MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Season 2 -- Laki-Laki Cunihin


__ADS_3

" Mas, matanya ditutup dong, jangan lihat." Natasha menutup mata Yoga dengan kedua telapak tangannya. Dia sampai berjinjit karena tubuh suaminya itu yang tinggi.


" Emangnya mau dikasih surprise apa sih sama istri cantikku ini?" Yoga terkekeh saat tangan Natasha menutup matanya.


" Ada, deh ..." Natasha menyahuti.


" Pasti yang enak-enak, kan?"


" Bawel, deh. Nanti juga tahu." Natasha mendorong pintu kamar hotel dan mengarahkan suaminya itu untuk memasuki kamar yang dia pesan di hotel milik kakak sepupunya itu.


Selepas sore tadi Yoga dan Natasha mengadakan acara makan-makan di sebuah restoran mewah bersama keluarga dan juga Falisha yang didampingi oleh Kirania, malam harinya Natasha sengaja membooking satu kamar untuk merayakan berdua bersama suami tercintanya itu.


" Terima kasih ya, Mas." Natasha berucap terima kasih ke pegawai hotel yang baru keluar kamar setelah mempersiapkan semua yang diperintahkan Natasha di dalam kamar hotel.


" Siapa tadi, Yank?"


" Bellboy." Natasha menyahuti lalu mengurai tangannya dari mata Yoga


" Surprise ...!" pekik Natasha.


I like the feel of your name on my lips ...


And I like the sound of your sweet gentle kiss ...


The way that your fingers run through my hair ...


And how your scent lingers even when you're not there ...


Sebuah lagu milik Boyzone terdengar di dalam ruang kamar itu. Yoga mengerjapkan matanya, di bawah cahaya temaram beberapa lilin dia melihat sepasang meja dan kursi yang disiapkan untuk candle light dinner dengan beberapa makanan dan minuman yang tersaji.


" Ya ampun, Yank. Tadi sore 'kan kita sudah makan-makan, sekarang makan lagi?"


" Iiisshh ... kamu ini nggak bisa diajak romantis, deh." Natasha mencebik membuat Yoga terkekeh lalu merangkul pundak istrinya itu.


" Hehe, makasih ya, Sayang." Yoga langsung mengecup pipi Natasha.


" Suka, nggak?" Natasha mendongakkan kepalanya menatap wajah sang suami.


" Aku lebih suka kamu." Kini sebuah kecupan mendarat di bibir Natasha.


" Iiissshh ... kamu ini, Mas." Natasha langsung merona.


" Jadi kita makan lagi nih sekarang?" tanya Yoga melirik istrinya.


Natasha langsung melingkarkan tangannya ke leher sang suami.


" Kita dansa sebentar ya ..." bisik Natasha lirih.


" Oke, siapa takut?!" Yoga membalas tantangan Natasha, dan dengan cepat dia merengkuh pinggang sang istri.


And I like the way your eyes dance when you laugh ...


And how you enjoy your two-hour bath ...


And how you've convinced me to dance in the rain ...


With everyone watching like we were insane ...


Menikmati lagu I Love The Way You Love Me, mereka berdansa dengan mata saling menatap lekat penuh cinta.


" Terima kasih ya, Sayang." Yoga kemudian mengecup lembut kening Natasha membuat Natasha memejamkan matanya.

__ADS_1


But I love the way you love me ...


Strong and wild, slow and easy ...


Heart and soul so completely ...


I love the way you love me ...


" Happy Birthday, Mas ..." ucap Natasha. " I love the way you love me ..." lanjutnya yang langsung dibalas dengan sentuhan bibir Yoga di bibirnya. Memberikan sentuhan lembut beberapa saat yang semakin lama semakin bergairah. Mereka saling menge*cap dan saling melu*mat. Mengeksplore bagian rongga mulut hingga keduanya kehabisan oksigen hingga kini mereka menjeda pagutan mereka.


" Aku lapar, Yank." ucap Yoga parau.


" Mau makan sekarang?" tanya Natasha melirik ke arah meja yang dia siapkan untuk dinner.


" Iya, makan kamu ..." Yoga langsung mengangkat tubuh Natasha. Perlahan dia meletakan tubuh istrinya itu di atas kasur empuk berukuran king size. Dia pun segera mengungkung tubuh belahan jiwanya itu. Memberikan sentuhan yang memabukkan hampir di seluruh tubuh Natasha hingga sang istri mendesah, melenguh, mengerang dan menggelinjang. Dan saat dirasanya cukup puas memberikan sentuhan, tak lama Yoga pun melakukan penyatuan. Membawa sang istri serasa terbang jauh ke atas awan.


***


Yoga menyantap beef steak yang sudah dingin karena acara dinner mereka terganggu dengan acara berbagi peluh dan pergulatan mereka di tempat tidur.


