke arah Natasha, kemudian kembali fokus ke ponselnya tanpa sepatah kata pun melihat tingkah istrinya yang aneh saat ini.


" Suamiku ..." Tangan Natasha menggoyang lengan Yoga karena terlihat Yoga hanya acuh tak bereaksi.


" Prayoga Atmajaya bin Prasetya Atmajaya nu kasep nu bageur, kamu kenapa, sih? Dari tadi mukanya cemberut kaya gitu, jelek tauuu ...! Kalau begini tingkat ketampananmu berkurang seratus delapan puluh derajat, lho!" Natasha terkekeh mengingat sesuatu yang ingin dia ucapkan selanjutnya, " Apa tingkat kemesuman-mu juga ikut turun, ya?!


" Diamlah ...! Aku sedang kesal ...!" Yoga menepis tangan Natasha dari lengannya.


" Kamu sedang kesal? Sama aku?!" Tunjuk Natasha ke hidungnya sendiri.


" Aku nggak suka kamu sepupuan dengan si Gabin!" Yoga merajuk.


" Ya ampun ...!" Natasha menepuk keningnya mendengar alasan Yoga walau sebenarnya dia sendiri sudah menduga ke arah situ.


" Memangnya kenapa kalau kami sepupuan? Bukankah itu bagus? Jadi dia tahu kalau posisi dia itu kakak aku, dan dia nggak akan macam-macam sama aku."


" Tapi itu juga membuka kemungkinan dia untuk selalu berdekatan dan mencuri kesempatan untuk menyentuh kamu! Bisa saja lama kelamaan dia akan mengalihkan perhatianmu dari aku!" Yoga masih bersungut-sungut.


" Astaga Yoga! Sekarang Kak Gavin itu kakak aku, nggak usah mikir aneh-aneh, deh!"


" Sudah ganti panggilannya sekarang?! Manis banget manggilnya!" sindir Yoga mendengar Natasha menambah kata Kak memanggil Gavin.

__ADS_1


" Kak Gavin? Tentu saja aku merubahnya, dia kan kakak aku sekarang." Wajah Natasha mendekat ke arah Yoga. " Apa kamu juga ingin aku panggil kakak juga? Kak Yoga?" Natasha memainkan alisnya turun naik, kebiasaan yang sering Yoga lakukan saat menggodanya.


" Biarpun dia kakakmu, tapi tetap judulnya dia itu laki-laki, yang punya hasrat, apalagi dia pernah bilang sendiri dia menyukaimu."


" Itu kan sebelum dia tahu aku ini adik sepupunya, Ga."


" Lalu setelah dia tahu, apa kamu bisa menjamin perasaannya ke kamu akan hilang?"


Natasha berdecak menanggapi kekhawatiran Yoga yang dinilainya berlebihan. " Kamu jangan ngaco deh, kamu nggak dengar yang Mama bilang tadi? Jika Kak Gavin itu sejak dulu sayang sama aku, selalu melindungi aku dari anak nakal, bahkan dulu aku tidur selalu ditemani Kak Gavin."


" Lalu sekarang kamu ingin tidur dengannya lagi, gitu?!" tanya Yoga sinis.


" Memang boleh?? Tadi dia peluk aku saja kamu langsung cemberut kesal gitu, kok!" Natasha mencibir.


" Aku tak sudi milikku disentuh orang lain!" tegas Yoga.


" Cuma peluk doang, Ga. Nggak lebih ...."


" Tetap aku nggak suka!"


" Kamu mau ke mana?" tanya Yoga melihat istrinya hendak beranjak ke arah pintu kamar Natasha.


" Ke kamar tamu, aku ingin tidur sama Mama ...."


" Lalu aku?"


" Tidur di sinilah, memangnya kamu mau tidur sama mama juga?"


" Terus malam ini aku nggak dikasih jatah, gitu?!"


" Cuma malam ini saja, Ga. Mumpung Mama ada di sini, besok mama kan sudah balik ke Bandung."

__ADS_1


Yoga kemudian melangkah menghampiri Natasha. " Temani aku dulu di sini." Tangan Yoga merengkuh pinggang istrinya.


" Apaan, sih? Tadi marah-marah nggak jelas," cibir Natasha menanggapi tingkah Yoga saat ini.


" Kita main dulu sebentar, satu ronde saja. Kemarin aku nggak dapat jatah, masa hari ini mesti zonk lagi." Bibir Yoga sudah mulai menciumi leher jenjang Natasha.


Natasha memutar bola matanya. " Aku nggak yakin kamu memintanya cuma sekali, pasti yang ada akan berkali-kali." Natasha mencoba mendorong tubuh Yoga, tapi tak berhasil. " Awas deh, nanti Mama keburu tidur ..." Mata Natasha melirik arah jarum jam yang saat ini menunjukkan pukul sembilan malam.


" Aku janji hanya satu ronde ..." Tangan Yoga kemudian meloloskan baju tidur Natasha dari leher, hingga saat ini tubuh bagian atas Natasha polos tak terbalut kain. Dan dengan cepat Yoga mengangkat tubuh Natasha ala bridal style kemudian menghempaskan tubuh setengah telan*jang Natasha ke atas tempat tidur hingga membuat Natasha memekik.


Yoga langsung mengurung tubuh Natasha dengan tubuhnya, dia memulai aksinya, bibirnya memberi sentuhan di wajah dan leher Natasha, sementara tangan dia bermain intens di kedua bongkahan favoritnya.


Setelah cukup puas menjelajahi wajah dan leher sang istri, kini bibirnya turun ke dua bongkahan favoritnya, bermain di sana, memberikan gigitan-gigitan kecil yang menimbulkan tanda kemerahan, sedang jemarinya mulai bermain di inti Natasha.


Permainan bibir Yoga di kedua bongkahan dan jemari di intinya membuat Natasha menggelinjang saat merasakan pelepasannya.


Yoga sengaja tak ingin segera menuntaskan permainannya, dia sengaja memainkan tubuh Natasha terlebih dahulu hingga istrinya itu berkali-kali mendapatkan kenikmatan. Tujuan utama dia adalah menahan selama mungkin istrinya agar tidak pindah kamar, atau kalau bisa membuat Natasha kekelahan hingga wanita itu tak punya tenaga bahkan untuk berdiri sekali pun.


Hampir satu jam berlalu, saat ini lidah Yoga sedang bermain di inti Natasha membuat istrinya melenguh dan mendesah merasakan sensasi hebat permainan lidah suaminya di bagian intinya.


" Aakkhhh ...Yoga cepat, aku sudah nggak tahan ..." seru Natasha dengan suara parau menahan gairah yang membuncah.


Sudut bibir Yoga tertarik ke atas mendengar suara istrinya yang terdengar sangat seksi di telinganya. Yoga sendiri sebenarnya hampir gila menahan hasrat untuk segera menyudahi permainannya, tapi sebisa mungkin dia tahan agar Natasha tetap menemaninya di kamar.


Dan setelah sejam berjalan dan permintaan Natasha untuk segera mengakhiri ronde permainan mereka, akhirnya Yoga menghujamkan rudalnya yang sedari tadi siap meluncur tak tertahankan. " I'm coming, honey...!" Yoga menggerakkan tubuhnya perlahan, semakin lama semakin cepat hingga akhirnya dia dan istrinya merasakan pelepasan bersamaan, merasakan kenikmatan surga dunia yang tiada tara.


*


"


*

__ADS_1


Bersambung...


Happy Reading 😘


__ADS_2