MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Tukar Mertua


__ADS_3

Karena pagi ini papihnya sedang mengunjungi perkebunan dan baru akan kembali selepas Dzuhur. akhirnya selepas berbincang panjang lebar dengan mamihnya, Yoga memilih kembali menemui Natasha di kamarnya.


Saat Yoga membuka pintu kamar, tak didapati istrinya di sana, sementara tempat tidurnya terlihat rapih. Yoga mendengar suara gemercik air dari dalam bathroomnya. Dia sudah bisa menduga jika saat ini istrinya  yang sedang ada di dalam sana.


Yoga melirik jam di dinding kamarnya yang belum menunjukkan pukul sebelas, hampir sejam lebih dia meninggalkan Natasha untuk berbicara dari hati ke hati dengan mamihnya.


Yoga melangkah mendekati pintu kamar mandi dengan sudut bibir kanannya terangkat ke atas. Yoga perlahan memutar knop pintu kamar mandi yang tak terkunci. Dengan sangat hati-hati dia membuka daun pintu itu, pandangannya langsung terkunci pada siluet tubuh indah tanpa busana yang basah karena air yang jatuh dari shower. Yoga sampai harus menelan kasar salivanya saat mendapati tubuh putih mulus sang istri yang seolah sedang menggoda untuk disentuhnya.


Yoga seketika menegang, sesuatu di bawah sana seakan meronta-ronta minta segera untuk dilepaskan. Dia sendiri tak mengerti kenapa wanita di hadapannya ini, tak membutuhkan waktu lama bisa masuk ke ruang hatinya. Setiap melihatnya rasanya selalu ingin mengajaknya untuk bergumul berbagi gairah, apalagi sejak semalam dia berhasil memasuki bagian inti tubuh istrinya itu, keinginan untuk mengulangnya lagi dan lagi selalu terus menderanya jika berdekatan dengan wanita di hadapannya ini. Apalagi saat ini wanita itu sedang berdiri tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh indahnya, ditambah air yang menetes membasahi tubuh wanitanya itu membuat hasratnya susah untuk dikendalikan.


Yoga perlahan berjalan mendekat tanpa diketahui istrinya, dengan cepat dia meloloskan T-shirt yang membalut tubuh juga celana panjangnya dan hanya menyisakan C-D nya saja. Yoga melingkarkan tangan kokohnya ke pinggang Natasha dan kini menangkup dua bongkahan milik istrinya itu hingga membuat istrinya itu memekik kaget.


" Aagghhh ...!! Yo-Yoga, kenapa kamu kemari?!" tanya Natasha di tengah kekagetannya.


" Membantumu membersihkan diri," bisik Yoga sambil memcium ceruk leher Natasha, sementara tangannya terus meraba tiap jengkal tubuh istrinya, dan kini satu tangannnya mulai mengarah ke bagian inti Natasha dan mulai memainkan jemarinya di sana.


" Yoga, hentikan ...!! Aku nggak mau lagi, aku benar-benar lelah, tubuhku sakit semua ..." keluh Natasha merajuk.


Yoga terkekeh, " Memangnya kita mau melakukan apa? Aku bilang ingin membantumu membersihkan badan. Katamu tadi lelah, makanya aku bantu." Yoga lalu mengeluarkan body wash dari dispenser, lalu tangannya mulai menyabuni tubuh istrinya hingga kini membuat Natasha yang sedikit menegang.


" A-aku bisa melakukan ini sendiri, kamu keluarlah ...!" usir Natasha berusaha melepaskan diri dari suaminya itu.


" Sudah jangan membantah ...! Nurut apa yang diperintahkan oleh suami, kalau mau diterima jadi menantunya mamih!"


Natasha hanya bisa mendengus kesal, dia tahu jika itu hanya akal-akalan suaminya saja memakai nama ibu mertuanya itu untuk mengambil keuntungan darinya.


" Yoga hentikan ...! Katamu hanya membersihkan!" seru Natasha ketika dirasanya tangan Yoga mulai intens bermain di intinya dengan bibirnya yang tak henti memberikan gigitan kecil di leher dan pundak Natasha.


" Diamlah, jangan cerewet ...!!" Yoga langsung mendorong tubuh Natasha ke dinding masih dalam posisi membelakanginya. Dengan cepat dia melepaskan kain pembalut yang menutupi bagian bawahnya, yang membuat kejantanannya kini menegang sempurna. Kemudian dia mengangkat pinggul sang istri dan dengan cepat menghujamkan senjatanya ke inti Natasha hingga membuat istrinya itu kembali memekik. Dan akhirnya rencana membersihkan diri itu harus dihabiskan dengan waktu yang cukup lama karena kelakuan Yoga yang tak menyia-nyiakan situasi yang benar-benar menguntungkannya itu

__ADS_1


***


" Kamu kenapa, Nak? Kelihatan pucat seperti itu mukanya, apa kamu sakit? Nggak cocok sama cuaca di sini?" tanya Papa Yoga saat mereka berkumpul di meja makan menikmati makan siang.


