
Yoga memasuki kamarnya saat adzan Shubuh berkumandang. Dia hendak mengambil perlengkapan sholatnya di dalam kamar. Mpok Ida sendiri sejak dini hari tadi pindah tidur berbagi sofa dengan Bang Jamal.
Setelah mengambil sajadah, sarung, baju koko dan kopiahnya Yoga hendak meninggalkan kamar, tapi dia berhenti sejenak memandang sosok wanita cantik yang kini tergolek di ranjangnya.
Yoga melangkah perlahan mendekat ke arah ranjang, kemudian dia duduk di tepian ranjang sambil memandangi wanita cantik itu. Ada kegelisahan yang tampak di wajah cantik itu meskipun dalam keadaan tertidur, terlihat dari pergerakan alisnya yang bergerak bertautan dengan kening yang berkerut..
Tak nampak wajah jutek dan angkuh wanita itu yang sudah terekam di pikirannya, yang terlihat saat ini hanya wajah pucat dengan bagian sekitar mata yg terlihat sembab.
Yoga menyadari apa yang dialami Natasha adalah suatu hal yang tidak bisa dianggap sepele. Wanita itu baru saja mengalami pelecehan dan itu hampir saja terulang jika saja dia telat menyelamatkan wanita itu.
" Jangan ... hiks, tolong lepaskan ... hiks ..." lirih Natasha dengan mata terpejam. " Tolong lepaskan, aku nggak mau, lepaskan ... aku takut, hiks ..." Natasha terus merancau dalam tidurnya.
Yoga berlari keluar kamar membangunkan Mpok Ida dan Bang Jamal yang tertidur sambil berpelukan. Sebenarnya dia tidak tega mengganggu kemesraan pasangan suami istri itu. Tapi dia terpaksa melakukannya karena dia sangat mengkhawatirkan Natasha. Sebenarnya dia sendiri pun bisa berusaha menenangkan, tapi dari pada menimbulkan salah paham, dia lebih memilih meminta bantuan Mpok Ida untuk menenangkan Natasha.
" Mpok, Bang ... bangun ... " Yoga menepuk-nepuk pelan lengan Bang Jamal.
" Eh, kenapa, Ga?" Bang Jamal terperanjat dan mengangkat tubuhnya sehingga membuat Mpok Ida yang tidur dalam pelukan Bang Jamal pun ikut terbangun.
" Maaf, Bang ... Mpok, saya ganggu tidur kalian. Tapi itu Natasha ...."
" Natasha kenapa??" Mpok Ida langsung berlari menuju kamar Yoga disusul Yoga dan Bang Jamal.
" Hiks ... hiks ... hiks ..." Natasha masih terisak dalam tidurnya sampai terlihat bahunya bergetar.
" Astaghfirullahal adzim, Istighfar, Non ... sshhhh ..." Mpok Ida dengan lembut mengelus lembut bahu Natasha hingga beberapa saat kemudian Natasha sudah mulai tenang.
" Titip dia bentar ya, Mpok. Saya tinggal ke Musholla dulu ..." pamit Yoga setelah dilihatnya Natasha kembali terlelap
" Iya udah lo sono ibadah aja yang tenang," sahut Mpok Ida.
" Jangan lupa, Ga. Berdoa minta sama Allah supaya jodoh lo dideketin," ledek Bang Jamal sambil menaik turunkan alisnya melirik ke arah Natasha. Yang hanya dibalas senyuman oleh Yoga.
" Abang sendiri nggak ke musholla??" tanya Mpok Ida.
" Belum mandi, Da ..." ucap Bang Jamal sambil mengusap tengkuknya.
__ADS_1
" Iya udah, buruan mandi gih sono!" perintah Mpok Ida.
" Mandiiiinn ..." Bang Jamal langsung memeluk istrinya
" Astaghfirullah, Bang! Udah tua juga kelakuannya kaya ABG aja. Malu itu dilihat si Yoga ..." cebik Mpok Ida berusaha mengurai tangan Bang Jamal dari pinggangnya. Sedangkan Yoga hanya menggelengkan kepala kemudian beranjak keluar rumahnya menuju Mushollah.
***
Natasha mengerjapkan matanya saat dirasakan ada cahaya hangat menembus kulitnya. Perlahan matanya terbuka sempurna, dia mengedar pandangan sekitar ruangan yang terasa asing olehnya. Ruangan yang luasnya tidak sampai setengah luas kamar tidurnya itu berwarna putih bersih. Dia mencoba mengingat dan mengenali di mana dia berada saat ini. Dan pandangan matanya bertumpu pada sebuah foto berbingkai berukuran sedang yang tergantung di dinding. Foto itu menampakan seorang pria muda berwajah tampan dengan gagahnya memakai toga tersenyum bahagia diapit dengan dua orang paruh baya, yang dia duga adalah orang tua dari pemuda itu. Wajah pemuda itu terasa familiar di ingatan Natasha.
