
" Gibran gendut ... Gibran gendut ... kaya badut ...."
" Hahaha ...."
Azkia menarik kembali langkahnya saat dia melihat beberapa orang kakak kelasnya sedang melakukan pembullyan terhadap salah satu murid yang tertubuh tambun. Azkia merasa terusik melihat pemandangan itu. Dengan cepat dia mendekat ke arah mereka.
" Kakak-kakak kenapa menghina Kakak ini? Nggak boleh menghina tahu, menghina orang itu dosa, nanti sama Allah akan ditaruh di neraka." Azkia mencoba menasehati.
" Ayo, Kakak-kakak minta maaf sama kakak ini." Azkia menganjurkan beberapa kakak kelasnya itu untuk minta maaf kepada murid yang bernama Gibran itu.
" Hei, bocah cilik! Jangan suka ikut campur urusan anak laki-laki!" teriak salah satu murid sambil berkacak pinggang.
" Tapi Kakak menghina Kakak ini." Azkia menunjuk ke arah Gibran. " Kenapa Kakak menghina Kak Gibran?" tanya Azkia yang melihat nama Gibran di seragam yang dipakai Gibran.
" Karena dia nggak mau mengerjakan pe-er kita-kita." Murid yang bernama Raffasya itu kembali berkata lantang.
" Idiiihh ... pe-er kok minta dikerjain sama orang sih, Kak? Kerjain sendiri, dong. Kalau yang mengerjakan teman, Kak Raffa nggak akan pintar, lho." Azkia yang juga melihat nama Raffasya tak canggung memanggil nama itu.
Raffasya yang memang merasa tak mengenal Azkia langsung melirik baju seragamnya.
" Sok tahu kamu, bocah cilik!" sergah Raffasya merasa tersindir atas ucapan Azkia tadi. " Sudah sana pergi, jangan ikut campur urusan anak laki-laki." Raffasya mendorong tubuh Azkia hingga Azkia mundur beberapa langkah ke belakang.
" Kalian jangan menyakiti murid perempuan." Gibran yang awalnya hanya diam merasa tak terima ada murid perempuan yang dikasari seperti tadi.
" Kalian pacaran, ya? Yang perempuan belain yang laki-laki, yang laki-laki belain yang perempuan " Raffasya tergelak yang diikuti tawa teman-temannya.
" Masih kecil itu nggak boleh pacaran-pacaran, Kak Raffa. Kak Gibran itu benar, Kak Raffa jangan dorong-dorong anak perempuan." Azkia mendukung apa yang dikatakan Gibran.
" Aahh ... cerewet, kamu!" bentak Raffasya.
" Raf, jangan dibentak gitu, nanti dia nangis bisa-bisa dia mengadu ke kakaknya." Donny rekan Raffasya berbisik.
" Memangnya siapa kakaknya? Kenapa aku mesti takut?!" tanya Raffasya tak terpengaruh.
" Dia itu adiknya Alden, yang jago karate." Donny memberitahukan.
" Ck, memangnya aku takut kalau dia jago karate?! Kalau bela diri juga aku bisa, kok. Om aku kan pelatih karate. keciiiilll ..." Raffasya meremehkan.
" Kak Raffa nggak boleh sombong. Allah itu benci sama orang sombong." Azkia berusaha menasehati kakak kelasnya itu.
" Cerewet ...!!" Tangan Raffasya mencubit pipi Azkia membuat Gibran bereaksi.
" Raffa jangan sakiti dia!" geram Gibran mendekat ke arah Raffasya.
Namun sebelum Gibran mendekat, Azkia sudah terlebih dulu menendang ke bagian junior Raffasya sebagai tindakan refleks dia karena Raffasya mencubit pipinya hingga membuat anak laki-laki itu mengerang kesakitan.
__ADS_1
" Aaarrgghh sakiitt ... huhuhuuuuu ..." Sontak Raffasya menunduk dan menangis sambil meringis menahan sakit di bagian juniornya.
" Kak Raffa sakit, ya? Padahal Kia tendangnya nggak keras kok, Kak. Maafin Kia ya, Kak." Azkia menyampaikan penyesalannya.
" Huhuhu ... awas kamu, ya!" ancam Raffasya kemudian berlalu meninggalkan Azkia dan Gibran disusul oleh teman-temannya.
" Kamu nggak apa-apa?"
" Kak Gibran nggak apa-apa?"
Gibran dan Azkia bersamaan melontarkan pertanyaan.
" Aku nggak apa-apa." Kembali mereka berucap berbarengan tapi kali ini dengan kalimat yang sama sehingga membuat mereka pun tertawa bersama.
" Kamu tahu nama kakak dari mana?" tanya Gibran.
" Itu." Azkia menunjuk label nama di seragam Gibran. Membuat anak cowok itu terkekeh
" Kamu harusnya jangan ikut-ikutan tadi. Raffa pasti nanti mengadu sama Ibu guru." Gibran menyanyangkan tindakan berani Azkia melawan Raffasya dan kawan-kawannya.
