MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Yoga Yang Mendadak Pusing


__ADS_3

Selepas mengantar calon mempelai pria ke tempat mempelai wanita dan pelaksanaan ijab qobul, Yoga pamit kepada pengantin dan keluarga Rico. Natasha sendiri menarik nafas lega akhirnya dia bisa keluar dari situasi canggung, karena sejak dari rumah Rico hingga di tempat mempelai wanita, dirinya merasa Andra tak pernah lepas memperhatikannya.


Sebenarnya Natasha sendiri merasa sangat malu kalau mengingat kejadian itu, karena bagaimanapun juga Andra telah melihat bahkan menyentuh tubuhnya. Dan jika kembali mengingat dadanya langsung bergemuruh.


Natasha menyadari jika sekarang ini sikap Andra lebih manis kepadanya dibanding dulu yang selalu acuh. Tapi apapun sikap yang ditunjukkan pria itu kepadanya, tak merubah rasa sakit hati yang diterimanya atas pelecahan yang telah dilakukan oleh pria itu.


" Kenapa melamun?" tanya Yoga saat dilihat olehnya istrinya itu banyak terdiam dalam perjalanan menuju Bogor.


Natasha tersenyum tipis. " Aku hanya tidak menyangka, Ga. Kalau hati aku secepat ini berubah haluan." Natasha memiringkan tubuhnya ke arah kanan hingga dia bisa puas memandang suaminya itu dengan kedua tangan memegang dadanya.


" Dulu aku memang menyukai Andra, dulu aku sangat menginginkan bisa menikah dengannya, dulu aku ... ah pokoknya semua akan aku usahakan agar keinginanku itu bisa terwujud bahkan aku nekat melakukan hal bodoh dan konyol meminta bantuan kamu dulu. Sampai akhirnya suatu kejadian yang ... horrible banget hampir benar-benar buat aku hancur."


Tangan kiri Yoga terulur mengusap lembut wajah Natasha. " Nggak usah diingat lagi peristiwa itu." Yoga menyadari jika peristiwa itu masih membuat syok Natasha. " Kalau kamu bilang kau sudah merubah haluan cintamu, maka sekarang aku minta, mantaplah pada pilihan kamu itu, dan jangan berubah haluan lagi, karena kamu sudah berada di tempat yang tepat sekarang ini."


Natasha meraih tangan Yoga lalu menciumnya. " Terima kasih ya, Ga. Untuk semua yang nggak aku bisa aku raih dari orang lain, tapi aku dapat dari kamu."


" Boleh aku tanya sesuatu?"


" Apa?"


" Bagaimana dulu kamu memanggil mantan calon tunanganmu dulu?"


" Memanggil Andra?"


" Kamu senang sekali menyebut nama itu."


" Bukankah kamu tadi tanya?"


" Tapi aku nggak sebut nama."


" Memang kenapa kalau sebut nama?"


" Sudah nggak usah dibahas soal itu, aku cuma mau tanya, dulu sama dia kamu manggilnya apa?"


" Memanggil Andra, hanya Andra saja."


" Nggak ada panggilan lain?"


Natasha teringat sesuatu, dia lantas tersenyum. " Dulu aku panggil dia, sayang ...."


" Lalu kenapa kepada suamimu ini kau tidak memanggil seperti itu?"


" Kamu ingin aku panggil sayang juga?"


" Tentu saja, bukankah aku ini suamimu? Yang lebih pantas dipanggil sayang itu suami bukan calon tunangan."


Natasha tersenyum kini dia yang berganti membelai wajah suaminya itu. " Baiklah Yoga sayang, sekarang fokuslah berkendaraan."

__ADS_1


" Bagaimana aku fokus kalau kau menggodaku seperti ini?" Yoga menanggapi tangan Natasha yang kini sedang memainkan bulu di dagunya. " Rasanya ingin cepat-cepat ketemu hotel terdekat." Senyum nakal terlihat di sudut bibirnya.


" Astaga, Yoga ... sabarlah, sebentar lagi juga sampai rumah kamu." Natasha paham apa maksud perkataan Yoga.


" Justru kalau sampai rumah kita nggak mungkin sempat melakukannya sayang, pasti akan banyak saudara yang datang ke rumah."


Natasha menggeleng mendengar ucapan suaminya itu.


" Ditahan dulu dong, sayang. Dulu waktu baru nikah kamu bisa tahan, kan?"


" Bedalah sayang, waktu baru menikah aku belum merasakan, sekarang sudah merasakan jadi ketagihan." Yoga mengedipkan matanya.


" Sudah ah, fokus menyetir saja, nggak usah mikir gitu."


Tak berapa lama mobil Yoga mengarah ke suatu tempat yang seingat Natasha bukan arah menuju ke rumah orang tua Yoga di Bogor.


" Kok lewat sini, Ga?" tanya Natasha heran.


" Aku baru ingat kalau Papih punya villa dekat-dekat sini."


