
Natasha memoles kembali riasannya. Dia memang ingin terlihat cantik malam ini.
" Hmmm, segitunya mau datang ke pernikahan sang mantan. Dari tadi dandan nggak kelar-kelar. Berharap sang mantan khilaf terus gandeng kamu ke pelaminan, gitu?" Yoga menggerutu karena dilihatnya Natasha sedari tadi tidak juga selesai berhias.
" Apaan sih, Mas? Kalau aku terlihat makin cantik, siapa coba yang bangga? Kamu juga, kan? Pasti nanti mereka pada bilang ' Ya ampun, cantik banget, beruntung sekali pria yang mendapatkannya' gitu, deh." Natasha terkekeh saat mengucapkan kalimat tadi.
" Astaga, Yank. Narsismu itu makin lama makin akut, deh." Yoga mencibir.
" Iisshh ,,, ini 'kan kamu yang menularkan, Mas." Natasha dengan cepat menyangkal.
" Ini sih bakat alam, sudah terpendam dari lahir, bukan karena tertular dari siapa-siapa." Yoga pun tak kalah membatah.
" Tapi bakat aku ini diasah sama suamiku ini, kalau aku nggak nikah sama kamu juga, aku nggak akan senarsis ini." Natasha mengelak.
" Kalau nggak nikah dengan aku, memang mau nikah sama siapa? Memang ada pria yang mau sama kamu? Mantan calon tunangan kamu saja menolak." Yoga kembali menyindir. " Kalau nggak dinikahin aku, kamu nggak akan bisa move on dari si mantan. Pasti akan terus-terusan kejar dia."
" Aku nggak gitu, ya! Aku sudah nggak ingin dia sejak kejadian itu! Kamu kenapa sih, ungkit-ungkit terus? Apa karena kamu merasa telah menolong aku, terus kamu bebas sesuka hati kamu mengingatkan aku itu punya hutang budi sama kamu?" geram Natasha tiba-tiba saja terisak.
Yoga yang melihat Natasha menangis dengan cepat mendekat dan memeluk tubuh istrinya. " Ya ampun, Yank. Kamu kok malah nangis begini sih? Aku 'kan cuma bercanda, kenapa dimasukan ke dalam hati?" Yoga menghujani kecupan di seluruh wajah Natasha.
" Kurang banyak!" protes Natasha
" Apanya?"
" Ciumannya ..." Natasha berucap dengan nada manja.
" Ingin dicium yang banyak di mana hemm?" Yoga langsung mendaratkan kecupan di bibir Natasha.
" Semuanya, dong."
" Yakin semua?"
" He-eh ..."
" Kalau semua, bisa menggagalkan rencana kita pergi ke resepsi pernikahan anak Tante Melly, lho." Yoga memainkan alisnya.
" Ah, iya ... aku lupa. Ya sudah nanti saja deh pending dulu." Natasha langsung mengurai pelukan Yoga kemudian berjalan keluar dari kamarnya.
***
Pesta pernikahan Andra terlihat sangat megah, tentu saja karena pria itu adalah seorang pengusaha muda yang mempunyai banyak kolega.
" Nanti kalau mengucapkan selamat, nggak usah lama-lama pegang tangannya, nggak usah juga pakai cipika-cipiki," bisik Yoga saat mereka memasuki ruangan ballroom di salah satu hotel di Bali milik Om David, Ayah Gavin.
__ADS_1
" Oh astaga, Mas. Andra itu sudah menikah, Dia sudah bahagia dengan istrinya, kenapa masih cemburu saja?" Natasha mencebikkan bibirnya.
" Dia memang sudah bahagia, tapi rasanya aku masih belum rela jika mengingat dulu dia pernah menyentuhmu, apalagi dia yang pertama kali menyentuh tubuh mulusmu ini."
" Ck, mulai, deh ..." Kirania lalu menuntun tangan Alden, sementara Azkia dalam gendongan Yoga.
***
" Tante ..." Natasha memeluk Tante Melly yang terlihat sangat bahagia sekali malam ini. Tentu saja dia bahagia, karena akhirnya Andra bisa menemukan tambatan hatinya, dan memberikan menantu pertama untuk keluarga Hadiwijaya.
" Natasha?" Tante Melly pun langsung menerima pelukan Natasha. " Apa kabar, Sayang? Hai, Alden, tambah ganteng nih, jagoan Oma. " Tante Melly mengelus kepala Alden. Karena sejak hubungan Mamih Ellena dan Tante Melly membaik, saat mereka berdua meet up ketika Mamih Ellena berjunjung ke Jakarta, Mamih selalu membawa Alden ikut serta. Tujuannya tentu saja apalagi kalau bukan buat memanas-manasi Tante Melly yang belum juga mendapatkan menantu.
" Baik, Oma ..." Alden menyahuti.
