
Sebelumnya aku sebagai otor yang ga punya perasaan, ingin mengucapkan permintaan maaf yang sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa Tata. Aku tahu kehamilan Tata ini tidak hanya ditunggu Couple mesyum itu dan Mamih mertua yg cerewet, tapi juga oleh emak² sekalian yang selalu setia mengikuti perjalanan kisah Tata❤️Yoga. Apa yang sedang dialami mereka itu anggap saja seperti istilah yang sering terjadi di kehidupannya nyata bahwa kadang kenyataan itu tak seindah ekspektasi. Masalah dan musibah yang menimpa couple ini, semoga semakin menguatkan rasa cinta mereka. Tenang ya emak² mereka baru menikah belum dua bulan, masih panjang waktu yang bisa mereka pergunakan untuk memproduksi Tata Yoga junior. 🤭🤭 Peace ah✌️
_________________________________
Dengan langkah gontai Yoga keluar dari ruangan dokter itu. Perasaan sedih, kecewa, menyesal dan bersalah kini bercampur jadi satu. Dia tidak menyangka jika harus kehilangan secepat ini. Kehilangan hasil buah cintanya dengan Natasha yang sangat dia nantikan. Dia bahkan belum sempat merasakan bahagia mengetahui Natasha hamil. Dia bahkan belum sempat merasakan euforia sambil mengangkat tubuh Natasha dan dibawa berputar-putar seperti layaknya sang suami yang mendapatkan berita gembira tentang kehamilan sang istri.
Yoga berjalan kembali ke arah kamar Natasha dirawat. Dia menduga jika istrinya tahu mereka baru saja kehilangan calon anak mereka, pasti Natasha akan sangat sedih dan terpukul melebihi yang dia rasakan saat ini.
Yoga mengingat beberapa hari belakangan ini sikap istrinya yang memang berbeda dari biasanya. Emosinya yang naik turun, berubah manja, begitu posesif dan menjadi narsis, ternyata itu semua bukannya tanpa alasan. Dan alasan yang membuat istrinya berubah itu kini sudah harus pergi meninggalkan luka dan kesedihan.
" Yoga, bagaimana dengan Natasha?" Kirania yang melihat Yoga berjalan dengan langkah gontai langsung memberikan pertanyaan.
Yoga menghela nafas yang terasa berat. " Kami kehilangan calon bayi kami," lirihnya.
" Innalillahi wainnaillaihi rojiun." Kirania menutup mulutnya, sedangkan air mata langsung jatuh membasahi pipinya. Tubuhnya seketika lemas dan terhuyung ke belakang. Jika saja Dirga tidak dengan cepat menangkapnya mungkin saat ini tubuh wanita itu sudah luruh jatuh ke lantai.
Dirga memeluk tubuh Kirania yang saat itu juga langsung terisak karena merasa bersalah. Walaupun apa yang menimpa Natasha bukan kesengajaan yang diperbuat Kirania, tapi seandainya saja Natasha tidak mencoba menahannya, mungkin saja kejadiaannya tidak akan seperti ini.
***
Yoga duduk di samping ranjang rawat Natasha, dia memperhatikan wajah Natasha yang masih terlihat pucat. Berkali-kali dia menghujani ciuman di wajah dan punggung tangan sang istri yang kini ada dalam genggamannya. Dia tidak tahu harus berkata apa? Dia yang selama ini pandai bermain kata seketika kini menjadi kehilangan kata-kata.
Yoga teringat obrolannya pagi tadi saat ia mengantar istrinya berangkat ke butik, membuat rasa bersalah kembali menyeruak di hatinya.
Flashback on
" Kita makan di mana siang nanti, Yank?" tanya Yoga saat melepas seat belt sesampainya mereka di Alexa Butique dan memasuki bangunan berlantai dua itu.
" Nggak tahu, deh, Mas. Makan di sini saja, deh. Aku malas keluar sebenarnya." Natasha menyahuti.
" Malas keluar? Mau aku bantuin keluarnya?" Yoga memainkan alisnya.
" Apaan, sih? Mesum banget pikiranmu, Mas." Natasha mencebikkan bibirnya.
" Mesum apaan, sih, Yank? Kamu bilang malas keluar, aku bantuin keluarnya, aku gendong kamu kaya kemarin-kemarin. Itu kan sama saja aku bantuin kamu keluar." Yoga mengelak memberi alasan.