" Nih ..." Yoga menyodorkan potongan steak yang tertancap di garpu ke mulut Natasha.


" Nggak, deh." Natasha menolak.


" Kamu ngajakin dinner tapi kamu nya sendiri nggak makan," protes Yoga.


" Aku sudah kenyang karena melihat kamu makan, Mas." Natasha beralaskan.


" Mana bisa gitu," sergah Yoga, dia kemudian mengambil piring berisi makanan milik Natasha, memotong steak kemudian menyuapkan ke mulut Natasha.


" Cepat dimakan. Karena kamu butuh tenaga untuk melanjutkan pergulatan yang tadi." Yoga menyeringai, membuat Natasha membulatkan matanya.


" Lagi??"


Akhirnya mau tak mau Natasha pun mengunyah makanan yang disodorkan suaminya itu sampai habis karena dia percaya ucapan suaminya tadi pasti akan menjadi kenyataan.


***


" Selamat pagi Bu Amara." Pak Joko menyapa Amara yang baru saja sampai butik. " Tadi ada yang mengirim bunga untuk Ibu Amara." lanjutnya.


" Bunga?" Amara mengeryitkan keningnya.


" Iya, Bu. Saya titip di Mbak Sinta," ujar Pak Joko kembali.


" Oh terima kasih, Pak." Amara lalu melangkah memasuki butik menuju ruang kerjanya.


" Mbak Sin, Pak Joko bilang ada yang kirim bunga buat aku. Dari siapa?" tanya Amara saat sampai di depan meja Sinta.


" Oh ... ini, Mbak." Sinta langsung menyodorkan bunga itu pada Amara. " Dari Raditya, seperti sudah ganti haluan orang itu. Nggak dapat kakaknya, sekarang giliran adiknya yang dikejar." Sinta tergelak.


" Iiissshh ... orang itu?"


" Iya, Mbak." Sinta masih belum menghentikan ketawanya. " Kemarin saya sempat intip, orangnya lumayan ganteng juga sih, Mbak. Boleh tuh, Mbak ... buat dijadikan gandengan."


" Truk kali gandengan." Amara mencebikkan bibirnya seraya melangkah ke ruangannya.


" Eh, Mbak ... buketnya?" Sinta kembali menyodorkan bunga itu yang tadi tak sempat diterima Amara.


" Buat Mbak Sinta saja, deh." ucap Amara tanpa menoleh ke arah Sinta yang masih saja terkekeh menggoda Amara.


Sementara setelah sampai di ruangannya Amara segera menghubungi Natasha.

__ADS_1


" Hallo, Assalamualaikum, Mbak ..." sapa Amara saat hubungan telepon tersambung


" Waalaikumsalam, ada apa, Ra? Kamu sudah sampai butik?" tanya Natasha.


" Sudah kok, Mbak. Baru saja sampai."


" Ada apa, Ra?"


" Orang sableng itu kirim buket lagi kemari."


" Hahh?? Pelatih karate Alden?"


" Iya."


" Bukannya kamu bilang dia sudah diberi pelajaran?"


" Iya."


" Lalu kenapa masih berani juga kirim-kirim buket buat aku?"


" Bukan buat Mbak buketnya.


" Lalu untuk siapa?"


" Aku."


Natasha terpingkal saat mendapat jawaban dari adiknya itu. " Serius, Ra?" tanyanya kemudian.


" Iyalah, Mbak. Masa aku bohong.


" Kok bisa kirim buat kamu? Hmmm, jangan-jangan tinju kamu kemarin itu sudah membuat pria itu terpesona terus jatuh cinta sama kamu, Ra." Natasha terkekeh.


" Mana ada orang dipukul bikin terpesona terus jatuh cinta." Amara memutar bola matanya.


" Ada, dong. Tuh kakak ipar kamu dulu." Natasha teringat kembali kenangan saat dia pernah menampar Yoga karena Yoga menfitnahnya yang tidak-tidak.


" Kak Yoga?"


" Iyalah, memangnya kakak iparmu yang mana lagi?"


" Memang dulu Kak Yoga pernah ditinju sama Mbak?"


" Ditampar sih tepatnya."


" Kok bisa Mbak tampar Kak Yoga? Kak Yoga itu 'kan baik banget begitu, kok."


" Hmmm, kamu belum tahu saja dulu itu dia sangat menyebalkan sekali."


" Tapi Mbak cinta 'kan pada akhirnya?"


" Nah, itu ... kamu juga jangan terlalu benci sama pelatihnya Alden itu. Siapa tahu nanti kamu malah jatuh cinta lagi sama dia."


" Idiiiihh ... amit-amit deh sama laki-laki cunihin (genit) seperti itu." Amara menyanggah cepat membuat tawa Natasha pecah seketika.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2