Natasha menatap ayah mertua itu yang ternyata sejak tadi memperhatikan dirinya.


" Kecapean dia, Pih." Yoga yang menyahuti pertanyaan Papihnya itu.


" Dari pagi di kamar saja, nggak ada yang dikerjakan kok bilang kecapean," cibir Mama Yoga.


" Justru karena di kamar saja, Yoga yang sudah bikin dia kecapean, Mih!" balas Yoga dengan tidak ada rasa malu sambil memasukkan satu sendok makanan ke mulutnya.


" Kamu yang sudah bikin Natasha kecapean? Apa maksud kamu itu sama seperti apa yang Papih pikirkan?!" selidik Papa Yoga sembari melemparkan senyuman.


Natasha yang mendengarkan obrolan anak dan papihnya itu hanya bisa tertunduk menahan malu.


" Memang apa sih maksud obrolan kalian?" tanya Mama Yoga penasaran ingin tahu apa yang menjadi topik pembicaraan dua orang pria kesayangannya itu.


" Memang Papih menuduh Yoga melakukan apa?" tanya Mama Yoga lagi.


" Semalam Papih meragukan kejantanan Yoga, Mih. Gara-gara Tata bilang dia masih suci." Ekor mata Yoga mengarah ke istrinya yang sedang menunduk dengan wajah memerah. " Jadi untuk membuktikan jika ucapan Papih itu salah, semalam Yoga dengan susah payah menjebol gawang Tata berkali-kali, Mih. Dari semalam, sebelum dan selepas Shubuh, sama tadi sebelum Dzuhur gimana dia nggak lelah, coba?!"


Natasha seketika menegang, dia menggigit bibir bawahnya, sembari memejamkan mata dan menundukkan kepala, entah apa lagi yang pantas dia lakukan selain melakukan hal itu. Dia tidak tahu apa warna mukanya saat ini, yang pasti dia sangat merasa malu yang sangat luar biasa atas ucapan-ucapan Yoga yang membuka aktivitas hubungan suami istri kepada kedua orang tua Yoga. Sementara Mama Yoga hanya mendengus dan memutar bola matanya menanggapi anak dan menantunya itu. Sedangkan Papihnya tentu saja tersenyum-senyum sambil menggelengkan kepala melihat anak semata wayangnya itu.


" Semoga kalian bisa cepet kasih cucu-cucu yang banyak buat kami." Papa Yoga berharap.


" Aamiin, Pih," jawab Yoga. "Oh ya, Pih, Mih.   Besok pagi kita akan kembali ke Jakarta."


" Kok buru-buru pulang, Ga? Katanya Senin pagi baru balik ke Jakarta," tanya Papa Yoga.

__ADS_1


" Iya, kenapa kamu teh buru-buru pulang, Kasep?" Mama Yoga pun ikut bertanya, karena rencana mereka akan kembali ke Jakarta Senin pagi.


" Natasha ngga betah di sini, Pih. Bilangnya bete dijutekin terus sama Mamih."


Mata Natasha langsung membulat, dia langsung menoleh ke arah Yoga yang duduk di sampingnya. " Aku nggak ada bilang seperti itu, ya!" tepis Natasha cepat. " Maaf, Tante saya nggak pernah bilang seperti itu." Natasha berusaha membela diri, hatinya merasa jengkel terhadap suaminya itu, rasanya ingin sekali menyumpal mulut pria itu dengan sambal yang ada di meja makan di hadapannya.


" Loh, kok panggil Tante lagi, kemarin kan Papih sudah bilang panggil kami seperti Yoga memanggil kami, karena kamu adalah menantu kami." Papa Yoga menginterupsi.


" Nah tuh dengerin, kamu tuh menantunya Papih Mamih, sejutek-juteknya Mamih sama kamu. tetap Mamih itu mertua kamu." Yoga tertawa geli apalagi saat dilihatnya Mamihnya itu sudah dalam mode siap untuk mengomel. " Aku sudah bilang ke Mamih loh, Ta. Soal keinginan kamu menukar Mamih dengan mama calon tunanganmu dulu."


Natasha terkesiap, matanya membulat sempurna, disertai wajahnya yang seketika memucat mendengar ucapan Yoga itu.










Bersambung...

__ADS_1


Happy Reading😘


__ADS_2