Natasha memutar bola matanya. " Pinter banget banget kamu ngeles, Mas." Natasha mencibir suaminya yang pandai menyanggah kata-katanya.
" Pinter, dong! Aku kan ngajar les privat," Yoga tergelak mengucap kalimatnya. " Ini salah satu muridku yang sudah pandai aku ajar les privat." Seraya mengacak rambut Natasha dia mengedipkan matanya.
" Dasar ...!" Natasha pun tersenyum menanggapi ucapan dan perlakuan papa dari calon bayi yang dikandungnya. Sebenarnya dia sangat tidak sabar untuk memberitahukan berita gembira tentang kehamilannya. Namun dia harus bersabar menunggu esok hari karena ingin memberikan kejutan pada suaminya itu di hari ulang tahun Yoga.
" Nanti makan ayam bakar saja, yuk!" ajak Yoga kemudian.
" Terserah kamu saja, deh, Mas."
__ADS_1
" Hei, kenapa lemas sekali, sih? Yang semangat, dong! Istri Prayoga itu mesti semangat, ceria dan riang." Yoga menyemangati saat mereka berdua sudah berada di ruangan Natasha.
" Istri Prayoga itu mesti semangat, ceria dan riang." Natasha mengikuti ucapan suaminya dengan mencebikkan bibirnya. " Terus kenapa dulu sukanya cewek pendiam model Kirania, Adel, Azzahra?"
" Kapan aku pernah bilang suka Azzahra?" protes Yoga.
" Ciee ... yang satu disangkal, yang dua diakui," sindir Natasha.
Yoga langsung menarik pinggang Natasha dan memaksa tubuh wanita itu masuk dalam dekapannya.
" Kamu pintar menjebak lewat kata-kata sekarang, ya?!"
" Iya, dong! Siapa dulu gurunya? Aku kan murid pintar." Natasha melingkarkan tangannya di leher Yoga, menarik tengkuk pria itu lalu mengecup lembut bibir Yoga. Yoga hendak membalas lebih dalam ciuaman itu tapi dengan cepat Natasha mendorong tubuh Yoga.
" Sudah berangkat sana! Bahaya kalau kelamaan di sini." Natasha mendorong tubuh Yoga agar segera keluar dari ruangan kerjanya.
Flashback off
" Maafkan aku, Yank. Maafkan aku yang nggak bisa menjaga kamu dengan baik. Kalau saja aku menuruti kemauan kamu untuk tidak pergi keluar, mungkin nggak akan seperti ini kejadiannya. Aku lalai, aku yang menyebabkan kita kehilangan calon anak kita. Aku benar-benar suami nggak berguna, aku calon papa yang jahat. Maafkan aku, Yank." Dengan nada bergetar Yoga mengungkapkan rasa bersalahnya. Bahkan kini cairan bening sudah mulai bergulir membasahi pipinya.
Tok tok tok
Berbarengan dengan pintu kamar diketuk, nampak seorang wanita paruh baya memasuki ruang kamar perawatan Natasha.
" Maafkan Yoga, Ma. Yoga nggak bisa menjaga Tata dengan baik." Yoga menunduk menyampaikan penyesalannya.
Mama Nabilla menepuk pundak Yoga. " Jangan merasa bersalah seperti itu. Semua ini adalah musibah. Mungkin belum rejeki kalian, mungkin Allah masih belum kasih kepercayaan kepada kalian, biar kalian bisa saling memperbaiki dan menyiapkan diri menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kalian kelak," ucap Mama Nabilla kemudian menghampiri Natasha yang masih tergolek lemah. Mama Nabilla membelai wajah Natasha dan memberikan kecupan di kening putri sulungnya itu.
***
Natasha mengerjapkan matanya, pandangannya masih terasa samar begitu pula pendengaran yang menangkap obrolan dua orang yang sangat dia hapal suaranya.
" Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kalau kamu sedih seperti ini, siapa yang akan menenangkan istri kamu, Ga? Natasha juga butuh seseorang yang bisa menguatkan dia, dia juga pasti sangat terpukul atas kejadian ini."
Natasha sangat hapal suara wanita itu. Saat pandangan Natasha mulai nampak jelas, dia melihat dinding ruangan yang berwarna putih. Dia juga melihat infus yang tergantung di samping tempat dia tidur sekarang ini. Natasha lalu mengedar pandangan mencari asal suara yang tadi dia dengar. Dia mendapati Mama Nabilla dan suaminya sedang berbincang duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
" Ma ..." Natasha memanggil mamanya dengan suara yang teredam
Mama Nabilla dan Yoga langsung bangkit dan menghampiri Natasha yang telah siuman.