" Hai, selamat, ya ..." Natasha lalu memberi ucapan selamat kepada mempelai wanita dengan memberikan cipika-cipiki pada si pengantin wanita.
" Terima kasih ..." Mempelai wanita itu membalas ucapan Natasha.
" Hai, Andra ... happy wedding, ya." Natasha menjabat tangan Andra, tetap ada rasa canggung setiap harus bertatap muka dengan pria itu.
" Thanks, Nat ..." Andra membalas.
" Selamat menempuh hidup baru, Bro." Yoga langsung menggeser posisi Natasha agar tak berlama-lama bersentuhan dengan Andra.
" Thanks ..." sahut Andra datar. Andra tahu jika sampai kapanpun Yoga tidak akan pernah memaafkan apa yang pernah dia lakukan kepada Natasha dulu.
***
" Oh iya, dong. Mama Alden pasti selalu cantik." Natasha terkekeh menanggapi celotehan Alden.
" Butan (bukan) Mama." Alden menggelengkan kepalanya.
Natasha mengeryitkan keningnya. " Bukan Mama? Lalu siapa?"
" Tuh ..." Alden menunjuk seorang gadis kecil kisaran usia tujuh tahunan memakai dress balon berwarna putih ikut duduk di tengah-tengah mempelai.
" Oh astaga, Alden. Kamu masih kecil, Sayang. Nggak boleh ih, lirik-lirik cewek begitu." Natasha terperanjat saat anaknya yang belum genap berusia tiga tahun itu terlihat menganggumi gadis kecil yang berusia di atasnya.
" Natasha?"
Natasha langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
" Kirania?"
__ADS_1
Natasha dan Kirania pun saling berpelukan saat berjumpa.
" Hallo, Yoga junior."sapa Kirania mengangkat tubuh Alden dan menggendongnya. " Kalau besar nanti pasti bakal banyak wanita yang akan menyukainya. Nat. Siap-siap pusing kamu nanti." Kirania tertawa.
" Nggak perlu tunggu besar nanti, Ran. Kamu percaya, nggak? Dia itu tadi nunjuk ke arah gadis itu, dia bilang cantik." Natasha menunjuk dengan dagunya ke arah gadis kecil tadi.
" Kayla? Maksud kamu Kayla?" Kirania terperanjat.
" Iya."
Kirania tergelak " Kamu harus hati-hati jangan sampai anakmu kena tonjok seperti papanya dulu oleh orang yang sama."
Natasha memicingkan matanya. " Yoga dulu kena tonjok Pak Dirga? Pasti karena merebutkan kamu, kan?" cibir Natasha. " Di mana dia sekarang? Rasanya perlu aku beri pelajaran mantan bos mu itu, Ran. Seenaknya menonjok suamiku." Natasha mengumpat.
" Tuh, sedang bicara dengan mamanya Kayla." tunjuk Kirania pada dua orang yang sedang berbincang.
Natasha menoleh ke arah yang Kirania tunjuk. Dia mendapati Dirga yang berbincang sesekali diselingi tawa bersama Nadia.
" Sweety, Hey ... jangan mengangkat yang berat-berat. Hati-hati dengan kandunganmu."
Tiba-tiba terdengar suara pria hadir di tengah mereka.
" Aku hanya menyapa Natasha dan Alden saja kok, Bang." Kirania menyahuti sambil menurunkan kembali Alden.
" Mengandung? Kau sedang hamil, Ran?" Natasha nampak surprise.
" Iya, Nat. Jalan delapan Minggu."
" Alhamdulillah, akhirnya ... selamat, ya." Natasha memeluk Kirania. " Benar kata Bang Edo, tuh. Jangan terlalu capek, harus dijaga juga ya, jangan sampai seperti aku dulu." Natasha menyentuh perut Kirania.
" Insya Allah, doakan semua sehat ya, Nat."
" Pasti aku doakan, kok." sahut Natasha cepat. " Oh ya, Ran. Kalau anak kamu ini perempuan, aku mau jodohkan dengan Alden. Kalau anak kamu laki-laki, aku minta untuk Azkia atau adiknya Azkia jika aku hamil anak perempuan lagi, ya?" Natasha berseloroh.
" Ya ampun, Nat. Kamu ini ada-ada saja. Anakku saja masih jadi janin, baru dua bulan di perut, sudah mau dijodohkan." Kirania menggelengkan kepalanya
" Daripada keduluan diambil sama orang, mending dari sekarang daftar jadi calon besan." Natasha tergelak diikuti oleh tawa Kirania dan Edward yang juga masih ada di sana.
*
*
*
__ADS_1
Tebak-tebak buah manggis, hayo siapa yg bisa menebak?😁 Di sini Kirania sudah menemukan kebahagiaannya, karena Othor yg baik hati ini sudah memberikan jodoh yang tepat untuk masing2 tokohnya 😂😂
Happy Reading ❤️