Natasha memicingkan matanya. " Terus kenapa kalau Papih punya villa di sini? Mau mampir gitu?"


Yoga menganggukkan kepala sambil menarik sedikit sudut bibirnya.


" Mau apa ke sana? Apa ada saudara yang tinggal di sana lalu kita mampir?" Natasha semakin penasaran karena Yoga tak juga membalasnya.


" Ayo turun." Yoga melepas seat belt yang membelit dadanya.


" Udaranya segar banget di sini, nggak beda jauh sama di rumah orang tua kamu," ucap Natasha sembari merentangkan kedua tangannya.


" Ayo ..." Yoga meraih tangan istrinya dan membawanya masuk ke dalam Villa.


" Den Yoga?" sapa seorang pria saat melihat kedatangan Yoga.


" Assalamualaikum, Mang Asep," sapa Yoga ramah kepada penjaga villa keluarganya.


" Waalaikumsalam, Den. Kenapa nggak mengabari kalau mau ke sini, Den?" tanya Mang Asep .


" Saya memang nggak ada rencana kemari kok, Mang. Ini kebetulan saja lewat jadi mampir ke sini." Yoga melirik ke arah istrinya dengan senyum mengandung arti.


" Bi Uni mana?" tanya Yoga kemudian.


" Ada, Den. Sebentar Mang Asep panggil." Mang Asep bergegas ke arah dapur. " Ni, Uni ... ada Den Yoga datang itu di depan," seru Mang Asep.


Bi Uni pun bergegas menghampiri Yoga. " Eh, ada Den Yoga, kok nggak bilang mau kemari, Den. Kalau bilang pasti Bi Uni masakin acar ikan kembung kesukaan Den Yoga."


" Yoga cuma mampir sebentar kok, Bi. Mau numpang istirahat sebentar saja. Mau ke rumah papih tapi tadi di mobil istri saya bilangnya pusing, jadi saya bawa ke sini saja sampai pusingnya reda baru lanjut lagi."

__ADS_1


Natasha langsung mendelik mendengar alasan yang disampaikan Yoga kepada kedua penjaga villa orang tuanya.


" Istri? Den Yoga sudah menikah?" tanya Bi Uni kaget.


" Iya, ini istri Yoga, Bi. Namanya Natasha, cantik kan istri saya, Bi?"


" Geulis, Den." Bi Uni mengangkat kedua jempolnya.


" Oh ya, Bi. Kamar Yoga sudah dibersihkan? sprei nya sudah diganti?"


" Sudah dong, Den. Biarpun jarang kemari tapi sprei rutin Bi Uni ganti dua minggu sekali, Den. Sampai aroma pewanginya dari dipasang sampai dilepas masih sama, nggak ada bau keringatnya." Bi Uni terkekeh.


" Ya sudah, Yoga ke kamar dulu, Bi. Ayo sayang kamu istirahat tiduran saja dulu." Yoga langsung merengkuh pinggang Natasha dan berjalan menuju kamarnya.


" Kamu apa-apaan, sih? Siapa juga yang pusing?" Natasha memprotes.


" Aku yang mendadak pusing, dari tadi nahan supaya nggak nyerang kamu, sayang." Dengan berbisik Yoga langsung membuka pintu kamar dan mengunci pintu kamarnya setelah mereka masuk.


Yoga langsung menganggkat tubuh Natasha dan langsung merebahkannya di atas kasur.


" Yoga kamu gila ..." Natasha tertawa geli melihat suaminya yang langsung melucuti pakaiannya.


" Kamu yang bikin aku gila." Yoga langsung menyergap bibir manis istrinya, memberikan kecupan lembut makin lama makin menuntut.


Yoga pun meloloskan pakaiannya sendiri setelah berhasil membuka semua kain penutup yang membungkus tubuh indah istrinya.


Dengan bibir dan tangannya dia memberikan sentuhan-sentuhan dari ujung kepala sampai sekarang berpusat kepada inti sang istri.


Natasha pun tak menolak apa yang diberikan suaminya karena dia pun mulai terbiasa bahkan dia pun menginginkan itu meskipun tak pernah terucap lebih dulu.


" Aku mencintaimu Natasha, kau benar-benar membuatku gila karena mencintaimu," suara parau terdengar dari mulut Yoga.


" Aku juga mencintaimu, sayang. Aku sangat menginginkannya sekarang." Mata Natasha sudah dipenuhi kabut gairah.


Setelah keduanya terbakar gairah akhirnya penyatuan itu mereka dapat, dengan penuh cinta dan ungkapan perasaan masing-masing yang sekarang sudah terungkap. Rasa nyaman dan bahagia kini menyelimuti hati mereka berdua atas rasa cinta yang mereka beri dan dapatkan dari pasangan mereka.


*


*


*


Bersambung ..


Kasih yang manis-manis dulu sebelum dikasih konflik akhir ya😁


Happy Reading 😘

__ADS_1


__ADS_2