" Eh, Non udah bangun, ya?"
Natasha menoleh ke arah pintu saat terdengar suara seorang wanita di sana. Natasha mengerutkan keningnya mencoba mengingat siapa wanita itu.
" Gimana, Non? Udah baikan sekarang?" tanya Mpok Ida kemudian.
" Sa-saya ada di mana?" Natasha balik bertanya.
" Non, sekarang ada di kontrakannya Yoga," sahut Mpok Ida.
" Iya, itu Yoga." Mpok Ida menegaskan mengangkat dagunya menunjuk foto wisuda S1 Yoga. " Yoga yang semalam nolongin dan bawa Non ke sini."
Natasha kembali mengerutkan keningnya. " Tenang aja, Non. Si Yoga mah anak baik-baik. Semalam dia suruh gantiin baju Non, trus nemanin tidur di sini." Mpok Ida mencoba menjelaskan karena dia melihat ekspresi tak nyaman di wajah Natasha saat mengetahui saat ini sedang berada di rumah seorang pria. Natasha kemudian menundukkan pandangannya melihat ke pakaian yang dikenakannya, ternyata saat ini dia mengenakan kaos oblong berukuran besar dengan celana boxer.
" Kamu sudah bangun?"
Terdengar suara bariton yang membuat Natasha dan Mpok Ida menoleh ke arah pintu, dan mendapati Yoga berdiri disana.
" Eh, Mpok udah beliin bubur buat kalian sarapan, sebentar ya, Mpok ambilin dulu ..." Mpok Ida keluar memberikan ruang untuk Yoga dan Natasha berdua.
" Bagaimana keadaanmu?" Yoga menarik kursi kayu kecil dan duduk di sisi ranjang yang ditempati Natasha.
" Maaf jika saya membawa kamu ke sini, karena saya bingung harus membawa kamu ke mana? Saya juga nggak lihat mobil kamu ada di mana?" ujar Yoga menatap Natasha yang menunduk
" Jika kamu ingin berbagi cerita tentang masalah kamu, kamu bisa berbagi cerita kamu ke saya ..." lanjut Yoga
__ADS_1
Natasha tercenung, ingatannya terlempar pada kejadian semalam. Di mana dia mendapatkan pelecehan s*xual dari orang yang sangat dicintainya, bahkan dia hampir kembali mendapatkan itu dari beberapa pria bertampang seram yang ditemuinya di jalan. Natasha kembali memeluk lututnya, kilasan-kilasan bayangan kejadian menyeramkan itu membuat hatinya gelisah.
" Kamu aman di sini. Kamu nggak usah takut, kamu baik-baik saja di sini." Yoga yang menyadari kegelisahan Natasha mencoba menenangkan.
Untung saja tak lama Mpok Ida datang membawa dua mangkuk bubur ayam. " Makan dulu nih buburnya mumpung masih hangat, lo juga makan sekalian, Ga." Mpok Ida menaruh nampan berisi dua mangkuk bubur itu di atas nakas.
" Makasih, Mpok," ujar Yoga sebelum Mpok Ida pergi.
Yoga kemudian meraih satu mangkuk bubur dan menyerahkannya kepada Natasha. Kemudian dia mengambil satu bubur lainnya untuk dimakan sendiri.
" Buburnya nggak akan habis kalau cuma kamu pandangi saja," ucap Yoga saat ditatapnya Natasha hanya mengaduk-aduk saja bubur itu tanpa memakannya.
Yoga kemudian menaruh mangkuk kosong bubur miliknya dan mengambil mangkuk bubur di tangan Natasha.
" Assalamualaikum Nona cantik, permisi ... kami butiran padi yang sudah lemah tak bertenaga ini mohon ijin bertamu di mulut nona? Bolehkah??" Yoga menyodorkan sesuap bubur ke depan mulut Natasha.
Natasha menatap sendok di hadapannya kemudian melirik ke arah Yoga yang sedang mengulum senyuman. Entah apa yang akhirnya membuat dirinya membuka mulut dan menerima suapan demi suapan dari Yoga yang akhirnya membuat bubur itu tak tersisa
" Ga, barangkali Non mau mandi udah Mpok siapin air hangatnya," teriak Mpok Ida dari luar kamar.
" Kamu mandi dulu, setelah itu nanti saya antar kamu pulang. Kamu mau saya antar ke mana? apartemen atau butik?" tanya Yoga
" Tolong antar aku ke apartemen saja ..." Akhirnya ada juga kalimat yang terdengar di telinga Yoga dari mulut Natasha.
" Ya sudah, kamu mandi dulu saja. nanti saya antar kamu ..." Yoga pun akhirnya menuntun langkah Natasha mengarahkan ke arah kamar mandi di bagian belakang kontrakannya
*
*
*
Bersambung...
Happy Reading😘
__ADS_1