" Tapi mereka jahat ke Kak Gibran. Kata papa mama aku, kita itu harus membantu orang yang butuh bantuan. Kia lihat dari tadi mereka itu nakalin kakak makanya Kia bantu." Azkia menjelaskan.
" Kakak nggak apa-apa. Besok lagi kalau melihat Raffa dan teman-temannya berbuat seperti itu ke kakak, kamu biarkan saja ya, jangan bantu kakak. Kakak takut mereka akan membalasnya ke kamu." Gibran berharap Azkia mau mendengarkannya.
" Kalau mereka nakal lagi nanti Kia panggil Kak Alden deh buat lawan mereka." Azkia tertawa lepas hingga membuat Gibran tersenyum.
" Kak Alden?" Azkia terkejut saat dilihatnya kakaknya itu seperti nampak mengkhawatirkannya.
" Tadi kakak bertemu Kak Raffasya dan teman-temannya, Kak Raffa bilang kamu mau diaduin ke ibu guru karena menendang dia. Benar itu?" tanya Alden.
" Iya, Kak. Tapi Kia tendang burungnya nggak keras kok, Kak." Azkia menyahuti.
" Kia tendang di bagian itu?"
" Iya, Kak. Kata mama kalau ada anak laki-laki nakal, tendang saja burungnya." Azkia menjawab dengan polosnya membuat Alden menggelengkan kepala.
" Memangnya Kak Raffa berbuat apa sama Kia sampai Kia tendang Kak Raffa?" selidik Alden.
" Adikmu tadi ingin membantu aku, karena Raffa dan temannya tadi mengejekku lalu Raffa mendorong dan mencubit pipi adik kamu ini." Gibran dengan cepat menjawab pertanyaan Alden. " Kalau nanti adik kamu ini dipanggil ibu guru, aku nanti bantu bilang sama bu guru kalau mereka yang mulai lebih dahulu," lanjutnya.
" Terima kasih, Kak Gibran. Tapi adikku ini tetap salah, karena sudah mencederai Kak Raffa." Alden berusaha bersikap profesional tidak membela adiknya karena dia merasa adiknya itu tetap salah karena sudah menendang Raffasya.
" Alden, adik kamu dicari Bu Santi!" pekik suara salah seorang murid berkata pada Alden.
" Oh iya, makasih." Alden menyahuti dengan cepat lalu memandang ke arah adiknya.
__ADS_1
" Lihat apa yang sudah kamu buat, Azkia. Sekarang kamu dipanggil sama Ibu Santi." Alden terlihat menyesali perbuatan adiknya itu.
" Kia mau dihukum ya, Kak?" tanya Azkia khawatir.
" Semoga saja nggak." Alden kemudian merangkul adiknya yang baru duduk di bangku kelas satu sekolah dasar itu. " Ayo kakak antar kamu menghadap ibu guru," ajak Alden kemudian.
" Aku ikut, Alden. Aku nanti bisa jadi saksi." Gibran kemudian berjalan mengekori Alden dan Azkia setelah mendapat persetujuan Alden.
Sesampainya mereka di depan ruangan Bu Santi.
Tok tok tok
" Assalamualaikum, Bu." Alden menyapa Bu Santi dengan ramah.
" Waalaikumsalam, Alden, Azkia. Ayo masuk sini," pinta Bu Santi.
Sementara di ruang itu nampak Raffasya yang berwajah geram memandang ke arah Azkia.
" Maaf, Bu Santi. Gibran boleh ikut masuk, nggak? Gibran jadi saksi, Bu ..." tanya Gibran.
" Saksi?" Bu Santi mengeryitkan keningnya.
" Iya, Bu. Apa yang dilakukan Azkia kepada Raffa itu karena Azkia ingin membantu Gibran, Bu. Dan Raffa tadi berbuat kasar kepada Azkia dengan mendorong dan mencubit Azkia." Gibran menerangkan hal yang sebenarnya.
" Baiklah, tapi kamu tunggu di depan dulu, ya. Nanti kalau Ibu butuh keterangan dari kamu, Ibu panggil kamu," ucap Bu Santi.
" Baik, Bu." Gibran pun mengikuti apa yang diminta oleh Bu Santi.
" Jadi, Raffasya, Azkia ... Ibu mau bertanya kepada kalian. Apa yang sudah terjadi sampai Azkia menendang Raffasya?" tanya Bu Santi sangat hati-hati mengingat anak-anak yang dihadapinya adalah anak-anak tingkat sekolah dasar apalagi untuk Azkia yang baru menginjak kelas satu, sedangkan Raffasya sendiri sudah duduk di bangku kelas lima.
***
*
*
*
Bersambung ...
Sembari menunggu lanjutan MSI, yuk mari dilirik novel aku yang masih on going lainnya KCA dan RTB mohon dukungan like juga komennya ya mak² reader. Khususnya yg KCA karena aku lagi mengajukan agar karya ini masuk karya kontrak, Makasih🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️