" Ta, kamu sudah sadar?
" Sayang ...."
Mama Nabilla dan Yoga berucap berbarengan.
__ADS_1
" Mas, kenapa aku ada di sini? Mama juga kenapa bisa ada di sini? Aku kenapa, Ma? Mas?"
" Ta, kamu ada di rumah sakit," sahut Mama Nabilla.
" Tapi kenapa aku bisa ada di sini, Ma? Aku nggak sakit apa-apa kenapa bisa ada di sini, Mas?" Natasha terus bertanya.
" Sayang ..." Yoga seolah tidak sanggup meneruskan kata-katanya.
" Kamu sebaiknya istirahat, jangan dulu memikirkan apa yang terjadi." Mama Nabilla menyarankan.
" Tapi aku penasaran, Ma. Kenapa aku bisa di sini? Bukankah tadi aku ada di rumah makan ..." Natasha mencoba mengingat kejadian yang telah dia lewati. Pergi ke restoran bersama suaminya, bertemu dengan Kirania, ke mushola, berbincang dengan Kirania, kembali ke bangunan resto, anak kecil berlari, Kirania yang terjatuh, dia yang mencoba membantu Kirania, mereka berdua jatuh dan darah ... Seketika Natasha membulatkan matanya seraya memegang perutnya. Natasha mencoba bangkit tapi rasa nyeri di perutnya masih saja terasa.
" Awww ... perutku."
" Ta, istirahat dulu jangan banyak bergerak." Mama Natasha menganjurkan Natasha untuk tetap berbaring.
" Ma, dia baik-baik saja, kan, Ma? Dia masih ada di perut Tata, kan, Ma?" Natasha berucap cemas.
Sontak perkataan Natasha membuat Mama Nabilla dan Yoga terkesiap.
" Ta, kamu tahu kalau kamu sedang hamil?" Mama Nabilla heran, karena menurut cerita Yoga, baik Yoga maupun Natasha tidak mengetahui kehamilan itu karena hasil test pack yang mereka coba hasilnya negatif.
" Sayang kamu sudah tahu sedang hamil?" Yoga pun turut bertanya.
" Iya, Mas, Ma." Natasha mengangguk kecil. " Bayi aku nggak apa-apa, kan, Mas? Dia masih ada di sini, kan, Ma?" tanya Natasha sambil menunjuk perutnya yang rata. " Maaf aku nggak langsung beritahu kamu, Mas. Aku mau kasih tahu ini besok di hari ulang tahun kamu sebagai kejutan. Tadinya aku mau jadikan ini sebagai kado ulang tahun spesial buat kamu, tapi kamu sekarang sudah tahu duluan." Natasha terkekeh walau dengan suara yang terdengar lemah.
Yoga menelan salivanya, entah kalimat apa yang pas untuk disampaikan kepada istrinya itu agar istrinya bisa menerima jika kado yang istrinya persiapkan itu mesti hilang sebelum diberikan kepadanya.
" Sayang ..." Mata Yoga berembun, sekuat tenaga dia menahan agar air mata itu tidak kembali jatuh.
" Ta, Mama tahu, kalian berdua sangat menginginkan segera mempunyai momongan. Tapi jika Allah belum mempercayai kalian, mungkin itu belum rejeki. Kalian jangan jadi bersedih, ya!" Mama membantu menantunya menjelaskan kepada Natasha.
" Aku positif, Ma. Aku akan punya baby, Mama akan segera punya cucu. Waktu test awal mungkin belum terdeteksi, tapi kemarin Bu Ratna belikan aku test pack lagi, dan hasilnya garis dua meskipun samar. Terus Bu Ratna bawa Tata ke ibu bidan, ibu bidan bilang aku hamil tiga minggu, Ma. Tata senang banget, Ma. Tata bisa kasih Mama cucu, Tata akan segera menjadi seorang Mama." Dengan penuh semangat Natasha berceloteh membuat dada Yoga semakin sesak, seolah terhimpit beban berpuluh-puluh ton di dadanya.
*
*
*
Bersambung ...
Selamat Berpuasa
Happy Reading❤️
__ADS_1